Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Mawar di Tepi Jurang


__ADS_3

Hari terakhir kegiatan baksos di Desa Sekar Wangi.


Bumi berjalan mengitari matahari, membuat sang waktu terus berlalu begitu cepat. Seperti baru kemarin Gala bersama dua puluh mahasiswanya menginjakkan kaki di desa nan permai ini. Seperti hatinya yang ingin selalu dekat dengan Gendhis, Gala pun seolah enggan untuk meninggalkan desa penuh kenangan itu. Dari waktu yang hanya sepuluh hari yang dibebankan padanya untuk bertugas, ia merasa inilah saat yang paling berat. Ingin rasanya ia tetap berada di sana, agar bisa dekat dengan Gendhis, namun tak mungkin. Tugas yang dibebankan padanya telah berakhir.


Selama sepuluh hari ini Gala mengerti banyak hal. Selama sepuluh hari ini, begitu banyak pelajaran hidup yang dapat ia jadikan bekal dalam perjalanan cintanya. Dan selama sepuluh hari ini, dia begitu banyak tahu tentang Gendhis. Semakin hari, rasa untuk bisa memiliki cintanya semakin besar. Apalagi, ketika melihat Gendhis terluka dan rapuh saat ia harus merelakan tunangannya menikahi wanita lain. Saat itulah Gala berjanji pada dirinya sendiri, ia akan berusaha menyembuhkan luka di hati Gendhis.


"Pak Gala... teman-teman sudah siap, apa kita berangkat sekarang?" tanya Andri salah satu mahasiswanya. Membuat Gala tersadar dari lamunannya pagi itu di samping kantor desa, sambil menghirup udara segar area persawahan yang membentang luas sejauh mata memandang.


"Oh... iya, Ndri... kita berangkat sekarang." ucap Gala sambil berjalan mendekati Andri dan teman-temannya.


Agenda hari ini adalah berpamitan kepada Kepala Desa beserta perangkatnya, berpamitan kepada beberapa warga kampung yang hadir di kantor desa, lalu dilanjutkan acara inti bakti sosial yaitu penyerahan bantuan sosial berupa sembako dan alat-alat tulis untuk warga kampung. Penyerahan bantuan itu dilakukan secara simbolis kepada Kepala Desa dan selanjutnya pihak desa yang akan menyerahkan pada warganya.


Seusai berpamitan pada warga, rencananya Gala beserta semua mahasiswa akan menghabiskan waktu mereka di obyek wisata kebanggaan warga Kecamatan Kaliangkrik yaitu Silancur Highland sebagai agenda penutup.


Sesampainya di Silancur, mereka disibukkan dengan pandangan mata yang tak henti-hentinya menatap keindahan alam yang disajikan oleh obyek wisata tersebut. Mereka berpencar mencari apa yang mereka inginkan, kecuali Gendhis. Tak seperti teman-teman yang lain, dia hafal betul dengan semua yang ada di sana, karenanya dia lebih memilih untuk duduk bersantai di sebuah kursi taman.


Apa yang bisa ia perbuat? Segala yang ia lihat di tempat itu seolah membuka kembali kenangan lalunya bersama dengan Lintang. Angannya menerawang jauh entah kemana, hingga ia tak menyadari ada suara yang memanggil namanya.


"Gendhis..." suara itu belum juga mendapatkan respon.


"Gendhis..." panggil Gala kembali seolah membangunkan Gendhis dari tidur di angan lalunya.


Ahirnya Gendhis pun tersadar ketika melihat sesosok dosen tampan yang sudah berdi di samping tempat duduknya.


"Ehh... ya... Bapak manggil saya?" tanya Gendhis seperti seorang mahasiswi yang ditegur karena tidak memperhatikan saat dosen menyampaikan mata kuliah di ruangan kelas.


"Ya... iya... lah... manggil kamu! Emang ada siapa lagi yang duduk di sini selain kamu." jawab Gala.


Gendhis sedikit tersenyum mendengar ucapan Gala, dan terang saja... melihat senyum Gendhis siang itu benar-benar membuat Gala merasa lega. Setelah kejadian tiga hari lalu, Gala seperti orang yang sedang kehilangan arah, tak tahu apakah masih bisa melihat senyum di wajah gadis cantik itu. Tapi hari ini... Gala benar-benar merasa lega.

__ADS_1


"Eeemm... maaf Pak, saya nggak denger tadi Bapak manggil saya. Apa Pak Dosen sudah lama di sini?" tanya Gendhis.


"Nggak juga. Barusan habis keliling, terus kebetulan aja aku lihat kamu di sini lagi ngelamun, makanya aku datengin. Awas jangan ngelamun sendirian, nanti bisa kesambet hantu ganteng lho...!" ucap Gala seraya menghibur Gendhis.


Dan ternyata gurauan Gala lumayan sukses, hingga berhasil membuat Gendhis tersenyum lepas, senyum yang mengembang di bibir mungilnya.


"Bapak bisa aja... yang ada juga kalau hantu itu syerem... mana ada hantu ganteng?" kata Gendhis sambil tersenyum dan mengerutkan alis nan panjang dan tipis laksana pelepah daun kelapa.


"Kalau... hantunya... macam saya? Gimana? Ganteng kan?" hibur Gala selanjutnya, dan kali ini bukan hanya tersenyum, Gendhis malah tertawa geli mendengar Gala yang ternyata bisa bicara narsis juga. Gendhis tak tahu kalau untuk bisa melihat senyum itu, Gala harus bersemedi semalam suntuk di Pucuk Sumbing agar bisa menemukan ide, bagaimana membuat wanita yang ia kagumi kembali tersenyum.


"Ternyata... Bapak ini bisa lucu juga ya? Saya baru tahu..." ucap Gendhis sedikit heran.


"Itu karena selama ini kamu sudah menutup hati mu untuk orang lain, Dis... makanya... kamu tak mau berusaha untuk tahu bahwa aku tak hanya bisa bikin kamu tertawa, tapi juga bisa bikin kamu bahagia." ucap Gala dalam hati.


"Kamu baru tahu ya, kalau aku juga punya selera humor? Memangnya yang kamu fikirkan tentang aku selama ini seperti apa?" tiba-tiba saja Gala bertanya demikian, dan membuat Gendhis merasa canggung.


"Eeemmm... nggak ada sih, Pak..." jawab Gendhis singkat seraya mengalihkan pandangannya pada hamparan sawah petani yang nampak subur.


"Oh... ya, Pak silakan..." jawab Gendhis canggung sambil sesekali melihat ke arah teman-temannya yang sedang sibuk ber swa foto.


Gala pun lantas duduk kira-kira berjarak sekitar satu setengah meter dari tempat duduk Gendhis.


"Dis... gimana? Apakah kamu sudah merasa lebih baik sekarang?" Gala mulai serius bicara.


Gendhis hanya terdiam dan seketika raut wajahnya pun kembali suram.


"Maaf... aku terlalu ikut campur masalah kamu ya?" Gala kembali bertanya.


"Nggak, kok Pak... Bapak nggak salah, kenapa harus minta maaf? Lagi pula sudah menjadi rahasia umum, kalau saya... sudah gagal menikah." jawab Gendhis dengan nada putus asa, membuat Gala juga merasa prihatin.

__ADS_1


"Semua serba kebetulan. Bahkan malam itu... aku tak tahu kalau Pak Kades ternyata mengajak ku kondangan itu di acara pernikahan kamu. Tapi bagus lah... sekarang aku jadi tahu apa yang selama ini membuat kamu jadi sedikit pendiam. Bahkan... maaf... kejadian malam itu, saat aku nyaris hampir menabrak mu di tengah jalan dengan mobil ku, apakah ini alasannya?" tanya Gala menelitik.


Gendhis hanya terdiam tak mampu untuk berkata-kata karena apa yang diucapkan Gala adalah benar.


"Kamu kenapa nggak kasih tau sebelumnya kalau waktu itu kamu mau nikah? Aku dosen kamu, dan selama kegiatan ini belum selesai, kamu masih jadi tanggung jawab ku." lanjut Gala.


"Tapi menikah kan bukan termasuk urusan kegiatan kampus, Pak... jadi buat apa saya harus minta izin sama Bapak?" tanya Gendhis.


Benar juga apa yang Gendhis ucapkan. Untuk apa dia harus minta izin Gala kalau mau nikah. Emangnya Gala siapanya Gendhis? Fikir Gala dalam hati.


"Aku minta maaf, karena sudah terlalu jauh ikut hanyut dalam masalah pribadi mu. Tapi percayalah... aku nggak ada maksud buruk. Hanya..." Gala belum selesai bicara, Gendhis sudah menangkis ucapannya.


"Nggak papa, Bapak nggak perlu khawatir... saya baik-baik saja. Dan... sepertinya yang lain sudah menunggu, mari kita segera turun untuk upacara penutupan." ucap Gendhis mencoba mengalihkan pembicaraan. Sepertinya ia masih enggan terbuka pada orang lain tentang masalah pribadinya. Apalagi pada seseorang laki-laki yang bukan mahramnya. Ia takut akan menimbulkan sesuatu yang nantinya akan membuat dirinya terjerat dalam suatu masalah.


Gendhis bangkit dari tempat duduknya dan hendak berjalan meninggalkan Gala. Saat kakinya hendak melangkah, Gala menghentikan Gendhis dengan ucapannya.


"Gendhis... tunggu!" seru Gala.


Gendhis pun berhenti tanpa membalikkan wajahnya ke arah Gala. "Maaf... Pak, saya tahu ini nggak sopan. Seorang murid yang tidak tawadhu kepada gurunya, ketika dipanggil sang guru... saya malah membelakangi Anda. Saya cuma tidak ingin Bapak menyusahkan diri sendiri dengan ikut masuk dalam masalah pribadi saya." ucap Gendhis dalam hati.


Gala pun melanjutkan perkataannya meski Gendhis berusaha untuk menghindar darinya.


"Dis... maafkan aku sudah bicara terlalu jauh. Aku cuma pengen bilang... Janganlah terlalu lama hanyut dalam kesedihan mu! Jika Allah mengabulkan Do'amu maka berbahagialah..., namun jika belum maka bersyukurlah. Karena do'a yang terkabul itu adalah pilihan hatimu sedang do'a yang tidak dikabulkan itu adalah pilihan Allah... PilihanNya tentu jauh lebih baik..." ucap Gala membuat Gendhis menitikkan air mata.


Segera Gendhis usap air mata itu dengan tangannya agar Gala tak melihatnya, seraya berkata, "Terimakasih untuk nasihatnya, Pak... saya permisi. Assalamu'alaikum..." ucap Gendhis sambil berlalu meninggalkan Gala yang masih duduk termangu.


"Oh... Gendhis... jika saja kamu tahu, kamu terlalu berharga untuk meneteskan air mata hanya demi seorang Lintang yang namanya pun tak pantas untuk kau sebut. Aku tahu... tak mudah untuk menaklukkan hati mu. Kau ibarat bunga mawar yang mekar di tepi jurang. Harum juga anggun. Tapi tidaklah mudah untuk memetikmu. Kau begitu memesona dengan prinsip yang selalu kau junjung tinggi dalam sikap dan tutur bahasamu. Tapi... demi bisa mendapatkan mawar itu, akan ku tantang segala kesulitan untuk bisa berdiri di antara jurang itu, dengan segala do'a juga tekad bulat ku. Dengar ucapan ku ini, duhai... mawar cantik berduri, My Little Gravity..." ucap Gala lirih saat mendapati Gendhis yang sudah berlalu pergi meninggalkannya.


*****

__ADS_1


...***Terimakasih kakak... masih setia menunggu kejutan dari Gendhis 🥰🥰...


...Jangan lupa like, komentar juga dukungannya yaaa... terimakasih 🥰🥰🙏🙏***...


__ADS_2