Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Menikmati Indahnya Sunrise yang Berujung Ucapan Cinta


__ADS_3

Sayup terdengar adzan subuh berkumandang. Semakin lama suara itu semakin dekat, hingga membuat mata yang lekat terpejam seolah terbuka, bersiap menghadap Sang Khaliq. Udara dingin seolah membuat insan terhipnotis. Ingin rasanya menarik selimut dan terjaga beberapa menit lagi. Namun Sang Waktu enggan untuk berkompromi. Dia akan meninggalkan siapa saja yang tak bergegas mengikuti arus waktu.


Semua peserta kemah LDK di Silancur Highland terbangun melawan dinginnya angin puncak Sumbing. Air yang mereka ambil untuk berkumur membuat gigi ngilu, bak berkumur dengan air es. Bagi Gendhis, suasana seperti ini sudah biasa ia rasakan. Tentu tidak bagi teman-temannya yang sedang mengikuti kemah. Kendati demikian, semangat mereka tak pantang menyerah. Mereka tak ingin melewatkan kesempatan terakhir mereka untuk melihat matahari terbit di gardu pandang Silancur. Karenanya, mereka segera terbangun. Setelah gagal di malam pertama mereka saat hendak menikmati keindahan matahari terbit karena cuaca mendung, mereka berharap kali ini Sang Surya akan menampakkan secercah cahayanya di ufuk timur.


"Gendhis..." Panggil Tina seusai keluar dari mushola di area kemah.


"Ya, Tin... kenapa?" Gendhis menjawab.


Tina mulai mencari cara bagaimana bisa membawa Gendhis ketempat yang Riko minta malam tadi.


"Dis, selama kita di sini, kamu belum ajak aku jalan-jalan keliling Silancur. Hari ini kan hari terakhir, kegiatan juga sudah usai. Habis ini kita jalan-jalan ya, Dis?" Tina mulai melancarkan aksi.


Gendhis tersenyum.


"Apa sih yang nggak buat sahabat terbaik ku..." Jawabnya.


"Beneran, Dis?" Tina gembira.


"Ya iya, lah... Kamu mau jalan ke mana? Jangankan keliling Silancur, keliling puncak Sumbing pun aku anterin" Gendhis bercanda.


"Beneran ya, Dis. Habis ini aku ganti baju dulu... biar bisa selfie-selfie." Kata Tina. Dia tak menyangka, ternyata bukan hal yang sulit bawa Gendhis jalan ke atas. Yang bikin sulit adalah dia harus membohongi sahabatnya itu. Dalam hati ia bertanya,


"Bagaimana jika Gendhis tahu rencananya? Pasti bakal marah... Maafin aku ya, Dis... aku nggak akan ulangi ini lagi. Aku janji..." Tina sebenarnya merasa bersalah.


"Ya sudah, kita taruh mukena dulu, mandi, ganti baju habis itu kita naik." Ucap Gendhis.


"Siappp..." Tina bersemangat.


Keduanya pun kembali ke tenda untuk bersiap-siap. Tak lama kemudian, mereka keluar dari tenda.


Meski dengan polesan wajah yang sederhana, namun Gendhis nampak cantik pagi itu. Mengenakan tunik warna dusty dan hijab phasmina yang senada dengan warna tuniknya, hanya sedikit lebih gelap. Ikat pinggang rajut warna mocca yang tidak terlalu lebar melingkar di atas pinggul. Celana hitam soft jeans, dan sepatu sneakers warna putih lengkap dengan tali putih kesukaan Gendhis.


"Udah siap, Tin?" Gendhis bertanya pada sahabatnya yang sedang sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya.


"Ya, Dis, bentar... aku lagi nyariin ponselku." Jawab tina yang masih sibuk mencari. Setelah hpnya ketemu, segera dia mengirim percakapan melalui whatsapp pada Riko, dia bilang, "Kak Riko, aku dan Gendhis jalan sekarang."


Dari luar tenda, Gendhis sudah menunggu.


"Ayo, Tin... matahari keburu muncul..." Panggil Gendhis.


Segera dimasukkannya hp Tina ke dompet kecilnya sebelum Gendhis mencurigai gerak geriknya.


"Oh... iya, Dis..." Jawab Tina sembari keluar tenda.


Nampak salah satu dari teman mereka yang bernama Santi baru keluar dari tenda di sebelahnya. Sepertinya Santi baru bangun dari tidurnya. Terlihat matanya masih sayu dengan jaket tebal menutupi tubuhnya.


"Wah... wah... pagi-pagi gini kalian sudah rapi. Mau ke mana, Dis? Kok nggak ngajak-ngajak sih..." Tanya Santi.


"Kami mau jalan ke atas. Kamu mau ikutan?" Gendhis bertanya.


Tina sedikit panik, jangan-jangan Santi mau ikutan, wah... bahaya... dia bisa mengganggu rencananya Kak Riko.


"Pengen sih... tapi, aku belum mandi... hihi... " Kata Santi malu-malu.


Segera Tina menjawab sebelum Gendhis mendahului.


"Ya udah sana... mandi dulu, aku buru-buru sama Gendhis soalnya. Nanti kamu nyusul aja. Keburu siang..." Kata Tina khawatir Santi ikut bersama mereka.


"Iya, deh... iya... aku mandi dulu..." Santi ahirnya kembali masuk dalam tenda.


Beruntung cuaca pagi ini bersahabat rupanya. Sehingga peserta kemah dapat menyaksikan sunrise seperti yang telah mereka idam-idamkan.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Gendhis dan Tina sampai di tempat yang telah ditentukan oleh Riko.


Pemandangan sangat fantastis. Langit mulai menggulung selimut malamnya, berganti secercah sinar kekuning-kuningan dari ufuk timur. Di sana mereka melihat siluet dari empat gunung sekaligus, yakni Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong dan Gunung Telomoyo. Dan jika mereka melihat ke arah barat, pucuk Sumbing terlihat sangat gagah berdiri menjulang. Udara pagi khas puncak Sumbing, juga bentangan sawah nan hijau milik petani setempat. Semua itu membuat Silancur makin sempurna.

__ADS_1


Tina sangat terpukau melihat pemandangan yang begitu memesona. Hingga hampir saja ia melupakan tujuan utamanya membawa Gendhis ke tempat ini adalah permintaan Riko. Dia ingin situasi ini segera berakhir, agar beban karena rasa bersalah kepada sahabatnya itu segera berakhir.


"Dis... kamu tunggu di sini sebentar yaaa..." Pinta Tina memulai rencananya.


"Kamu mau kemana, Tin?" Tanya Gendhis yang sedikit heran melihat tingkah sahabatnya yang tiba-tiba aneh.


"Aku kebelet ini, pengen ke toilet..." Tina beralasan.


"Lho... bukannya tadi setelah dari mushola kamu udah ke toilet?" Gendhis menginterogasi.


Tina ingat, memang setelah dari mushola tadi bilang kalau mau pergi ke toilet.


"Em... iya, kebanyakan minum, dan cuaca juga dingin banget, makanya aku jadi bolak balik ke toilet. Aku kebelet banget ini." Jawab Tina.


"Ya ampun Tina... kamu mau ninggalin aku sendirian di sini? Aku ikut kamu turun aja deh..." Gendhis seolah merasa tidak nyaman.


"Eh... jangan... jangan... em... maksudku kamu tunggu di sini aja. Aku cuma bentar kok, nanti ke sini lagi. Kan aku belum puas menikmati pemandangan di sini... Ya Dis..." Tina memohon.


"Hem... ya sudah lah... tapi jangan lama-lama yaaa..." Pinta Gendhis.


"Siap..." Secepatnya Tina meninggalkan Gendhis yang masih duduk di kursi panjang sambil menikmati pemandangan.


Segera Tina menghubungi Riko dan mengatakan bahwa dirinya telah turun ke bawah meninggalkan Gendhis. Dia juga berpesan melalui whatsapp,


"Kak Riko, aku sudah menuruti permintaan mu. Sekarang giliran Kak Riko yang menuruti permintaan ku!"


"Siappp... apa permintaan mu, Tin?" Riko membalas.


"Jaga Gendhis baik-baik, jangan macem-macem. Kalau sampai terjadi hal yang buruk sama Gendhis, aku orang pertama yang akan membocorkan rencana Kak Riko!" Tina mengancam karena dia sedikit khawatir dengan sahabatnya.


"Haduh... siap, Tin. Aku sangat menghormati Gendhis melebihi aku menghormati diriku sendiri. Aku janji, akan mengembalikan sahabatmu tanpa kurang satu helai rambutpun." Janji Riko saking bahagianya.


Riko pun segera menyusul Gendhis melalui jalur yang berbeda dengan yang Tina dan Gendhis lewati saat naik. Setelah sampai, dari kejauhan, betapa terpukaunya dia melihat Gendhis begitu anggun. Wajahnya cantik bersinar terkena pantulan cahaya fajar. Duduk termangu di kursi yang sampingnya dipenuhi oleh tanaman bunga yang sedang mekar.


Mengamati tiap sudut pemandangan yang ada dihadapannya membuat Gendhis tak sadar kalau ternyata Riko sudah berdiri di belakangnya.


Bak mendengar kilatan petir, Gendhis terkejut mendengar suara Riko memecahkan lamunannya.


Segera dia menoleh ke belakang dan benar adanya, Riko sudah berdiri berjarak sekitar satu meter di belakang Gendhis. Betapa terkejutnya Gendhis dan ingin rasanya ia berlari menjauhi Riko, tapi dia sudah berjanji pada Tina untuk menunggunya sampai Tina datang.


"Gendhis... kamu di sini?" Riko seolah tidak tahu mengapa gadis itu sekarang bisa berada di hadapannya.


"Mas Riko? Sedang apa di sini?" Tanpa menjawab, Gendhis malah langsung melontarkan pertanyaan pada Riko.


"Em... aku tadi lagi jalan-jalan cari udara pagi sambil menunggu sunrise di sini yang katanya sangat bagus. Dan ternyata memang benar, keindahan yang aku lihat pagi ini adalah keindahan sempurna yang belum pernah aku lihat sebelumnya." Ucap Riko pura-pura, sambil terus menatap wajah Gendhis dengan kagum.


Gendhis mulai merasa tidak nyaman dengan suasana itu.


"Kamu sedang apa di sini sendirian, Dis?" Riko bertanya sambil berjalan mendekati Gendhis.


"Aku sedang menunggu Tina, tadi kami jalan bareng, tiba-tiba dia pamit ke bawah sebentar dan katanya sebentar lagi ke sini." Jawab Gendhis tanpa membalas tatapan Riko.


"Oh..." Riko menjawab. Padahal sebenarnya dia tahu persis apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Boleh aku duduk di sini?" Riko meminta ijin walau tubuhnya sudah duduk di sudut kursi panjang yang sama dengan yang diduduki Gendhis.


Gendhis makin tidak nyaman lagi dengan permintaan Riko.


"Silahkan, Mas. Lanjutkan menikmati sunrisenya, aku permisi dulu, mau nyusul Tina." Gendhis berdiri dan hendak meninggal Riko.


"Tunggu, Dis?" Riko mencegah.


Kali ini Gendhis mencoba mendengarkan ucapan Riko. Setelah bangun dari posisi duduknya, Gendhis tak jadi melangkahkan kaki.


"Kenapa, Mas?" Gendhis bertanya tanpa menatap ke arah Riko.

__ADS_1


"Dis, aku pengen ngomong sama kamu." Kata Riko.


"Mas Riko mau ngomong apa? Kita bicara di bawah saja..." Pinta Gendhis sambil melangkah meninggalkan Riko.


"Gendhis... tunggu. Sebentaaar... aja. Aku janji nggak akan lama. Tapi tolong... dengerin aku ngomong dulu, setelah itu kamu boleh pergi." Riko memohon.


Gendhis berhenti sambil membelakangi Riko, sesaat kemudian, dia berbalik ke arah Riko.


"Baik, Mas... sebentar saja! Aku nggak pengen ada yang salah faham dengan melihat kita cuma berdua di tempat ini." Ucap Gendhis.


Riko merasa lega, akhirnya Gendhis memberikan ia kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya. Riko berjalan mendekati Gendhis, dan semakin membuat Gendhis merasa tidak nyaman.


Lagi-lagi Gendhis memalingkan wajahnya ke arah mentari yang semakin lama semakin tinggi.


"Gendhis..." Mulut Riko seolah kelu ketika Gendhis benar-benar memberinya kesempatan untuk bicara.


"Dis... aku cuma pengen ngomong... kalau aku suka sama kamu..." Ucap Riko gugup sekaligus lega karena kata-kata itu akhirnya bisa ia ucapkan di hadapan orang yang ia cintai.


Gendhis terkejut... seolah ketakutannya selama ini benar adanya. Itulah alasan kenapa selama ini dia selalu menghindari Riko. Dan kali ini, dia terpojok pada situasi yang membuatnya harus mendengarkan ucapan Riko.


"Aku tahu... kamu sudah bertunangan. Tapi aku nggak peduli. Aku rahu kamu nggak mencintai Lintang. Kamu hanya terpaksa melakukan perjodohan ini karena kamu tidak ingin mengecewakan orang tuamu." Ucap Riko.


"Cukup, Mas..." Gendhis menghentikan perkataan Riko, seolah tidak terima jika cintanya diragukan. Bahkan oleh orang yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya.


"Mas Riko tahu apa soal aku? Bagaimana bisa Mas Riko tahu tentang aku, sedangkan kita tidak pernah saling bicara? Cukup Mas, aku mau ke bawah sekarang." Gendhis berbalik arah hendak meninggalkan Riko, tapi... ups... tiba-tiba Riko menarik lengan kanan Gendhis cukup kuat dan membuatnya menjadi berbalik arah menatap wajah Riko. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Gendhis... dengar dulu... aku sungguh-sungguh mencintaimu, Dis... tolong... terima cintaku. Aku mau lakuin apapun buat kamu." Ucap Riko.


"Oh, ya???" Gendhis bertanya.


"Tentu saja. Semua aku lakuin asal kamu bisa ngasih aku satu kesempatan bahwa aku bisa bikin kamu bahagia." Riko menjawab.


"Kalau begitu... lepaskan tangan ku!" Pinta Gendhis.


Riko termakan omongannya sendiri. Mau nggak mau dia melepas tangan Gendhis.


Gendhis merasa lebih baik. Dia menghela nafas panjang, ahirnya Riko melepas cengkraman tangannya. Tapi Gendhis belum sepenuhnya lega sebelum dia bisa beranjak meninggalkan tempat itu. Dia khawatir ada yang melihat kejadian itu dan salah faham lalu mengatakannya pada Lintang.


"Mas Riko... maaf, aku nggak bisa. Aku gadis yang sudah bertunangan, Mas Riko tahu itu. Sebaiknya Mas Riko cari cewek lain yang lebih tepat, yang bisa membalas cinta Mas Riko. Bukan aku, Mas..." Jawab Gendhis.


Riko hanya terdiam, tak bisa berkata-kata, seolah sedang memahami ternyata seperti ini rasanya di tolak cewek? Selama ini bahkan dia tak menyadari, berapa banyak cewek yang harus patah hati karenanya. Karena penolakannya, juga karena ia tinggal begitu saja.


"Mas Riko, sekarang semuanya sudah jelas, jadi aku mohon... berhenti memikirkan hal tentangku." Pinta Gendhis sambil berbalik arah meninggalkan Riko.


Sementara di tempat lain, Tina sedang merasa begitu cemas, saat ia kembali ke tenda, bertemu dengan Sinta yang bertanya,


"Lho, Tin... Gendhis mana? Barusan Mas Lintang kesini nyariin Gendhis."


"Ha... Mas Lintang?" Tina terkejut bukan main mendengar perkataan Sinta.


"Iya, Mas Lintang. Tadi katanya mau tanya suruh jemput jam berapa, soalnya sudah di hubungi katanya hpnya nggak aktif. " Sinta memperjelas perkataannya.


"Terus? Kamu jawab apa?" Tina penasaran.


"Ya aku jawab Gendhis di atas lah... emang harus jawab apa? Beneran kan, kalian tadi di atas?" Sinta masih tak mengerti.


"Haduhhhh.... gawat... gawat... gawat." Tina terlihat kebingungan mondar-mandir di depan tenda.


"Emang gawat kenapa, Tin?" Sinta kepo.


"Nggak... nggak papa. Sekarang Mas Lintangnya mana?" Tanya Tina.


"Ya ke atas, nyusul kalian..." Jawab Sinta lugu.


"Ha? Ke atas?" Tanpa mendengar jawaban dari Santi, segera Tina berlari meninggalkan tenda untuk menyusul sahabatnya yang mungkin akan terkena masalah besar akibat kecerobohannya. Tina pun berjalan dengan sangat cepat menuju tempat di mana tadi dia meninggalkan sahabatnya seorang diri.

__ADS_1


*****


__ADS_2