
Perjalanan cinta di mulai. Dengan harapan setinggi puncak Sumbing, Gala berharap perjalanannya pagi itu tidak akan sia-sia. Setidaknya dia bisa punya waktu untuk menunjukkan perasaannya kepada Gendhis. Begitupun dengan Alena. Dia juga punya harapan yang sama. Cinta yang ia bawa sejak mereka kuliah di Singapura, akan tertuntaskan secepatnya. Mengingat usianya memang sudah cukup matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Perjalanan menuju Nepal Van Java.
Rupanya Gala harus super hati-hati dalam mengemudikan mobilnya. Perjalanan menuju Nepal Van Java tidaklah mudah. Jalan yang sempit, tanjakan, tikungan, bahkan jika melihat ke arah samping jendela mobil, bukan hanya pemandangan ladang nan hijau saja, melainkan juga curamnya jurang yang cukup memacu adrenalin. Tak heran jika Alena serasa ngilu melihatnya. Berbeda dengan Gendhis yang memang sudah terbiasa dengan alam di mana gadis itu dibesarkan.
"Kak Dosen... awas dong, hati-hati nyetirnya!" pekik Alena sedari tadi nggak bisa diam karena jantungnya dibuat mau copot melihat jurang yang begitu curam.
"Iya... Miss Bawel... ini juga udah pelan banget kok." jawab Gala dengan ekspresi tenang, padahal dalam hati juga sedikit ngilu, cuma ya... dia tak mau terlihat gugup di hadapan gadis pujaannya.
"Gala... awas! Pelan-pelan aja ngapa?" Alena kembali bercuap-cuap.
"Iyaa... iya... tenang aja. Aku kan cuma seorang sopir yang lagi bawa nona-nona cantik di dalam mobil, mana berani lah mau ngebut." ucap Gala sambil bercanda.
Mendengar obrolan dua sahabat itu Gendhis hanya tersenyum. Ia baru tahu sisi lain dari sosok dosen tampan yang ada di hadapannya itu. Selain pandai dan berwibawa, ternyata dia punya sisi humoris juga. Tak seperti yang ia bayangkan selama ini.
"Gendhis... lihat deh dosen kamu kalau lagi di luar kampus. Hati-hati aja ya, jangan-jangan semua mahasiswanya juga digombalin kayak gini." tambah Alena ikut bergurau membuat Gendhis jadi merasa geli lalu senyumnya berubah menjadi tawa kecil yang ia tutup menggunakan jemari tangannya yang lentik itu.
Melihat ekspresi Gendhis dari kaca spion dalam mobilnya membuat Gala semakin penasaran dengan gadis yang tak mudah di taklukkan itu.
"Subhanallah... begitu anggun ciptaanMu ya... Robb... jika Kau beri aku kesempatan untuk menghalalkannya... maka aku akan menjadi orang yang paling bahagia di atas bumi ini..." ucap Gala dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, ahirnya sampailah mereka di desa wisata Nepal Van Java yang terletak di Dusun Butuh, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Obyek wisata yang terletak di atas ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut ini merupakan salah satu destinasi wisata yang cukup mempesona.
Ketegangan dan rasa takut Alena terbayar setelah melihat keindahan yang disuguhkan oleh masyarakat Butuh itu. Terlihat rumah penduduk desa yang khas bertumpuk, tertata rapi dan berwarna warni menempel di sepanjang lereng Sumbing. Sekilas pemandangan itu mirip dengan sekumpulan rumah di negara Nepal yang merupakan negara terkurung daratan di Asia Selatan yang terletak di kawasan pegunungan Himalaya. Karenanya, tempat tersebut dikenal dengan nama Nepal Van Java.
"Ya ampun Gendhis... nggak salah kamu ngajakin kita ke sini. Sumpah, pemandangannya luar biasa banget, I like it..." ucap Alena ketika menjajakkan kakinya di kampung atas awan itu.
"Masya Allah, aku aja penduduk asli Magelang terkagum-kagum dengan pemandangan di sini, apa lagi kamu, Lena..." Gala pun tak kalah terpesonanya, sama seperti Alena.
"Apa? Jadi kamu baru kali ini? Itupun karena aku yang maksain kamu, coba kalo nggak... sayang banget, pemandangan se indah ini dianggurin." Alena tahu, sahabatnya yang super sibuk itu mana punya waktu untuk jalan-jalan ke tempat seperti ini.
"Syukurlah, kalau Pak Gala sama Mbak Lena suka dengan tempat ini. Mari... kita lanjut jalan..." ajak Gendhis sambil berjalan di samping Alena juga Gala yang sedang menikmati pemandangan.
Mereka dimanjakan dengan pemandangan alam yang indah juga udara sejuk, asri dan nuaasa pedesaan yang kental dengan segala aktivitas penduduk di area persawahan. Gunung Sumbing tinggi menjulang menjadi latar belakang kampung Butuh. Cuaca pagi itu amat cerah dan bersahabat, jadi mereka bisa menyaksikan begitu megah ciptaanNya sejauh mata memandang. Bahkan mereka beruntung karena bisa menyaksikan lautan awan dari atas atas ketinggian.
__ADS_1
...Lautan awan di Nepal Van Java...
Saat mereka berjalan, Alena ingat bahwa ponselnya tertinggal di mobil.
"Kak Dosen, pinjem kunci mobilnya dong!" pinta Alena.
"Ini... buat apa?" tanya Gala sambil memberikan kunci mobilnya.
"Hp ku tertinggal di mobil, bentar ya aku ambil dulu. Aku kan juga pengen foto-foto. Awas jangan ditinggal lho ya." pinta Alena sambil menerima kunci mobil dari tangan Gala.
"Iya, udah... buruan. Aku tunggu di sini. Jangan lama-lama." kata Gala.
"Iya... iya, cuma bentar!" Alena melangkah pergi menuju parkiran mobil yang jaraknya sudah lumayan jauh.
Gala dan Gendhis menunggu Alena di sebuah kursi taman. Meski banyak pengunjung lain yang berlalu lalang, tetap saja suasana itu membuat Gendhis merasa sedikit tak nyaman. Gala melihat ekspresi mahasiswinya itu mulai canggung. Ahirnya Gala pun membuka percakapan.
"Dis..." panggil Gala.
Dan di saat yang bersamaan, Gendhis pun ternyata memanggil Gala, "Pak Gala..."
"Iyaaa..." mereka pun juga menjawab serempak seolah ada yang memberikan aba-aba.
"Kamu aja ngomong duluan..." kata Gala.
"Pak Gala aja dulu..." kata Gendhis.
"Enggak, kamu aja dulu..." kata Gala.
"Bapak dulu aja..." Gendhis masih juga tak mau berbicara.
"Ya udah... apa barengan aja ngomongnya...?" Gala bercanda.
Gendhis hanya tersenyum dengan candaan itu.
"Ayolah... ladies first..." lanjut Gala.
__ADS_1
Gendhis kembali tersenyum sembari berkata, "Pak Gala sama Mbak Alena serasi banget." ucap Gendhis singkat.
"Haaa???" ucapan Gendhis membuat Gala terheran.
"Kirain mau ngomong apa..." ucap Gala dalam hati seolah berharap Gendhis bicara lebih dari itu.
"Serasi? Apa maksudnya serasi?" tanya Gala.
"Yaaa... serasi aja, kalian kan..." ucap Gendhis belum selesai namun Gala langsung memotongnya.
"Udah... udah... udah yaaa... jangan dilanjutin lagi." potong Gala.
"Loh... memangnya kenapa, Pak?" tanya Gendhis sambil sedikit tersenyum.
"Ya udah aja... jangan dilanjutin pokoknya." lanjut Gala.
Gendhis ikut saja apa kata dosennya. Ahirnya dia diam dan urung melanjutkan perkataannya. Sesaat setelah Gendhis diam, Gala pun ahirnya berkata.
"Aku sama Alena sudah lama bersahabat. Semenjak kami dulu kuliah di Singapura, dan sampai sekarang. Aku dan Alena sudah seperti kakak adik, dan aku... sudah menganggap Alena seperti adik kandung ku sendiri." jelas Gala.
Gendhis pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gala sedikit melambung dengan perkataan Gendhis tadi. Ia jadi bertanya-tanya, benarkah ucapan itu keluar tulus dari dalam hatinya? Atau kah sebenarnya ada maksud lain? Seperti... Gendhis ingin mengetahui sejauh apa hubungan Gala dengan Alena? Entahlah... Gala sih... berharap demikian!
"Oh... iya... Tadi Bapak mau bilang apa?" ternyata Gendhis menagih ucapan Gala.
Belum sempat Gala menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba Alena sudah muncul di hadapan mereka dengan menenteng ponselnya dan jepret sana, jepret sini sesuka yang ia mau karena memang dia amat menikmati perjalanan ini. Bahkan dalam ponselnya, dia sempat mengabadikan momen langka yaitu Gala dan Gendhis sedang berbincang sambil menikmati indahnya pemandangan.
"Oh... nggak jadi. Lain kali aja. Yuuuk kita lanjut jalan lagi. Tuh... Alena udah dateng!" ucap Gala.
Dalam hati Gala berkata, "Aku cuma pengen bilang kalau Gendhis... hari ini kamu cantik..." Gala tersenyum geli sendiri dengan ucapan yang ia pendam dalam hati. Ia yakin suatu saat nanti kalimat itu akan keluar dari mulutnya ketika Gala berhasil menghalalkan gadis itu.
Mereka bertiga ahirnya berjalan-jalan sepuasnya menyusuri setiap sudut pemandangan yang di suguhkan di sana. Hingga tanpa terasa, mulai terdengar sayup suara adzan dzuhur berkumandang bersahutan. Mereka lalu memutuskan untuk pergi ke masjid yang cukup megah di kampung tersebut untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur.
Perjalanan mereka selanjutnya adalah menyaksikan matahari terbenam lalu matahari terbit ke esokan harinya di Mangli Sky View yang ada di area Sawah Mangli, Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang. Pesona alam yang tak kalah menawannya yang ada di lereng Sumbing. Tempat berikutnya tersebut juga tidak terlalu jauh dengan rumah Gendhis, tapi rencananya mereka akan bermalam di tenda-tenda yang sudah disediakan oleh pengelola wisata Mangli Sky View.
*****
...Terimakasih kakak, sudah setia menunggu... maaf sekali up nya terlambat karena ada kendala jaringan 🥰...
__ADS_1
...Like dan Komentarnya yaaa... terimakasih... 🥰🥰🙏🙏🙏...