
Satu persatu acara pertunangan berjalan dengan sangat khikmad. Tibalah kini pada acara inti yaitu penyematan cincin tunangan ke jari manis calon sang calon mempelai. Namun sebelumnya, Pak Hari menanyakan pada Gendhis tentang kesiapannya untuk menerima lamaran putranya.
"Ananda, Gendhis Manis Ayunindya... apakah kamu bersedia menerima pinangan anak kami yang bernama Manggala Kresna sebagai calon istrinya?"
Gendhis masih terdiam menunduk, membuat semua yang hadir hanyut dalam suasana tegang, terutama ayah dan ibunya.
Pertanyaan itu membuat hati Gendhis berkecamuk tak tentu arah. Ia turuti saja kata hatinya untuk menerima lamaran Gala beberapa hari lalu, padahal ia tahu kalau dirinya belum bisa lepas dari kenangan masa lalunya. Rasa traumannya begitu dalam, hingga saat mendengar pertanyaan semacam itu membuat Gendhis teringat kembali peristiwa lima tahun silam ketika di hadapan semua orang Lintang melamarnya pada hari pertunangannya.
"Gendhis... ayo jawab Sayang, tak baik terlalu lama berfikir." ucap Bu Parti yang saat itu juga duduk di samping kiri Gendhis. Wanita itu memegang lengan kiri Gendhis seolah ingin menguatkannya. Bagaimanapun juga kesalahan putranya Lintang sudah membuat Gendhis terlalu lama terpuruk dalam kesedihan. Karenanya, ia ingin kesedihan itu segera berakhir dari kehidupan Gendhis.
"Saya ulangi lagi... Ananda, Gendhis Manis Ayunindya... apakah kamu bersedia menerima pinangan anak kami Manggala Kresna untuk menjadi calon istrinya?" Pak Hari ahirnya mengulang pertanyaannya.
Gendhis menarik nafas panjang, sesaat kemudian ia berkata, "Bismillahirrahmanirrahim... jika Allah menghendaki dan menakdirkan saya menjadi istri dari Pak Manggala Kresna, Insya Allah... saya siap dan saya terima lamaran Beliau." jawab Gendhis santun dan begitu menghormati dosen yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya.
"Alhamdulilah..." semua yang hadir pun merasa lega mendengar jawaban dari Gendhis.
Sesaat kemudian Bu Fina meraih tangan kanan Gendhis lalu menyematkan cincin tunangan ke jari manisnya sebagai simbol bahwa saat ini Gendhis sudah resmi menjadi calon menantu keluarganya.
Do'a pun dipanjatkan oleh kyai sesepuh Kampung Merangi yang diundang khusus oleh Pak Ratno untuk memimpin do'a dalam acara pertunangan Gendhis. Setelah acara selesai, tamu undangan dipersilakan menikmati hidangan, kemudian meninggalkan tempat acara.
Sebelum kembali pulang, Pak Hari dan Bu Fina secara khusus menemui orang tua Gendhis di ruang tamu. Hal itu mereka lakukan untuk mencari tanggal dan hari baik yang akan mereka pilih sebagai hari pernikahan putra putri mereka. Pak Hari meminta kalau pernikahan mereka akan dilaksanakan secepatnya, yaitu bulan depan. Sementara Pak Ratno menyerahkan keputusan ada di tangan Gendhis.
Gendhis tidak mengira jika setelah ia mengambil langkah ini lalu pernikahan mereka akan dilakukan secepatnya. Keinginan Gendhis adalah menyelesaikan skripsinya yang tinggal sebentar lagi. Tapi apa hendak dikata, sepertinya permintaan Gendhis kali ini tidak dapat dikabulkan oleh orang tua Gala yang sudah tidak sabar lagi membawa sang calon menantu ke rumah mereka. Ahirnya, meski merasa belum siap, Gendhis harus menjalani pernikahannya dengan Gala bulan depan.
*****
...Flashback siang, di kampus Riko usai sidang skripsi....
"Alhamdulillah ya Robb... perjuangan ku selama ini ahirnya membuahkan hasil yang maksimal." ucap Riko sesaat setelah keluar dari ruang sidang skripsinya. Ia ingin segera memberitahukan kabar gembira ini pada keluarganya dan menelpon Bu Fina, tapi...
"Tunggu... tunggu... saat ini mereka pasti sedang sibuk mempersiapkan acara pertunangan Kak Gala." ucap Riko sambil melihat jam tangan mewah yang melingkar di lengan kirinya menunjukkan pukul 13.00 WIB.
"Sebaiknya aku pulang sekarang dan mudah-mudahan belum terlambat!" ucap Riko bersiap-siap hendak pulang ke Magelang.
Ketika berjalan di depan fakultas, dari kejauhan nampak Miss Alena sedang berjalan hendak masuk ke ruang dosen.
"Miss Alena? Kenapa dia masih di sini? Bukannya dia akan segera bertunangan dengan Kak Gala?" karena penasaran, Riko segera berlari menemui dosen pembimbingnya yang beberapa menit lalu sempat ikut di ruang sidang.
"Miss... Miss Alena... tunggu!" panggil Riko dan Alena pun berhenti di depan ruang dosen setelah melihat Riko berlari ke arahnya.
"Riko? Oh iya, selamat ya... untuk sidang skripsinya tadi luar biasa." ucap Alena.
__ADS_1
"Makasih, Miss... itu semua juga berkat bimbingan dari Miss Alena." ucap Riko dengan nafas terengah-engah karena berlari menemui Alena.
"Ada apa Riko? Sepertinya kamu buru-buru?" tanya Alena.
"Miss... selamat ya?" ucap Riko.
"Selamat? Tapi untuk apa?" Alena merasa heran kenapa Riko mengucapkan selamat padanya.
"Ya Allah... Miss Alena, ada kabar gembira nggak ngasih tau Riko. Selamat lah... pokoknya..." Riko amat yakin dengan ucapannya.
"Iya... tapi untuk apa? Ulang tahun ku masih lama lho..." kata Alena sambil mengerutkan kedua alis matanya.
"Miss Alena kan siang ini mau tunangan... Masa lupa?" ahirnya Riko berbicara tentang maksudnya menemui Alena.
"Tunangan? Siapa dengan siapa yang bertunangan? Miss Lena nggak ngerti deh, maksud ucapan Riko..." Alena semakin bingung dibuat Riko.
"Lhooo... bukannya siang nanti Kak Gala sama Miss Alena mau bertunangan?" pertanyaan Riko serentak mambuat Alena seperti disambar petir di siang bolong.
Karena lelah berbicara sambil berdiri, ahirnya mereka duduk di sebuah kursi taman yang tak jauh dari ruang dosen.
"Riko... coba bicara yang tenang. Kakak mu mau bertunangan? Hari ini? Kenapa dia tak memberiku kabar ya? Mentang-mentang sudah ketemu sama gadis pujaannya, ia jadi lupa sama temennya." ucap Alena bahagia namun ada sedikit rasa kecewa yang terpancar dari wajahnya dan Riko pun menangkap dengan jelas kekecewaan di wajah Alena.
"Nggak papa Riko... justru makasih banget, paling nggak aku bisa ikut berbahagia untuk kakak mu." ucap Alena datar.
"Sekali lagi Riko minta maaf, Miss... Riko tak bermaksud bikin Miss Lena sedih. Riko salah karena Riko terlalu bahagia mendengar kabar bahwa Kak Gala akan bertunangan, sampai-sampai Riko lupa menanyakan siapa sebenarnya gadis yang dipinang oleh Kak Gala." Riko terlihat menyesal.
"Nggak papa Riko... serius... aku nggak papa! Justru Aku turut berbahagia untuk mereka. Dan aku yakin banget kalau kakak mu nggak mungkin salah pilih. Dia adalah gadis yang baik, nyaris sempurna dan bener-bener tipe kakak kamu banget pokoknya..." ucap Alena sambil menahan air mata yang hendak jatuh dari sudut matanya.
"Jadi.... Miss Lena tahu, siapa gadis yang akan bertunangan dengan Kak Gala???" Riko terkejut.
Alena menganggukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan Riko.
"Astaghfirullah hal 'adzim... jadi Miss Lena tahu? Masya Allah... Adik macam apa aku ini, hingga aku saja tak tahu siapa yang akan menjadi calon kakak ipar ku." Riko menutup wajah dengan telapak tangan lalu mengusapnya perlahan karena merasa bersalah.
"Lalu... siapa gadis itu? Dan... dari mana Miss Lena kenal? Apakah dia adalah teman kuliah kalian waktu di Singapore?" lanjut Riko penasaran.
"Bukan!" jawab Alena singkat.
"Lalu?" tanya Riko.
"Gadis yang berhasil menaklukkan hati seorang Gala, adalah gadis yang istimewa. Mereka sangat serasi. Namanya adalah... Gendhis, mahasiswi kesayangan Gala. Kami bertemu saat beberapa waktu lalu Gala memintanya menemani liburan kami di puncak. Meski baru mengenalnya, tapi aku yakin dia satu-satunya gadis yang bisa buat kakak mu bahagia. Dan..." belum selesai Alena bicara, Riko sudah memotong ucapannya.
__ADS_1
"Tunggu... tunggu, Miss... tadi Miss Lena bilang nama gadis itu adalah Gendhis???" Riko seolah tak percaya mendengar ucapan Alena.
"Iya... Gendhis, mahasiswi Gala yang tinggal di kampung Merangi, perkampungan menawan di Puncak Sumbing itu." jelas Alena meyakinkan.
"Hanya ada satu Gendhis yang tinggal di Merangi, dan tidak mungkin salah lagi." ucap Riko dengan dada bedebar kencang.
Betapa terkejutnya Riko mendengar jawaban dari Alena. Ia merasa ini hanyalah mimpi buruk dan ketika ia terbangun semuanya akan baik-baik saja. Tapi tidak! Ini kenyataan... hari ini... kakak kandungnya, kakak satu-satunya, kakak kesayangannya, akan bertunangan dengan gadis yang sudah bertahun-tahun Riko cintai. Bahkan setelah harapan Riko sempat pupus karena Gendhis pernah bertunangan dengan Lintang. Harapan baru muncul ketika Riko mendengar Gendhis batal menikah dengan Lintang. Tapi sekarang??? Saat harapan itu kembali muncul, ternyata tanpa disadari kakaknya juga ternyata menginginkan gadis yang sama dengannya. Apa yang akan ia perbuat? Haruskah Riko mengubur harapannya untuk yang kedua kalinya?
"Riko... apa kamu juga mengenal Gendhis?" Alena sekarang yang jadi penasaran.
"Ini nggak bisa dibiarkan, Miss... ini nggak boleh terjadi. Kak Gala tak boleh menikahi Gendhis!" ucap Riko dengan mata terbelalak dan wajah memerah.
Serentak hal itu membuat Alena terkejut juga panik, sebenarnya apa yang sedang ada dalam fikiran mahasiswanya itu.
"Riko...! Are you okay? Ada apa Riko? Apa maksud kamu dengan mengatakan bahwa Gala tak bisa menikahi Gendhis? Katakan Riko... katakan!" desak Alena.
"Iya Miss Lena. Kak Gala tak boleh menikahi gadis yang sudah bertahun-tahun aku cintai...!" ucap Riko yakin.
"Apa?" Alena terkejut.
"Miss Lena..., aku sangat mencintai Gendhis. Bahkan belum lama ini aku melamarnya dan dia belum memberikan jawaban atas pertanyaanku. Lalu bagaimana bisa gadis itu sekarang menerima lamaran orang lain dan orang lain tersebut adalah Kak Gala? Kakak kandungku sendiri..." Riko menjelaskan dengan nada berapi-api.
"Oh... My... God... jadi kalian kakak beradik mencintai satu gadis yang sama? Dan anehnya lagi, kalian tidak saling mengetahui?" Alena mengeleng-gelengkan kepalanya karena terheran-heran. Ia merasa dunia ini ternyata begitu sempit, sehingga kakak beradik harus memperebutkan gadis yang sama. Ternyata Gendhis lebih istimewa dari yang selama ini dia fikirkan.
Riko hanya terdiam mendengar pertanyaan Alena. Beberapa saat kemudian ia bangkit dari tempat duduknya lantas ingin segera pergi meninggalkan Alena.
"Riko...! Kamu mau kemana?" tanya Alena khawatir.
"Saya harus pulang sekarang!" jawab Riko singkat sambil melangkahkan kakinya. Cukup menghawatirkan juga, mengingat selama ini Riko memang suka bertindak reflek dan sedikit nekat.
"Tunggu Riko! Kamu nggak bisa pergi dalam keadaan emosi seperti ini. Tenangkan dulu fikiran kamu, baru pulang. Okey...?" Bujuk Alena khawatir.
"Sampai kapan, Miss? Apa sampai Kak Gala dan Gendhis selesai ijab qobul baru aku pulang? Maaf, Miss... saya harus pergi sekarang. Terimakasih karena sudah memberi tahu hal sepenting itu dalam hidupku. Assalamu'alaikum..." jawab Riko lantas berlalu pergi meninggalkan Alena dengan kekhawatirannya.
"Waalaikumsalam... Ya... Allah, semoga kedua kakak beradik itu baik-baik saja..." do'a Alena penuh harap.
*****
...Terimakasih sudah menunggu kakak, InsyaAllah up tiap hari. Bisa dobel up saat othor ada waktu luang 🤭...
...Jangan lupa tinggalkan jejak dan komentar kalian, terimakasih... 🥰🥰🥰🙏🙏🙏...
__ADS_1