Jodoh Masa Kecil

Jodoh Masa Kecil
Jerat Cinta Si Gadis Kota


__ADS_3

Gabby mengamati wajah Lintang seusai bertemu Arnold. Ia melihat ada kecemasan yang terpancar dari gurat alis matan Lintang.


"Sayang... kamu nggak papa? Apa ada masalah?" tanya Gabby saat keduanya kembali duduk di kursi.


"Eh... nggak papa sayang." jawab Lintang singkat.


Dalam hati sebenarnya Lintang juga khawatir kalau Gabby sampai tahu bahwa awal mula hubungan mereka dibentuk karena kebohongan. Lintang berusaha merahasiakan itu dan tak ingin Gabby sampai tahu yang sebenarnya.


Tiba lah dipenghujung acara. Seluruh sermatutar dan rekanita meninggalkan gedung. Malam itu, Gabby hendak pulang ke rumahnya di dekat bukit tidar. Semenjak pindah ke Magelang dari Jakarta, tak butuh waktu lama baginya untuk membeli satu buah rumah impiannya. Rumah itu juga tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Gabby bekerja.


Lintang memutuskan untuk mengantarkan Gabby pulang dengan mobil Gabby yang dibawanya ketika hendak berangkat ke gedung Akmil. 15 menit kemudian, mobil Gabby berhenti tepat di hadapan rumahnya.


Keduanya pun masih duduk di mobil.


"Sayang... aku langsung pulang aja ya..." ucap Lintang sesaat setelah menghentikan mobilnya.


"Kok pulang sih... mampir dulu bentar ngapa?" tanya Gabby.


"Nggak enak sama tetangga, udah malem banget." jawab Lintang.


"Nggak enak gimana, orang rumah ku aja di ujung sendiri kok. Jauh ama tetangga. Dan ini juga di kota Sayang, mereka hidup nggak terlalu ngurusin orang lain, nggak kaya... di kampung." kata Gabby.


Gabby memang typical gadis yang tak suka bergaul dengan tetangganya. Ia lebih senang berada di dalam rumah saat libur kerja, daripada harus bergosip dengan tetangga. Karenanya, dia sengaja memilih rumah yang jauh dari hiruk-pikuk orang berlalu lalang.


"Ayoo Sayang... buruan..." lanjut Gabby.


Lintang pun masih berfikir dan belum meng iya kan permintaan Gabby.


Tak sabar menunggu Lintang dengan kebimbangannya, tiba-tiba dengan tangannya Gabby mematikan mesin mobilnya, lantas mengambil kunci mobil itu dan membuka pintu mobil untuk turun.


"Eh... Sayang, kok dimatiin sih mobilnya. Sini kuncinya, aku mau pulang." pinta Lintang.

__ADS_1


"Kamu mau ini?" kata Gabby sambil memamerkan kunci mobil dengan tangan kanannya.


"Ya udah... buruan turun. Nanti aku kasih kuncinya. Ayoook... buruan...." lanjut Gabby.


Tak ada pilihan lain, Lintang pun ahirnya turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Gabby.


Setelah membuka pintu rumah, Lintang dan Gabby duduk di sofa ruang tamu.


"Huuuhh... capek juga ikut kegiatan yang banyak aturan ternyata..." ucap Gabby sambil duduk.


Lintang masih belum fokus dengan perkataan Gabby. Ia melihat jam yang menempel di dinding rumah sudah menunjukkan pukul 23.40 WIB. Sudah hampir tengah malam.


"Sayang, aku pulang sekarang aja ya..." wajahnya tampak khawatir. Selain karena ia tak terbiasa berkunjung ke rumah seorang gadis malam-malam, Lintang juga khawatir kalau mereka hanya berdua saja dalam satu ruangan, malam-malam, akan ada yang ke tiga di antara mereka yaitu... si syaithon.


"Bentar... kan baru aja duduk. Aku bikinin kopi dulu ya..." tanpa menunggu jawaban Lintang, Gabby pergi ke dapur meninggalkan Lintang dengan segala kebimbangan.


Beberapa saat kemudian, Gabby keluar dengan membawa secangkir kopi.


"Ini Sayang, diminum dulu kopinya, biar badan kamu hangat." ucap Gabby sambil duduk di samping Lintang.


Lain halnya dengan Lintang. Lelaki itu sudah dibutakan dengan kecantikan Gabby, hingga ia tak dapat melihat permata seindah Gendhis.


Gabby meraih lengan Lintang dan memeluknya seraya menyandarkan kepalanya pada lengan kanan Lintang, membuat laki-laki ini tampak gusar tak menentu. Tak dipungkiri, alasan inilah yang membuatnya menjauhi Gendhis. Karena Gendhis tak pernah bersikap selembut ini padanya.


Lintang berusaha menolak gejolak yang ada dalam hatinya. Ia tak ingin jika dibiarkan berlarut-larut, ia khawatir tak dapat lagi mengendalikan dirinya sendiri. Ia segera menghabiskan kopi buatan Gabby.


"Sayang... kopinya udah habis. Aku pulang dulu ya!" Lintang bangkit dari tempat duduknya dan melepaskan tangan Gabby.


Ketika hendak berjalan ke arah pintu keluar yang masih tertutup rapat itu, Gabby bangkit dari tempat duduknya lantas berjalan menyusulnya dan tiba-tiba secara mengejutkan, Gabby memeluk tubuh kekar Lintang dari belakang, sambil berkata,


"Sayang... jangan pergi... aku masih kangen..." pintanya dengan nada merayu.

__ADS_1


Seketika, Lintang berhenti tak berkutik. Langkahnya semakin berat untuk pergi meninggalkan Gabby. Dadanya berdegup sangat kencang. Ia tak kuasa menolak permintaan Gabby.


Setelah beberapa saat, Lintang merasakan detak jantung Gabby di punggungnya pun begitu kuat. Lintang lantas membalikkan badannya, membalas dekapan Gabby dengan sangat erat. Aroma eksotis rambut dan tubuh Gabby seolah telah menghipnotis akal sehat Lintang. Tanpa ia sadari, perlahan hembusan nafasnya sudah tepat berada di hadapan mulut mungil Gabby dan... seolah mulutnya merasakan sesuatu yang belum pernah Lintang rasakan sebelumnya dengan gadis manapun.


"Gabby memang berbeda dengan Gendhis... ia bisa memberikan apa yang aku butuhkan selama ini sebagai seorang lelaki normal. Gabby lain... ia memberiku apa yang tak bisa aku dapatkan dari Gendhis." ucap Lintang sambil terus hanyut dalam buaian Gabby.


Tak cukup sampai di situ, dengan penuh hasrat yang menggelora, Gabby menarik tangan Lintang menuju ruangan pribadinya yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang tamu, serentak membuat Lintang makin tak kuasa untuk menolak keinginan gadis liar itu. Lintang semakin tak terkendali dengan sikap Gabby yang semakin agresif. Akal sehatnya seolah hilang tertutup oleh hawa nafsunya yang semakin bergejolak. Ia sudah benar-benar amnesia, siapa dirinya? Siapa orang tuanya? Siapa tunangannya? Seketika fikiran itu lenyap dari dalam ingatannya. Yang tersisa hanyalah Gabby... dan rayuan mautnya. Dan akhirnya... terjadilah peperangan non militer antara dirinya dengan Gabby. Dan malam itu... Lintang sudah berada pada titik tertinggi pencapaian hasratnya yang selama ini ia jaga dan ia pertahankan sebelum pernikahannya dengan Gendhis dilaksanakan.


Malam semakin larut. Seperti halnya Lintang yang sudah terlarut dalam buai asmaranya bersama Gabby.


*****


"Astaghfirullah... Mas Lintang, awas!!!" seketika Gendhis terjaga dari tidurnya.


Ia lalu terbangun dan duduk di atas tempat tidurnya, dengan nafas terengah-engah, jantung berdebar kencang, dan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.


"Astaghfirullahalazim... ternyata hanya mimpi, syukurlah..." ia baru sadar kalau dirinya barusan bermimpi sangat buruk sekali, membuatnya takut dan khawatir. Ia bermimpi melihat Lintang sedang berjalan di sebuah bukit sambil tersenyum. Gendhis mengikuti Lintang di belakangnya, namun semakin lama, Lintang semakin jauh dan jauh. Gendhis terus mengejar Lintang, namun semakin dikejar langkah Lintang justu semakin cepat. Membuat langkah Gendhis makin gontai dan terseok-seok mengikuti Lintang, ia merasa sangat lelah. Hingga pada ahirnya sampailah di puncak bukit, tiba-tiba Lintang terpeleset lalu jatuh ke dalam jurang. Gendhis berlari mengejar Lintang tapi bayangan Lintang sudah menghilang begitu saja. Itulah mimpi buruk yang baru saja Gendhis alami.


Setelah rasa takutnya mulai hilang, Gendhis lalu bangkit dari tempat tidur. Diambilnya segelas air putih yang selalu ada di dalam kamarnya. Gendhis merasa lebih baik.


"Ya Allah... semoga ini cuma mimpi karena aku yang terlalu memikirkan Mas Lintang. Dan bukan merupakan suatu pertanda apa pun." ucapnya sambil meletakkan gelas di atas meja di kamarnya.


"Krompanggggg...."


Tanpa sengaja siku kirinya mengenai sebuah benda lalu terjatuh ke lantai. Segera Gendhis menundukkan badannya untuk memastikan benda apa yang sudah terjatuh. Ia makin terkejut, setelah melihat ternyata yang terjatuh adalah fotonya bersama dengan Lintang yang ia bingkai dalam figura berbahan kaca dan selalu ia letakkan di atas meja di kamarnya. Bingkai itu kini telah pecah berkeping-keping.


Segera Gendhis membersihkan puing-puing kaca yang berserakan di lantai. Dan tanpa sengaja, jarinya tertusuk oleh serpihan kaca itu hingga menimbulkan luka kecil dengan beberapa tetesan darah.


"Astaghfirullah... kenapa perasaan ku jadi nggak enak gini ya? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ya Allah... lindungi lah Mas Lintang di manapun ia berada." ucapnya sambil membersihkan sisa-sisa pecahan kaca.


Gendhis melihat jam yang menempel di dinding kamar menunjukkan pukul tiga dini hari.

__ADS_1


Seusai Gendhis membersihkan serpihan itu, Gendhis segera ke kamar mandi. Ia basuh wajah canntiknya dengan air wudhu. Setelah itu ia hamparkan sajadah merah pemberian Lintang dahulu saat mereka masih bersama. Gendhis bersujud, tahajjud, memohon kebaikan untuk keluarga dan orang-orang yang ia sayangi. Tak lupa nama Lintang yang selalu ia sebut dalam do'a nya, berharap agar dia segera sadar dan kembali ke jalan yang benar.


*****


__ADS_2