Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Siapa Lelaki itu?


__ADS_3

Hari ke tiga kegiatan Baksos di Desa Sekar Wangi.


Kedua puluh mahasiswa FKIP sudah sedari pagi bersiap mengikuti kegiatan baksos hari ini. Meski udara dingin serasa menusuk tulang rusuk, dan sinar mentari yang masih enggan menampakkan sinarnya, mereka sudah berkumpul di halaman kantor desa. Nantinya, mereka akan dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing terdiri dari empat mahasiswa. Kemudian mereka akan ditugaskan ke beberapa kampung di Desa Sekar Wangi, untuk bisa aktif dan berpartisipasi ikut membantu beberapa warga melakukan aktifitasnya.


Setelah semuanya siap, mereka pun bergegas menuju lokasi tugas masing-masing. Ada yang ikut memanen sayur petani, ada yang menggembalakan ternak mereka, ada yang ikut membasmi hama tanaman, ada pula yang menanam bibit sayuran di ladang. Tujuannya adalah, untuk menumbuhkan rasa empati juga kepedulian sosial mahasiswa terhadap orang lain.


Sebagai dosen pembimbing, tentunya Gala tidak serta merta mengikuti semua kegiatan itu sampai selesai. Tugasnya hanya mendampingi, mengarahkan, menilai dan mengevaluasi kerja mahasiswanya. Dia mengunjungi dari tempat satu ke tempat yang lain, di mana mahasiswanya sedang bertugas.


Tibalah ia di sebuah tempat, di mana Gendhis dan tiga mahasiswa lainnya sedang ikut membantu petani sayur memanen tanaman brokoli.


"Eh... Pak Gala dateng..." kata Andri satu-satunya mahasiswa laki-laki yang bertugas di kelompok itu.


Gala tersenyum, lantas berkata, "Gimana Andri, apakah semua lancar di sini?" tanya Gala memastikan.


"Oh... sudah pasti, Pak. Kelompok kita paling semangat dan lancar jaya... kan ada Gendhis di sini. Iya nggak temen-temen?" kata Andri sambil menoleh ke arah teman satu kelompoknya yang tengah asyik memetik sayur gimbal berwarna hijau tua itu.


"Iya, Pak... selama ada Gendhis, kita pasti nggak bakal kesulitan. Dia kan faham betul medan di sini Pak. Warga di sini juga ramah-ramah. Apalagi mereka tahu kami temen Gendhis." kata Santi.


"Betul, Pak... malahan tadi kami nggak diizinin buat ikutan mereka memanen sayur karena mereka khawatir kita jadi kotor, tapi Gendhis bilang ini tugas dari kampus, ya ahirnya dibolehin Pak." Era menambahkan.


"Iya, Pak... pokoknya besok-besok kita bakalan satu kelompok ama Gendhis aja ya Pak yaaa..." Dona pun ikutan bicara meski sekedar mencari perhatian dari dosen tampan itu.


"Hayooo... kalian ngomongin apa? Aku denger lho nama ku disebut-sebut..." ucap Gendhis dari kejauhan sembari memasukkan brokoli yang sudah dipanen ke dalam karung.


"Nggak kok, Dis... kami cuma usul sama Pak Gala, kalau kami mau sekelompok sama kamu terus, soalnya... kamu semua bisa, jadi kami nggak kesulitan, hihihi..." ucap Dona sedikit keras.


"Hhheeemmm... kalian ini, ternyata ada maunya... boleh lah, terserah kalian." jawab Gendhis mendengar celoteh teman-temannya.


Gala tidak banyak bicara. Ia hanya tersenyum-senyum mendengar mahasiswanya saling beradu pendapat. Yang pasti Gala tangkap dari pembicaraan siang itu, bahwa apa yang mahasiswanya pikirkan tentang Gendhis, tidaklah jauh berbeda dengan apa yang ia fikirkan. Gendhis itu... unik. Selain cantik, hatinya pun secantik parasnya. Sopan santunnya, keramahannya, kesabarannya, pengetahuan agamanya, kecerdasannya, empatinya. Tiada kata lain selain kata "SEMPURNA"... untuk gadis bermata sipit itu.


" Gendhis... Gendhis... pria mana yang sudah berhasil mendapatkan hatimu? Dia sangat beruntung... Mungkin, aku tidak seberuntung dia, tapi setidaknya... aku cukup bahagia bisa mengenalmu sejauh ini. Masih kah ada wanita lain di dunia ini yang seperti dirimu? Aku rasa... tak ada. Dan... apa masih ada kesempatan bagiku untuk bisa mengenalmu lebih jauh lagi? Aku rasa... juga tak bisa...! Dis... siapa pun laki-laki yang menyematkan cincin di jari manis mu itu, aku harap... dia adalah lelaki terbaik yang Allah kirimkan untuk mu..." ucap Gala dalam hati, sambil mengamati dari kejauhan Gendhis yang sedang asyik dengan brokolinya, hingga tak menyadari bahwa ada sesosok laki-laki tampan sedang menyimpan rasa terhadapnya.


"Pak Gala... ini kami sudah selesai, tinggal membawa hasil panen ini ke rumah petaninya." kata Andri dan ternyata tidak mendapat jawaban apapun dari dosennya yang tengah hanyut dalam lamunan itu.


"Pak... Pak Gala... Bapak kok ngelamun, sih..." ucap Dona sedikit lebih keras hingga membuyarkan lamunan Gala.


"Oh... sorry... gimana tadi? Kita sampai di mana?" tanya Gala gugup karena terpergok oleh mahasiswanya sedang melamun.


"Ya... ampun Bapak... tadi Andri tanya, ini udah selesai Pak, tinggal bawa pulang ke rumah petaninya. Cuma masalahnya kalau dibawa pakai motor susah Pak, karena lumayan banyak." kata Era.

__ADS_1


"Ya udah, pakai mobil saya aja, Andri bisa kan nyetir?" kata Gala.


"Hah... serius, Pak?" tanya Andri.


"Iya... lah... serius. Emang wajah saya keliatan seperti lagi berbohong?" tanya Gala.


"He... he... he... ya bukan gitu maksud saya, Pak... cuma... nanti kalau mobil Bapak kotor gimana? Masa mobil bagus-bagus buat muat sayur sih, Pak? Kan sayang..." jawab Andri.


"Andri... yang sayang itu, kalau punya mobil bagus tapi nggak boleh ditumpangi sama orang lain. Lagian, air banyak kan di sini? Tinggal nanti di cuci aja udah... beres... Iya nggak?" ucap Gala pada mahasiswanya.


"He... he... iya juga sih Pak." jawab Andri.


"Ya udah kalau gitu, bawa semua sayur yang udah siap ke dalam mobil, terus kalian bawa ke rumah petaninya." perintah Gala.


"Lha terus, Bapak pulangnya gimana?" tanya Santi.


"Kan ada motornya Andri... biar nanti, aku yang bawa." jawab Gala.


"Oh... iya... lha terus, Gendhis gimana? Itu masih ada sekarung lagi yang belum beres." tanya Andri.


"Biar di selesein dulu, nanti pulangnya biar aku bawa pakai motor Andri, kan cuma tinggal itu aja." kata Gala. Pinter dia ya... cari kesempatan biar bisa ngobrol sama Gendhis 🤭🥰🥰.


"Lha terus... saya gimana dong Pak pulangnya?" tanya Dona ngarep bisa diboncengin Mas Dosen ganteng.


"Siap... Pak!" Andri tampak bersemangat. Kapan lagi dia berkesempatan bisa nyetir mobil mewah itu kalau tidak sekarang. Karenanya, segera dia bergegas meminta kunci mobil, lantas menaikkan beberapa karung brokoli itu ke mobil Gala.


"Aduuuh... Pak... harusnya saya aja Pak yang selesein tugas di sini sama Bapak, biar Gendhis pulang duluan sama Era, gimana Pak?" tawar Dona ngarep biar bisa diboncengin sama dosen pujaannya.


Serentak Andri, Santi dan Era pun berkata, "Donaaaa...!!!" sambil mengerutkan alis mereka melihat tingkah Dona.


"He... he... iya, deh... saya pulang sama Era aja... Mari Pak Gala... kami duluan." ahirnya Dona pun mengikhlaskan Gendhis lah yang pulang bersama Gala, meski sebenarnya jika tahu hal ini Gendhis tidak akan setuju. Ia pasti lebih suka pulang bersama dengan teman-temannya, daripada harus pulang bersama Gala. Namun apa hendak dikata. Teman-temannya sudah lebih dulu meninggalkannya.


Gala lalu perlahan mulai berjalan mendekati Gendhis yang sedang duduk di ujung ladang sambil merapikan sisa hasil panen.


"Sudah selesai semua, Dis?" tanya Gala mengejutkan Gendhis karena tanpa ia sadari laki-laki itu sudah berdiri tidak jauh dari tempat duduknya.


"Oh... iya... sebentar lagi selesai." katanya.


"Syukurlah... lama juga nggak papa kok, biar aku bisa lebih lama ngobrolnya. Yaaa... meski sekedar obrolan biasa, setidaknya kamu bisa berikan aku kesempatan untuk mencari informasi tentang lelaki yang sudah mengambil hati mu itu." ucap Gala dalam hati.

__ADS_1


Gendhis lalu menoleh ke arah di mana ketiga sahabatnya tadi bergurau. Tapi justru yang ia dapati hanyalah Gala seorang yang tengah berdiri di hadapannya. Gendhis terkejut merasa ditinggalkan oleh teman-temannya.


"Pak... Teman-teman kemana ya? Perasaan tadi mereka di sana? Kenapa sekarang nggak ada?" Gendhis bertanya.


"Oh... mereka udah pulang bawa sayur pakai mobil saya." jawab Gala tanpa merasa berdosa.


"Apa? Masya Allah... jadi maksudnya saya ditinggal sendirian gitu?" tanya Gendhis terheran-heran.


"Ya nggak sendirian juga... kan ada saya?" ucap Gala.


"Ya Allah... jahat banget sih mereka." Gendhis masih merasa dicurangi oleh sahabatnya. Ia tak tahu bahwa sebenarnya mereka pergi juga atas keinginan Gala.


"Udah nggak papa. Habis ini kita susul mereka. Sini aku bantuin biar cepet selesai." ucap Gala sambil duduk di hadapan Gendhis untuk membantunya memasukkan brokoli yang hanya tinggal beberapa batang itu ke dalam karung.


"Nggak usah Pak... biar saya aja." cegah Gendhis sungkan jika sampai dosennya itu membantunya. Apa kata dunia nanti... fikirnya.


"Udah nggak papa, sini..." Gala memaksa.


"Nggak usah, Pak. Biar saya aja..." cegah Gendhis.


Dan tanpa sengaja, tangan mereka menyentuh satu brokoli yang sama, membuat keduanya saling beradu pandang untuk beberapa detik. Namun... waktu yang hanya beberapa detik itu seolah berhasil membuat detak jantung Gendhis juga Gala berdetak sangat kencang.


"Astaghfirullah hal 'adzim..." ucapnya dalam hati.


Bak secepat kilat, Gendhis melepaskan tatapannya dari wajah Gala, dan ia lempar brokoli itu karena saking gugupnya.


Namun Gala, seolah tak ingin membiarkan momen langka itu berlalu begitu saja, ahirnya ia beranikan dirinya untuk tetap menatap mata gadis yang ada di hadapannya itu, meski ia tak mendapatkan balasan. Membuat Gendhis semakin gugup juga takut. Takut menimbulkan fitnah, juga takut kalau sampai orang-orang yang sedang berada di ladang sebelah akan berfikir tidak baik pada mereka. Apalagi ladang itu tidak jauh dari jalan raya di mana banyak orang berlalu lalang. Bisa saja ada orang yang salah mengartikan kondisi mereka sekarang.


Mengingat pernikahannya dengan Lintang tinggal menghitung hari.


Dan... dari kejauhan, ternyata benar. Mobil Lintang melaju dari arah puncak hendak turun ke bawah. Sepertinya dia hendak membantu Pak Argo membawa sayur ke pasar. Entah sudah berapa lama sejak Lintang menempuh pendidikan militernya, dia hampir tak pernah membantu Pak Argo membawa sayur ke pasar lagi. Dan sekarang mumpung masih libur, Lintang ahirnya mau membantu ayahnya.


Lintang cukup terkejut melihat Gendhis sedang bersama dengan Gala.


"Itu kan Gendhis? Sedang apa dia di sini? Dan... siapa laki-laki yang sedang bersama Gendhis itu? Aku belum pernah melihatnya." ucap Lintang dalam hati.


*****


...Seperti apakah reaksi Lintang saat pertama kali melihat Gendhis sedang berdua dengan Gala? Marah kah? Cemburu kah? Atau malah dia bahagia? Apa yang akan dilakukan Lintang melihat pemandangan itu? ...

__ADS_1


...Temukan jawabannya di episode selanjutnya yaaa... ☺...


...Terimakasih masih setia di sini... pantau selalu kejutan manis dari Gendhis yaaa... dan jangan lupa like, komentar, juga dukungannya ya kakak-kakak. Terimakasih.... 🥰🥰🥰🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2