
Minggu depan, Riko akan kembali ke Amerika untuk menyelesaikan S2nya. Bu Fina berharap, sebelum keberangkatan Riko, setidaknya sudah ada titik terang tentang kelanjutan pertemuan dua keluarga beberapa waktu lalu. Ahirnya meski terkesan memburu-buru, Bu Fina sibuk mencari cara agar Riko mau memberikan kepastian.
Setelah membujuknya dengan penuh keyakinan, ahirnya Bu Fina berhasil meyakinkan Riko. Betapa bahagianya mendengar Riko mau bertunangan dengan Shaza.
"Baiklah... kalau memang seperti itu keinginan, Mama. Riko bersedia bertunangan dengan gadis itu." ucap Riko dengan berat hati. Baginya kebahagiaannya tidaklah penting. Semenjak ia kehilangan Gendhis, sejak saat itu lah ia mulai lupa bagaimana rasanya bahagia. Jadi, ketika keluarganya menginginkan ia bertunangan, Riko pun turuti saja. Setidaknya ada yang bahagia dengan keputusan yang ia ambil.
"Alhamdulillah... terimakasih Sayang..." ucap Bu Fina penuh rasa syukur sambil memeluk putranya.
"Tapi syaratnya... Riko mau menikah kalau Riko sudah selesai kuliah." Riko mengajukan syarat.
"Baiklah... apa pun permintaan mu, Mama turuti. Kalau gitu, Mama bicarakan hal ini dengan Papa dan kakak mu agar mereka bisa segera menyiapkan segalanya." ucap Bu Fina tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagi ini pada suaminya. Ia lantas meninggalkan Riko di kamarnya untuk menemui Pak Hari yang sedang duduk di teras belakang sore itu.
"Pa... Papa..." suara Bu Fina memanggil suaminya.
"Ada apa, Ma? Kenapa buru-buru?" tanya Pak Hari setelah mendapati istrinya tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
"Pa... Alhamdulillah... Riko mau bertunangan dengan putrinya Bu Sofi. Tapi dia minta untuk tidak buru-buru menikah." jelas Bu Sofi.
"Apa Mama yakin?" Pak hari seolah meragukan jawaban istrinya.
"Papa ini gimana sih? Masa sama anak sendiri nggak yakin?" tanya Bu Sari.
"Bukannya nggak percaya, Ma... cuma... apa semudah itu Riko bisa menerima Shaza sebagai tunangannya? Ya, kita sih berharapnya juga demikian. Tapi Mama sendiri tahu kan sifat Riko? Dia persis seperti papanya yang pantang menyerah mengejar cinta Mama..." gombal Pak Hari.
"Papa... ini bukan waktu yang tepat untuk merayu Mama. Kita sebagai orang tua, do'a kan lah Pa... yang baik-baik buat anak-anak kita. Apa Papa mau Riko jadi bujang seumur hidupnya lantaran cintanya tak tersampaikan?" Bu Fina khawatir.
"Mama itu terlalu berlebihan... yaaa... mudah-mudahan saja... meski sekarang dia belum bisa menerima Shaza, tapi suatu saat nanti dia akan menerima Shaza sepenuhnya. Lagi pula, Shaza juga gadis yang baik." ucap Pak Hari ahirnya.
"Iya, Pa... semoga saja." jawab Bu Fina.
"Baiklah... Papa akan menghubungi Pak Bambang dan kita akan segera persiapkan untuk acara pertunangan Riko." ucap Pak Hari penuh semangat.
__ADS_1
*****
Di rumah mewahnya, Gendhis tengah menyiapkan makan siang untuk suaminya. Tiba-tiba Gala mengejutkan dengan pelukan hangatnya dari belakang.
"Assalamu'alaikum... Nyonya Manggala Kresna..." sapa Gala lembut.
"Astaghfirullah hal 'adzim... Waalaikumsalam... Mas Gala seneng banget sih bikin aku terkejut."
"Kamu terkejut ya? Maaf..." ucap Gala melepaskan pelukannya dan memegang kedua telinga dengan jemarinya seraya meminta maaf.
Gendhis pun lantas memeluk dada bidang suaminya dengan penuh rasa syukur telah memiliki suami sebaik Gala. Begitu perhatian dan sangat menghormati istrinya.
"Mas Gala kapan datang? Aku nggak denger ada suara mobil berhenti di depan rumah. Makanya aku terkejut." ucap Gendhis.
Gala pun membalas pelukan istrinya seraya berkata, "Baru aja sampai. Aku sengaja pulang lebih awal karena udah kangen banget sama mantan mahasiswi ku ini..."
Gendhis tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Mas Gala... habis ini mandi ya. Aku siapkan air hangat. Habis itu kita makan." ucapnya.
Keduanya lantas berjalan melewati sebuah tangga lalu menuju kamar mereka.
"Oh... iya, Dis... tadi Mama telepon... katanya lusa kita akan kerumah Pak Bambang di Semarang untuk acara pertunangannya Riko dengan Shaza." ucap Gala.
"Oh, ya? Syukurlah... Alhamdulillah... untuk kabar baik ini." jawab Gendhis sambil menyiapkan pakaian ganti untuk Gala dan mengeluarkannya dari dalam lemari.
"Iya, Dis... Mudah-mudahan saja, Riko bisa segera mendapatkan kebahagiaannya... aku... belum bisa memaafkan diriku sendiri sebelum Riko mendapatkan kebahagiaannya. Sebenarnya... bukannya aku tidak tahu, bahkan semua orang di rumah, Mama, Papa, semua tahu kalau kebahagiaan Riko adalah kamu. Tapi aku tak bisa jika aku harus merelakan istriku untuk orang lain. Mungkin, jika aku telah tiada di dunia ini... aku baru bisa melihatmu bersanding dengan orang lain. Karena jika orang sudah meninggalkan dunia ini, tak ada satupun yang bisa ia bawa kecuali amal sholihnya." ucap Gala melemah sambil duduk di atas ranjangnya. Terkadang saat muncul rasa bersalah telah mengambil kebahagiaan adiknya, Gala seperti orang dirundung gelisah. Bagaimanapun juga, Riko adalah adik satu-satunya. Saat adiknya belum bisa menemukan kebahagiaannya, maka selama itulah kebahahiaan di hati Gala serasa belum lengkap. Namun apa yang bisa dia perbuat? Tak mungkin juga dia akan mengikhlaskan istri yang sangat ia cintai untuk adiknya.
Gendhis lantas duduk di samping Gala, memeluk erat lengan kanannya dan menyandarkan kepalanya di pundak Gala seraya berkata,
"Mas Gala... berjanjilah untuk tidak berbicara seperti itu lagi kalau Mas Gala ingin melihat aku bahagia....! Tepiskan rasa bersalah yang berlebihan di hati Mas Gala... Allah pasti punya rencana lain yang lebih indah untuk kebahagiaan Mas Riko. Percayalah... Allah pasti menunjukkan kebesaranNya. Hanya... kita harus bersabar hingga saat itu tiba." Gendhis coba menghibur hati suaminya.
"Kita do'a kan saja, mudah-mudahan Shaza adalah gadis yang tepat yang dikirimkan Allah untuk Mas Riko." lanjut Gendhis.
__ADS_1
"Amiiin... amin..." Gala mengaminkan. Ia lantas kembali memeluk Gendhis dengan sangat erat, seolah tak akan pernah rela wanitanya itu lepas dari pelukannya.
*****
Malam yang paling dinantikan telah tiba. Dua keluarga berkumpul jadi satu untuk menyaksikan acara pertunangan Riko dengan Shaza. Rumah Pak Bambang yang terletak di dataran tinggi Bandungan Sumowono Semarang itu di penuhi oleh begitu banyak tamu undangan.
Dalam diam, Gala masih mengamati raut wajah adiknya. Riko tak seberuntung dirinya saat bertunangan dengan Gendhis dulu. Wajahnya berbinar dan senyumnya lepas. Tapi Riko... senyumnya seolah dipaksakan dan tak terlihat ada aura kebahagiaan terpancar dari wajah Riko. Justru selama acara berlangsung, meski dengan mencuri pandang, mata Riko masih saja tertuju pada Gendhis. Baik Gala maupun Shaza, ternyata sama-sama mengamati wajah Riko malam itu. Mereka sama-sama berfikir tentang Riko. Bedanya, kalau Shaza tidak tahu kalau Gendhis sebenarnya adalah wanita yang amat dicintai Riko.
Usai acara pertunangan, Riko dan Shaza duduk di sebuah kursi sambil mengamati tamu undangan yang tengah menikmati acara pesta.
"Kenapa Kak Riko mau bertunangan dengan ku?" pertanyaan Shaza tiba-tiba mengejutkan Riko.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Riko balik bertanya.
"Tentu saja aku harus tahu alasannya. Aku tidak mau menyia-nyiakan sisa hidupku untuk menikah dengan lelaki yang tak mencintai ku." ucap Shaza.
"Kamu sendiri? Kenapa kamu mau bertunangan dengan ku? Padahal kamu sendiri tahu kalau aku tidak mencintai mu." Riko balik bertanya.
"Aku memang bertunangan dengan laki-laki yang tidak mencintai ku saat ini. Tapi aku yakin, kamu adalah laki-laki yang baik. Entah kenapa aku tak kuasa menolak takdir ini. Meski aku tahu kamu belum mencintai ku." ucap Shaza dalam hati.
"Kenapa kamu diam? Apa karena kamu sudah terpesona dengan ku, hingga kamu mau bertunangan dengan laki-laki yang tidak mencintai mu? Tenang saja... kamu masih punya waktu satu tahun untuk membatalkan pernikahan kita nanti." lanjut Riko.
Kalau Shaza mau, saat itu juga ia bisa saja membatalkan pertunangannya. Tapi semua itu tak ia lakukan karena rasa keingintahuannya pada laki-laki misterius itu cukup tinggi. Sikapnya sungguh aneh. Terkadang sangat baik dan lembut, tapi seketika bisa berubah menjadi gunung es yang begitu keras juga dingin.
"Baiklah... kita tunggu sampai satu tahun kedepan. Dan kita lihat, siapa yang akan membatalkan pertunangan ini. Aku bukan tipe wanita plinplan yang tak bisa memegang janji. Kalau aku sudah membuat satu keputusan, aku tak mungkin mundur. Kecuali, dia sendiri yang memilih untuk mundur..." sindir Shaza.
"Oh... komitmen gadis ini cukup kuat juga. Dia juga gadis yang berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Padahal jelas-jelas dia tahu kalau aku tidak mencintainya. Sebenarnya dia gadis yang baik, juga... cantik. Tapi... sayang aku tidak mencintainya. Sebenarnya... dia pantas mendapatkan laki-laki yang sungguh-sungguh mencintainya. Bukan lelaki sepertiku..." bathin Riko.
Acara pertunangan ahirnya selesai juga. Mulai malam ini, Riko dan Shaza telah resmi bertunangan secara status. Tapi di hati mereka, sama sekali belum tumbuh benih-benih cinta. Biarkan waktu yang kan menjawabnya. Dapatkah Shaza meluluhkan hati Riko yang dingin itu? Dapatkan Shaza menggantikan posisi Gendhis di hati Riko?
*****
__ADS_1
...Terimakasih sudah menunggu kakak... jangan lupa komentar serta dukungannya yaaa... 🥰🥰🙏🙏...