
Sayup terdengar suara adzan subuh. Sepertinya Gala kesiangan bangun pagi ini akibat tidur terlalu larut. Gala bergegas bangkit dari tidurnya di atas sofa dan reflek berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu mengambil air wudhu. Gala mendapati kamar mandinya terkunci rapat. Dalam hati ia bertanya, siapa yang tengah menggunakan kamar mandinya?
"Astaghfirullah hal 'adzim..." Gala memegang jidatnya sendiri. Ia baru ingat kalau mulai malam tadi, ia sudah tak sendirian lagi tinggal di kamarnya. Ada seorang gadis cantik yang juga jadi penunggu ruangan pribadinya. Gala tersenyum sendiri ahirnya. Ia kembali duduk di atas sofa sambil menunggu Gendhis keluar dari kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Gendhis berjalan keluar dari kamar mandi dan masih seperti biasa, dengan gaun muslimnya.
"Maaf... apakah Bapak sudah lama menunggu?" tanya Gendhis.
"Nggak, kok. Aku kesiangan dan baru aja bangun. Tunggu ya..., kita jama'ah subuh bareng!" pinta Gala.
Gendhis hanya menganggukkan kepalanya.
Usai mandi dan mengambil air wudhu, Gala juga Gendhis sholat subuh berjamaah, kemudian setelahnya Gendhis melepas mukena dan merapikan kamar tidurnya. Ia merasa bersalah melihat Gala tidur di atas sofa lantaran tempat tidurnya dipakai oleh Gendhis.
"Kamu mau kemana?" tanya Gala saat melihat Gendhis ingin beranjak pergi usai merapikan tempat tidur.
"Saya... mau ke dapur. Bantu Mama siapkan sarapan." jawab Gendhis.
"Tapi kenapa buru-buru?" Gala kembali bertanya.
"Pak Gala... ini sudah hampir siang lho. Bapak kan juga harus ke kampus. Nanti terlambat kalau sarapan paginya kesiangan." Gendhis beralasan.
"Kan ada Si Embak yang bantuin Mama." ujar Gala sambil berjalan ke arah Gendhis hingga membuat Gendhis semakin berjalan mundur untuk menjauhi laki-laki itu. Gala semakin mendekati Gendhis hingga tak ada tempat lagi kecuali dinding kamar yang melekat erat di punggung Gendhis. Gala mendekatkan wajahnya pada Gendhis yang sedang menunduk karena canggung juga rasa malu bercampur jadi satu. Gala menatap tajam wajah istrinya seolah ingin segera menerkamya. Saat dalam hati Gendhis berkecamuk tak tentu arah, tiba-tiba terdengar suara.
"Gendhis... Gala... turun dulu Sayang... sarapan pagi sudah siap." suara Bu Fina lagi-lagi mengacaukan momen indah putranya.
"Iya, Ma... kami turun sekarang!" cepat-cepat Gendhis melepaskan diri dari Gala selagi dia punya kesempatan. Dengan gesit gadis itu berhasil lepas membuat Gala harus kembali menarik nafas panjang.
"Huuuff... Mama... nggak bisa lihat anaknya seneng aja...! Sepertinya, aku harus atur skedul buat pergi honey moon, biar aku bisa lebih banyak waktu berdua dengan Gendhis." ucap Gala lirih setelah mendapati gadis itu kabur dari cengkramannya.
Usai sarapan pagi, Bu Fina dan Pak Hari bersiap untuk pergi karena hari ini mereka ada agenda pergi ke luar kota. Sementara Gala, sebenarnya dia sangat ingin menghabiskan waktunya di rumah, tapi hari ini dia ada rapat penting di kampusnya. Ahirnya, cuma tinggal Gendhis dan Si Embak yang tetap di rumah.
*****
Di kampus hari ini, Gala benar-benar tak bisa konsen dengan pekerjaannya. Satu jam rasanya bagai setahun. Gala ingin secepatnya bisa pulang awal, tapi apa hendak di kata, banyak yang harus ia lembur karena prodinya akan menghadapi akreditasi dari BAN-PT.
Gala meraih ponselnya lantas mengirim pesan pada Gendhis.
^^^Gala 🧔--^^^
^^^"Assalamu'alaikum, Gendhis... maaf ya, hari ini aku pulang terlambat dan mungkin agak larut malam karena sedang banyak kerjaan."^^^
^^^Gendhis 🧕--^^^
__ADS_1
^^^"Waalaikumsalam, iya... Pak. Hati-hati di jalan dan jangan lupa makan."^^^
Gala tersenyum lepas. Alangkah bahagianya dia meski hanya melalui pesan singkat, Gendhis sudah mulai menunjukkan perhatiannya.
*****
Gendhis mulai merasa bosan karena belum ada satupun pekerjaan yang bisa ia lakukan di rumah sebesar itu. Memasak, bersih-bersih, mencuci baju, cuci piring, semua sudah ada yang mengerjakan. Bu Fina dan Pak Hari pun ada acara di luar kota hingga empat hari ke depam, dan Gala... dia juga tengah disibukkan dengan pekerjaannya di kampus. Ahirnya, Gendhis hanya bisa duduk di kamar, sambil baca Al Qur'an untuk mengatasi waktu yang longgar itu.
Ketika malam tiba usai sholat isya', Gendhis mulai bersantai dan sedikit tenang karena seperti pesan Gala, dia akan pulang larut malam. Kondisi kamar pengantin belum berubah. Bahkan ranjang yang dipenuhi dengan kelopak bunga mawar itu belum tersentuh masih utuh berbentuk hati, seperti halnya Gendhis yang juga belum tersentuh.
Gendhis duduk di depan cermin. Ia ahirnya menanggalkan hijabnya untuk mengeringkan rambut panjangnya yang masih sedikit basah karena baru sore tadi ia mencucinya. Karena sedang asyik menyisir rambut panjang yang hitam dan bergelombang itu, Gendhis tak sadar kalau ternyata dari depan pintu kamar yang memang sedikit terbuk itu, Gala sudah berdiri di sana sambil tertegun memandang Gendhis dari kejauhan. Dalam hati Gala bersyukur diperbolehkan pulang lebih awal hingga ia bisa melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Gala masih mandangi Gendhis dari kejauhan sambil melipat kedua tangannya. Ia tak ingin mengejutkan Gendhis dengan keberadaannya yang muncul tiba-tiba.
Beberapa menit kemudian, Gendhis bangkit dari tempat duduk lantas membalikkan badannya. Betapa terkejutnya ia mendapati suaminya sudah berdiri tepat di pintu kamar sambil memandanginya. Segera Gendhis meraih hijab phasmina seadanya untuk menutupi rambut panjangnya. Tapi seolah sia-sia, karena rambutnya terlampau tergerai hingga phasmina itu tak sanggup menutupi seluruh rambutnya.
Gala merasa enggan untuk melepaskan tatapannya pada Gendhis. Ia menutup rapat pintu kamarnya lantas berjalan pelan mendekati Gendhis. Hal itu serentak membuat Gendhis merasa canggung.
"Pak Gala... kapan datang? Maaf... saya tak tahu kalau Bapak sudah pulang..." ucap Gendhis dengan wajah menunduk.
Entah apa yang ada di fikiran Gala hingga dia seperti tak mendengar pertanyaan Gendhis. Bukannya tak ingin menjawab, hanya saja ada hal lain yang lebih penting dari sekedar menjawab pertanyaan Gendhis.
Gala meraih lengan Gendhis lalu menariknya agar bisa lebih dekat dengannya. Hal itu membuat phasmina Gendhis terjatuh ke lantai hingga rambutnya nampak tergerai sempurna. Aroma wanginya membuat Gala ingin membelai rambutnya hitam itu namun segera Gendhis tangkis.
"Maaf... saya siapkan air hangat dulu untuk mandi Pak Gala." Gendhis segera melepaskan diri untuk kesekian kalinya. Ia berlari ke kamar mandi dengan alasan untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Sesaat kemudian, ia keluar lalu berkata, "Air hangat sudah siap kalau Bapak mau mandi sekarang!" ucap Gendhis.
"Makasih, yaaa..." jawab Gala sambil berjalan ke kamar mandi. Entah sampai kapan gadis itu akan berlari menghindar darinya.
Beberapa menit kemudian Gala selesai membersihkan badannya lalu melaksanakan sholat isya'. Usai sholat isya', Gala berjalan keluar balkon kamarnya untuk menyusul Gendhis yang sedang duduk termangu melihat langit kota Magelang. Gala duduk di samping Gendhis lalu bertanya, "Kenapa kamu pakai hijabmu lagi?"
"Saya hanya tidak terbiasa melepas hijab saya di hadapan laki-laki." jawab Gendhis menunduk.
"Tapi aku bukan orang lain lagi sekarang. Aku suamimu. Apa kamu juga masih ingin menyembunyikannya dari ku?" tanya Gala.
Gendhis hanya terdiam mendengar perkataan Gala.
"Baiklah... kalau kamu memang belum siap, aku nggak akan maksa kamu. Dan aku akan terus menunggu sampai kamu benar-benar siap. Sekarang sudah malam. Masuk dan tidurlah!" pinta Gala. Ada nada kekecewaan terdengar dari ucapannya.
Gendhis hanya menganggukkan kepala. Ia tahu persis maksud ucapan Gala, hanya saja ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa melihat raut wajah kecewa dari dosen yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Gala tidur di sofa, sementara Gendhis di ranjang milik Gala. Pasangan suami istri itu bagaikan dua orang yang tak saling mengenal. Mereka berpura-pura memejamkan mata meski sebenarnya hati mereka berkecamuk tak tahu arahnya. Tak dapat dipungkiri, Gala adalah laki-laki normal yang juga ingin mendapatkan haknya. Tapi di sisi lain, ia tak ingin memaksakan Gendhis jika dia memang belum siap menerima dirinya sepenuhnya.
Tepat pukul dua dini hari, Gendhis terjaga dari tidurnya. Seperti biasa dia mengambil air wudhu untuk mendekatkan diri pada Sang Ilahi Robbi di sepertga malam terakhir. Usai melakukan sholat tahajjud, Gendhis melihat Gala tertidur lelap di atas sofa. Diambilnya selimut dari dalam lemari lalu ia tutup tubuh lelaki itu dengan hati-hati agar tak membangunkannya. Saat hendak beranjak pergi, Gendhis terkejut ketika Gala dengan sigap menarik tangannya.
__ADS_1
"Ma... af... sudah membangunkan Pak Gala..." ucap Gendhis.
"Kamu mau kemana?" tanya Gala sembari menarik lengan Gendhis.
"Saya mau... mau..." sepertinya kali itu dia tak punya alasan lagi untuk kabur dari suaminya.
"Mau... nyuci baju, iya... mau nyuci baju." jawab Gendhis beralasan sambil melepaskan tangannya.
Karena cengkraman Gala tak begitu kuat takut menyakiti lengan Gendhis, ahirnya gadis itu berhasil kabur jua. Tapi Gala tak mau menyerah. Gendhis sudah terlanjur membangunkan hasratnya untuk melakukan kewajiban ibadahnya di malam itu juga.
Sejauh apapun Gendhis menjauh, toh dia sadar tak mungkin bisa melarikan diri dari Gala. Ahirnya Gendhis berdiri membelakangi Gala di samping ranjang yang dipenuhi dengan kelopak bunga mawar. Gala berjalan mendekati Gendhis dan untuk kesekian kalinya Gala mencoba meraih lengan Gendhis dan membalikkan badannya ke arah Gala.
"Gendhis... bahkan ini terlalu pagi untuk bangun. Bagaimana bisa kamu mau nyuci baju?" tanggapan Gala mendengar jawaban Gendhis yang terkesan mengada-ngada.
Wajah Gendhis memerah tertunduk tak sanggup membalas tajamnya tatapan Gala. Dadanya berdetak dua kali lebih hebat dari biasanya. Nafasnya memburu cepat seraya berkata,
"Pak Gala..., saya... saya..." ucapan Gendhis terputus-putus.
"Ssstttt..." jari telunjuk Gala bersarang di bibir manis Gendhis.
"Gendhis... aku suamimu, bukan dosen mu. Jadi..., mulai sekarang berhenti lah memanggilku dengan sebutan itu..." ucap Gala sambil berbisik di telinga Gendhis.
Hal itu serentak membuat suhu tubuh Gendhis panas dingin tak karuan. Melihat Gendhis yang salah tingkah, Gala malah semakin tak bisa melepaskannya. Ia berjanji kali ini dia takkan membiarkan Gendhis melepaskan diri lagi.
"Gendhis... maafkan aku, aku nggak bisa menunggu lagi. Aku harus menjalankan kewajiban ibadah ku malam ini juga..." lanjutnya lirih.
Mendengar Gala meminta izin untuk menyentuhnya, membuat Gendhis tak kuasa lagi untuk menolaknya. Ia teringat akan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim yang artinya:
Rasulullah bersabda, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR Bukhari Muslim)
Tubuh Gendhis bergetar antara rasa takut dan malu bercampur jadi satu saat Gala mulai menyentuh tubuhnya seraya berdo'a:
بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Bismillahi, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."
Gendhis memejamkan matanya seolah mengikhlaskan dirinya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Dan... malam menjelang pagi itu menjadi saksi suci bersatunya dua insan yang sudah dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan.
*****
...Gimana kakak... unboxing nya??? 🤭🤭🤭 mudah-mudahan terpenuhi. Maafkeun yaaa... othor nggak bisa bahas lebih detail lagi karena takut lagi bulan puasa 🤭🤭🤭🙏🙏🙏...
__ADS_1
...Jangan lupa komentar, dukungan serta bunga 🌺🌻🌹🌷🌺🌻🌹 dan vote nya ya buat couple G... terimakasih.... 🤗🤗🙏🙏🤭😍...