
Malam begitu tenang mengiringi ketegangan suasana malam hari di rumah Pak Argo. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam. Udara dingin menyebar ke seluruh tubuh, namun tak sedikitpun menembus ke relung hati mereka yang serasa panas terbakar oleh perilaku Lintang.
"Pak Argo... bukankah bapak sudah setuju untuk mengabulkan permintaan saya? Kalau benar demikian, tolong... lanjutkan pernikahan Mas Lintang, meski bukan dengan saya... anggap saja, Pak Argo sedang berjuang... untuk menyelamatkan jiwa yang tidak berdosa dalam rahim seorang ibu." ucapan Gendhis membuat Pak Argo semakin tidak berdaya untuk menolaknya. Dan sekali lagi... Gendhis berjuang demi masa depan dan kebahagiaan Lintang, meski hatinya amat terluka. Ia bagaikan lilin yang rela terbakar demi bisa memberi secercah cahaya untuk orang lain.
Dengan berat hati, ahirnya Pak Argo menyetujui permintaan Gendhis.
"Baiklah... kalau memang seperti ini keinginan mu, Nak. Hati mu sungguh mulia, merelakan kebahagiaan mu untuk kau berikan pada orang lain." ucap Pak Argo. Dia tidak tahu, bahwa di dalam hati Gendhis sebenarnya sangat terluka.
"Telah aku terima, keputusan dari mu Mas... untuk memilih dirinya dan meninggalkan aku, di dalam lembah berduri, terpuruk dan tersakiti, sakit pun tak dapat ku ucap dari mulutku..." ucap Gendhis dalam hati.
Lintang tak juga menyadari, seberapa besar jasa Gendhis dalam kehidupannya, bahkan sampai detik ini.
"Saya akan melanjutkan pernikahan Lintang besok pagi. Tapi bukan berarti saya sudah menerima gadis liar itu menjadi menantu rumah ini. Kewajiban terakhir saya sebagai orang tua akan saya laksanakan besok pagi juga, yaitu menikahkan Lintang. Dan... setelah acara ijab qobul selesai..." ucap Pak Argo terputus karena dadanya serasa sesak.
"Lintang... setelah ijab qobul selesai... kalian berdua boleh meninggalkan rumah ini untuk selamanya dan jangan pernah berfikir untuk kembali lagi ke rumah ini sebelum kamu bisa menyadari kesalahan mu... dan jangan berfikir kamu bisa membawa apapun dari rumah ini, termasuk mobil, juga tanah warisan keluarga Mitro Dimejo, kamu sudah kehilangan hak mu untuk itu!" Pak Argo melanjutkan ucapannya dan berusaha untuk tegar.
Serentak perkataan itu membuat terkejut semua yang ada di sana, terlebih Lintang. Ia tidak menyangka, ayahnya akan berkata demikian.
"Tapi, Bapak... ini nggak adil. Kalian menganggap Gendhis sebagai purti kalian, lalu kalian meminta ku meninggalkan rumah ini? Kenapa Bapak tidak berusaha mengerti keinginan Lintang?" bantah Lintang.
Tiba-tiba terdengar suara dari atas tangga.
"Cukup... Lintang! Sekali lagi kamu bantah perkataan ayah kamu, maka ibu tidak akan pernah memaafkan kesalahan mu!" ucap Bu Parti sambil berjalan kea kearah suaminya. Pak Argo pun dengan sigap menjemput istrinya karena tahu kondisinya pasca siuman.
Mereka terkejut ketika melihat Bu Parti ternyata sudah berada di tengah-tengah mereka.
"Ibu... tolong Bu... bicara sama Bapak. Lintang yakin, Ibu pasti belain Lintang. Lintang salah apa Bu? Apakah mencintai itu adalah suatu kesalahan? Dan apa aku salah jika aku mencintai Gabby? Hingga aku harus kehilangan semua hak ku? Oh... apakah setelah kalian menganggap Gendhis sebagai putri kalian lantas apa yang menjadi hak ku akan kalian serahkan semuanya pada Gendhis?" rengek Lintang pada ibunya.
__ADS_1
Dan... "Plaaaakkkkk...."
Tangan lembut seorang ibu itupun ahirnya mendarat jua di pipi Lintang.
"Lintang... siapa yang mengajarimu bicara serendah itu? Ibu benar-benar kecewa! Anak yang ibu besarkan dengan kasih sayang sekarang sudah pandai bersilat lidah hanya demi seorang gadis yang tidak bisa menjaga kehormatan dan martabatnya sebagai seorang wanita. Cukup sudah Lintang! Kemas barang-barangmu dan setelah ijab qobul, kalian berdua tinggalkan rumah ini." ucap Bu Parti berapi-api, sambil menahan rasa sakit di hatinya, karena biar bagaimana pun, hati seorang ibu tetap merasa rapuh saat harus jauh dari anak yang sudah ia kandung dan ia besarkan dengan penuh kasih sayang.
Lintang masing memegang pipi bekas layangan tangan dari ibunya. Sedikit pedih memang, namun ia tahan dan segera pergi meninggalkan ruang tamu untuk menemui Gabby dan mengatakan semua yang sudah terjadi.
Sementara Gendhis... hatinya semakin tercabik tidak karuan mendengar ucapan terkhir Lintang. Sungguh ia tidak menyangka, orang yang amat ia cintai harus berkata seperti itu, bahkan di hadapan orang yang telah membesarkannya.
Dengan penuh ketegangan, sidang di rumah mewah itupun ahirnya selesai dengan satu keputusan yaitu menikahkan Lintang dengan Gabby, lalu setelah menikah mereka harus pergi meninggalkan rumah.
*****
Pagi yang ditunggu semua orang di Kampung Merangi ahirnya tiba jua. Bagaimana tidak? Mereka penasaran, apakah Gendhis akan jadi menikah dengan Lintang, ataukah akan dibatalkan lalu menikah dengan gadis kota itu.
Suasana semakin mengharu biru saat Pak Argo dan Bu Sari menerima kembali sesuatu yang sudah mereka berikan untuk Gendhis. Tapi apa mau dikata, dipaksapun Gendhis tetap tidak ingin menyimpan barang-barang yang nantinya akan mengingatkan kembali kenangannya bersama dengan Lintang.
*****
Di kamar tamu, Gabby sudah di rias menjadi seorang pengantin. Posisinya sekarang adalah untuk menggantikan Gendhis duduk dipelaminan menjadi istri siri Lintang, karena seperti yang diketahui, menjadi istri sah seorang prajurit tidaklah mudah, dia harus melewati serangkaian tes sebelum mengajukan untuk menikah. Berkas pun harus lengkap di KUA, sedangkan kedatangan Gabby malam itu tidak ada persiapan sama sekali untuk menjadi seorang pengantin.
"Baguslah... aku datang di saat yang tepat. Dengan begini, Lintang nggak akan pergi ninggalin aku setelah kita nikah nanti." ucap Gabby sambil memandangi wajahnya di depan cermin seusai Mbak Dewi merias wajahnya.
Gabby lantas mengambil ponselnya, lalu melakukan panggilan suara, sambil menengok kekanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang mendengar percakapannya.
Gabby;
__ADS_1
"Hallo... sudah sampai di mana? Sebentar lagi acara dimulai. Jangan sampai terlambat!"
Suara dari ponsel;
"Tentu... sepuluh menit lagi sampai Non. "
Gabby;
"Okey... inget apa yang aku ucapkan tadi malam! Jangan sampai ada yang curiga dan jangan sampai ada yang tahu, baru kamu bisa dapatkan komisimu."
Suara dari Ponsel;
"Baik Nona Gabby! Aku pastikan semuanya berjalan seperti yang Nona inginkan."
Gabby;
"Baguslah... aku tutup teleponnya sekarang!"
Gabby pun mengahiri pembicaraan mereka.
Ternyata... tadi malam seusai Lintang memberi tahunnya bahwa hari ini mereka akan menikah, Gabby sempat panik. Apalagi kedua orang tuanya ada di Jakarta. Tak mungkin dalam waktu sesingkat itu dia harus menghadirkan orang tuanya ke Magelang, apalagi untuk menikahkan nya. Mereka pasti juga bakal marah besar jika tahu Gabby tengah hamil. Padahal... pernikahan itu tidak mungkin terlaksana kalau tidak ada ayah atau wali dari calon mempelai wanita. Ahirnya... ia mencari jalan instan. Gabby menyuruh orang kepercayaannya yang sudah puluhan tahun bekerja dengan ayah Gabby. Kebetulan waktu itu dia sedang menjalankan tugas bisnisnya dari orang tua Gabby di Kota Sejuta Bunga itu.
Gabby meminta orang tersebut datang ke acara pernikahannya dengan Lintang, bersama dengan beberapa orang lainnya untuk menjadi orang tua bayaran Gabby, agar pernikahannya dengan Lintang berjalan dengan mulus.
*****
Like dan komentar serta dukungannya kakak... terimakasih🥰 🙏🙏
__ADS_1