
πΌπΌπΌπΌπΌ
...Ini salahku...
...Terlalu memikirkan egoku...
...Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku...
...Hingga kau pergi tinggalkan aku...
...Terlambat sudah...
...Kini kau t'lah menemukan dia...
...Seseorang yang mampu membuatmu bahagia...
...Ku ikhlas kau bersanding dengannya...
...Aku titipkan dia...
...Lanjutkan perjuanganku 'tuknya...
...Bahagiakan dia, kau sayangi dia...
...Seperti ku menyayanginya...
...Dan 'kan kuikhlaskan dia...
...Tak pantas ku bersanding dengannya...
...Kan kuterima dengan lapang dada...
...Aku bukan jodohnya...
Lagu yang dilantunkan oleh Tri Suaka terdengar merdu mengalun di mobil Riko. Liriknya yang menceritakan isi hatinya itu mengiringi keberangkatan Riko ke YIA (Yogyakarta Internasional Airport) yang terletak di Kulon Progo DIY. Sesuai dengan ucapannya, laki-laki itu akan menjauh dari kehidupan Gendhis. Meski hatinya belum bisa merelakan Gendhis untuk kakak satu-satunya, tapi dengan kepergian Riko ke Amerika, dia berharap bisa segera melupakan Gendhis.
Flashback beberapa jam sebelum Riko meninggalkan rumah.
"Riko... kamu yakin mau melanjutkan S2 kamu di Harvard University?" tanya Bu Fina seolah tak ingin berpisah dengan si bungsu.
"Ya jadi lah, Ma. Kan Riko udah bicarakan ini sama Mama Papa kemarin." jawab Riko sambil mengemas pakaiannya ke dalam koper.
"Tapi kenapa harus jauh-jauh ke Amerika? Apa nggak sebaiknya ikut jejak kakak kamu aja di Singapore? Di samping lokasinya juga nggak terlalu jauh, kampusnya kan juga nggak kalah bagus?" tawar Bu Fina.
__ADS_1
"Nggak bisa, Mama... Riko kan udah daftar di sana." jawab Riko seolah tak menggubris tawaran Sang Mama.
"Entar kalau Mama kangen kamu, gimana?" tanya Bu Fina.
"Yah... Mama... kita kan hidup di zaman modern, kalau Mama kangen tinggal VC aja, Mama... nggak perlu pergi ke Amrik." jawab Riko.
Bu Fina hanya bisa pasrah dan mendoakan apa yang sudah menjadi keputusan si bungsu.
"Ya sudah kalau gitu. Tapi... apa nggak bisa kamu tunda keberangkatan kamu. Paling nggak beberapa hari lagi hingga pernikahan kakak kamu selesai..." tawar Bu Fina.
Mendengar perkataan mamanya, Riko lantas berhenti mengemas pakaiannya lalu duduk di samping Bu Fina.
"Mama... Mama tahu kan alasan Riko meninggalkan rumah? Riko nggak bisa lihat Kak Gala menikah dengan Gendhis. Tapi Mama nggak usah khawatir... Riko pastikan semuanya akan baik-baik aja dan Riko janji nggak akan berbuat yang aneh-aneh." ucap Riko.
Wanita paruh baya itu pun lantas memeluk hangat putranya. Andai ia bisa mencarikan satu Gendhis lagi untuk Riko, agar ia tak harus berpisah dengan si bungsu.
"Kamu yang sabar ya ganteng... Mama yakin, suatu saat nanti pasti kamu mendapatkan kebahagiaanmu!" ucap Bu Fina bangga melihat Riko sudah berbesar hati mengikhlaskan gadis yang ia cintai bersanding dengan kakaknya.
"Makasih... Ma... Do'a kan Riko." pintanya.
"Tentu, Sayang... do'a Mama selalu menyertai di mana pun Riko berada." Bu Fina ahirnya melepaskan dekapannya.
Seusai mengemas pakaiannya, Riko bersiap untuk berangkat ke bandara bersama sang sopir. Langkahnya terasa berat saat menuruni tangga dan berjalan di ruang tamu. Nampak di sana sudah ada Pak Hari dan Gala yang juga tak bisa mencegah keberangkatan Riko. Suasana pun berubah menjadi sangat haru dan pilu.
"Jaga diri kamu baik-baik, Nak. Yakin nggak mau Papa anter sampai bandara?" tanya Pak Hari. Laki-laki itu sebenarnya juga sedih harus melepaskan putra bungsunya, tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi keputusannya, dan Pak Hari terlihat lebih tegar karena dia seorang laki-laki, beda dengan Bu Fina yang sedari tadi tersedu-sedu.
"Nggak usah, Pa... makasih!" ucap Riko sembari memeluk lalu bersalaman dan mencium tangan ayahnya.
Ketika sampai di depan Gala, Riko menatapnya dengan sangat tajam. Sesaat kemudian Riko memeluk kakaknya seraya berkata, "Kak Gala... aku titipkan Gendhis. Jangan sampai Kakak buat dia bersedih, apa lagi menangis. Karena kalau sampai itu terjadi, aku nggak segan-segan untuk terbang dari Amrik dan menculik Gendhis." ucap Riko bercanda tapi serius pada kakaknya.
"Insya Allah... aku akan menjaga Gendhis semampu yang aku bisa... Jaga diri kamu baik-baik!" jawab Gala. Kedua kakak beradik itupun ahirnya melepaskan pelukan mereka.
Bu Fina semakin tak kuasa menahan air matanya, melihat dua jagoannya ahirnya bisa akur kembali meski belum sepenuhnya membaik.
Riko segera naik ke dalam mobil di mana sudah ada seorang sopir yang telah siap mengantarkannya sampai ke bandara.
Dengan penuh haru, Riko melambaikan tangannya dari dalam mobil. Bu Fina tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia merasa bahagia atas pernikahan Gala sebentar lagi, namun juga sedih karena sebagian gantinya dia harus jauh dari si bungsu. Meski demikian, ia faham betul pada darah dagingnya. Meski sekarang hubungan mereka sedang kurang baik, tapi seiring berjalannya waktu, keduanya akan kembali seperti sedia kala.
*****
Terdengar suara tangisan bayi kecil menyayat hati. Begitu keras dan nyaring, seolah ingin mendapatkan dekapan dan seteguk air kehidupan dari sang ibu. Lintang yang sedang bersiap untuk berangkat bertugas hari itupun tak tega melihat bayi kecilnya yang baru berumur empat bulan itu menangis sendirian di kamarnya. Dengan penuh kasih sayang juga rasa panik, dia menggendong putri kecilnya walau sudah berseragam doreng.
"Cup... cup... cup... jangan nangis ya Sayang, kita cari Mama kamu." ucap Lintang sambil berjalan ke kamar mencari Gabby.
__ADS_1
"Sayang... kamu di sini rupanya? Dari tadi Sanchi nangis kok nggak ditolongin sih?" ucap Lintang sambil menggendong baby Sanchi seraya menenangkan tangisannya.
"Duuuhh... Sayang, kamu nggak lihat aku lagi dandan? Aku mau kerja nanti telat... tolong ya Sayang bikinin susu dulu, ntar juga nangisnya berhenti kok..." ucap Gabby sambil berlenggak-lenggok di depan cermin merapikan alis matanya.
"Bukan cuma kamu kan yang mau berangkat kerja? Aku juga... Emang Si Embak kemana?" tanya Lintang sedikit kesal.
"Si Embak hari ini ijin libur, karena ibunya lagi sakit." jawab Gabby tanpa menoleh sedikitpun ke arah baby Sanchi.
"Kenapa nggak kamu kasih asi aja sih Sayang? Kamu kan mamanya?" tanya Lintang.
Mendengar perkataan suaminya, Gabby lantas berbalik badan ke arah Lintang sambil berkata.
"Sayang... kita kan udah sering bahas masalah ini. Bahkan sejak Sanchi masih dalam perut ku. Aku nggak mau kalau Sanchi harus minum asi langsung. Dari awal dia lahir kan aku udah kasih dia breast milk pump. Aku rasa itu sudah cukup." jawab Gabby. Dia amat memikirkan penampilannya sehingga tak ingin sekalipun baby Sanchi minum air kehidupan itu langsung dari tubuhnya, tapi justru memompanya.
Lintang tak mau berdebat lebih lanjut lagi dengan istrinya. Ahirnya dia mengalah lantas pergi dari kamarnya untuk membuatkan susu. Semua ini sungguh jauh dari perkiraan Lintang sebelum dia mendapatkan surat tugas dan tinggal di Desa Kesiman Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali.
Lintang mengira, Gabby akan menjadi istri yang baik mengurus rumah, mengurus dirinya juga anaknya. Tapi kenyataannya, tak ada yang Gabby pikirkan selain cuma penampilan dan rutinitasnya di rumah sakit bersama dengan teman-teman dokternya.
Usai minum susu, baby Sanchi ahirnya terlelap kembali di kamarnya. Lintang meninggalkannya lantas kembali ke kamar untuk menemui Gabby.
"Kalau Si Embak nggak datang, terus Sanchi di rumah sama siapa?" tanya Lintang.
"Sayang... maaf ya, tapi aku nggak bisa libur karena hari ini ada jadwal operasi. Kamu bisa kan jagain Sanchi? Please... hari ini aja, yaaa..." bujuk Gabby.
"Kamu selalu bilang gitu tiap kali Si Embak libur. Harusnya kamu yang di rumah jagain Sanchi dan aku yang berangkat kerja!" bantah Lintang.
"Nggak bisa... karena ada jadwal operasi. Kan sayang kalau ditinggal. Bisa buat tambahan... kamu tahu kan, biaya hidup di Kota Denpasar nggak murah. Kebutuhan kita kan makin banyak, apa lagi sekarang kita juga punya bayi dan buat gaji Si Embak juga. Kalau cuma ngandalin gaji kamu aja mana cukup Sayang." kata Gabby sambil menjinjing tasnya lalu mengambil kunci mobil.
"Aku pergi dulu Sayang..." pamit Gabby dengan mengecup kening suaminya yang tengah duduk di atas ranjang sambil menahan rasa kesal atas perlakuan istrinya.
Lintang tak habis fikir, Gabby sangat gemar dengan hidup mewah. Mulai dari apa yang ia pakai, makanan, perawatan kecantikan, hingga apartemen yang mereka beli dan baru mereka tempati dua minggu ini. Semua Gabby yang atur. Hal itu lantas membuat kondisi keuangan Lintang menjadi porak poranda. Mau nggak mau, dia harus kasih izin Gabby untuk bekerja lagi, bahkan terkadang hingga larut malam. Meski rumah mereka ada yang mengurus, tapi siapa yang akan mengurus kebutuhan Sanchi dan juga Lintang. Karena yang Lintang butuhkan bukan hanya kebutuhan materi saja, melainkan perhatian dari seorang istri. Semua itu tak bisa Lintang dapatkan semenjak Gabby melahirkan putri mereka.
Saat Lintang disibukkan dengan fikirannya yang dibuat pusing oleh perubahan sikap Gabby, tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi. Ia meraih handphone yang ada di saku celananya, tapi ia tak menemukan ada panggilan masuk. Ia lalu menoleh ke atas meja rias dan mendapati ponsel Gabby tertinggal di sana.
"Huuuffft... ternyata bunyi ponsel Gabby." ucap Lintang sambil berjalan ke arah meja tersebut untuk melihat siapa yang menelpon Gabby.
Rasa penasaran di hati Lintang muncul ketika dari ponsel Gabby, muncul panggilan dengan foto profil seorang laki-laki tampan yang di beri nama "Kak Bara".
Sesaat, Lintang berfikir. Apakah dia akan mengangkat ponsel istrinya dan bicara pada laki-laki yang ada dalam panggilan itu? Ataukah Lintang akan membiarkan ponsel itu berhenti berdering lalu mencari tahu identitas lelaki itu dari dalam ponsel Gabby?
*****
...Temukan jawabannya di episode berikutnya ya kakak π€...
__ADS_1
...Ditunggu komentar serta dukungannya yaaa... terimakasih π₯°π₯°ππ...