
Dua bulan semenjak pertunangan Riko dengan Shaza. Mereka tak pernah secara khusus berkomunikasi meski hanya lewat ponsel. Keduanya memilih untuk diam tak saling menghubungi jika tidak ada hal penting. Hingga pada ahirnya, Bu Fina menelpon Riko. Ia meminta untuk menjemput Shaza di Bandara. Hari ini dia akan ke Harvard University untuk pengambilan ijazah S1nya esok hari.
Sesuai dengan perintah Kanjeng Mami, pukul satu siang waktu Amerika, Riko sampai di Bandar Udara Internasional Boston Logan. Ia menunggu Shaza di tempat kedatangan. Sambil memainkan ponselnya, Riko menunggu Shaza. Setelah kurang lebih 30 menit menunggu, ahirnya Shaza pun tiba. Ia nampak berjalan ke arah Riko.
"Maaf... sudah membuat Kak Riko menunggu." ucap Shaza.
Riko segera menoleh ke arah suara tersebut. Dilihatnya Shaza sudah berdiri di sana dengan membawa beberapa barang yang ia masukkan dalam satu tas berukuran cukup besar.
"Nggak masalah. Kita pergi sekarang?" tanya Riko dan Shaza pun menganggukkan kepalanya.
Keduanya berjalan menuju tempat parkir mobil Riko. Setelah berada di dalam mobil, Riko pun melajukan mobilnya.
Kurang lebih 30 menit berjalan, ahirnya Riko menghentikan mobilnya.
"Turunlah... kita sudah sampai." ucap Riko.
"Kita sampai di mana?" tanya Shaza melihat ke arah kanan dan kiri.
"Di apartemen ku! Selama kamu di Amerika beberapa hari ini tinggallah di apartemen ku!" jawab Riko.
Shaza sempat terkejut mendengar jawaban Riko. Bagaimana dia bisa tinggal satu apartemen dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Memang mereka sudah bertunangan. Tapi itu bukan jaminan keduanya akan menjadi pasangan suami istri selama ijab qobul belum dilaksanakan. Apalagi dengan sikap Riko yang masih saja dingin itu. Bukan tak mungkin mereka bisa batal untuk menikah.
"Kamu tenang aja! Selama kamu ada di apartemen ku, aku akan menginap di hotel. Kamu kan wanita, lebih baik kamu yang tinggal di apartemen dan aku yang menginap di hotel." lanjut Riko.
"Huuuhhh... syukur lah. Aku kira... harus tinggal satu apartemen dengan lelaki judes itu. Ternyata dia pengertian juga." bathin Shaza sambil turun dari mobil Riko.
"Sini biar aku yang bawa!" pinta Riko saat Shaza hendak mengambil tas Shaza yang cukup berat itu.
Riko membuka pintu apartemen. Di sana Shaza melihat ruang tamu yang bersih dan tertata rapi meski pemiliknya adalah seorang laki-laki.
"Duduk dan beristirahat lah... aku ambilkan minum." ucap Riko sambil berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Shaza duduk di atas sofa empuk. Ia masih sedikit canggung karena harus bersama dengan Riko. Karena seperti yang ia tahu, laki-laki itu hanya terpaksa mau bertunangan dengannya.
"Minumlah..." ucap Riko sesaat setelah ia mengambil segelas air putih dan meletakkannya di atas meja.
"Kamu bisa tidur dan beristirahat di kamarku. Di kulkas ada cukup banyak bahan makanan. Kamu bisa masak kan?" tanya Riko.
Lagi-lagi Shaza hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baguslah... masaklah apa yang kau suka dan anggap saja seperti rumah kamu sendiri. Istirahatlah, besok pagi aku jemput kamu dan ku antar kamu ke kampus. Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Riko.
Shaza menggelengkan kepalanya. Ia seperti masih sulit percaya, laki-laki dingin itu ternyata punya sisi baik juga. Seperti yang ia yakini selama ini.
"Kalau gitu... aku pergi sekarang. Kalau butuh sesuatu, telepon saja!" ucap Riko sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Kak Riko...!!!" ahirnya gadis itu buka mulut juga.
"Ada apa?" tanya Riko.
"Terimakasih... untuk semuanya." ucap Shaza.
Riko hanya menatap dingin ke arah Shaza tanpa bicara sepatah katapun. Ia menghilang dari pandangan Shaza dalam sekejap mata.
Prov Shaza.
Benar-benar laki-laki aneh! Bagaikan iguana... sikapnya berubah-ubah seperti yang ia mau tanpa memikirkan perasaan orang lain. Ya Allah.. kenapa Engkau harus pertemukan aku dengan lelaki sepertinya? Apa sebenarnya yang Engkau rencanakan untuk takdir hidup ku? Benarkah laki-laki dingin itu adalah jodoh ku? Jika benar demikian, bisakah aku hidup dengan laki-laki yang tidak memiliki cinta untuk ku? Dan anehnya... kenapa aku masih bertahan di tempat ini? Bahkan seperti tak punya kuasa, aku tak bisa menolak perjodohan ini. Padahal jelas-jelas laki-laki itu tidak mencintai ku. Beri aku petunjuk Mu ya Allah... agar aku bisa melanjutkan hidup ku dengan tenang.
*****
Keesokan harinya, Shaza bangun seperti biasa untuk menunaikan sholat subuh. Usai sholat subuh, ia pergi ke dapur untuk melihat apa saja yang Riko simpan di dalam kulkasnya. Setelah Shaza membukanya, ternyata benar yang dikatakan Riko. Di sana ada daging, beberapa jenis sayur juga buah, telur, susu, keju, yogurt, bahkan kulkas itu nyaris penuh dengan berbagai macam persediaan makanan.
Usai masak dan membersihkan apartemen, Shaza segera pergi mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus. Setelah selesai mandi dan bersiap, Shaza keluar dari kamarnya. Shaza terkejut mendapati Riko yang sudah duduk di atas sofa ruang tamu.
"Kak Riko? Kenapa dia ada di sini?" bathin Shaza. Ia baru ingat. Tentu saja ia bisa datang ke sini kapan pun yang ia mau. Ini kan apartemen miliknya. Ia lantas berjalan ke arah Riko yang sedang asyik memainkan ponselnya.
"Kak Riko kapan datang?" tanya Shaza.
"Baru aja..." jawab Riko tanpa menoleh ke arah Shaza.
"Mau berangkat ke kampus jam berapa?" lanjut Riko.
"Bentar lagi...! Aku sudah masak. Apa Kak Riko mau sarapan dulu?" tanya Shaza.
"Makasih... Tapi aku masih kenyang." jawab Riko berbohong. Padahal jelas sekali dia tak sempat sarapan pagi ini.
"Coba lah Kak... dikit aja! Aku masaknya banyak banget. Nanti siapa yang mau makan?" Shaza sedikit memaksa.
"Kamu nggak denger? Aku bilang aku masih kenyang." jawab Riko.
__ADS_1
Raut wajah Shaza memucat dengar jawaban Riko. "Sabar... Shaza... sabaaar... coba bertahanlah sekuat yang kamu bisa." Shaza coba menghibur dirinya sendiri. Ahirnya, Shaza berjalan ke meja makan sendirian.
Tak lama kemudian Riko datang lalu duduk di depan meja Shaza seolah tanpa rasa bersalah sedikitpun sudah menyinggung perasaannya. Riko ambil nasi, sayur juga lauk yang ada di atas meja tanpa bicara apa pun. Untuk pertama kalinya Riko mencicipi masakan tunangan paksaannya itu. Lidahnya merasakan ada sensasi yang luar biasa. Untung saja dia berubah fikiran untuk pergi dan mencicipi masakan Shaza. Kalau enggak, dia bakal rugi seumur hidupnya karena melewatkan masakan selezat pagi ini.
"Lumayan enak juga masakan gadis ini..." bathin Riko sambil melahab makan yang ada di piringnya.
Dalam hati sebenarnya Shaza ingin tertawa tapi takut dosa. Tadi bilangnya masih kenyang, sekarang malah makannya habis dua piring. Syukurlah... Shaza merasa lega karena laki-laki jutek itu tidak mengkomplain masakannya. Usai sarapan, keduanya pun segera berangkat ke kampus.
*****
Sore harinya sepulang dari kampus, Riko mengantarkan Shaza kembali ke apartemennya. Sebelum kembali ke hotel, Riko beristirahat sejenak dan pergi ke kamar mandi.
"Aku kembali ke hotel sekarang. Kalau sudah selesai urusan kamu di kampus dan ingin balik ke Indonesia bilang aja. Aku antar kamu ke bandara." ucap Riko sebelum pergi.
"Iya, Kak... Makasih." jawab Shaza.
Riko pun berlalu pergi meninggalkan apartemen.
Shaza masuk ke kamar untuk beristirahat sambil merebahkan badan.
"Alhamdulillah... ahirnya lulus juga..." ucap Shaza lega sambil memandangi ijazah yang sudah ada di genggaman. Apa lagi gelar kumloud berhasil ia raih.
"πΌπΌπΌπΌπΌ" terdengar suara ponsel berbunyi.
Segera Shaza mengambil ponsel di dalam tasnya. Ia merasa aneh karena tak ada satupun panggilan masuk di ponselnya, tapi suara itu?
Segera Shaza mencari dari mana sumber suara itu. Ahirnya dari meja kamar, ia melihat ponsel Riko tertinggal dan tengah berdering di sana.
"Ya Allah... ponsel Kak Riko ketinggalan waktu tadi ke kamar mandi, gimana ini?" ucap Shaza.
Shaza tak berani mengangkat ponsel Riko. Jantungnya tiba-tiba berdebar-debar saat membaca nama panggilan dalam ponsel Riko bertuliskan "My Sweet". Panggilan itu ahirnya berhenti karena tak ada yang mengangkatnya.
Entah kenapa rasa keingin tahunan Shaza begitu dalam pada siapa sebenarnya yang baru saja menelpon Riko? Shaza ingin membuka ponsel Riko tapi takut karena itu bukanlah haknya. Tapi ia merasa ada titik terang tentang kehidupan misterius Riko saat ia mengetahui siapa pemilik nama itu.
Saat Shaza di rundung kegelisahan... tiba-tiba ponsel Riko kembali berdering dengan nama yang sama. Akankah Shaza mengangkat ponsel Riko? Ataukah akan ia biarkan begitu saja?
*****
...Seandainya kakak yang jadi Shaza gimana kira-kira? π€ Mau angkat ponsel Riko? Atau... diemin aja ya? Yang mau jawab, silakan bisa di kolom komentar yaaaπ€π€π₯°π₯°ππ...
__ADS_1