Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Istikharah Cinta


__ADS_3

Malam semakin larut. Udara dingin puncak Sumbing merasuk hingga ke tulang rusuk. Gendhis merasa malam ini begitu panjang. Sudah terlelap begitu lama, namun pagi belum juga kunjung tiba. Dilihatnya jam yang menempel di dinding kamarnya menunjukkan pukul tiga dini hari.


Ia lalu teringat sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh: Sahabat Anas bin Malik RA yang artinya;


..."Sebagian dari tanda-tanda keberuntungannya anak Adam (manusia) adalah permohonannya dia kepada Allah SWT untuk dipilihkan yang terbaik dengan melaksanakan sholat istikhoroh."...


Gendhis juga teringat tatkala ia sedang mengikuti kultum di masjid kampus seusai melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Sang iman masjid menyampaikan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh: Sahabat Anas bin Malik RA, yang artinya;


..."Orang yang selalu melaksanakan sholat istikoroh, maka tidak akan kecewa, dan orang yang selalu bermusyawaroh tidak akan menyesal, dan orang yang hemat tidak akan mengalami kekurangan dalam kehidupannya."...


Saat teringat akan dua nasehat itu, segera Gendhis terbangun lalu melipat selimut tebalnya. Dia berjalan menuju kamar mandi. Diambilnya air lalu ia basuh wajah cantiknya dengan air wudhu.


Dihamparkannya sajadah dan segera ia menata hatinya untuk bersujud menghadap Sang Khaliq. Dengan istikharah... Gendhis memohon, agar Allah menunjukkan jalan terbaik dalam hidupnya. Agar kebimbangan dalam hatinya bisa terjawab.


Sepertinya, Gendhis harus belajar ikhlas... apapun jawaban yang Allah berikan untuk garis cintanya. Kalaupun Gendhis harus kehilangan Lintang, dia akan belajar untuk mengikhlaskannya, meski dia belum tahu dengan cara apa dia melupakan. Namun, jika takdir mengharuskan pernikahannya dengan Lintang tetap terjadi, ia hanya berdo'a, semoga ia kuat menghadapi cobaan seberat apapun dalam pernikahannya.


Seusai melakukan sujud dua rakaat, Gendhis menengadahkan tangannya seraya berdo'a;


..."Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa pernikahan ku dengan Mas Lintang baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa pernikahan ku dengan Mas Lintang buruk untukku, agamaku dan jalan hidupkku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan di mana pun kebaikan itu berada, dan ridhailah aku dengan kebaikan. Amiiin... 🤲🤲"...


Sesaat setelah Gendhis menyerahkan semua permasalahan hidupnya pada Sang Khaliq, hatinya merasa lebih baik. Seolah beban berat yang ada dalam hatinya terhempas seketika. Ia hanya tinggal menunggu, dan berserah diri, karena empat hari lagi adalah hari pernikahannya. Dan pada hari itulah... jawaban dari do'anya akan terjawab, apakah Gendhis... akan tetap menikah dengan Lintang? Ataukah sebaliknya.


*****


Di tempat lain dalam waktu yang bersamaan...


Gala juga tengah merasakan kegundahan yang amat dalam. Ia sadar betul bahwa semakin lama, perasaannya terhadap Gendhis semakin tidak dapat terbendung. Sehari saja Gendhis luput dari pandang matanya, Gala gusar tak menentu dan ingin segera tahu keadaan Gendhis. Ia tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya terhadap gadis manapun. Tapi perasaannya pada Gendhis benar-benar telah menyiksanya siang dan malam.

__ADS_1


Bagaimana tidak tersiksa? Cinta itu muncul pada gadis yang sudah bertunangan. Bahkan tanpa sepengetahuan Gala, tinggal menghitung hari, empat hari lagi gadis pujaannya itu akan resmi dipersunting oleh orang lain. Terkadang saat rasa egoisnya muncul, ia pun berdo'a,


"Ya... Allah... jika aku boleh meminta, semoga akan turun keajaiban dari Mu. Batalkan pertunangan itu Ya Allah..."


Tapi kadang, ia juga sadar kalau dia tidak boleh egois saat berdo'a karena hanya mementingkan perasaannya sendiri, tanpa tahu perasaan Gendhis seperti apa ketika takdir mengharuskan Gendhis berpisah dengan tunangannya.


Karenanya... di sepertiga malam terakhir, Gala pun terbangun untuk mengambil air wudhu lantas bersujud melaksanakan sholat tahajjud, agar Allah memberikan takdir baik untuk cintanya, juga memohon kebaikan untuk kehidupan Gendhis kedepannya.


*****


Hari ke empat kegiatan baksos di Desa Sekar Wangi \= H-3 hari pernikahan Gendhis.


Dari kejauhan, Gala melihat Gendhis bersama dengan rekan-rekan mahasiswa yang lain tengah asyik mempersiapkan kegiatan baksos hari ini di halaman kantor desa. Ia merasa lega, ternyata gadis itu sudah terlihat lebih baik. Senyumnya, candanya, seolah lepas... terpancar dari raut wajahnya dan tidak seberat kemarin juga beberapa waktu yang lalu. Sampai detik ini... Gala belum tahu, kalau tiga hari lagi wanita yang sedang ia kagumi itu akan resmi menikah dengan tunangannya.


Gala pun lantas berjalan mendekati Gendhis yang sedang bersama dengan teman-temannya.


"Alhamdulillah... Pak, sudah lebih baik..." jawab Gendhis dengan senyum manis yang lepas dari bibirnya.


Gala lega mendengar jawaban itu.


"Syukurlah... yang penting hari ini jangan terlalu lelah dulu. Kalau memang kegiatan hari ini terasa berat, kamu kasih tahu mahasiswa lain, biar dibantu sama yang lain." pesan Gala.


Tiba-tiba dari samping Gendhis Dona pun ikut nimbrung seolah mencari perhatian dosen tampan itu.


"Oh... iya, Pak. Tenang... Pak Gala... ada saya. Nanti kalau Gendhis kenapa-napa, biar saya hubungi Bapak.... iya kan Dis?" celoteh Dona sambil menyenggol tangan Gendhis dengan lengannya.


"Eh... Don, jadi kamu do'a in aku kenapa-napa ya, biar kamu bisa nyariin Pak Gala? Iyaa kan? Hayoo... ngaku?" goda Gendhis sambil tertawa kecil seolah tahu maksud sahabatnya itu ingin mencari perhatian Gala.

__ADS_1


"Ya nggak lah Dis... masa aku do'a in sahabat ku kenapa-napa sih..." jawab Dona malu-malu.


Gala pun tersenyum dengan candaan dua mahasiswa yang tengah menggodanya itu. Melihat senyum Gendhis yang begitu lepas, membuat Gala seolah tidak menginginkan apa-apa lagi selain bisa mendapatkan cinta darinya. "Tapi apa masih bisa Ya Allah? " gumamnya dalam hati.


Setelah semuanya siap, kedua puluh mahasiswa itu pun lantas bergegas menuju lokasi tugas di kampung masing-masing.


*****


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berasa di luar jangkauan." kata operator seluler berkali-kali dari dalam ponsel, membuat Gabby stress dan membanting ponselnya di atas springbed di kamarnya.


"Ini sudah panggilan ke berapa kalinya coba? Tapi Lintang nggak juga angkat teleponnya. Sayang... kamu kemana? Kamu ngapain aja sih... di telepon nggak diangkat, dikirimin pesan nggak di baca, sekarang di telepon malah handphonenya nggak aktif, lagi... oh... Tuhan... aku bisa stress kalau tiap hari kayak gini." ucap Gabby siang itu sambil mondar mandir di kamarnya.


Wajahnya cemberut, rambutnya kusut, karena sibuk menghubungi Lintang, membuatnya seolah malas untuk berdandan dan mempercantik diri seperti biasanya. Gabby merasa emosinya sangat labil ahir-ahir ini. Ia juga gampang lelah, kadang juga kepalanya tiba-tiba terasa pusing.


Ia melihat kalender yang terpajang di dinding kamar, ia baru ingat, mungkin... karena menjelang tanggal datang bulan, jadi dia lebih sensitif perasaannya.


Gabby berjalan ke arah di mana kalender itu terpampang. Dan... betapa terkejutnya ia ketika ia sadar bahwa sekarang sudah ahir bulan dan celakanya, ia baru sadar kalau sampai hari ini dia belum juga datang bulan. Padahal seharusnya, awal bulan Gabby sudah hampir selesai menstruasi.


"Oh... My Good... kenapa gua baru sadar sekarang? Ini nggak bisa dibiarin." ucap Gabby sambil tangan kiri memegang pinggang dan tangan kanan memegang jidatnya.


Ahirnya, segera dia membuka kotak perlengkapan medisnya. Sudah barang tentu karena dia seorang dokter semua yang ia butuhkan terkait dengan hal medis pasti ada di situ. Gabby lalu mengambil satu buah testpack dan membawanya ke kamar mandi. Dengan jantung berdebar-debar, Gabby menunggu hasil tes itu. Setelah beberapa menit menunggu, ahirnya keluarlah hasil yang cukup mengejutkan... Dua garis merah... pertanda bahwa dirinya, sekarang tengah mengandung benih cintanya dengan Lintang.


Lalu... bagaimana dengan nasib Gendhis? Bagaimana bisa dia menikah dengan laki-laki yang cepat atau lambat pasti akan di panggil "ayah" oleh janin yang sekarang sudah ada dalam rahim orang lain?


*****


...Jangan lupa dukungannya buat Gendhis ya kakak-kakak... biar dia kuat dalam menghadapi kenyataan hidup di episode berikutnya 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2