Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Bimbang dan Ragu


__ADS_3

"Tok... tok... tok..."


Terdengar suara pintu kamar di ketuk, lalu sebuah suara memanggil nama Gendhis yang tengah merapikan lemari pakaiannya.


"Sudah tidur, Nduk? Boleh ibu masuk?" tanya Bu Sari dari balik pintu.


"Belum, Bu... masuk saja, pintunya nggak dikunci." jawab Gendhis.


Wanita paruh baya itu membuka pintu lantas berjalan menuju tempat tidur Gendhis dan duduk di sana. Ia nampak sedikit was-was, bagaimana harus mengawali pembicaraannya dengan Gendhis.


"Ada apa, Bu? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Gendhis melihat ibunya yang terlihat gugup.


Ahirnya, dengan mengumpulkan segenap keberanian, Bu Sari mencoba berbicara dari hati ke hati dengan putri semata wayangnya.


"Begini, Nduk... tadi Bapak sama Ibu sudah berembug.... soal... soal..." Bu Sari masih sedikit ragu, takut menyinggung perasaan Gendhis.


"Soal apa, Bu?" tanya Gendhis mulai penasaran.


"Soal... Nak Riko?" ahirnya Bu Sari menyebut nama itu.


"Mas Riko? Memang ada apa dengan Mas Riko?" Gendhis merasa ada yang tidak beres semenjak kedatangan Riko tadi, dan sepertinya teka-teki itu akan segera terjawab.


"Begini... sebenarnya... tadi... kata Bapak, kedatangan Nak Riko kemari adalah... meminta izin untuk... melamar kamu." kata Bu Sari dengan dada berdebar. Ia faham betul, semenjak kegagalan hubungan Gendhis dengan Lintang, tak pernah sekalipun mereka membahas soal laki-laki lain. Meski tak sedikit dari kampung sebelah yang semenjak tersebar kabar batalnya pernikahan Gendhis membuat mereka ingin menjadikan Gendhis menantunya. Bahkan tak jarang mereka menemui langsung Bu Sari atau Pak Ratno, hanya saja mereka masih merasahasiakan hal itu dari Gendhis. Mereka merasa, Gendhis belum siap menerima orang lain selain Lintang.


Tapi saat melihat Riko, apalagi laki-laki itu sudah amat mengenal Gendhis begitupun sebaliknya, membuat Pak Ratno dan Bu Sari memberanikan diri untuk membujuk Gendhis. Mereka ingin Gendhis segera mendapatkan kebahagiaan yang sepantasnya ia dapatkan dan menghapus nama Lintang dari hatinya.


"Melamar???" Gendhis terkejut bukan main.


"Iya, melamar..." jawab Bu Sari.


"Terus, Bapak sama Ibu bilang apa?" Gendhis penasaran dengan rona pipi sedikit memerah lantaran emosi dengan laki-laki yang selalu bertindak gegabah tanpa memberi tahunya terlebih dahulu itu. Ahirnya terjawab sudah pertanyaan Gendhis yang muncul semenjak kedatangan Riko, dan ternyata benar... laki-laki itu kembali membuat kepalanya pusing.


"Bapak sama Ibu... yaaa... kami cuma bilang kalau semuanya ada di tangan kamu! Kami memang dulu pernah membuat satu kesalahan dengan menjodohkan mu dengan Lintang bahkan tanpa menanyakan hal itu terlebih dahulu, tapi sekarang... kami ingin memperbaiki kesalahan kami. Gendhis... Ibu faham, tak mudah menghapus luka lama, tapi... apa tidak sebaiknya kamu coba buka hati kamu untuk Nak Riko." bujuk Bu Sari.

__ADS_1


Gendhis tertegun mendengar perkataan ibunya. Ia lantas meletakkan pakaian yang sedang ia lipat di atas pangkuannya sambil duduk di samping Bu Sari.


"Gendhis nggak bisa Bu...! jawabnya singkat.


"Tapi kenapa, Nduk...? Nak Riko laki-laki yang baik, dan dia juga serius ingin meminangmu. Kalau tidak, mana mungkin baru pertama bertemu ayahmu, dia sudah berani melamarmu." lanjut Bu Sari.


"Mas Riko memang seperti itu, Bu...! Ibu jangan terpengaruh dengan sikap Mas Riko." Gendhis coba menjelaskan.


"Kami bukannya terpengaruh, dan kamu jangan salah faham Nduk... kalau memang kamu belum bisa menerima dia ya jangan dipaksakan. Semua orang tua pasti ingin melihat anak-anak mereka bahagia. Kami hanya ingin kamu bisa terlepas dari belenggu masa lalu mu, Nduk..." kata Bu Sari coba menjelaskan.


Gendhis pun hanya diam tertunduk.


"Kalau saat ini kamu belum siap juga ibu tidak memaksa, tapi... mencoba membuka hati untuk orang lain yang kamu rasa tepat itu juga tidak ada salahnya. Baiklah... sekarang kamu istirahat saja. Kalau kamu sudah siap bicara tentang hal ini, jangan sungkan untuk beri tahu ibu." ucap Bu Sari sambil jari kanannya memegang dagu putrinya yang terlihat menunduk karena kebimbangan di hatinya.


Bu Sari pun lantas berjalan keluar dan kembali menutup pintu kamar Gendhis. Sementara di kamarnya, Gendhis masih saja duduk termangu.


"Huuuuffftttt..." Gendhis lantas menarik nafas panjang.


"Cobaan apa lagi yang Kau turunkan untuk ku ya Robb... Bagaimana dalam waktu satu minggu saya harus menjawab dua lamaran sekaligus? Kemarin Pak Gala dan itu saja sudah cukup membuat saya gundah tak tahu harus putuskan apa, lalu sekarang... tiba-tiba Mas Riko datang dengan lamarannya. Parahnya lagi... dia sama sekali tidak bertanya terlebih dulu padaku? Uuuhh... dasar anak itu nggak pernah berubah, dari dulu demen banget nambahin beban masalah ku...." ucap Gendhis antara bimbang juga geram. Segera Gendhis mengambil ponselnya dan memanggil nama Riko lewat panggilan Whatsappnya.


👇Riko


"Assalamu'alaikum... Hayy... Dis... ada apa?"


👇Gendhis


"Waalaikumsalam... Mas Riko...! Aku lagi nggak pengen bicara panjang lebar. Sekarang juga Mas Riko jelaskan, kenapa Ibu bilang kalau Mas Riko tadi melamar ku. Apa itu benar? Mas Riko bisa nggak sih, tiap mau lakuin sesuatu izin dulu, apalagi berhubungan dengan ku? Mas Riko kan udah janji, nggak akan buat aku marah, tapi sekarang?"


Riko sudah mengira hal ini pasti akan terjadi. Ia malah tersenyum sambil membayangkan, saat ini Gendhis pasti cantik banget ketika lagi marah-marah, bicara tanpa spasi tanpa titik, tanpa koma. Coba aja mereka sudah resmi menikah. Saat mendapati Gendhis marah seperti ini, tanpa pikir panjang Riko akan segera mendekap tubuhnya dan dengan lembut menutup mulut manis Gendhis dengan jemarinya, agar seketika kemarahan itu sirna. Namun sayangnya itu cuma angan Riko saat ini 🤭.


👇Riko


"Gendhis... kalau tanya satu-satu dong... gimana mau jawab kalau dalam sekejap, pertanyaan kamu segitu banyak?"

__ADS_1


👇Gendhis


"Udah... deh, Mas Riko jangan berbelit-belit. Buruan jawab aja!"


👇Riko


"Baiklah... kalau kamu maksa, aku jawab sekarang ya?"


👇Gendhis


"Ya udah... buruan! Jawab gitu aja lama banget sih!"


👇Riko


"Okeyy... Gendhis... mau kah kamu menikah dengan ku?"


👇Gendhis


"Aku minta Mas Riko buat jawab... bukannya tanya ya!"


👇Riko


"Ya itu jawaban dari semua pertanyaan kamu, Gendhis. Maukah kamu menikah dengan ku? Aku serius dan nggak sedang bercanda. Aku memang tadi meminta izin sama ayahmu, kalau kamu mau... aku akan ke rumah mu dengan orang tuaku."


👇Gendhis


"Aku nggak bisa Mas!"


👇Riko


"Kenapa? Apa karena ada orang lain di hati kamu? Kalau alesannya cuma karena kamu belum moveon dari masa lalumu, alasan itu nggak berlaku buat aku, Dis. Asal kamu tahu, sampai kapan pun aku akan terus nungguin sampai hati kamu terbuka buat ku, sampai kamu benar-benar bisa melupakan laki-laki penghianat itu. Tapi... kalau alasan kamu karena di hati kamu sudah ada orang lain, Insya Allah... meski berat aku akan mencoba menerimanya."


Apa yang harus Gendhis perbuat? Apakah dia akan bicara jujur bahwa ada laki-laki lain yang juga sedang menunggu jawaban lamaran darinya? Ataukah, dia akan menggantungkan dua lelaki yang amat mencintainya itu. Gendhis merasa, tak baik memberikan harapan palsu pada orang lain. Tapi hingga detik ini, jujur... dalam hati Gendhis... belum dapat memilih apakah akan menerima lamaran dari Riko lantas mengabaikan Gala, ataukah sebaliknya? Atau malah... tetap nyaman dalam kesendiriannya? Semua itu masih jadi misteri yang belum terpecahkan.

__ADS_1


*****


__ADS_2