Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Pertemuan


__ADS_3

Suasana di kediaman Bapak Hari cukup ramai malam itu. Mereka tengah sibuk mempersiapkan kedatangan keluarga Pak Bambang dan Bu Sofi dari Semarang. Berbagai macam hidangan makan malam sudah tersaji di meja makan, begitu pula kudapan di ruang tamu. Mereka semua berharap rencana mereka untuk menyatakan dua keluarga akan berjalan seperti yang diharapkan. Semua nampak gembira, kecuali Riko.


Riko seolah tanpa ekspresi apa pun malam itu. Senang tidak, sedihpun juga tidak. Bahkan ia tak dapat menggambarkan perasaannya sendiri malam itu. Yang ia lakukan malam ini semata-mata hanya untuk membahagiakan semua orang di keluarganya. Tapi hatinya? Tak ada yang tahu bahwa tidak ada gadis manapun yang bisa menggantikan posisi Gendhis di hatinya. Namun, semua itu Riko pendam. Biarlah tetap menjadi rahasia hatinya.


"Riko... gantengnya Mama... kok masih malas-malasan lihat TV di kamar sih? Lihat jam berapa ini? Sebentar lagi Bu Sofi dan keluarganya datang..." kata Bu Fina saat mendapati Riko yang masih berpakaian santai di kamarnya sambil tiduran menyaksikan acara televisi.


"Memangnya Riko mesti ngapain, Mama? Apa Riko perlu undang tukang rias ke rumah biar bisa make-up in Riko? Riko kan cowok Ma, tinggal mandi ganti baju... selesai..." jawab Riko santai.


"Ya Allah... Riko... sejak kapan kamu jadi nggak perhatian sama penampilan kamu hem? Perasaan Riko yang Mama tahu selama ini selalu nomor satu kan penampilan. Apalagi kalau mau ketemu cewek cantik. Sekarang... mana ya Riko ganteng Mama yang sok perfect itu?" kata Bu Fina mengomentari Riko yang sekarang malas untuk memperhatikan penampilan dan terlihat kusut namun tetap tampan.


"Itu kan dulu, Ma... waktu..." belum selesai Riko bicara, Bu Fina sudah memotong perkataannya. Rupanya Bu Fina tahu persis jika dilanjutkan ucapan Riko ahirnya sampai pada Gendhis juga ahirnya.


"Ehhh... udah... udah... sebentar lagi tamunya dateng. Ayo cepetan mandi lalu ganti pakaian. Mama tunggu di bawah... buruaaannn!!!" ucap Bu Fina sambil meminta paksa remot yang sedang dipegang Riko lantas mematikan televisi.


"Yaaa elaa... Ma. Kok dimatiin sih?" tanya Riko.


"Udah, pokoknya sekarang mandi. Ayooo... buruan!" ucap Bu Fina sambil menarik tangan Riko dan mendorongnya menuju pintu kamar mandi.


"Iyaaa... iya.. Ma... Udah, udah... Riko bisa pergi mandi sendiri. Riko bukan anak kecil lagi, Ma..." ucap Riko saat dirinya dipaksa untuk pergi mandi oleh ibunya.


"Ya udah kalau gitu, Mama tunggu di bawah sekarang. Habis mandi lansung turun ya! Nggak pake lama pokoknya!" perintah Bu Fina.


"Iya... iya... Ma..." jawab Riko sambil mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.


*****


"Assalamu'alaikum..." sapa Pak Bambang saat dia dan keluarganya tiba di rumah Pak Hari.


"Waalaikumsalam... Mari-mari... silakan masuk!" jawab Pak Hari ramah sambil mempersilakan tamunya untuk duduk di ruang tamu.


Pak Bambang dan keluarganya pun duduk di atas sofa ruang tamu. Semua anggota keluarga Pak Hari menyambutnya dengan penuh hangat. Mereka lantas berbincang untuk mencairkan suasana sambil menikmati hidangan yang sudah disediakan.


"Ini putri Pak Bambang yang kemarin diceritakan itu ya?" tanya Bu Fina basa basi, padahal ia sudah tahu karena tak ada gadis lain selain dia.


"Iya, Bu Fina... ini putri kami yang baru saja selesai kuliah. Namanya Shaza..." jawab Pak Bambang.


Gadis itu tersenyum lembut sambil mencium tangan Bu Fina.


"Oh... iya... iya... ternyata lebih cantik dari fotonya ya..." puji Bu Fina dan gadis itu mulai menunjukkan rona memerah di pipinya.

__ADS_1


"Mari... silakan dinikmati hidangnya. Sebentar, saya panggilkan putra-putra kami." ucap Pak Hari.


"Ini anak pertama kami, namanya Gala, dan ini istrinya namanya Gendhis." Pak Hari memperkenalkan.


"Assalamu'alaikum..." sapa Gala dan Gendhis lembut.


"Waalaikumsalam..." jawab keluarga Pak Bambang.


"Gendhis? Sepertinya saya tidak asing dengar nama ini..." bathin Shaza,


"Gala... panggil adik kamu ke bawah sekarang, bilang ada tamu!" pinta Bu Fina pada Si Sulung.


"Iya, Ma..." jawab Gala hendak pergi ke kamar Riko. Belum sempat Gala berjalan, ternyata Riko sudah turun dari atas tangga dengan berpakaian rapi sehingga ketampanannya sanggup melelehkan setiap gadis yang melihatnya. Dan sikap dinginnya itu yang terkadang membuat gadis jadi merasa tertantang untuk menaklukkan hati yang dingin bak kutub utara.


Saat sampai di ruang tamu, baik Riko maupun Shaza sama-sama terkejut.


"Kamu??? Kenapa bisa ada di sini?" keduanya kompak saling bertanya.


"Lhoh... lhoh... Riko... ternyata kalian sudah saling kenal? Syukurlah kalau begitu." tanya Bu Fina sedikit heran.


"Bukannya kenal sih, Ma... kebetulan aja kami sempat bertemu beberapa bulan lalu di kampus." jawab Riko. Dia benar-benar tidak menyangka, ternyata gadis yang pernah ia tolong dan dompetnya ditemukan oleh Riko adalah gadis yang sama dengan yang sering Bu Fina ceritakan. Ia sempat merasa bersalah waktu itu karena pernah berbicara kurang ramah pada gadis itu.


"Ya... Allah... kalau aku tahu laki-laki yang akan orang tua ku pertemukan malam ini adalah laki-laki jutek dan sombong itu, nggak bakal aku mau datang ke sini..." bathin Shaza. Sekarang ia hanya bisa pasrah dengan keinginan orang tuanya untuk bertemu dengan anaknya Bu Fina. Tapi begitu ada kesempatan, dia pasti bakal kabur sejauh yang ia bisa. Ia tak pernah berharap untuk sekedar bertemu dengan laki-laki itu (Riko) apa lagi sampai dipertemukan oleh orang tuanya. Benar-benar tak dia harapkan.


Shaza duduk di kursi teras sedang Riko berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada tiang yang ada di teras tersebut. Keduanya hanya terdiam ibarat dua orang yang belum pernah saling mengenal. Hingga pada ahirnya Riko mulai membuka percakapan.


"Maaf..." kata Riko.


"Untuk apa?" tanya Shaza singkat.


"Atas kejadian beberapa bulan lalu." jawab Riko.


"Ternyata masih ingat? Baguslah..." jawab Shaza.


"Aku tidak yakin, laki-laki cuek seperti Kak Riko benar-benar mau menuruti keinginan orang tuanya untuk dipertemukan dengan gadis yang belum dikenali." lanjut Shaza.


"Buktinya... sekarang aku di sini. Dan... benar apa yang kamu katakan. Aku di sini bukan untuk diriku sendiri, melainkan untuk keluarga ku." jawab Riko.


Shaza kurang begitu jelas menangkap maksud perkataan Riko. Tapi setidaknya, ia tahu bahwa laki-laki itu tidak ada niat tulus untuk menjalin hubungan serius dengannya. Entah karena alasan apa, tapi jika Shaza lihat sepertinya ada yang sedang disembunyikan dari Riko.

__ADS_1


"Okeyyyy... jadi sudah jelas banget kan? Kita tidak usah melanjutkan perkenalan kita. Semuanya sudah jelas. Kita berada di sini bukan karena keinginan kita melainkan orang tua kita." ucap Shaza dan Riko hanya terdiam seolah membenarkan perkataan Shaza.


"Baiklah... kalau Kak Riko tak ada keberanian untuk berkata jujur, biar aku yang bicara pada mereka!" ucap Shaza hendak bangkit dari tempat duduknya.


"Eh... tunggu! Kamu mau kemana?" cegah Riko.


"Mau bilang sama orang tua kita. Emang kenapa?" tanya Shaza.


"Jangan pernah katakan hal itu pada mereka!" cegah Riko.


"Lalu... apa mau Kak Riko?" tanya Shaza heran.


"Yaaa... setidaknya, kita... kita bisa coba berteman." jawab Riko. Ia tak ingin mengecewakan keluarga yang sudah menaruh harapan besar padanya.


"Teman???" Shaza tersenyum sinis.


Beberapa saat kemudian, Gendhis datang pada mereka dan berkata, "Maaf... mengganggu waktunya..." belum selesai Gendhis bicara, Riko sudah memotong perkataannya.


"Eh, Dis... nggak kok, nggak ganggu... ada apa?" tanya Riko.


"Kata Mama, kalau ngobrolnya udah selesai, kalian bisa masuk. Makan malam sudah siap." lanjut Gendhis.


"Oh... iya... iya... kami udah selesai ngobrol kok. Habis ini kita masuk." jawab Riko.


"Baiklah... aku permisi dulu..." pamit Gendhis.


"Eh... Dis, tunggu!" cegah Riko. Padahal ia sendiri tak tahu apa alasannya mencegah Gendhis untuk pergi saat itu.


"Iya, apa Mas Riko butuh sesuatu?" tanya Gendhis.


"Oh... enggak. Maksudku... nggak papa. Kita udah selesai ngobrol dan akan masuk sekarang." itu juga yang tadi Riko ucapkan.


"Baiklah..." jawab Gendhis lantas pergi meninggalkan Riko dan Shaza.


Entah kenapa, Shaza merasa ada yang aneh ketika melihat sikap Riko yang tiba-tiba berubah saat kakak iparnya datang. Riko seperti es batu yang disiram air panas hingga membuatnya meleleh seketika. Raut muka dinginnya pun sejenak menghilang berganti wajah teduh dan lembut saat berbicara dengan Gendhis. Tatapan mata Riko pada Gendhis seolah tak dapat disembunyikan lagi bahwa sebenarnya hingga detik ini belum ada gadis lain yang bisa menggantikan posisi Gendhis di hatinya.


Shaza adalah gadis yang cerdas juga pandai. Dalam sekejap, dia sudah bisa menangkap bahwa seperti dugaannya, Riko menyembunyikan sesuatu. Entah apa itu. "Apakah ada hubungannya dengan Kak Gendhis? Tapi apa iya? Kak Gendhis bukannya kakak ipar Kak Riko? " bathin Shaza.


Karena rasa keingin tahuannya itulah yang membuat Shaza akan tetap melanjutkan rencana awal yang di inginkan orang tuanya. Entah kenapa Shaza yakin bahwa sebenarnya Riko adalah laki-laki baik. Sikapnya menjadi seperti saat ini pasti karena ada sesuatu hal yang ia sendiri belum tahu alasannya.

__ADS_1


Riko dan Shaza ahirnya masuk menuju ruang makan untuk makan malam bersama dengan seluruh anggota keluarga.


*****


__ADS_2