
Seperti biasa, pagi itu mahasiswa di ruang kuliah tengah menunggu Mas Dosen Ganteng. Tak ada satupun yang ingin terlambat mengikuti mata kuliahnya. Terutama ciwi-ciwi. Mereka paling semangat masuk kelas.
Terdengar derap langkah yang makin lama semakin mendekat. Mereka pun bergegas merapikan posisi duduk. Kepala berlenggak lenggok, sambil merapikan rambutnya, menebalkan lipstiknya, dempul nya, sambil bercermin menggunakan ponsel mereka.
Gendhis hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah tidak heran teman-temannya hampir tiap hari tebar pesona di hadapan Gala.
Dari balik pintu, muncullah sesosok laki-laki tampan impian mereka. Dengan gagah dan wibawa juga senyum ramahnya, Gala menyapa semua mahasiswa di ruang kuliah.
"Assalamu'alaikum... selamat pagi semuanya..." sapa Gala.
"Wa'alaikumsalam... selamat pagi Pak Gala..." jawab semua mahasiswa.
Gala lalu menyampaikan satu mata kuliah Sejarah Sastra. Tak ada satupun yang tidak menyimak apa yang disampaikan dosen tampan itu, kecuali... Gendhis. Rupanya dari kejauhan Gala melihat tatapan mata Gendhis seolah kosong. Raganya memang ada di ruangan itu, tapi fikirannya melambung jauh entah kemana.
Hingga di akhir penjelasan, Gala meminta Gendhis untuk mengulang kembali apa yang baru saja ia sampaikan.
"Gendhis... Jawab pertanyaan saya. Periodisasi sastra melayu lama itu merupakan karya sastra yang dihasilkan dari tahun berapa sampai berapa? Berikan contohnya!" perintah Gala serentak mengejutkan Gendhis yang sedang kurang konsentrasi saat mengikuti perkuliahan.
"Oh... iya, Pak..." jawab Gendhis gugup.
Gala duduk di kursi dosen seolah tanpa ekspresi melihat reaksi Gendhis. Ia sudah mengira kalau fikiran Gendhis sedang tidak berada di tempat itu.
Ita yang duduk berdekatan dengan Gendhis itu pun mempertegas maksud ucapan dosennya.
"Gendhis... Pak Ganteng tanya, tadi jelasin apa? Kamu sih... ngelamun terus." jawab Ita sedikit berbisik.
Gendhis pun kembali memusatkan perhatiannya pada lelaki yang sedang mengajar di depan ruang kelas.
"Maaf, Pak... saya kurang konsentrasi. Bisakah Bapak mengulangi pertanyaannya sekali lagi?" tanya Gendhis pada Gala, sambil mengakui kesalahannya.
Mendengar santunnya permintaan Gendhis, Gala pun menyetujui untuk mengulang pertanyaannya.
"Baik... saya ulangi.... Periodisasi sastra melayu lama itu merupakan karya sastra yang dihasilkan dari tahun berapa sampai berapa? Berikan contohnya!" Gala kembali bertanya.
Gendhis berfikir sejenak. Tak lama kemudian, ia menjawab,
__ADS_1
"Baik, Pak... Periodisasi sastra melayu lama, merupakan karya sastra, yang dihasilkan antara tahun 1870-1942, yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatra, seperti Langkat, Tapanuli, Minangkabau, dan Sumatra lainnya. Orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat, dan terjemahan novel barat. Contoh novel Tjerita Njai Dasima karya G. Francis, Boenga Rampai karya sastra yang dikarang oleh A.F. van Dewall. Novel terjemahan seperti Robinson Crousoe dan Grauf de Monte Cristo." jawab Gendhis dengan tenang dan jelas, membuat teman-teman di ruangan itu terpukau.
"Waaauuuu... luar biasa!!! Bahkan Gendhis menjawab apa yang belum dijelaskan oleh Pak Ganteng." ucap beberapa mahasiswa terkagum-kagum.
Gala tersenyum yakin, Gendhis adalah gadis yang luar biasa, sesulit apa pun permasalahan yang ia hadapi, ia tak akan melupakan tugas dan tanggung jawabnya.
Puas dengan jawaban Gendhis yang tanpa meleset sedikitpun, Gala lantas menutup mata kuliahnya pagi itu, karena memang 2 SKS berlalu sudah.
*****
Sore itu, di rumah Gendhis. Bu Parti, ibunya Lintang datang menemui Gendhis yang tengah asyik membantu sang ibu memasak di dapur.
"Assalamu'alaikum..." sayup terdengar suara Bu Parti mengucap salam.
"Waalaikumsalam..." dengan kompak Bu Sari juga Gendhis menjawab salam.
"Eh... Bu Parti... mari masuk... saya buatkan minum." kata Bu Sari.
"Oh... ndak usah Bu Sari, saya cuma sebentar kok." cegah Bu Parti.
"Ndak usah repot-repot Bu Sari, makasih banyak. Saya cuma sebentar kok." kata Bu Parti.
"Begini, Bu Sari... kedatangan saya ke sini, cuma mau menyampaikan pesan dari Pakne Lintang." Lanjut Bu Parti.
Mendengar nama Lintang disebut, seolah ada yang menusuk dari dalam relung hati Gendhis. Rasanya amat perih.
"Pesan apa Bu Parti?" tanya Bu Sari penasaran.
"Begini... Pakne Lintang meminta Pak Ratno, Bu Sari juga Gendhis untuk datang ke rumah kami nanti sehabis sholat isya'. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan." kata Bu Parti.
Mendengar undangan itu, seketika hati Gendhis semakin gundah gulana, apa sebenarnya yang ingin orang tua Lintang sampaikan. Gendhis merasa tidak sopan jika langsung menanyakan hal tersebut pada Bu Parti saat itu juga. Karenanya, ia ikuti saja alurnya, agar ia bisa tahu alasan orang tua Lintang mengundang mereka ke rumah.
"Gimana, Bu Sari? Bisa kan? Nanti tolong sampaikan pada Pak Ratno juga yaaa..." lanjut Bu Parti.
"Oh... iya... iya... Bu. Insya Allah bisa. Nanti saya sampaikan sama Pakne Gendhis." jawab Bu Sari dengan sigap dan semangat.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu... saya pamit dulu." kata Bu Parti.
"Iya, Bu... bener ini ndak minum-minum teh dulu?" tawar Bu Sari.
"Ndak Bu, lain kali saja nge teh nya. saya buru-buru karena belum selesai masak. Permisi... Assalamu'alaikum..." kata Bu Parti sambil meninggalkan ruang dapur.
"Waalaikumsalam..." jawab Gendhis dan Bu Sari.
Sampai detik ini, Gendhis belum tahu bagaimana cara menyampaikan hal ysebenarnya kepada kedua keluarga yang sudah sejak zaman leluhur mereka berhubungan amat baik itu. Dalam hatinya berkecamuk antara cinta, sakit, kecewa, terluka, juga tak ingin menghancurkan hubungan keluarga yang sudah puluhan tahun terjalin baik.
"Ya... Allah... beri aku kekuatan untuk menentukan jalan terbaik dalam hidupku juga keluarga ku..." ucap Gendhis dalam hati.
*****
Malam yang ditunggu oleh keluarga Lintang telah tiba. Semua sanak saudara dekat berkumpul. Hanya tinggal menunggu Gendhis dan orang tuanya.
Setelah menunggu beberapa saat, ahirnya Gendhis dan orang tuanya pun datang. Tak butuh waktu lama mereka sampai, karena memang jarak rumah keduanya hanya terpisah oleh halaman dan jalan kampung.
Pak Argo dengan ramah mempersilahkan calon besannya untuk duduk di ruang tamu, sedangkan Gendhis langsung menuju dapur untuk membantu Bu Parti menyiapkan segala hidangan. Setelah semua siap, mereka lantas duduk di ruang tamu, hanya Lintang yang belum tampak.
"Nduk... panggil kakak mu ke bawah. Acara sudah mau dimulai." perintah Bu Parti pada anak gadisnya, yang tidak lain adalah adik Lintang satu-satunya.
"Baik, Bu..." jawab anak gadisnya sambil berjalan menuju kamar Lintang di lantai dua.
Memang sejak kelulusannya dari Akmil empat bulan lalu, Lintang jarang keluar rumah kalau tidak ada perlu. Apalagi dua bulan terakhir ini Lintang habis melaksanakan tugas pembekalan terkait dengan kepelatihan dan combat intel. Lintang hanya tinggal menunggu pelantikan yang akan dilaksanakan tepat satu bulan kedepan, oleh Presiden RI di Istana Merdeka. Setelah dilantik, Lintang juga rekan taruna yang lain resmi menjadi perwira TNI Angkatan Darat. Terkait dengan hal itu, TNI AD sudah mempersiapkan bagaimana penugasan mereka ke depan. Rencananya, Lintang akan ditempatkan di Indonseia timur dengan beberapa taruna yang lain, karena di sana banyak satuan baru yang masih kekurangan personel.
Atas pertimbangan itu lah, Pak Argo mengundang Gendhis juga orang tuanya. Tidak lain untuk membahas pesta pernikahan Lintang dengan Gendhis akan dipercepat, yaitu sebelum Lintang mulai bertugas, agar Gendhis bisa ikut mendampinginya di tempat tugas Lintang yang baru. Itulah keinginan terbesar keluarga Mitro Dimejo, kakek buyut Lintang.
*****
Sampai jumpa di episode berikutnya...
Maaf yaaa kakak-kakak pembaca yang selalu setia menunggu eps. di Jodoh Masa Kecil. Dari kemarin hingga tiga hari kedepan up nya agak telat, karena si thor lagi melaksanakan perjalanan religi 🥰🥰
Salam semangatttt... 💪💪💪🥰🥰
__ADS_1