Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Ambil Hati Camer


__ADS_3

Sambil menemui Riko di ruang tamu bersama ayah dan ibunya, Gendhis terus bergeming dalam hati, sebenarnya apa maksud kedatangan Riko ke rumahnya? Apalagi Gendhis faham betul peringai Riko yang suka bertindak gegabah dan bisa di bilang nekat. Mereka berempat mengobrol tentang banyak hal, hingga tiba saat Riko ingin berpamitan.


"Bapak, Ibu... terimakasih banyak sudah diperbolehkan silaturahmi. Saya rasa sudah terlalu lama di sini, saya pamit dulu..." pinta Riko.


"Eh... kok buru-buru, Nak Riko. Makan dulu... kebetulan Gendhis tadi pagi sudah masak sayur lodeh, mari..." ucap Bu Sari.


Riko tersenyum sambil berkata, "Terimakasih, Bu... lain kali saja. Saya barusan makan tadi." ucap Riko basa basi, padahal dalam hati ngarep banget, biar dia bisa berlama-lama di rumah itu.


"Sudah makan kan tadi, di sini kan belum. Nak Riko, sudah menjadi tradisi di kampung kami, kalau ada tamu berkunjung belum boleh meninggalkan rumah kalau belum makan. Pamali nolak rezeki..." kata Pak Ratno dan memang seperti itu lah tradisi kampung Merangi. Mereka mengibaratkan tamu adalah raja. Tamu itu mengantarkan rezeki tersendiri meskipun ia datang dengan tangan kosong. Karenanya, mereka selalu bertindak sebijak dan se ramah mungkin pada tamunya.


"Baiklah kalau begitu, maaf jadi merepotkan." ucap Riko masih dengan basa basinya.


"Udah tau merepotkan tapi mau..." ucap Gendhis berbisik pada ibunya.


"Sssttt... Gendhis, nggak sopan bicara seperti itu di depan tamu! Sudah buruan siapin piring buat makan Nak Riko." ucap Bu Sari lirih pula.


Riko pun hanya tersenyum geli melihat Gendhis yang sedikit ngambek itu. Ia sudah bisa menebak alasan kenapa Gendhis marah tiada lain adalah Riko yang selalu bikin kejutan aneh. Tapi jujur, Riko suka! Gendhis terlihat makin cantik saat dia sedang marah.


Gendhis pun berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan siang meski dengan raut muka masam. Tapi, betapa bahagianya hati Riko. Bisa makan siang bersama satu meja seperti sekarang ini membuatnya seolah mendapat lampu hijau dari kedua orang tua Gendhis.


Seusai makan siang bersama, Riko ahirnya berpamitan tapi kali ini Pak Ratno kembali menahannya. Baik Gendhis maupun Riko masih tak mengerti kenapa Pak Ratno masih menahan laki-laki itu di rumahnya. Tapi tidak untuk Bu Sari. Rupanya saat mereka berunding di dapur tadi, mereka berdua sudah menyusun rencana.


"Nak Riko... ini sudah masuk waktu dzuhur. Tak baik jika pergi meninggalkan rumah saat sedang adzan. Bagaimana kalau kita ke masjid dulu untuk berjamaah. Kebetulan masjidnya tidak terlalu jauh." kata Pak Ratno.


"Baiklah Pak... mari..." jawab Riko sambil berjalan keluar rumah mengikuti Pak Ratno.

__ADS_1


Untung saja laki-laki macho dan tampan itu selalu sedia perlengkapan sholat di dalam mobilnya. Jadi ketika sewaktu-waktu tiba waktu sholat dan dia sedang dalam perjalanan, Riko bisa mencari masjid terdekat. Terlebih lagi, saat mendapati situasi mendesak seperti ini. Segera Riko mengambil sarung dan pecinya dari dalam mobil lantas bergegas pergi ke masjid berdua dengan Pak Ratno.


Sepulang mereka dari masjid, Riko kembali mencoba berpamitan dan lagi-lagi Pak Ratno menahannya. Kali ini dengan alasan yang sedikit tidak masuk akal, tapi Riko suka. Dengan begini, dia bisa sekaligus cari kesempatan untuk mendekati calon mertua.


"Nak Riko, begini... saya mau mengantar sayuran hasil panen. Kebetulan tadi habis panen. Tapi ternyata, mobil yang biasa kami sewa lagi di bengkel. Kira-kira Nak Riko keberatan apa tidak ya, jika saya minta bantuan Nak Riko untuk mengantarkan saya ke pasar sayur?" ucap Pak Ratno ragu-ragu.


"Oh... tentu saja, Pak. Bapak bisa pakai mobil saya." jawab Riko tanpa ragu sedikitpun.


Padahal awalnya Pak Ratno hanya ingin mengetes saja seberapa tulus Riko ketika Pak Ratno meminta bantuan yang sedikit menyulitkan di hari pertama mereka bertemu.


"Tapi... apa ndak merepotkan Nak Riko? Siapa tahu nak Riko ada acara... dan lagi... bagaimana jika nanti mobilnya Nak Riko jadi kotor terkena sayuran." ucap Pak Ratno terus terang.


"Ya, Allah Bapak... sama sekali nggak repot dan kalau masalah mobil kotor Bapak tidak perlu khawatir. Air masih banyak." jawab Riko.


Pak Ratno mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mulai melihat aura keseriusan dari wajah anak muda itu.


Gendhis yang sedari tadi merasa aneh dengan sikap ayahnya itupun ahirnya bertanya pada Ibunya.


"Bu... Gendhis nggak ngerti. Bapak kenapa sih minta tolong Mas Riko buat bawa sayur ke pasar? Padahal kan mobil Pak Argo yang biasa kita sewa juga ada. Kenapa malah palakai mobil Mas Riko?" tanya Gendhis saat sedang membantu ibunya memasak.


"Gendhis... sudah biarkan saja Bapak kamu. Ibu juga ndak tahu. Mendingan sekarang kita cepat selesaikan masaknya. Sudah hampir sore!" ucap Bu Sari mengalihkan pembicaraan.


Gendhis masih tak percaya kalau ibu dan ayahnya itu tidak sedang merencanakan sesuatu. Soalnya perilaku mereka berdua tiba-tiba berubah aneh setelah Riko bertamu ke rumah ini. Tapi sampai sekarang dia belum dapat satu jawaban pun dari keanehan itu.


Pukul 17.30 WIB tepat, Riko dan Pak Ratno tiba kembali di rumah. Mereka segera turun. Pak Ratno meminta Riko untuk membersihkan dirinya setelah ikut berjibaku dengan juragan-juragan sayur di Pasar Kaliangkrik. Setelah semuanya beres, di ruang tamu... sebelum Riko berpamitan, Pak Ratno sudah lebih dulu memintanya untuk jangan pulang dulu.

__ADS_1


"Haduhhh.... Bapak.... apa lagi sih ini? Belum cukup juga ya menyerkap Mas Riko seharian? Biarlah dia kembali ke habitatnya.... jangan sampai Bapak minta Mas Riko buat nginep di sini. Bisa-bisa aku di suruh nikah paksa sama warga lantaran membiarkan laki-laki aneh itu menginap di sini, hihihi..." tiba-tiba tubuh Gendhis ngilu sendiri membayangkan itu semua.


"Nak Riko, ini kan sudah hampir magrib, sekalian sholat magrib di sini terus makan malam. Kali ini... Bapak baru izinkan pulang dan tak akan menahan Nak Riko lagi." ucap Pak Ratno.


"Alhamdulillah.... ternyata Bapak ku masih sadar kalau punya anak gadis." ucap Gendhis lega dalam hatinya.


Lagi-lagi Riko hanya tersenyum tak tahu harus berkata apa.


"Apa iya, saya masih bisa menolak permintaan Bapak?" ucap Riko serentak membuat yang ada di sana pun tertawa.


Inilah ujian terakhir yang diberikan Pak Ratno untuk mengetes seperti apa dan seberapa serius niat Riko untuk menikahi putrinya.


Ketika adzan magrib berkumandang, Pak Ratno mengajak Riko beserta anak-anak dan istrinya untuk sholat magrib berjamaah. Tapi kali ini, dia meminta Riko untuk menjadi imam. Ia ingin mengetahui bagaimana reaksi Riko. Kalau memang dia rajin beribadah tentulah hal tersebut tidak akan memberatkannya. Selain itu, dengan jamaah sholat maghrib, Pak Ratno bisa secara tidak langsung mengetes seberapa bagus bacaan Quran nya, dan seberapa bagus hafalannya.


Meski awalnya sedikit terkejut juga nervous tapi dengan sigap Riko menerima tantangan dari calon mertuanya itu.


Dari dalam mobil, Riko mengambil sarung, peci, lengkap dengan baju koko lengan panjang berwarna putih, membuat wajahnya semakin terlihat bercahaya. Riko mengganti pakaiannya dengan baju kebesaran saat bersujud padaNya.


Sesaat Gendhis baru menyadari, ternyata laki-laki aneh itu terlihat tampan juga saat mengenakan pakaian ala-ala mas-mas pondok.


Di dalam mushola keluarga di rumah Pak Ratno, semuanya telah bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib berjama'ah di mana Riko yang menjadi imamnya. Rakaat pertama seusai membaca surah Al-fatihah, Riko membaca surah Al-Ghasyiyah dan di rakaat ke dua membaca surah Al-Lail. Dengan makharijul huruf yang tepat dan suara merdu, Riko melantunkan ayat-ayat itu dengan sempurna, membuat semua makmum merasa hatinya adem. Seusai mengucapkan kedua salam, Riko berjabat tangan dengan Pak Ratno dan mencium tangannya.


Entah kenapa saat itu hati Riko merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia merasa seolah sudah menjadi bagian dari keluarga itu. Ia jadi semakin tidak sabar untuk segera melamar Gendhis dan menjadikannya istrinya.


Seusai makan malam... ahirnya Pak Ratno mengizinkan Riko pulang setelah dia anggap lulus dalam ujiannya. Sekarang, ia hanya tinggal menunggu keputusan terakhir dari Gendhis.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Riko masih saja tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami seharian ini. Dia jadi tersenyum-senyum sendiri jika mengingat hal tersebut. Riko yang selama ini suka mengejutkan, tiba-tiba sekarang terkena imbasnya sendiri. Ia juga tak menyangka pertemuan pertamanya dengan orang tua Gendhis akan berjalan se lancar ini. Ia juga senang karena baru pertama bertemu, Pak Ratno tidak merasa canggung untuk meminta bantuannya. Sekarang harapan terbesarnya adalah melihat kakaknya menikah, agar secepatnya dia bisa melamar Gendhis dan menikahinya... 🥰😄😄😄


*****


__ADS_2