
"Gendhis...???" panggil Gala, sang dosen tampan yang amat diidolakan teman-temannya.
Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Gendhis
Awalnya Gala sempat panik mendapati mahasiswinya duduk tersungkur di depan mobil toyota camry miliknya. Tapi setelah melihat Gendhis tanpa luka sedikitpun, ia merasa lega.
"Syukurlah... Alhamdulillah... masih diberikan perlindungan." ucap Gala lirih.
Meski tanpa luka, namun Gendhis belum juga bangkit dari tanah tempat ia terjatuh. Memang... Tubuh Gendhis memang tanpa luka. Tapi luka yang ada dalam hatinya, entah kemana dia akan menemukan penawarnya.
"Gendhis... apa kamu baik-baik aja?" tanya Gala kembali memastikan.
Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Gendhis agar terbangun dari tempat ia jatuh. Namun Gendhis menolaknya. Meski dengan berbagai upaya, Gendhis berusaha untuk bangkit sendiri tanpa mengharapkan bantuan dari Gala. Dengan susah payah, ahirnya Gendhis bisa berdiri dengan tegak, seraya menatap sosok lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Maaf... Mas... maksud saya, maaf Pak Gala. Saya jalan nggak lihat-lihat. Saya juga tidak tahu kalau mobil bapak ternyata sudah ada di belakang saya." ucap Gendhis lirih.
Bagi Gendhis, memanggil Gala dengan sebutan "Pak" rasanya aneh. Bahkan Gala terlalu tua untuk sebutan itu. Tapi mau nggak mau, dia harus menghormatinya karena Gala adalah dosennya.
"Iya... nggak papa, lain kali kalau jalan hati-hati." pesan Gala dengan penuh pertanyaan, sedang apa gadis ini malam-malam begini berjalan sendirian di pinggir jalan. Pasti ada yang tidak beres, fikirnya.
"Baik, Pak... Maaf... saya permisi..." Gendhis membalikkan badan untuk meninggalkan Gala.
Karena rasa khawatir yang tiba-tiba muncul, Gala pun memanggilnya saat Gendhis berjalan tiga langkah menjauhinya.
"Dis... tunggu." cegah Gala.
Gendhis berhenti.
"Kamu mau kemana malam-malam begini?" Gala mulai menginterogasi.
"Saya nggak tahu Pak, mau kemana..." jawab Gendhis.
Benar-benar aneh! Meski belum lama Gendhis menjadi mahasiswinya namun Gala cukup hafal dengan perilaku Gendhis. Apa lagi sejak awal bertemu Gala sudah menduga kalau Gendhis adalah gadis yang istimewa. Tak mungkin jika tanpa alasan, dia sendirian malam-malam di tepi jalan seperti sekarang ini.
"Kenapa bisa nggak tahu? Kamu sama siapa?" tanya Gala.
Gendhis hanya terdiam. Melihat sorot matanya, Gala merasa ada sesuatu yang amat berat untuk Gendhis ungkapkan.
__ADS_1
"Okeyy... nggak papa kalau kamu nggak mau ngomong, setidaknya duduk lah sebentar agar kamu tidak panik karena barusan kamu kan terjatuh." saran Gala.
"Terimakasih, Pak... tapi saya harus pergi. Bapak Ibu saya sudah menunggu di rumah." ucap Gendhis hendak melanjutkan langkahnya, namun sekali lagi Gala mencegahnya.
Dan kali ini, Gala berjalan mendekati Gendhis lalu berdiri di hadapannya. Seperti biasa, Gendhis hanya tertunduk tak berani menatap wajah Gala. Ia takut pesona Gala akan membuatnya menjadi korban pesona seperti teman-temannya.
"Gendhis... baiklah kalau kamu nggak mau istirahat. Kalau begitu, sekarang juga aku antar kamu pulang." ucap Gala.
Gendhis terkejut lantas berkata, "Nggak... nggak... nggak usah, Pak. Terimakasih banyak. Saya bisa pulang sendiri."
"Pulang sendiri kata mu? Tadi kamu bilang nggak tau mau kemana, sekarang kamu bilang mau pulang sendiri. Gendhis... ini kota... gadis seusia kamu tak baik berjalan sendirian di tepi jalan. Itu namanya membahayakan dirimu sendiri. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan mu bagaimana?" ucap Gala.
Gendhis masih tampak berfikir meski dengan tatapan yang kosong.
"Gendhis... kamu tenang aja. Aku nggak ada maksud jahat. Cuma pengen nolongin kamu." lanjut Gala.
"Tapi, Pak..." Gendhis tak melanjutkan ucapannya.
Gala berjalan ke arah mobilnya, lalu membuka pintu depan mobil agar Gendhis mau ikut bersamanya.
"Gendhis... aku tahu kamu nggak akan suka kalau aku memaksamu dan menarik tangan mu untuk masuk ke dalam mobil. Makanya... sekarang kamu naik dan aku antar kamu pulang." Gala sedikit memaksa karena khawatir melihat kondisi Gendhis.
"Gendhis... aku nggak bisa biarin kamu malem-malem di sini sendirian. Sekarang cepat masuk! Ini perintah dari dosen kamu... apa kamu juga akan menolaknya?" sepertinya demi memastikan Gendhis agar tetap aman, dia harus sedikit mengancamnya.
"Baik..., Pak..." ahirnya Gendhis menyetujui permintaan Gala untuk mengantarnya pulang.
"Alhamdulillah..." Gala merasa sangat lega melihat Gendhis ahirnya mau masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Gala melaju dengan sangat hati-hati. Sambil mengemudikan mobilnya, Gala diam-diam mengamati Gendhis yang sedari tadi hanya terdiam cenderung melamun. Entah apa yang sedang ada dalam fikirannya, tapi Gala yakin kalau Gendhis sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Awalnya, Gala ragu untuk bertanya, karena ia khawatir Gendhis akan mengira Gala ikut campur pada ranah terlarang yang disembunyikan dalam hati Gendhis.
Namun, entah kenapa... rasa keingin tahuan Gala begitu besar pada gadis yang sekarang duduk di kursi depan mobilnya itu. Membuat ia memberanikan diri untuk bertanya,
"Gendhis... apa kamu baik-baik saja?" tanya Gala ragu-ragu.
"Iya, Pak... saya baik-baik saja." Gendhis menjawab sambil menahan bendungan air mata yang seolah hampir runtuh karena terlalu lama ia tahan.
Bayangan wajah Lintang juga penghianatan Lintang malam tadi masih menari-nari dalam ingatannya. Ia tak tahu pada siapa dia harus mengadu, rasanya sangat berat dan dadanya amat sesak, bahkan menghirup nafas pun terasa sakit.
__ADS_1
"Okeyy... nggak papa kalau kamu nggak mau cerita. Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik saja. Tapi... jika kamu percaya aku bisa mengurangi sedikit... saja beban dalam pikiranmu, katakan saja... sebagai dosen mu, aku siap mendengar keluh kesah dari mahasiswa ku." ucap Gala dengan penuh kewibawaan.
Mendengar ucapan Gala, seketika... membuat Gala terkejut... mendengar Gendhis...
"Huaaaa... huaaa... huaaa..." Gendhis menangis sejadi-jadinya di hadapan Gala, hingga membuat Gala bingung harus berbuat apa untuk menenangkannya.
Air mata yang ia tahan sejak berada di Caffe tadi ahirnya tumpah begitu saja di hadapan Gala. Ia seolah tak malu lagi, tak ragu lagi menangis di hadapan Gala.
Gala menepikan mobilnya karena takut konsentrasi mengemudinya jadi terganggu mendengar tangisan Gendhis.
"Huuaaa... huaaa... huaaa..." Gendhis masih juga menangis.
Ingin rasanya Gala mengusap air mata yang mengalir di wajah cantik Gendhis agar ia bisa tenang. Memberikan pundaknya untuk bersandar agar Gendhis merasa lebih baik. Tapi itu hanya ada dalam angannya.
Gala sengaja tak menahan Gendhis untuk meneteskan air matanya. Ia berfikir, setelah menumpahkan kesedihan melalui air matanya, beban yang ada di hatinya akan sedikit berkurang.
Ternyata benar. Setelah beberapa saat Gendhis meluapkan amarah dan kesediaanya, perlahan air matanya pun mulai mengering.
Gela mengambil beberapa helai tisue yang ada di dashboard mobilnya, lalu memberikannya pada Gendhis. Gendhis menerima tisue itu dengan tangan kanannya, serentak membuat Gala terkejut. Jujur... ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap masuk dalam hatinya. Entah kenapa Gala merasa ada yang aneh dalam hatinya ketika melihat di jari manis Gendhis melingkar sebuah cincin tunangan.
"Ya Allah... perasaan apakah ini? Kenapa aku seperti orang yang sedang patah hati melihat Gendhis sudah memakai cincin tunangan? Lagi pula, siapa Gendhis? Dia hanya salah satu dari ratusan mahasiswi di kampus ku. Ini nggak bisa dibiarin..." ucap Gala dalam hati.
"Terimakasih banyak, Pak Gala..." ucap Gendhis memecahkan lamunannya.
"Ya... tentu! Apa kamu merasa lebih baik sekarang?" tanya Gala setelah Gendhis menghabiskan seluruh air matanya.
"Iya, Pak..." jawab Gendhis singkat.
"Kalau begitu... kita lanjutkan lagi perjalanannya." kata Gala sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya.
Sekarang Gala mulai mengerti penyebab Gendhis menangis dan berada di tengah jalan malam-malam tadi. Dia pasti sedang ada masalah dengan tunangannya, fikirnya dalam hati.
Mobil Gala kembali melaju untuk mengantarkan Gendhis menemui ayahnya yang sedari tadi sudah menjemputnya.
*****
Seperti apa reaksi ayah Gendhis ketika ia melihat anak gadisnya pulang diantarkan oleh laki-laki lain yang bukan tunangannya? Tunggu di episode berikutnya yaaaa....
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar juga hadiahnya yaaa, terimakasih 🥰🥰🥰🙏🙏🙏