
Pertemuan terakhirnya dengan Lintang benar-benar membuat Gendhis tak bisa tidur. Siang malam ia terus memikirkan tentang perubahan sikap Lintang yang sangat drastis dan terkesan menginginkan Gendhis memberikan lebih dari apa yang selama ini dia berikan. Padahal sebelumnya, Lintang tak pernah bersikap demikian.
Dulu, saat hendak menggenggam jemarinya pun Lintang ragu-ragu, karena sudah pasti Gendhis akan berlari seperti ayam yang dikejar musang, tapi sekarang... Lintang selalu berucap ingin memeluk, mendekap, dan pasti kata-kata itulah yang menjadi sumber pertengkaran mereka. Entah dengan cara apa Gendhis akan memberinya pengertian.
"Gendhis... kamu ngelamun ya?" seketika suara Ita memecahkan lamunannya.
"Heyy... kapan datang? Aku nggak liat kamu datang." kata Gendhis yang seda duduk di serambi masjid kampus saat hendak menunggu mata kuliah selanjutnya.
"Jelas lah... kamu nggak ngeliat, orang kamunya aja lagi ngelamun. Emang... ngelamunin apaan sih?" Ita penasaran.
"Nggak ngelamun kok." Gendhis mengelak.
"Lalu apa namanya kalau nggak ngelamun?" tanya Ita.
"Cuma... lagi mikir aja." jawab Gendhis.
"Mikir tapi angannya kemana-mana? Sama aja, Dis... Dis..." kata Ita.
Belum usai perbincangan mereka, tiba-tiba ponsel Gendhis berdering. Segera ia buka dan ternyata ada pesan masuk melalui whatsapp dari Lintang.
"Aku tunggu nanti jam tujuh malem di Caffe La Guna seperti biasa. Jangan sampai terlambat dan dandan yang cantik, okeyy... Bye..."
Gendhis terheran-heran membaca pesan itu. Baru beberapa menit yang lalu dia memikirkan tentang Lintang, dan ternyata... Lintang tahu apa yang sedang Gendhis fikiran.
"Alhamdulillah... ternyata apa yang aku fikir tentang Mas Lintang ahir-ahir ini salah... ternyata Mas Lintang masih mencintai ku, memikirkan ku... sudah lama sekali rasanya aku tak pernah mendengar Mas Lintang bicara semanis ini." ucap Gendhis dalam hati.
Ia bahagia, ahirnya Lintang bisa mengerti isi hatinya. Seketika wajah Gendhis pun kembali ceria, dan ia tersenyum-senyum membaca pesan itu.
"Heyyy... Gendhis. Kalau senyum ngajak-ngajak dong, masa hp diajak senyum sih." kata Ita menggoda.
Selain Gala, pertama kali ia mengenal teman di kampus ini adalah Ita. Tak heran jika keduanya sudah sangat akrab.
"Udah yuuuk... ke kelas nanti terlambat." kata Gendhis sambil memasukkan kembali hp kedalam tasnya.
__ADS_1
Keduanya pun akhirnya berjalan meninggalkan serambi masjid kampus menuju ruang kuliah. Ketika di perjalanan, Ita berkata,
"Oh... iya Dis, aku lupa belum bikin tugasnya Pak Gala, padahal ini kan udah batas waktu tanggal 20 November... haduuuh... gawat. Bisa ancur nih reputasi ku di depan Pak Ganteng." Ita nampak panik.
"Apa? Sekarang tanggal 20 November Ta?" Gendhis terkejut bukan main. Bukan karena ia belum mengerjakan tugas, melainkan... ia baru teringat kalau besok tanggal 21 November adalah hari ulang tahun Lintang.
"Iyaaa lah... emang tanggal berapa?" Ita malah balik bertanya.
"Makasih ya Ta... kamu udah ngingetin." kata Gendhis pada sahabatnya.
"Apa? Jadi kamu juga belum bikin tugas? Oh my god... seorang Gendhis gitu loh, mahasiswi cantik teladan terpopuler di kampus belum bikin tugas? Wah... wah... siap-siap aja nemenin aku turun reputasi di hadapan Pak Ganteng... kita samaaa..." kata Ita.
"Iiiiihhh... apaan sih kamu, ngaco deh ngomongnya. Siapa bilang aku belum bikin tugas. Udah beres yaaa... tinggal ngumpul." kata Gendhis.
"Lalu... aku ngingetin apa dong? Kok tadi kamu bilang makasih..." Ita penasaran dan tak mengerti dengan ucapan Gendhis.
"Udah, nggak papa. Yuuk... buruan ke kelas... katanya rugi kalau sampai ketinggalan kelasnya Pak Gala." Gendhis menarik tangan Ita agar mempercepat langkahnya.
Dalam hati Gendhis berkata,
"Oh... jadi ceritanya Mas Lintang nih yang mau bikin kejutan buat aku? Emang sih... tadinya aku lupa kalau besok adalah hari ulang tahun mu. Tapi sekarang nggak lagi. Pantes aja ntar malem kamu ngajakin aku ketemuan di Caffe biasanya. Dan... kita lihat aja, siapa yang paling berhasil bikin kejutan, aku? Atau kah kamu Mas Lintang ku?"
*****
Pukul 15.00 WIB Gendhis selesai kuliah. Dia segera menelpon orang tuanya untuk memberi tahu bahwa hari ini dia akan pulang agak terlambat. Bukan untuk pergi melancong, melainkan untuk menemui Lintang seperti yang Lintang ucapkan melalui pesan tadi.
Bu Sari... Ibu... Gendhis... jangan ditanya kalau untuk urusan Lintang. Calon menantu kesayangannya itu memang sudah merebut hatinya Bu Sari, hingga saat Gendhis izin apapun ketika ada nama Lintang disebut pasti bakal diizinin. Hanya... Pak Ratno yang sedikit khawatir. Apalagi jika Gendhis harus keluar malem-malem, itu benar-benar di luar kebiasaannya. Karenanya Pak Ratno memutuskan untuk menjemput Gendhis di depan Pasar Kalegen, batas ramai orang berlalu lalang di malam hari. Setelah melewati pasar tersebut, jalan menuju Kampung Merangi sangat sepi. Ia tak mau terjadi apa-apa dengan anak gadisnya. Karenanya, Pak Ratno menelpon Gendhis dan memberi tahunnya kalau malam nanti dia akan dijemput.
"Mau beli apa lagi, Dis?" tanya Ita setelah selesai mengantar Gendhis pergi membeli kado untuk Lintang.
"Udah ini udah cukup." jawab Gendhis sambil membawa beberapa tas belanjaan berisi kado dan satu stel pakaian untuknya.
Ia tak berniat untuk pulang larut sebelumnya, karenanya ia tak membawa baju ganti. Apalagi, sesuai pesan Lintang... Gendhis harus terlihat cantik malam nanti. Jadi nggak sesuai lah, kalau baju buat kuliah dipakai lagi buat dinner.
__ADS_1
"Ya udah... kita pulang sekarang." kata Ita.
Sambil menunggu waktu malam, Gendhis beristirahat di tempat kost Ita yang hanya berjarak beberapa meter dari Untidar.
Setelah selesai sholat maghrib Gendhis bersiap-siap untuk berangkat. Meski dengan make up seadanya, juga gaun muslim berwarna peach senada dengan hijab menutup dada yang ia beli sore tadi, tak menyurutkan kecantikan alaminya. Kecantikan Gendhis bukan sebatas dari wajahnya, tapi juga hatinya. Meski ia tak bersolek dengan make up tebal, tak menampakkan lekuk tubuhnya, namun kecantikan itu tetap terpancar laksana mentari di pagi hari.
"Subhanallah... kamu cantik banget, Dis... Mas Lintang pasti terkagum-kagum saat melihatmu nanti." puji Ita setelah melihat Gendhis selesai berganti pakaian.
"Kamu bisa aja Ta..." jawab Gendhis dengan rona memerah di pipi.
Pukul 18.30 WIB Gendhis berangkat dari tempat kost menuju Caffe De La Guna depan Akmil. Ia memutuskan untuk meninggalkan motornya di tempat kost dan meminta Ita untuk mengantarnya sampai di depan Caffe, karena sepulang dari Caffe nanti biar jadi urusan Lintang. Keduanya pun berangkat berboncengan menuju Caffe.
*****
Dari Asrama Akmil...
Lintang tengah bersiap untuk pergi merayakan ulang tahun yang sudah ia rencanakan amat matang bersama beberapa orang sahabatnya, terkecuali Arnold. Setiap kali ada IB, Arnold tak pernah sekalipun absen untuk pulang ke Jakarta. Maklum saja, di sana sekarang dia sudah punya kekasih baru seperti yang ia idamkan.
Malam ini akan terasa istimewa untuk Lintang. Ia belum pernah merayakan pesta ulang tahun di kota bersama dengan teman-teman taruna yang lain. Karenanya, ia berpakaian sangat perfect, tampan dan juga rapi.
Pukul 18.45 WIB Lintang sudah berada di Caffe untuk segala persiapan pesta. Mulai dari cek ulang menu, dekorasi juga tempat yang sudah ia booking sebelumnya.
Lima menit kemudian, sahabat-sahabatnya pun mulai berdatangan. Satu yang tak mungkin terlewatkan, yaitu... dr. Gabby... kekasih simpanannya.
Lintang begitu terpana melihat kecantikan Gabby malam itu. Rambutnya terurai, hitam dan bergelombang. Memakai gaun malam di atas lutut berwarna merah maroon dengan lengan pendek dan dada sedikit terbuka. Lekuk tubuhnya terlihat begitu jelas karena pakaiannya lebih terlihat seperti pakaian yang belum jadi tapi sudah dia pakai. Meski demikian tak bisa dipungkiri, Lintang suka itu... Dia bahkan dengan bangga bersanding dengan Gabby dan memamerkannya di hadapan teman-teman tarunanya. Sampai-sampai dia lupa, bahwa pesan yang ia kirim tadi siang bukan sampai di nomor Gabby... melainkan Gendhis... tunangannya, sekaligus jodoh masa kecilnya. 😭😭😭
*****
...***Seperti apakah ekspresi Lintang, Gendhis juga Gabby saat mereka dipertemukan dalam satu pesta ulang tahun Lintang?...
...Tunggu kejutan manis nya di episode berikutnya yaaaa.......
...Jangan lupa like serta komentarnya ya kakak-kakak, terimakasih.... 🥰🥰🥰🙏🙏***...
__ADS_1