
Pagi ini, Gendhis meminta izin pada Gala untuk menemui orang tuanya di Kampung Merangi. Baru dua minggu berpisah dari orang tuanya rasanya bak sebulan lamanya. Setelah mendapatkan restu dari suaminya, Gendhis pergi ke Merangi. Tentunya dengan diantarkan oleh Gala.
"Terimakasih, Pak Gala sudah mengantarkan saya sampai rumah... maksud saya rumah orang tua saya." ucap Gendhis saat Gala hendak berpamitan untuk pergi ke kampus.
"Okey... inget, nggak boleh nginep lho ya... ntar sore pulang dari kampus aku jemput." pesan Gala.
Gendhis menganggukkan kepalanya.
"Assalamu'alaikum..." pamit Gala.
"Waalaikumsalam..." jawab Gendhis sambil mencium tangan suaminya. Gala pun masuk ke dalam mobil lantas pergi menuju kampusnya.
Sebenarnya Gendhis merasa kecewa saat Gala tak mengizinkannya untuk menginap di rumah orang tuanya. Satu hari rasanya belumlah cukup untuk menghapus kerinduannya pada keluarganya di Merangi. Tapi apa mau dikata, Gendhis harus patuh pada keinginan suaminya yang tak bisa jika harus berlama-lama jauh darinya. Apalagi, Gala tahu kalau sekarang Lintang ada di rumah. Ia tak mau laki-laki itu mencari kesempatan untuk mendekati istrinya kembali.
Pak Ratno dan Bu Sari menyambut bahagia kedatangan putrinya. Karenanya, sebagai satu tradisi di kampungnya, mereka memasak bubur merah dan nasi urap juga beberapa makanan untuk selamatan. Makanan itu nantinya akan mereka bagikan kepada tetangga mereka sebagai sedekah mereka.
"Gendhis? Bagaimana keluarga baru mu? Apakah... kamu krasan di sana? Nak Gala dan orang tuanya pasti memperlakukan mu dengan sangat baik." tanya Bu Sari saat Gendhis membantunya memasak di dapur.
Gendhis tersenyum lantas berkata, "Alhamdulillah... mereka semua sangat baik. Bahkan mereka tidak mengizinkan Gendhis melakukan pekerjaan rumah apa pun meski Gendhis ingin. Jadi... Gendhis merasa bosan di rumah terus. Pak Gala juga ahir-ahir ini sering pulang malam karena banyak kerjaan di kampus jelang akreditasi." jawab Gendhis.
"Terus? Kamu nungguin sampai Nak Gala pulang?" Bu Sari terang-terangan bertanya.
"Ya... enggak lah, Bu... Gendhis sudah mengantuk ya tidur duluan. Tahu-tahu Pak Gala sudah di rumah, he... he..." jawab Gendhis lugu. Memang Gala tak pernah mengusik jika Gendhis sudah tertidur mendahuluinya.
"Astaghfirullah.... Gendhis. Kasihannya Nak Gala, pengantin baru kok istrinya nggak perhatian." ucap Bu Sari gregetan dengan keluguan putrinya. Padahal Gendhis tahu betul maksud Bu Sari. Sebenarnya Gendhis hanya pura-pura tertidur saat Gala pulang agar dia bisa menyelamatkan diri.
Menjelang sore, Gendhis dan Bu Sari selesai menyiapkan makanan.
"Gendhis... Ibu pergi dulu antar selametan untuk para tetangga." pamit Bu Sari.
"Biar Gendhis aja, Bu... kasihan ibu orang tua masa suruh jalan kesana kemari!" ucap Gendhis sambil membawa beberapa kantong plastik berisi makanan.
"Kamu nggak papa?" tanya Bu Sari.
"Ya nggak papa lah, Bu... sekalian bersilaturahmi. Lama Gendhis nggak ketemu sama warga Merangi." jawab Gendhis.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu yang beres-beres rumah." jawab Bu Sari.
Gendhis pun mulai berkeliling Kampung Merangi untuk mengantarkan makanan. Mereka menyambut dengan bahagia juga rasa syukur. Tak sedikit pula yang mendo'akan untuk kebahagiaan Gendhis dan suaminya. Sekitar dua puluh kantong plastik lebih sudah Gendhis bagikan, lantas ia kembali ke rumah. Senang rasanya Gendhis bisa kembali berbagi dengan para tetangga.
"Bu... semua bingkisan sudah Gendhis bagikan. Apakah Gendhis boleh mandi dan bersiap sekarang? Sebentar lagi Pak Gala mungkin datang." tanya Gendhis.
__ADS_1
"Mandi, lah Nak... biar ibu yang selesaikan bersih-bersihnya!" jawab Bu Sari.
Gendhis lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, ia segera berganti pakaian dan berhias secantik mungkin untuk menyambut kedatangan suaminya. Usai bersiap, Gendhis kembali ke dapur dan melihat Bu Sari yang belum juga usai dengan kegiatannya.
"Sini, Bu... biar Gendhis bantu!" ucap Gendhis.
"Eh... nggak usah, Nduk... kamu kan udah mandi. Kalau mau itu aja... di atas meja ada rantang berisi makanan. Tolong kamu kasih ke Bu Parti ya! Sebenarnya mau Ibu yang ngasih tapi kerjaan Ibu masih banyak!" pinta Bu Sari.
"Oh... tentu, Ibu. Biar Gendhis yang kesana!" jawab Gendhis sambil pergi berlalu.
Sepertinya Bu Sari tak ingat jika Lintang sedang ada di rumahnya. Kalau saja dia ingat, tak kan mungkin ia biarkan Gendhis pergi ke sana sendirian.
Gendhis berjalan melewati halaman rumahnya untuk mengantarkan makanan ke rumah Bu Parti dan Pak Argo. Ia melihat pintu ruang tamu yang sedikit terbuka.
Dari ujung jalan, nampak mobil Gala yang semakin mendekat. Gala melihat Gendhis sedang berjalan ke arah rumah Lintang.
"Gendhis??? Mau apa dia ke rumah itu?" ucap Gala penasaran. Dan sepertinya, Gendhis belum melihat kedatangan mobil Gala.
"Assalamu'alaikum..." sapa Gendhis tapi tak ada jawaban.
"Assalamu'alaikum... Bu Parti... Pak Argo? Apa ada orang di rumah?" Gendhis mengeraskan volume suaranya tapi tetap saja tak ada yang menjawab.
Gala memarkirkan mobil di depan rumah Gendhis.
"Assalamu'alaikum..." suara Gala dari pintu depan.
"Waalaikumsalam..." jawab Bu Sari segera keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Eh... Nak Gala... mari... masuk!" ucap Bu Sari.
"Iya, Bu." jawab Gala sambil bersalaman lantas mencium tangan ibu mertuanya.
"Duduk dulu, Nak Gala. Ibu buatkan minum..." kata Bu Sari.
"Oh... nggak usah repot-repot Bu, saya barusan minum." jawab Gala sungkan.
"Nggak repot kok. Sambil nunggu Gendhis, sebentar ya... Nak. Ibu sedang minta Gendhis anterin makanan ke rumah Bu Parti." ujar Bu Sari.
"Oh... iya, Bu." jawab Gala.
"Oh... ternyata Gendhis cuma nganterin makanan. syukur lah..." bathin Gala.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat dan teh hangat pun sudah Gala minum separuh gelas, Gendhis belum juga kembali. Gala mulai resah. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu. Ingin rasanya Gala menyusul Gendhis. Karena hatinya merasa tidak enak, ahirnya Gala memutuskan untuk menyusul Gendhis.
Sementara di rumah Pak Argo, Gendhis masih terkejut melihat keberadaan Lintang yang muncul tiba-tiba di ruang tengah.
"Gendhis???" Lintang terpukau melihat kecantikan Gendhis sore itu. Cukup lama rasanya dia tak melihat Gendhis secantik hari ini, entah sudah berapa tahun yang lalu saat mereka masih duduk di bangku SMA.
"Mas Lintang?" Gendhis pun terkejut.
"Kamu di sini?" tanya Lintang.
"Aku kesini cuma mau ngasih ini dari Ibu untuk Bu Parti..." ucap Gendhis sambil menyodorkan rantang berisi makanan dan tak membalas tatapan Lintang.
"Makasih, ya... Dis. Tapi Bapak sama Ibu lagi nggak di rumah, mereka lagi pergi ke ladang. " ucap Lintang.
Gendhis hanya menganggukkan kepala sambil berkata, "Aku permisi dulu...!" Gendhis hendak pergi meninggalkan Lintang secepatnya tapi Lintang menghalangi jalannya.
"Tunggu sebentar, Dis!" pinta Lintang membuat Gendhis merasa tak nyaman. Apa lagi seperti yang Lintang bilang, orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Otomatis, dia hanya berdua dengan Lintang di rumah sebesar itu.
"Aku harus segera pergi...!" Gendhis tak ingin ada yang salah faham jika melihat mereka berdua di sana, karenanya dia segera kabur dari laki-laki yang pernah sangat dicintainya itu.
"Gendhis... aku tahu, kamu masih mencitai ku, aku tahu kamu tak mungkin bisa melupakan ku karena kita dijodohkan saat kita masih kecil dan sejak itulah kita dibesarkan bersama... Dis... datang lah padaku jika kamu tak bahagia dengan pernikahan mu! Ku tunggu janda mu, Dis...!" Lintang berkata dari kejauhan.
Mendengar ucapan Lintang membuat Gendhis berhenti dan berbalik ke arah Lintang seraya berkata, "Jaga ucapan Mas Lintang! Tak ada sedikitpun niat di hatiku untuk meninggalkan suamiku. Aku bukan dirimu yang bisa dengan mudah meninggalkan tunangannya demi wanita lain. Aku juga bukan Gabby yang menikah hanya untuk menutupi aibnya. Tapi aku menikah karena aku mencintai suamiku!" ucap Gendhis geram.
"Cinta? Benarkah aku mencintai Pak Gala? Bahkan aku sendiri tak ingat kapan aku mulai mencintainya? Tapi sungguh... hatiku bergetar tiap kali mendengar namanya disebut..." gumam Gendhis dalam hati.
"Permisi...!!!" Lanjut Gendhis dan berlalu pergi meninggalkan Lintang.
"Gendhis...! Gendhis...! tunggu aku... dengarkan dulu aku bicara, Dis..." pinta Lintang sambil mengejar Gendhis.
Ketika sampai di ruang tamu, Gendhis juga Lintang terkejut melihat Gala yang sedang berjalan dari pintu. Ia sempat mengetuk dan mengucapkan salam, tapi karena tidak ada yang mendengar dan pintu terbuka, ahirnya Gala masuk saja. Ternyata, pemandangan seperti ini yang membuat hatinya merasa tidak nyaman.
"Gendhis... ayo pulang!" ucap Gala singkat.
"Baaaiik...." jawab Gendhis merasa kalau ini bakal tidak baik-baik saja. Mereka berdua pun meninggalkan Lintang.
Lintang seolah tersenyum puas melihat ada kemarahan tersimpan dari gurat alis mata Gala.
Setelah beberapa saat berbincang dengan Bu Sari dan Pak Ratno, Gala berpamitan untuk kembali membawa Gendhis pulang ke rumahnya. Selama di perjalanan, bahkan hingga sampai di rumah, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Gala. Gendhis pun tak cukup berani untuk memulai bertanya membuka percakapan tentang kejadian sore tadi. Ia hanya bertanya hal-hal biasa seperti sudah makan belum, bagaimana dengan pekerjaan hari ini, tapi jawaban Gala hanya sepatah dua patah kata saja. Ini membuat Gendhis benar-benar khawatir kalau Gala pasti sudah salah faham.
*****
__ADS_1