Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Tikungan tak Terduga


__ADS_3

Seperti bianglala, Gala berjalan memutari seisi rumah. Dari kamarnya di lantai dua, turun ke ruang tamu, lantas kembali lagi ke kamarnya. Sambil sesekali ia melihat halaman rumah nan luas itu untuk menunggu kabar baik dari orang tuanya yang sedang melamarkan gadis pujaan hati. Ia seolah tak sabar lagi mendengar kabar dari Bu Fina, kapan hari pernikahannya dengan Gendhis akan tiba. Hatinya begitu gundah, hingga beberapa saat kemudian ia mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya. Segera Gala melihat dari atas balkon dan ternyata adik kesayangannya pulang lebih awal dari yang sebelumnya Riko bicarakan.


Dengan wajah bahagia Gala segera turun untuk menyambut kedatangan adiknya. Dilihatnya Riko sudah berdiri tegak di ruang tamu dengan wajah yang kusut tapi tetap terlihat tampan namun garang. Seperti singa yang hendak menerkam mangsanya.


"Riko...? Kamu sudah pulang? Gimana dengan hasil sidangnya?" tanya Gala penasaran.


Seperti yang selalu ia lakukan saat bertemu dengan sang adik. Gala menghampiri lantas memeluk tubuh kekar adiknya. Namun Gala merasa ada yang janggal kali ini. Riko sama sekali tidak membalas pelukan hangat sang kakak. Justru pandangan matanya terlihat kosong, namun otaknya penuh dengan seribu pertanyaan yang siap membuat kakaknya kalah dalam pertandingan.


Riko mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang bergejolak dalam hati. Sebisa mungkin ia menahan agar tangan itu tak sampai melukai kakaknya.


"Andai saja... laki-laki itu bukan kau? Andaikan... engkau bukan kakak ku...! Andai... bukan kakak ku yang sudah mengambil Gendhis di belalangku... mungkin... tangan ini sudah sejak tadi bersarang di wajah mu. Tapi aku menghormati mu, karena engkau... adalah kakak ku satu-satunya!" ucap Riko dalam hatinya.


Mendapati ekspresi Riko yang tak seperti biasa itu, Gala segera melepas dekapannya lalu memegang bahu adiknya seraya berkata, "Riko? Apa kamu sakit? Kamu baik-baik saja kan?"


"Tidak, Kak Gala! Aku tidak baik-baik saja!" jawab Riko ketus.


"Tapi kenapa Riko? Katakan pada kakak apa yang sebenarnya telah terjadi. Siapa yang sudah buat kamu jadi merasa tidak baik-baik saja? Katakan?" desak Gala.


"Kak Gala! Kak Gala yang sudah melakukannya!" jawab Riko.


"Apa??? Kakak nggak mengerti maksud ucapan kamu Riko... katakan... apa yang bisa kakak lakukan untuk membuat kamu merasa baik-baik saja?" Gala masih merasa dia tak melakukan hal apapun sehingga membuat Riko begitu marah padanya.


"Kak Gala ingin tahu jawabannya?" tantang Riko.


"Tentu saja... katakan!" pinta Gala.


"Baiklah... kalau begitu... tinggalkan Gendhis dan batalkan pernikahan kalian!" ucapan Riko tersebut tentu saja membuat Gala terkejut lantas melepaskan tangannya dari pundak adiknya.


"Riko... apa maksud perkataan mu? Kamu bercanda? Kamu ingin buat kejutan untuk kakak? Tapi apa tak ada kejutan lain?" Gala masih tak mengerti dengan maksud ucapan Riko.


"Kak Gala! Aku serius, tinggalkan Gendhis kalau Kak Gala ingin melihatku baik-baik saja." ucap Riko berapi-api.


"Tapi kenapa Riko? Bukankah selama ini kamu paling kekeh agar Kak Gala segera menikah? Tapi kenapa sekarang kamu minta kakak untuk membatalkan pertunangan ini?" tanya Gala.

__ADS_1


"Aku memang ingin Kak Gala segera menikah, tapi bukan dengan Gendhis." jawab Riko.


"Tapi kenapa? Apanya yang salah dengan Gendhis hingga kamu meminta kakak untuk meninggalkannya?" Gala semakin tak mengerti maksud ucapan adiknya itu.


"Karena Gendhis adalah gadis yang selama ini aku cintai... Gendhis adalah Manis yang selama ini aku ceritakan. Gendhis Manis Ayunindya..." ucap Riko dengan nada tinggi.


Mendengar ucapan Riko seketika Gala tak bisa berkata-kata. Tubuhnya terasa lemas tak bertulang, bahkan untuk berdiri pun kakinya melemah hingga ia melangkah ke belakang lalu duduk di atas sofa ruang tamu sambil terus mendengarkan perkataan adiknya. Hari itu rasa bahagia bercampur duka bersarang di hatinya.


"Bertahun-tahun aku menunggu Gendhis, bahkan sejak dia masih bertunangan dengan Lintang. Aku berkelahi dengan Lintang untuk Gendhis. Bukan hanya sekali, Kak...! Apa Kak Gala ingat? Beberapa bulan yang lalu saat aku berpamitan untuk joging lalu aku pulang dengan wajah memar dan Kak Gala bertanya padaku apa yang sudah terjadi? Kak Gala tahu, aku berkelahi dengan Lintang karena aku melihat dia sedang bersama dengan wanita lain dan aku nggak bisa lihat Gendhis disakiti." ucapan Riko yang belum juga mendapatkan jawaban dari Sang Kakak.


"Sesaat aku baru merasa bahagia ketika mendengar kabar bahwa hubungan Gendhis dengan Lintang sudah berakhir. Hingga beberapa hari lalu aku mengumpulkan keberanian untuk melamar Gendhis dan sampai detik ini aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku. Lalu bagaimana bisa Kak Gala bertunangan dengan Gendhis? Jawab aku Kak! Kenapa Kak Gala diam saja?" desak Riko.


Setelah mendengar semua penjelasan Riko, ahirnya Gala pun angkat bicara.


"Riko... maafin Kakak! Kakak nggak bermaksud untuk merebut Gendhis dari kamu. Semua ini terjadi begitu saja. Dan kakak sama sekali tidak tahu kalau gadis yang selama ini kamu ceritakan adalah Gendhis. Apalagi soal lamaran kamu... sungguh kakak nggak bermaksud untuk menyakiti perasaan mu..." Gala coba menjelaskan.


"Lalu apa bedanya kakak tahu apa nggak? Apakah setelah kakak tahu lalu Kak Gala akan membatalkan pertunangan kakak dengan Gendhis? Jawab aku Kak?" Riko semakin hilang kendali.


Gala terdiam, karena pertanyaan Riko itu terlalu sulit untuk ia jawab. Melanjutkan pernikahannya sama dengan menghancurkan keluarganya, tapi menjauhi Gendhis juga dirinya yang akan hancur berkeping-keping.


"Assalamu'alaikum..." sapa Bu Fina ketika membuka pintu ruang tamu, sementara Pak Hari sedang memasukkan mobil ke dalam garasi.


"Lho... anak bujang mama di sini semua? Kenapa mama ucap salam nggak ada yang jawab?" tanya Bu Fina yang tidak mendengar kedua anaknya menjawab salam karena suara mereka terlalu lemah.


"Kamu sudah pulang Sayang? Gimana sidangnya? Lulus kan?" tanya Bu Fina pada Riko.


Riko hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah... selamat ya Sayang..." ucapan Bu Fina yang tak mendapatkan respon dari putranya. Ia hanya merasa sedikit heran, tak biasanya dua anak bujang itu duduk terdiam seperti dua orang yang belum saling mengenal.


Wanita paruh baya nan cantik yang masih berpakaian brokat warna coksu nan glamour itu lantas duduk di sofa bersama dengan kedua putranya. Ia tak tahu kalau di tempat itu sedang ada dialog menegangkan dari kedua anaknya.


"Huuuft... capek juga ya, ternyata... tapi Alhamdulillah... acaranya berjalan dengan lancar. Gala... ibu benar-benar kagum melihat gadis pilihan kamu. Cantik, santun, tutur bahasanya juga lembut. Pantas saja selama ini kamu tak pernah mau dicarikan calon istri, ternyata pilihan kamu adalah gadis yang istimewa." tanpa ia sadari ucapan Bu Fina tersebut laksana sembilu yang tajam menusuk ke dalam relung hati si bungsu.

__ADS_1


Gala pun merasa bersalah dan tak enak hati dengan perkataan ibunya, tapi bagaimana dia harus menjelaskan hal ini pada ibunya?


"Gala... kok kamu diem aja sih, ibu ngomong nggak dijawab. Bukannya dari tadi kamu WA mama agar setelah acara selesai terus cepet pulang karena sudah nggak sabar pengen denger cerita mama?" tanya Bu Fina.


"Iya, Ma..." jawab Gala singkat.


"Kalau begitu... selamat... pernikahan kamu dengan Gendhis akan dilaksanakan bulan depan!" ucapan Bu Fina mengejutkan dua putranya, terutama Riko hingga reflek si bungsu itu pun bertanya.


"Apa?!! Bulan depan?" tanya Riko pada Bu Fina.


"Iya... bulan depan. Memang kenapa? Atau terlalu lama ya?" tanya Bu Fina.


"Mama... batalin pernikahan Kak Gala!" ucap Riko serentak membuat Bu Fina terkejut bukan main.


"Apa? Kamu bicara apa Riko? Kalau bercanda jangan terlalu dong Sayang..." kata Bu Fina.


"Riko nggak sedang bercanda, Mama! Batalin pernikahan Kak Gala." Riko kembali mengulang perkataannya.


"Riko! Kamu bicara apa? Mama baru aja sampai rumah dari calon kakak ipar kamu, dan sekarang tiba-tiba kamu bilang pernikahan kakak mu harus dibatalin. Bukannya selama ini kamu yang paling maksa agar Kak Gala segera menikah? Sekarang kamu minta dibatalin. Kamu kira ini main-main?" Bu Fina hampir tersulut emosi mendengar perkataan Riko.


"Pokoknya, aku mau pernikahan Kak Gala dibatalin." ucap Riko sambil beranjak pergi dari ruang tamu lantas segera naik ke lantai dua untuk menuju ke kamarnya.


"Riko... Riko... tunggu! Kamu bicara apa? Kamu mau bikin malu Mama, Papa dan Kakak mu? Riko...!" panggil Bu Fina tapi tak direspon oleh putranya.


Gala pun mencoba menenangkan ibunya dengan memegang lengannya lalu memintanya untuk duduk kembali di atas sofa.


"Sudah, Ma... sudah... tenang. Biarkan Riko istirahat dulu. Mungkin dia lelah." ucap Gala.


"Ada apa sih dengan adik kamu? Kenapa dia jadi bertingkah aneh seperti itu?" tanya Bu Fina pada Gala.


"Mungkin Riko masih capek. Mama kan juga capek... lebih baik sekarang Mama mandi terus istirahat. Kita bicarakan ini lagi nanti. Okeyy... Ma?" Gala mencoba membujuk ibunya.


Ahirnya Bu Fina pun menurut saja apa kata Gala. Ia lantas pergi ke kamarnya dan meninggalkan Gala sendirian di ruang tamu dengan segala keresahan yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


*****


...Komentar dan dukungannya ya kakak-kakak.... terimakasih 🥰🥰🙏🙏...


__ADS_2