Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Dusta di Balas Dusta


__ADS_3

Malam semakin larut. Tak terdengar suara gemuruh apapun dari hiduk pikuk orang berlalu lalang, melainkan hewan malam bernamakan jangkrik yang suaranya seolah memecah kesunyian malam. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 23.00 WIB, berdetak sangat lambat. Namun detak jantung Gala berdetak begitu cepat, seolah tak sabar lagi menunggu datangnya fajar menyingsing.


Sesaat dia berfikir, reputasinya di hadapan semua orang akan turun tatkala esok dia tak dapat mengucapkan kalimat ijab qobul dengan lancar. Bukannya tak hafal, hanya saja ia takut jika terlalu gugup maka kalimat yang sudah berulang kali ia hafalkan dengan sangat lancar itu, tiba-tiba akan luntur dari ingatannya. Karenanya ia terus berdo'a dan berharap, agar esok di hari pernikahannya dengan Gendhis, Allah akan melancarkan segala urusannya.


Demikian halnya dengan Gendhis. Di kamarnya, ia juga belum dapat memejamkan mata. Ia tak bisa melukiskan perasaannya saat ini. Bahkan detik ini hati kecilnya masih bertanya, benarkah Gala adalah laki-laki tepat yang Allah pilihkan untuk dirinya? Tak dapat dipungkiri, rasa takut dan trauma akibat kegagalan di malam pernikahannya dulu dengan Lintang masih jelas membayang di pelupuk matanya.


"Ya Allah... aku sangat takut! Apakah ini wajar? Bagaimana jika kejadian itu terulang kembali dalam kehidupan ku? Sungguh aku tak akan sanggup Ya Allah?" ucap Gendhis lirih, sambil kedua tangan menutup wajah cantiknya.


Rasa trauma Gendhis membuatnya enggan untuk melangsungkan ijab qobul dengan pesta yang meriah seperti dulu. Ia ingin acara tersebut berlangsung dengan khidmat tanpa harus menggelar pesta mewah. Untuk apa pesta mewah jika harus berakhir dengan kesedihan? Karenanya, ia meminta kalau acara ijab qabul dilaksanakan sederhana saja.


Tapi sepertinya, keluarga Pak Hari tidak mungkin menggelar pesta yang biasa saja. Mengingat banyaknya relasi dan rekan-rekan anggota dewan yang juga sudah berharap undangan darinya. Karenanya, setelah Gendhis wisuda nanti, resepsi pernikahan rencananya akan di laksanakan dengan mewah di Gedung A. Yani. Gedung serba guna termewah dan termahal di Kota Magelang yang terletak di Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jurang Ombo, Kota Magelang. Acara itu akan di gelar kurang lebih tiga bulan lagi dari hari ijab qobul Gala dan Gendhis.


*****


Back to Lintang, siang hari di RSU Dharma Yadnya Denpasar Bali.


Dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, Lintang segera berjalan menuju tempat sesuai instruksi dari sang suster tadi. Ia berharap, akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang selalu menghantuinya beberapa hari terakhir ini tentang siapakah sosok laki-laki bernama Bara dan ada hubungan apa dengan istrinya. Benarkah seperti yang Gabby katakan kalau laki-laki itu adalah sepupunya? Atau kah ada yang Gabby sembunyikan darinya?


Melalui lift pengunjung, Lintang naik ke lantai dua. Setelah pintu lift terbuka, ia berjalan melewati lorong yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa perawat dan petugas rumah sakit di sana. Lintang sampai di ujung lorong, di mana suster tadi memberi tahunya bahwa ia harus bebelok ke arah kiri. Ia masih terus mencari keberadaan istrinya. Hingga dia melihat sebuah tulisan yang berbunyi "R. Direktur Utama Rumah Sakit".


"Tidak salah lagi, itu ruangan yang dijelaskan oleh suster tadi." ucap Lintang lirih.


Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ruangan dr. Bara yang pintunya sedikit terbuka. Lintang tak langsung masuk ke ruangan tersebut. Ia ingin memastikan apakah Gabby benar-benar ada di sana atau tidak. Dan ternyata benar, dari balik pintu tersebut, secara diam-diam Lintang melihat Gabby sedang duduk berdua bersama dengan seorang laki-laki tampan bertubuh kekar dengan pakaian rapi. Meski dengan suara sayup-sayup, tapi percakapan antara Gabby dan Bara terdengar sangat jelas dari tempat Lintang berdiri di balik pintu.


"Kamu sabar sebentar kenapa? Paling nggak tunggu sampai Sanchi lebih kuat lagi. Kamu tahu kan, Sanchi deket banget sama Lintang?" terdengar ucapan Gabby.

__ADS_1


"Sanchi? Apa yang akan ia lakukan dengan dengan putri ku?" bathin Lintang bertanya-tanya.


"Tapi sampai kapan? Aku sudah tak bisa lagi menunggu terlalu lama!" jawab Bara.


"Sekarang kamu bilang terlalu lama? Selama ini kamu kemana? Kamu malah lebih memilih pergi ke Paris ninggalin aku. Apa waktu itu kamu nggak berfikir hancurnya aku saat tahu kamu pergi gitu aja setelah semua yang terjadi di antara kita? Dan sekarang... tiba-tiba kamu datang lagi tanpa merasa bersalah, dan ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatan mu. Kamu terlalu naif, Bara... bahkan saat itu kamu tak berani mengakui kalau janin yang ada dalam kandungan ku itu adalah anak mu!" ucap Gabby menggebu-gebu dengan berlinangan air mata.


Mendengar ucapan Gabby, seketika Lintang seperti disambar petir. Ia tak ingin mempercayai itu, tapi itulah kenyataan yang keluar sendiri dari mulut Gabby. Meski rasa hati ingin masuk ke dalam ruangan Bara, tapi sebisa mungkin ia tahan agar ia bisa tahu lebih dalam lagi, kenyataan apa yang sudah Gabby sembunyikan darinya.


"Bara... kamu lupa? Kamu pernah abaikan aku dan putri mu? Dan kau tahu? Lintang yang sudah menyelamatkan ku juga putri mu dari perbuatan mu. Aku maafin kamu... karena kamu bilang, kamu ingin memperbaiki semuanya dan kita hidup bahagia. Dan sekarang... aku cuma minta kamu untuk sabar sebentar saja sampai Sanchi siap untuk jauh dari Lintang." lanjut Gabby.


Bara pun mengakui kesalahannya. Meski ia pernah tinggalkan Gabby karena takut menghadapi kenyataan bahwa Gabby hamil, namun pada akhirnya laki-laki itu sadar kalau dia tak bisa hidup tanpa Gabby. Bara lantas memeluk tubuh Gabby seraya menenangkan tangisannya.


"Sudah... sudah... aku minta maaf. Aku yang salah! Aku janji, akan menunggu sampai kamu benar-benar siap untuk pisah dari suamimu lalu kembali padaku. Sekarang, jangan menangis yaaa..." bujuk Bara sambil menghapus air mata Gabby.


"Braakkkk!!!" suara pintu didobrak terdengar sangat keras hingga Bara pun terkejut lalu melepaskan pelukannya.


"Lintang????" betapa terkejutnya Gabby melihat Lintang yang dengan wajah berapi-api sudah berada di ruangan Bara. Ia cukup yakin kalau suaminya itu mendengar semua percakapannya dengan Bara.


Tanpa berkata-kata, Lintang berjalan ke arah Gabby dan, "Plaaaakkkk..." tangannya bersarang di pipi Gabby hingga membuat Gabby merasa sedikit kesakitan di wajahnya.


"Hayyy... Bung, jaga sikap mu! Kamu tak berhak berlaku kasar pada wanita!" Bara tak terima dengan perlakuan Lintang.


"Aku suaminya!!! Kamu pikir kamu siapa? Apa kamu adalah atasannya? Lalu, siapa yang memberi mu hak untuk memeluk istri orang lain? Apakah memang seperti ini tabiat mu?" tanya Lintang penuh emosi.


"Jaga mulut kamu ya!" ucap Bara.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu nggak terima? Kalau gitu, ayo kita selesaikan semuanya sekarang!" ancam Lintang.


"Bhugg... Bhugg..." pukulan Lintang bersarang di wajah tampan Bara.


"Bhugg... Bhugg..." Bara membalas, sehingga adu kekuatan pun tak dapat dihindarkan di ruangan itu.


Gabby sangat panik dan berkata, "Lintang... Bara... sudah cukup jangan berkelahi lagi." tapi sepertinya ucapan itu tak dihiraukan hingga membuat ia harus menelpon security.


Tak butuh waktu lama, datanglah dua orang security rumah sakit melerai dua orang laki-laki itu.


"Lepas... lepaskan. Kalian tidak perlu mengusirku! Aku akan keluar dari sini dan tak akan sudi lagi menginjakkan kaki di tempat ini." ucap Lintang pada dua orang security tersebut.


Ketika security melepaskan kedua tangannya, Lintang pun berjalan untuk keluar, dan sampai di depan pintu ia kembali lagi untuk berbicara pada Gabby.


"Aku talak kamu!!! Mulai detik ini, kamu bukan istriku lagi. Dan mulai detik ini, kita bukan suami istri lagi...!!!" ucap Lintang lantas pergi meninggalkan ruangan Bara.


Ucapan tersebut membuat semua yang ada di sana jadi terperanjat, termasuk kedua orang security yang baru saja melerai atasan mereka. Mereka hanya saling menatap satu sama lain, tak berani mengucapkan sepatah katapun. Mata keduanya seolah mengisyaratkan bahwa apa yang sudah dilakukan laki-laki yang tak mereka kenal itu tidak lah salah.


"Apa kalian lihat-lihat? Cepat kembali bekerja!!!" ucap Bara pada kedua orang security yang sedang menatapnya dengan penuh heran.


"Baa... baik. Pak, siap!" dua orang security itu lari tunggang langgang, takut mereka akan terkena imbas dari kemarahan Bara.


*****


...Karma belum berakhir di sini ya kakak... tetap berikan komentar serta dukungannya yaaa... terimakasih 🤗🥰🥰🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2