
"Ya ampun, Ga... emang di dunia ini ada, gadis se perfect itu?" tanya Alena penasaran.
Lagi-lagi Gala hanya mengulum senyum manisnya.
"Iiiihhh... cuma disenyumin aja?" Alena makin penasaran. Meski bertahun-tahun ia mengenal Gala, tapi sampai sekarang dia belum pernah sekalipun dengar laki-laki itu mendekati seorang gadis.
"Yaaa... ada lah..." jawab Gala singkat.
"Siapa, dong Ga... masa kamu nggak cerita sama aku? Yang pasti bukan aku ya?" Alena kembali bertanya meski sedikit kecewa karena ia sudah bisa menebak kalau dirinya bukan termasuk kriteria Gala.
"Kalau sudah tiba waktunya nanti, kamu lah orang pertama yang aku kasih kabar gembira ini. Karena kamu tahu? Kamu itu sudah seperti adik kandung ku sendiri." jawaban terakhir Gala sudah begitu jelas bagi Alena.
Meski ingin rasanya Alena menitikkan air mata, tapi sebisa mungkin ia tahan. Ia tak ingin persahabatan yang sudah lama mereka jalin akan hancur dalam satu malam. Ia harus berusaha mengahiri perasaannya pada Gala. Malam semakin larut. Percakapan mereka berakhir sampai di situ, begitupun perasan Alena. Meski demikian, yang jadi pertanyaan Alena sekarang, siapakah gadis beruntung itu? Yang bisa menaklukkan hati seorang Manggala Kresna? Dosen tampan yang sholeh, baik hati, sabar, dewasa, berwibawa, tajir, juga sayang dengan keluarga.
*****
Ke esokan harinya seusai sholat subuh, Alena kembali menarik selimutnya. Udara dingin di puncak Sumbing membuatnya tak berdaya untuk keluar kamar terlalu pagi. Bahkan niatnya untuk menyaksikan matahari terbitpun tak sanggup mengalahkan rasa dingin juga kantukknya. Apalagi setelah semalam mendengar langsung jawaban dari Gala, membuatnya sulit memejamkan mata untuk beristirahat.
Meski Gendhis sudah berusaha membangunkan gadis cantik yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya itu, namun kelopak mata Alena tetap terpejam. Terasa sulit bagi bola matanya untuk menikmati seberkas sinar mentari. Ahirnya ya sudahlah, Gendhis biarkan Alena menikmati istirahat paginya di dalam homestay.
"Assalamu'alaikum... selamat pagi, Pak Gala..." sapa Gendhis ramah pada Gala yang sedang duduk menikmati indahnya matahari terbit dari atas gardu pandang.
Gala terkejut bahagia, pagi-pagi sudah dapat salam dan sapaan lembut dari gadis istimewa. Ia berharap bukan hanya pagi ini, bahkan ketika ia membuka kelopak matanya setiap pagi, yang pertama kali ia lihat adalah Gendhis. Tapi sepertinya, dia harus bersabar hingga waktu itu akan tiba.
"Waalaikumsalam... eh... Dis. Kamu? Apa ini Dis?" Gala sempat tertegun mendapati Gendhis sudah duduk tak jauh dari tempat duduknya.
"Ini, saya bawakan teh jawa asli khas lereng Sumbing buat Pak Gala. Silakan dicoba mumpung masih hangat." jawab Gendhis sambil menyodorkan secangkir teh jawa di atas meja.
Alangkah bahagianya hati Gala dengan perlakuan Gendhis. Dia jadi sedikit melambung, ternyata Gendhis begitu perhatian. Apalagi di tengah udara dingin yang menembus kulit, sangat cocok sekali menikmati secangkir teh hangat.
__ADS_1
"Makasih, ... Dis. Aku coba yaaa..." ucap Gala sambil mengambil secangkir teh panas itu lantas ia minum.
Gendhis tersenyum geli melihat ekspresi wajah Gala sesaat setelah meminumnya. Gendhis sudah dapat mengira itu bakal terjadi. Wajah tampan itu berubah menjadi aneh saat Gala mengerutkan kedua alis matanya seolah mendapati rasa di mulutnya yang tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Pak Gala kenapa?" tanya Gendhis tanpa merasa bersalah seolah sedang mengerjai dosennya.
"Kok... pahit... Dis. Kamu lupa kasih gula ya? Apa... jangan-jangan kamu mau ngerjain aku ya?" tanya Gala masih sambil memegang cangkir berbahan keramik berwarna putih.
Bak seorang tutorial, Gendhis pun menjelaskan pada Gala bagaimana cara menikmati secangkir teh jawa khas lereng Sumbing itu.
"Pak Dosen Gala... saya tahu Bapak sangat bersemangat ingin mencoba teh buatan saya, tapi bukan begitu cara menikmatinya." ucap Gendhis.
"Ohhh... ya??? Lalu, seperti apa?" Gala tak heran melihat tingkah Gendhis. Di awal pertemuan mereka, Gendhis memberikan kesan bahwa dirinya adalah gadis yang smart, peduli terhadap sesama, dan senang membantu orang lain dengan keluguannya. Hanya semenjak hubungannya dengan Lintang mulai retak, dia berubah menjadi sosok yang lebih pendiam.
"Begini..." Gendhis coba menjelaskan.
Dan Gala..., kapan lagi dia dapat kesempatan khusus belajar dari mahasiswi kesayangannya. Karenanya, dengan penuh khikmad dia memperhatikan setiap ucapan Gendhis.
Gala pun tertegun melihat Gendhis pagi itu. Kelopak matanya terasa sayang untuk berkedip. Yang membuat hatinya bahagia adalah ia merasa Gendhis sekarang sudah kembali seperti saat pertama kali Gala mengenalnya. Senyumnya, sikapnya, serasa lebih lepas tak ada lagi yang tertahan karena beban di hatinya.
"Ohhh... gitu... kamu sih nggak bilang dari tadi. Aku coba sekarang." Gala ikuti saja apa yang Gendhis katakan, dan ternyata benar. Teh jawa yang dipadukan dengan gula jawa khas Borobudur itu benar-benar memiliki cita rasa luar biasa.
"Gimana, Pak rasanya?" tanya Gendhis.
"Hhheeemm... luar biasa. Rasanya tuh unik banget. Ini baru pertama kali aku coba, dan... aku suka. Besok mungkin hampir tiap hari aku bisa menikmati secangkir teh kayak gini..." ucap Gala reflek seketika membuat Gendhis bertanyabertanya-tanya.
"Maksudnya?" Gendhis berhenti sejenak saat meneguk secangkir teh itu.
Gala pun jadi salting dan sebisa mungkin ia berusa menata jiwa dan raganya untuk bisa berbicara dengan Gendhis dengan tenang. Dengan berfokus pada satu titik yaitu Gendhis, Gala berbicara sambil matanya tertuju pada sinar surya yang perlahan mengintip dari balik gumpalan awan putih. Ia tak ingin berlama-lama menatap wajah Gendhis karena pasti gadis itu akan tertunduk malu. Ia juga tak ingin hawa nafsunya dapat mengalahkan akal sehatnya. Akhirnya dengan mengumpulkan segenap keberanian, Gala berkata.
__ADS_1
"Kamu mau tahu apa maksudnya?" Gala balik bertanya.
"Jikalau menurut Bapak hal itu penting untuk saya ketahui, katakan saja..." jawab Gendhis.
"Baiklah... Bismillahirrahmanirrahim... Gendhis, menikahlah dengan ku!" pinta Gala dengan nada memohon.
Mendengar perkataan Gala, tubuh Gendhis gemetar seketika. Panas dingin bercampur jadi satu, tak tahu apakah dia sedang berada di alam mimpi? Gadis itu bukannya menjawab pertanyaan Gala malah mencubit pipinya sendiri dengan jari kanannya.
"Aduh, sakit..." ucap Gendhis lirih.
Melihat tingkah lugu Gendhis itupun Gala berkata, "Gendhis... apa yang kamu lakukan?"
"Saya yang sedang bermimpi, atau Pak Gala ya?" Gendhis malah balik bertanya.
"Memang... bisa membawa mu bersanding di pelaminan rasanya seperti mimpi buatku, tapi... jika itu hanya sebuah mimpi, maka aku akan memilih untuk tidak akan bangun dari tidurku. Agar aku bisa selamanya hidup bersama mu. Tapi ini kenyataan... kenyataan yang harus aku perjuangkan." jelas Gala.
"Saya tidak mengerti maksud ucapan Bapak..." jawab Gendhis tak rahu harus berkata apa.
"Gendhis... aku sungguh-sungguh..., menikahlah dengan ku dan jadilah bagian terpenting dalam hidupku! Aku memang tak bisa menjanjikan apapun, karena aku tak pandai berjanji. Aku hanya ingin berusaha memberikan kebahagiaan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya." ucap Gala serius.
Mendengar kata menikah bagi Gendhis seperti momok yang menghantui kehidupannya. Rasa sakit akibat kegagalan pernikahannya dengan Lintang di malam pesta pernikahannya membuat Gendhis enggan befikir untuk mencintai laki-laki lain bahkan menikah. Entah kapan trauma itu akan berakhir dalam kehidupannya.
Dengan secepat kilat, Gendhis bangkit dari tempat duduknya lantas berjalan pergi meninggalkan Gala tanpa mengucapkan sepatah katapun. Gala pun tak berusaha mencegah gadis itu pergi. Ia tahu betul bagaimana perasaan Gendhis. Tak mudah memang baginya untuk meyakinkan Gendhis. Tapi sejauh yang ia bisa, Gala akan berjuang untuk mendapatkan hati Gendhis dan menghapus luka dalam hatinya.
"Gendhis... kamu mau kemana?" tanya Alena saat berpapasan dengan Gendhis yang buru-buru meninggalkan Gala.
Gendhis tak berkata-kata apapun. Ia segera masuk ke dalam homestay untuk mengemasi barang-barangnya lalu keluar dengan buru-buru.
"Mbak Lena... maaf, saya tidak bisa menunggu sampai Mbak Alena pulang. Saya permisi pulang duluan. Assalamu'alaikum..." pamit Gendhis pada Alena.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." jawab Alena keheran-heranan melihat sikap Gendhis yang berubah menjadi aneh setelah berbicara dengan sahabatnya. Dia merasa perlu menginterogasi apa yang sudah ia lakukan pada mahasiswinya itu.
*****