Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Bidadari tak Bersayap


__ADS_3

Mobil toyota camry berhenti di depan pintu IGD Rsud Tidar Kota Magelang. Dengan sigap, para rekan medis menjemput dengan segala persiapan. Pintu mobil dibuka. Wanita tua yang sudah setengah sadar itu dibawa masuk ke ruang IGD menggunakan brankar dorong.


"Maaf... hanya pasien yang diperbolehkan masuk." kata salah seorang suster yang bertugas pagi itu.


Gala dan Gendhis duduk di kursi tunggu.


Melihat Gendhis yang sedang panik, Gala tak ingin mengusiknya. Ia memilih untuk menunggu gadis yang baru pertama kali ia temui itu agar berbicara duluan ketika nanti perasaannya lebih baik.


"Maaf... apa benar kakak keluarga dari nenek ini?" seorang perawat keluar dari ruang instalasi.


Gendhis berfikir sejenak. Ia yang membawa nenek itu, berarti dia lah yang harus bertanggungjawab.


"Oh... iya Suster." jawab Gendhis.


"Kalau begitu, silakan kakak menuju ke bagian pendaftaran pasien, karena pasien harus rawat inap untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut." kata Sang Suster.


"Iya... Sus." jawab Gendhis mulai bingung.


"Haduh... gimana ini. Aku kan nggak tahu siapa nenek itu..." kata Gendhis dalam hati.


Ia lalu teringat, sebelum membawanya ke Rumah Sakit, Si Nenek tadi membawa tas, mungkin saja di tas itu tersimpan identitas Sang Nenek. Segera Gendhis menghampiri Gala untuk bertanya,


"Mas..., maaf... saya harus ke mobilnya Mas untuk mengambil tas." kata Gendhis.


Gala yang sedari tadi duduk di kursi dengan seribu pertanyaan di kepalanya itupun mengiyakan saja perkataan Gendhis yang nampak panik.


"Okeyy..." jawab Gala.


Mereka menuju tempat parkir mobil. Setelah menemukan kartu identitas yang Gendhis cari, segera Gendhis membawanya ke tempat pendaftaran.


Ketika berjalan menuju tempat pendaftaran, Gendhis berkata pada Gala,


"Mas... minta tolong tungguin nenek sebentar ya, saya mau ke ruang pendaftaran dulu."


Gendhis meninggalkan Gala begitu saja tanpa sempat mendengarkan jawabannya.


Gala tersenyum ke heran-heranan melihat tingkah Gendhis dari awal bertemu hingga sekarang.


"Hhheemmm... gadis yang aneh... dia bisa se yakin itu padaku? Bahkan dia belum tahu siapa aku." Gala berbicara sendiri sambil berjalan ke ruang IGD.


Beberapa menit kemudian, Gendhis kembali ke ruang tunggu IGD lantas duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dengan Gala.


"Ooohhh... jadi namanya Nenek Suhartini to..." ucap Gendhis sambil memegang KTP Si nenek.


Seketika Gala terkejut mendengar ucapan Gendhis.


"Maksudnya? Nenek Suhartini? Sejak awal pertemuan kita tadi aku memang merasa sedikit aneh, tapi lebih aneh lagi saat sekarang tiba-tiba kamu pegang KTP itu, dan kamu...??? Jangan bilang kalau kamu nggak kenal sama nenek yang sudah kamu bawa ke sini..." kepala Gala dipenuhi dengan banyak pertanyaan hingga entah dari mana dia harus mulai bertanya.


"Memang benar Mas... saya nggak kenal sama nenek Suhartini." jawab Gendhis tanpa rasa berdosa.


"Astagfirullah hal 'adzim... jadi kamu nggak kenal sama nenek tadi?" Gala menegaskan pertanyaannya.


Bahkan dia mengira kalau nenek tadi adalah neneknya Gendhis. Dari cara ia bicara, menguatkannya, menjaganya, memapahnya, hingga mencarikan bantuan untuknya.


"Iya Mas, saya memang tidak mengenal nenek itu. Tapi apa salahnya jika saya membantunya. Saya tak sampai hati membiarkan nenek itu berjuang melawan rasa sakit sendirian di tepi jalan." ucap Gendhis sambil terus memegangi KTP.


"Subhanallah... ternyata di zaman seperti sekarang ini, masih ada gadis yang peduli dengan orang lain yang bahkan belum ia kenal." Gala berbicara dalam hati.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Gala bertanya.

__ADS_1


"Kebetulan dalam dompet nenek Suhartini ada nomor putranya yang bisa dihubungi. Tadi sudah saya telepon dan katanya sedang menuju ke sini." jawab Gendhis.


Belum selesai mereka berbincang, keluarga Ibu Suhartini berbondong-bondong menuju ruang IGD. Kemudian Sang Suster keluar bersama dokter cantik yang baru saja selesai memeriksa Nenek Suhartini.


"Keluarga Ibu Suhartini..." panggil Sang Suster.


"Iya, Suster.. kami keluarganya?" Gendhis bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju dua petugas rumah sakit itu.


Anak-anak dari Nenek Suhartini menatap Gendhis, seolah mereka melihat bidadari yang telah menolong ibu mereka.


"Bagaimana keadaan Nenek Suhartini, Dokter?" tanya Gendhis pada dokter yang ternyata adalah dr. Gabby, kekasih tersembunyi Lintang tunangannya.


"Syukurlah... Nenek Suhartini segera sampai di rumah sakit tepat waktu. Pasien di indikasi terkena serangan jantung. Kalau saja tadi terlambat sampai di rumah sakit, mungkin kondisinya akan lebih buruk." jelas dr. Gabby pada semua yang ada di situ.


"Pasien harus dirawat, dan silakan mengurus surat-suratnya di bagian administrasi rumah sakit. Permisi..." dr. Gabby berlalu meninggalkan mereka.


Semua mata tertuju pada Gendhis, malaikat tak bersayap yang pagi ini telah berhasil menyelamatkan Nenek Suhartini. Tak terkecuali Gala. Dia masih belum percaya bahwa gadis itu telah menyeretnya untuk ikut terlibat dalam misi penyelamatan ini.


"Mbak yang menyelamatkan ibu kami?" tanya seorang bapak yang ibunya tadi telah diselamatkan oleh Gendhis.


"Bukan saya, Pak... tapi Mas yang berdiri di sana itu yang menyelamatkan nenek." Gendhis menunjuk ke arah Gala.


Seketika Gala terkejut lalu bertanya, "Saya?"


"Iya Bapak, Ibu... Mas ini yang menyelamatkan nenek dan membawa nenek ke sini dengan mobilnya." kata Gendhis.


"Alhamdulillah... terimakasih banyak, Mas... eh... maksud saya, Pak. Kalau bukan karena bantuan Bapak... kami tidak tahu, apakah kami masih bisa melihat senyum ibu kami." ucap bapak itu.


"Bapak... umur manusia itu Allah yang menentukan. Mungkin melalui perantara kami, Allah masih memberikan umur panjang pada nenek. Jangan berterimakasih pada saya, berterimakasih lah pada adik ini yang sudah menolong nenek." gantian Gala yang menunjuk ke arah Gendhis.


Anak-anak Nenek Suhartini pun terheran-heran melihat tingkah dua remaja yang ada di hadapan mereka itu. Salah satu dari mereka lalu bertanya,


Gendhis menundukkan kepala seolah tersipu, ia baru sadar ternyata sudah sejauh ini bersama dengan Gala tapi ia belum mengenalnya.


Dan Gala... hanya melirik gadis cantik yang menunduk karena tersipu malu.


"Subhanallah... kalian belum saling kenal, tapi dipertemukan dalam satu keadaan yang sama, memberi kehidupan pada orang lain... Terimakasih, Nak... kami do'a kan setelah ini kalian akan menjadi pasangan yang bahagia." Sang Bapak terlihat ikhlas mendoakan mereka.


Rona di pipi Gendhis berubah memerah karena tersipu malu.


"Ahhh... Bapak ini bisa aja." kata Gala, padahal dalam hati ia mengaminkan doa tersebut.


Gala melihat jam di lengan kirinya sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Ia baru ingat kalau hari ini dia tidak boleh terlambat sampai di kampus, tapi sepertinya dia sudah terlambat.


Seusai berpamitan dengan keluarga Nenek Suhartini, Gala segera memberitahukan pihak kampus kalau hari ini dia terlambat karena ada urusan kemanusiaan yang tak bisa ditinggalkan.


Gala dan Gendhis berjalan keluar dari ruang IGD hendak menuju tempat parkir.


"Sekarang kamu mau kemana?" tanya Gala.


"Astaghfirullahalazim... saya baru inget kalau saya meninggalkan motor saya di depan taman saat menolong nenek tadi..." Gendhis baru sadar.


"Ya udah kalau gitu aku anter kamu ambil motor kamu." kata Gala.


"Nggak usah, makasih... saya naik angkot aja." Gendhis berusaha menolak.


"Kenapa harus naik angkot? Kebetulan tempat kerja ku searah dengan jalan kesana." kata Gala.


Gendhis masih terus berfikir.

__ADS_1


"Tenang aja, aku bukan orang jahat kok." Gala meyakinkan.


"Baik lah... maaf, jadi repot." kata Gendhis sambil membuka pintu mobil depan.


"Tenang... nggak ada yang merasa direpotkan." jawab Gala


Mereka ahirnya masuk ke mobil dan berjalan menuju tempat parkir depan Taman Badaan. Sepanjang jalan Gendhis terlihat takut, kaku dan canggung, ketika harus duduk di dalam mobil dengan laki-laki yang baru pertama kali dilihatnya.


"Oh iya, nama kamu siapa? Dari tadi kita ngobrol tapi aku nggak tahutahu nama kamu." Gala bertanya untuk mencairkan suasana.


"Nama saya Gendhis." jawabnya singkat seolah tidak ingin tahu siapa orang yang sudah memberinya tumpangan.


"Gendhis? Pantesan dia manis, namanya aja gula (Gendhis\=gula dalam bahasa Indonesia)" batin Gala.


"Kalau boleh tahu... kamu mau pergi kemana?" Gala kembali bertanya, melihat Gendhis yang berpakaian hitam putih rapi.


Ada rasa kesedihan yang mendalam terpancar dari wajahnya saat Gala melontarkan pertanyaan itu.


"Nggak tahu, Mas... mungkin pulang." jawab Gendhis putus asa.


Gala heran mendengar jawaban Gendhis yang aneh itu.


"Lhoo... lhooo... kok mungkin? Emangnya kamu nggak punya tujuan?" Gala kembali bertanya.


"Tujuan saya sudah pupus Mas, saat saya memutuskan untuk menolong Nenek Suhartini tadi." kata Gendhis dengan nada pasrah.


"Kenapa bisa begitu?" Gala makin penasaran dengan gadis satu ini. Unik, tapi misterius.


Ahirnya Gendhis menceritakan kronologi mulai dari saat ia hendak pergi ke kampus Untidar untuk tes wawancara, lalu dia melihat Nenek Suhartini dengan kondisi sakit, hingga saat ini dia bisa duduk di mobil Gala. Perlahan Gala mulai memahami gadis itu. Untuk yang ke dua kalinya dia melihat kemuliaan hati Gendhis yang rela mengorbankan cita-citanya demi menolong hidup orang lain.


"Jadi seperti itu ceritanya..." kata Gala setelah mendengar semua penjelasan Gendhis.


"Eeemm... gini aja. Kebetulan aku punya temen yang juga ngajar di kampus Untidar. Aku rasa alasan keterlambatan kamu cukup masuk akal. Gimana kalau kamu nggak usah jadi pulang. Ikhtiar dulu pergi ke kampus, dan katakan alasan sebenarnya kenapa kamu bisa terlambat. Mungkin saja, pihak kampus bisa terima alasan kamu." Gala mencoba memberikan solusi untuk Gendhis.


"Oh ya? Tapi... apakah bisa? Bagaimana kalau setelah sampai di sana ternyata tesnya udah selesai?" wajah Gendhis sedikit berbinar.


"Ya kan dicoba dulu, siapa tahu bisa." tegas Gala.


"Baiklah kalau begitu, saya coba... Bismillah... mudah-mudahan bisa Ya Allah..." Gendhis berdo'a dengan penuh harap.


Gala hanya tersenyum melihat gadis lugu itu.


Mobil Gala ahirnya berhenti di tempat parkir Taman Badaan.


"Terimakasih ya Mas... sudah bersedia saya repotkan." ucap Gendhis sesaat sebelum turun dari mobil Gala.


"Iya, sama-sama." jawab Gala.


Gendhis menutup pintu mobil dan Gala pun melanjutkan perjalanannya menuju kampus Untidar.


"Astaghfirullahalazim..." Gendhis berbalik arah melihat mobil Gala yang semakin menjauh.


"Ehhh... Mas... tunggu! Aku belum tau nama kamu..." teriak Gendhis tapi percuma karena mobil Gala sudah semakin menjauh.


"Ya Allah... Gendhis... Gendhis... nggak sopan banget sih kamu... udah dianterin, ditolongin, sekarang mau dibantuin biar bisa ikut tes wawancara. Tapi kok bisa... kamu sampai lupa nanyain namanya?" Gendhis menepuk sendiri jidatnya sambil bicara sendiri.


Ahirnya seperti saran dari Gala... Gendhis memberanikan diri untuk tetap pergi ke kampus meski ia tahu sudah sangat terlambat.


*****

__ADS_1


Sampai jumpa lagi dengan Mas Dosen Gala di kampus yaaa.... 🥰🥰🥰


__ADS_2