Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Firasat


__ADS_3

Lintang membiarkan handphonnya berdering begitu saja tanpa mengangkatnya. Ia khawatir, jika mengangkat telephonnya, kebohongan Lintang akan terbongkar. Saking bersemangatnya untuk bertemu Gabby, Lintang sampai lupa mematikan ponselnya.


"Kok kamu nggak angkat telephonnya sih Sayang?" tanya Gabby.


"Nggak ah... nanti aja. Aku lagi pengen berdua sama kamu, dan lagi nggak pengen diganggu." jawab Lintang menutupi kebohongannya.


Padahal dalam hatinya berdegup sangat kencang, takut kalau semua akan terbongkar.


Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Gabby menerima saja alasan yang diberikan Lintang.


Beberapa saat kemudian, mereka selesai makan siang dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Saat hendak meninggalkan meja, Lintang berkata pada Gabby,


"Sayang, kamu duluan aja ya, aku mau ke toilet bentar, nanti aku nyusul." Lintang berpamitan.


"Oh... ya udah, aku tunggu di mobil yaaa..." kata Gabby sambil berjalan meninggalkan Lintang.


"Okeyy..." segera Lintang pergi, tapi bukan untuk ke toilet, melainkan untuk menjawab telepon dari Gendhis yang sempat ia diamkan beberapa menit yang lalu.


Lintang memanggil Gendhis melalui panggilan suara di whatsapp, dan ternyata Gendhis masih menunggu telepon dari nya. Segera Gendhis angkat telepon itu.


"Assalamu'alaikum, Mas Lintang..." sapa Gendhis.


"Waalaikumsalam... maaf ya Dis, aku nggak denger tadi kamu telepon." kata Lintang.


"Nggak papa Mas, aku cuma pengen tanya Mas Lintang jadi pulang nggak hari ini?" Gendhis ingin memastikan.


Ia merasa sudah cukup lama tak mengobrol dengan Lintang. Apalagi ahir-ahir ini, Gendhis disibukkan dengan sekolahnya dan persiapan awal masuk kuliah. Sedangkan Lintang, sibuk dengan kekasih barunya.


"Iya jadi. Ini masih siap-siap, bentar lagi pulang." jawab Lintang.


"Oh, ya udah kalau gitu, hati-hati di jalan." pesan Gendhis.


"Iya, Dis. Udah dulu ya, aku berangkat pulang sekarang. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..." jawab Gendhis lantas menutup teleponnya.


Lintang merasa, semakin hari hubungannya dengan Gendhis semakin hambar, tak se syahdu dulu saat Lintang belum mulai pendidikannya di Akmil. Mereka sekarang jadi jarang bertemu, komunikasi juga berkurang. Ditambah lagi dengan kehadiran Gabby dalam kehidupan Lintang. Hal itu membuat jarak di antara dirinya dengan Gendhis semakin jauh.


*****


Sore itu, seperti biasa, Bu Parti sedang memasak untuk persiapan makan malam. Dari pintu dapur, terdengar suara memanggilnya.


"Assalamu'alaikum, Bu Parti sedang masak?" tanya Gendhis.


"Waalaikumsalam... eh, Nduk... sini masuk! Iya, Ibu lagi siap-siap mau masak sayur lodeh sama sambal terasi kesukaan Lintang." jawab Bu Parti sambil memotong beberapa sayur kol.


Gendhis pun masuk ke dapur setelah Bu Parti mempersilakan.


"Kamu sudah pulang dari sekolah? Gimana perkembangan anak-anak sekarang? Apa sudah ada peningkatan?" tanya Bu Parti.


"Alhamdulillah... berkat do'a juga dukungan dari Bapak, Ibu dan warga kampung, sekarang makin banyak yang ikut sekolah. Mereka juga sangat bersemangat." jawab Gendhis sambil duduk di kursi untuk membantu Bu Parti.


"Syukurlah... Alhamdulillah... Oh iya, kamu mau cari Lintang? Tadi ada di kamarnya. Sebentar Ibu panggilin." kata Bu Parti.


Gendhis menunggu cukup lama jika sekedar memanggil saja, dia rasa tak butuh waktu selama itu. Ternyata, Bu Parti memang harus berusaha lebih keras lagi untuk membangunkan Lintang agar dia mau menemui Gendhis.


Setelah menunggu beberapa saat sambil melanjutkan Bu Parti memotong sayuran, ahirnya Gendhis mendapati Bu Parti turun dari tangga dan berjalan menuju dapur.


"Nduk... ke atas aja... Lintang ada di taman atas." kata Bu Parti.


"Iya, Bu." Gendhis meninggal Bu Parti di dapur menuju taman belakang, tempat favorit mereka.


Dengan ragu-ragu, Gendhis menapakkan kakinya, membuka pintu taman. Dari dalam rumah, terlihat Lintang tengah duduk di kursi yang selalu mereka jadikan untuk mengobrol saat ada waktu luang. Tapi sepertinya kursi itu mulai sayu, merindukan sepasang kekasih yang dulu sering bercanda tawadi tempat itu. Bunga yang bermekaran pun satu persatu mulai gugur ke tanah, seakan dapat merasakan penghianatan dari pemiliknya.


"Mas Lintang..." dengan suara lembut Gendhis menyapa.


Entah kenapa ia merasa kaku saat bertemu dengan Lintang. Senyum Lintang tak semanis dulu. Wajahnya tak seteduh dulu. Sikap Lintang dingin, tak sehangat dulu.

__ADS_1


"Ya Allah... apakah firasatku ini benar? Ataukah hanya karena rasa takutku yang berlebihan? Ya Allah..." ucap Gendhis dalam hati sambil berjalan menuju tempat Lintang duduk.


"Maaf, ya... udah ganggu waktu istirahat Mas Lintang." kata Gendhis sesaat setelah ia duduk di kursi sebelah Lintang.


"Nggak kok, Dis... aku cuma lagi rebahan aja."


Mendengar ucapan Lintang, Gendhis merasa hatinya seperti di siram air saat kemarau berkepanjangan. Sudah terlalu lama mereka tertawan dalam diam berkepanjangan.


"Apakah Mas Lintang baik-baik saja?" entah dari mana Gendhis harus memulai pembicaraan.


Dulu ketika bertemu, Lintang yang selalu sibuk bertanya keadaan Gendhis, kabar Gendhis, tapi sekarang? Bahkan tak tampak sedikitpun aura bahagia di wajah Lintang saat berhadapan dengan Gendhis.


"Yaaa... seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik, sehat. Udah? Cuma itu yang ingin kamu ketahui setelah sekian lama kita tidak berjumpa?" ucap Lintang membuat Gendhis tak mengerti.


Gendhis hanya terdiam. Ia seperti tak mengenali Lintang yang sekarang, jauh berbeda dengan Lintang yang dulu berpamitan untuk berangkat ke asrama Akmil pertama kali.


"Dis... kenapa sih, saat kita ketemu selalu pertanyaan itu yang kamu tanyakan? Harusnya kamu lebih peka dengan perasaanku. Apa nggak bisa kita sedikiiit... aja lebih romantis, kayak pasangan yang lain?" Lintang lupa bahwa Gendhis bukanlah Gabby, namun Lintang ingin Gendhis bisa memperlakukan dirinya sama seperti Gabby memperlakukannya.


"Pasangan yang lain? Apa maksud ucapan Mas Lintang dengan mengatakan pasangan yang lain? Emangnya siapa yang harus aku contoh Mas? Bukan kah agama kita sebenarnya melarang untuk berpacaran? Aku bisa sedekat ini sama Mas Lintang lantaran aku menghormati leluhur kita yang sudah menjodohkan kita, tapi bukan berarti kita sudah bebas menuruti hasrat dan nafsu kita. Mas... selama ikrar janji suci pernikahan belum terucap dari mulutmu, maka selama itu lah aku belum bisa memenuhi keinginan mu untuk satu hal ini." ucap Gendhis tegas, meski hatinya rapuh tiap kali bertemu, Lintang selalu mempertanyakan masalah ini.


"Okeyy... udah ya Dis, aku capek. Aku belain pulang buat siapa kalau bukan buat kamu? Dan aku pulang untuk melepas kerinduanku, bukan untuk mendengar ceramahmu. Namun apa yang ku dapat? Bahkan sedikitpun kamu tak izinkan aku untuk menyentuhmu." Lintang berkata sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Astaghfirullah hal'azdim... kenapa Mas Lintang jadi seperti ini?" ucap Gendhis dalam hati.


"Kalau memang kamu masih seperti ini... jangan salahkan aku kalau..." Lintang belum melanjutkan perkataannya.


"Kalau apa, Mas? Cukup Mas jangan lanjutkan lagi." potong Gendhis.


"Kenapa? Kamu takut aku ninggalin kamu? Lalu apa bedanya kita masih bersama kalau kamu tak pernah menganggap ucapanku ini penting?" tanya Lintang.


Gendhis hanya terdiam, tak tahu lagi bagaimana caranya memberikan pengertian pada Lintang yang sudah terpengaruh oleh gaya hidup Gabby.


"Aku capek, Dis. Mau istirahat dulu. Permisi..." Lintang pergi begitu saja meninggalkan Gendhis duduk sendiri di kursi taman.

__ADS_1


Gendhis menutup wajah dengan kedua tangannya lantas menarik nafas panjang. Ia tak menyangka pertemuannya kali ini akan memperburuk hubungannya dengan Lintang. Padahal niat awal Gendhis menemui Lintang adalah untuk memperbaiki hubungan mereka, namun justru yang terjadi adalah sebaliknya. Gendhis pun harus pulang dengan harapan kosong.


*****


__ADS_2