Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Tak Bisa Ke Lain Hati


__ADS_3

Waktu itu masih amat pagi. Gendhis berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari Mangli Sky View. Sesampai di halaman rumah, ia melihat ayahnya yang tengah bersiap untuk pergi ke ladang.


"Assalamu'alaikum..." sapa Gendhis pada Pak Ratno.


"Waalaikumsalam... kamu udah pulang Nduk? Lho... kamu sendirian? Pak Dosen sama Mbak Dosen mana? Katanya kemarin mau anterin kamu pulang?" tanya Pak Ratno melihat putrinya berjalan pulang seorang diri.


"Oh... ini Pak, mereka ada acara, jadi Gendhis bilang mau pulang duluan aja. Lagi pula deket kan, cuma dari gardu Mangli." jawab Gendhis menutupi kenyataan sebenarnya.


"Oh... begitu. Ya sudah, Bapak mau ke ladang, Ibu mu sudah berangkat ke pasar." kata Pak Ratno sambil bersiap membawa cangkul di atas pundak kanannya.


"Baik, Pak... Gendhis masuk dulu." pamit Gendhis lantas masuk ke dalam rumah.


Gendhis segera masuk ke kamarnya, meletakkan tasnya di atas meja rias lantas duduk di atas ranjangnya. Perkataan Gala beberapa menit yang lalu benar-benar membuat tubuhnya gemetar. Ia seolah tak sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Seketika tanpa berfikir panjang, gadis itu pergi berlalu begitu saja meninggalkan dosennya dengan rasa cemas dan khawatir pastinya.


"Ya... Allah... apa yang sudah ku perbuat? Tak seharusnya aku pergi meninggalkan Pak Gala seperti itu..." muncullah setitik rasa bersalah dalam hatinya.


"Apa yang harus ku perbuat? Pak Gala orang yang baik, tak adil rasanya aku memperlakukan dia seperti itu. Tapi aku bisa apa? Sampai saat ini rasa takut dalam hatiku untuk membuka lembaran baru masih menyelinap di setiap aku mencoba menerima orang lain di hati ku. Bagaimana jika Pak Gala juga berlaku demikian? Bagaimana jika suatu saat dia juga menghianati cintaku seperti halnya Mas Lintang? Apa aku siap terluka untuk kedua kalinya? Oh... tidak... ini tak boleh terjadi. Aku lebih baik sendiri, dan aku bahagia daripada aku harus terluka untuk kedua kalinya." ucap Gendhis lirih.


"Tapi apa aku bisa menghindar dari Beliau, dosen yang sangat aku hormati? Seperti yang aku tahu selama ini, dia bagaikan angin yang tiba-tiba muncul dan menghempas tubuhku. Sesaat aku merasakan kesejukan atas kehadirannya, tapi semakin lama angin itu semakin kencang hingga aku takut angin itu berubah menjadi topan yang mengerikan. Apa yang harus ku perbuat ya Allah... berilah aku petunjukMu..." rasa bimbang dalam hati Gendhis semakin menjadi. Namun hingga detik itu, ia belum dapat menjawab apakah dia akan menerima cinta Gala? Ataukah ia akan berlari menghindar dari Gala.


*****


Sementara di atas gardu pandang, Gala masih berdiri dengan wajah pucat sayu.

__ADS_1


"Ya Allah... apakah aku salah? Apakah aku terlalu cepat mengutarakan maksudku untuk menikahi Gendhis? Bukankah menikah itu adalah ibadah? Dan sepertinya aku sudah tidak bisa lagi menunda ibadah ku untuk yang satu ini ya Allah... Mudahkanlah urusanku... dan bukalah hati Gendhis agar dia bisa segera lepas dari masa lalunya lantas menerimaku sepenuhnya..." ucap Gala lirih.


Gala begitu larut dalam perasaannya hingga ia tak menyadari kalau Alena sudah berdiri di sampingnya. Alena merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Bertahun-tahun ia mengenal Gala, tapi baru kali ini ia mendapati sahabat yang ia cintai itu terlihat muram tak seperti biasa. Akhirnya Alena memutuskan untuk bertanya setelah melihat dua kejadian aneh ketika ia baru terbangun dari tidurnya pagi itu.


"Ga... ada apa sih? Kenapa tiba-tiba Gendhis pergi gitu aja? Padahal kita kan belum selesai liburan?" tanya Alena namun belum juga mendapat jawaban.


"Gala... aku tanya kamu. Kenapa Gendhis terlihat marah lalu pergi gitu aja? Aneh banget tau, dua hari aku bersamanya, aku cukup menahami kalau Gendhis bukan tipe cewek yang mudah marah tanpa alesan. Emang kamu apain dia?" tanya Alena sedikit geram karena Gala masih tak menghiraukan ucapannya.


"Lena... aku nggak ngapa-ngapain Gendhis!" jawab Gala.


"Oh ya? Tapi kenapa dia kabur gitu aja kalau kamu nggak ngapa-ngapain dia..." ucap Alena seolah menyudutkan Gala.


"Kamu nggak percaya? Ya... Allah... mana mungkin lah, aku ngapa-ngapain Gendhis. Lagi pula banyak tuh orang di sana, di situ juga ada. Kamu bisa tanya sama mereka aku sudah berbuat apa sama Gendhis!" jawab Gala tegas.


"Aku melamarnya..." jawaban Gala seolah membuat Alena merasa disambar petir di pagi buta.


"Apa??? Kamu nggak lagi bercanda kan Ga? Kamu serius?" tanya Alena dengan hati yang mulai sesak.


"Iya! Aku serius! Aku melamar Gendhis tapi dia tak berbicara sepatah katapun lalu pergi. Apa sekarang kamu percaya?" ucap Gala dengan nada pasrah sambil kembali duduk di kursi.


Alena baru mengerti, ternyata gadis yang Gala bicarakan semalam adalah Gendhis. Gendhis memang gadis yang baik menurut pandangan Alena, cuma dia tidak menyangka... seorang Manggala Kresna, Dosen tampan dan berwibawa itu ahirnya jatuh hati pada Gendhis. Dari sekian banyak wanita yang mendekatinya selama ini, ahirnya pilihannya jatuh pada mahasiswinya yang notabenenya berasal dari kampung seperti ini. Meski hatinya tak cukup mengerti alasan sahabatnya itu, namun satu yang tak mungkin lepas dari seorang Gala. Dia tidak mungkin salah dalam memilih, apalagi untuk rekan hidupnya.


"Gala... aku nggak tahu harus ngomong apa. Sebagai sahabat aku cuma pengen yang terbaik buat kamu. Tapi kenapa? Kenapa dia harus pergi setelah kamu bicara hal sepenting itu? Harusnya dia kasih jawaban sebelum dia pergi. Apa dia tidak berfikir... untuk mendapatkan hati seorang Kak Dosen Gala itu tidaklah mudah? Kenapa dia bisa abaikan perasaan mu? Apa aku perlu menyusulnya untuk membuat dia mengerti?" Alena merasa aneh, sedih, juga marah bercampur jadi satu. Namun ia berusaha untuk tegar dan pasrah menerima kenyataan ini.

__ADS_1


"Lena... Lena... sudah... nggak perlu. Dia nggak salah, tapi aku yang salah terlalu cepat mengutarakan maksudku." ujar Gala.


"Salah? Salah gimana? Jelas-jelas dia pergi dan mengabaikan perasaan mu seperti itu, lalu bagaimana aku bisa liat sahabatku terluka dibuatnya?" Alena seolah tak dapat menyembunyikan rasa marahnya.


"Alena... makasih banyak buat pengertiannya. Tapi kenyataan sebenarnya bukan seperti itu." jawab Gala.


Lelaki tampan yang sedang gundah karena lamarannya diabaikan itu ahirnya menceritakan semua kronologi mulai dari awal dia bertemu dengan Gendhis saat mencoba menyelamatkan seorang nenek tua yang sedang dalam kesakitan, lalu ternyata gadis itu adalah mahasiswinya, dan malam ketika Gala menemukan Gendhis di pinggir jalan dengan kondisi memprihatinkan akibat penghianatan dari tunangannya. Tak cukup sampai di situ, dia juga menceritakan tentang perjodohan dini yang dialami Gendhis dengan Lintang, hingga pada ahirnya dia mendapatkan perlakuan tidak adil di malam pesta pernikahannya. Hal itu serentak membuat Alena menitikkan air mata.


"Heyyy... girl are you crying?" tanya Gala melihat Alena menitikkan air mata.


"Aku cuma terharu aja dan nggak nyangka, ternyata masih ada perjodohan se kejam itu. Dan anehnya... Gendhis bisa lalui semua itu? Bahkan dengan ikhlas merelakan tunangannya menikahi wanita lain di depan matanya, bahkan saat sebenarnya hari itu menjadi hari paling bahagia dalam kehidupannya... Seandainya aku yang dalam posisi Gendhis, entah apa yang aku perbuat. Mungkin aku sudah acak-acak rambut wanita itu di depan semua orang, menampar wajahnya atau bahkan mengusirnya. Nggak sudi liat muka nya... apalagi sampai meminta calon mertuanya untuk menerima gadis itu menggantikan posisinya... uuuhhh... bener-bener aku nggak bisa bayangin." jelas Alena sambil sesekali mengusap air mata di pipinya.


Gala hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu seraya berkata, "Itu lah bedanya Gendhis dengan gadis-gadis yang lain yang mungkin mereka juga akan berlaku sama seperti mu saat dihadapkan dengan kenyataan sepahit itu. Tapi tidak untuk nya... dan itu baru salah satu dari sekian banyak keistimewaan Gendhis. Sekarang... kamu tahu kan, kenapa aku sangat ingin menikahinya. Selain karena aku mencintainya, juga karena aku ingin Gendhis juga mendapatkan kebahagiaan yang sudah sepantasnya ia dapatkan." ucap Gala.


Alena benar-benar faham sekarang, bahwa tak ada gadis lain yang lebih pantas mendampingi Gala selain Gendhis.


"Aku mendukung mu Ga! Sepenuhnya....! Perjuangkan gadis itu... aku yakin, suatu saat nanti hatinya pasti akan luluh karena ketulusan dan cinta mu. Kau pantas mendapatkannya seperti halnya ia pantas mendapatkan cinta mu." ucapan itu menjadi semangat untuk Gala berjuang mendapatkan hati Gendhis.


Perbincangan Gala dan Alena pun berakhir sampai di situ, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk mengahiri liburan mereka dan kembali ke rumah Gala. Karena mobil Alena ia titipkan di rumah Gala sebelum kemarin mereka memulai menaiki jalanan terjal dan berliku di Puncak Sumbing.


*****


......Terimakasih kakak... sudah setia menunggu. Jangan lupa like, komentar serta dukungannya yaaa... biar makin semangat 🥰🥰🙏🙏🙏......

__ADS_1


__ADS_2