
Di dalam mobil pengangkut sayur Lintang.
Gendhis hanya terdiam dengan kelakuan Lintang siang ini. Benar-benar membuat dia kehilangan muka di depan dosen pembimbingnya.
Lintang melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Gendhis tak heran, memang seperti itu kebiasaannya saat sedang marah dengan Gendhis. Tapi kali ini tak Gendhis hiraukan. Hal ini membuat Lintang semakin geram lantas berkata.
"Dis, apa-apaan kamu? Kenapa kamu bisa berduaan dengan dosen kamu di ladang tadi. Apa kamu nggak malu?" tanya Lintang sambil terus memegang kendali mobil.
"Malu? Kenapa aku harus malu? Emangnya aku berbuat hal yang memalukan? Aku hanya menjalankan tugas dari kampus. Dan kami tadi di sana berlima. Kebetulan aja tadi aku harus pulang bareng Pak Gala." jelas Gendhis.
"Oh... jadi laki-laki sok tanggung jawab itu namanya Gala. Kenapa kamu bisa sedekat itu sama dosen kamu?" Lintang masih menelitik.
"Deket gimana maksudnya Mas Lintang? Kami nggak ngapa-ngapain. Cuma sekedar pulang bareng aja, dan itupun nggak kami sengaja." bantah Gendhis.
"Apa? Apa kamu bilang? Cuma pulang bareng? Harusnya kamu inget, kamu itu tunangan aku. Dan sebentar lagi kita mau nikah!!!" ucap Lintang berapi-api.
"Apa Mas? Tunangan? Sejak kapan Mas Lintang peduli dengan siapa aku berteman? Mas Lintang bilang aku tunangan mu? Apa aku nggak salah dengar? Apa Mas Lintang lupa? Bukan kah Mas Lintang sendiri yang memutuskan hubungan kita sejak hari ulang tahun Mas Lintang beberapa bulan lalu ketika Mas Lintang memilih wanita lain di hadapan mataku? Harusnya aku yang marah Mas... bukan kamu...!" jawab Gendhis seolah lega bisa mengungkapkan apa yang ia pendam sendirian selama ini.
Lintang seolah mati kutu dengan sederet pertanyaan yang Gendhis ajukan padanya di mobil itu.
Gendhis merasa sedikit kesal dengan kelakuan Lintang. "*Sejak kapan dia peduli de*ngan keadaanku? Bukankah aku ini sudah dia hapus dari hatinya? Kenapa sekarang dia seolah peduli terhadapku? " ucapnya dalam hati.
Gendhis menarik nafas panjang. Berat sebenarnya untuk dia mengatakan hal ini, mengingat sampai detik ini dia masih mencintai Lintang. Tapi demi kebaikan semuanya, Gendhis harus melakukannya.
"Mas Lintang... sekarang... sebelum semuanya terlambat, aku minta... Mas Lintang batalin acara pernikahan kita!" ucap Gendhis sambil menahan air mata yang seolah tidak sabar lagi ingin mengalir dari sudut matanya. Sungguh berat baginya. Pernikahan yang selama ini dia idamkan dengan orang yang amat ia cintai, terpaksa harus ia paksa untuk dibatalkan.
"Sssssyyyyuuuuttttt..." bunyi rem mobil Lintang yang tiba-tiba berhenti mendadak di tepian jalan, seketika saat Lintang mendengar Gendhis menyuruhnya untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Apa kamu bilang? Dibatalkan? Tidak... aku tidak akan membatalkan pesta pernikahan kita!" jawab Lintang keras kepala.
Gendhis terkejut mendengar jawaban itu.
"Kenapa Mas? Kenapa kamu tidak mau pernikahan kita dibatalkan? Bukankah ini yang kamu inginkan selama ini? Agar kamu bisa dengan leluasa menikahi gadis kota itu?" yang Gendhis maksud adalah Gabby.
"Kalau aku bilang nggak akan ya nggak akan... aku nggak akan batalin pernikahan kita." Lintang masih pada pendiriannya.
Gendhis makin tidak mengenali pria yang dulu bertahun-tahun sudah tumbuh bersamanya bahkan sejak mereka kecil.
__ADS_1
"Lalu... untuk apa kita menikah? Pernikahan itu harus di dasari oleh rasa cinta. Buat apa Mas Lintang menikahiku tapi cinta mu sudah bukan untuk ku, tapi untuk orang lain?" tanya Gendhis.
Ahirnya Lintang menjawab,
"Dis... jujur, aku memang mencintai Gabby. Tapi jujur... aku juga nggak bisa lihat kamu bersama dengan laki-laki lain. Aku nggak bisa, jika harus batalin pernikahan kita. Kamu jangan tanya kenapa karena aku juga nggak tahu kenapa bisa seperti ini..." Lintang mengakui isi hatinya.
"Oh... tidak... Ya Allah... apa maksud ucapan Mas Lintang barusan? Jangan bilang kalau setelah nikah nanti Mas Lintang mau poligami...." ucap Gendhis menerka-nerka.
Lintang pun hanya terdiam seolah mengiyakan pertanyaan Gendhis.
"Tidak, Mas! Sebesar apapun cinta seorang istri kepada suaminya, aku yakin mereka nggak akan ikhlas jika melihat suaminya berbagai cinta dengan wanita lain. Aku nggak mau Mas, titik... Lebih baik kamu batalin pernikahan kita atau aku akan..." belum selesai Gendhis bicara, Lintang sudah memotong perkataannya.
"Atau kamu akan apa? Kamu mau bilang sama semua orang kalau aku sudah hianatin kamu? Silakan aja... tapi aku jamin nggak akan ada yang percaya dengan ucapanmu. Kamu juga nggak ada bukti. Tapi... kalau aku yang bilang kamu yang hianatin aku dengan dosen kamu itu tadi... nggak butuh waktu lama. Semua orang pasti percaya. Dan dalam sekejap mata... reputasi yang sudah kamu bangun bertahun-tahun di depan orang tua ku juga seluruh warga desa akan segera hancur. Siapa yang paling bersedih jika ini sampai terjadi? Pasti ayah dan ibu kamu... karenanya... jangan coba-coba mengatakan hal apapun tentang hubungan ku dengan Gabby." perkataan Lintang paling menyakitkan yang pernah Gendhis dengar langsung dari mulutnya.
Gendhis pun tak kuasa lagi menahan air matanya, namun sekuat yang ia bisa. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan laki-laki yang sudah menghina cintanya itu.
"Aku cuma nggak nyangka aja... ternyata Mas Lintang yang aku kenal selama ini bisa berbuat seperti ini. Aku nggak bisa Mas... Batalin pernikahan kita!" paksa Gendhis.
"Nggak akan. Aku nggak akan rela kamu menikah dengan orang lain. Jadi jangan paksa aku untuk membatalkan pernikahan kita." ucap Lintang dengan tegas.
"Kalau begitu... tinggalkan gadis kota itu untuk selamanya kalau kita memang harus menikah." Gendhis mencoba melihat reaksi Lintang saat diminta untuk menjauhi Gabby.
Betapa egoisnya Lintang. Dia tidak mau melepaskan Gendhis. Tetapi ia juga menggantungkan cinta Gendhis. Bagaimana Gendhis bisa hidup dengan pernikahan seperti ini?
Lintang pun akhirnya kembali melajukan mobilnya menuju ke pasar untuk mengantarkan sayuran seperti yang diminta ayahnya.
Mereka memutuskan untuk diam seribu bahasa setelah percakapan yang tidak ada titik temu itu. Hingga ahirnya Lintang membawa Gendhis pulang ke rumah dengan mobilnya seusai mengantarkan sayur.
*****
Malam usai kejadian siang tadi membuat Gala terus memikirkan Gendhis. Entah mengapa Gala merasa Gendhis menyimpan sesuatu beban yang amat berat dalam hatinya. Tapi apa itu, sampai sekarang dia belum tahu.
Ia masih duduk termangu di ruangannya di kantor desa. Ruangan itu sengaja di sediakan oleh pihak desa untuk Gala agar bisa melaksanakan tugas administrasinya selama berada di Desa Sekar Wangi.
"Pak Gala... semua mahasiswa sudah berkumpul untuk briefing malam ini. Kecuali..." ucap Santi terputus.
"Kecuali apa, Santi?" tanya Gala.
__ADS_1
"Kecuali Gendhis. Dia minta izin malam ini tidak bisa ikut briefing karena sedang kurang enak badan dan izin untuk beristirahat." kata Santi.
"Baiklah... kamu duluan, persiapkan semuanya. Lima menit lagi saya keluar." jawab Gala.
Sesaat setelah Santi keluar, kepanikan Gala semakin tak terkira mendengar kalau Gendhis sedang sakit. Apalagi cara Gendhis pergi siang tadi benar-benar menyisakan kekhawatiran meski ia pergi bersama dengan tunangannya. Hanya saja, Gala merasa kalau Gendhis tidak baik-baik saja.
Ahirnya, meski dengan rasa ragu, sebagai dosennya, sekaligus orang yang mengagumi Gendhis, Gala memutuskan untuk menelepon Gendhis untuk memastikan keadaannya.
"My Little Gravity" Gala memanggil Gendhis melalui whatsapp.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara Gendhis yang memang terdengar sayu.
"Assalamu'alaikum... selamat malam, Pak Gala." sapa Gendhis.
"Waalaikumsalam... selamat malam. Kamu... baik-baik saja kan, Dis?" terdengar ada nada kekhawatiran di balik suara Gala.
"Iya, Pak... saya baik-baik saja. Hanya sekedar kecapean. Mohon maaf, malam ini saya tidak bisa datang ke kantor desa." ucap Gendhis lemah.
"Iya, nggak papa. Tadi Santi udah bilang. Syukurlah kalau kamu nggak papa. Mending sekarang kamu istirahat aja biar saat bangun esok kamu bisa lebih baik, tapi jangan lupa makan dulu dan bila perlu minum obat." pesan Gala pada Gendhis.
"Karena aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu!" sayang kalimat terakhir itu tak bisa keluar dari mulut dan hanya ia pendam dalam hatinya.
"Baik Pak, terimakasih banyak. Dan maaf untuk kejadian tadi siang... mungkin ada perkataan Mas Lintang yang kurang sopan sama Bapak, saya mewakili dia meminta maaf." kata Gendhis.
"Iya... Dis... lupakan aja. Nggak usah terlalu difikirkan. Yang penting sekarang kamu istirahat." jawab Gala.
"Baik, Pak." jawab Gendhis singkat.
"Ya sudah kalau begitu, saya sudah ditunggu di luar. Assalamu'alaikum..." pamit Gala dari telepon.
"Waalaikumsalam..."
Keduanya pun ahirnya mengahiri percakapan mereka. Gala merasa sedikit lega setelah mendengar suara Gendhis. Ia berharap semoga Gendhis bisa segera kembali seperti sedia kala.
*****
...Hari ini ada bonus Thor up 2 episode yaaa... biar readers semuanya makin semangat stay di sini... ☺...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungan nya kakak-kakak... terimakasih 🥰🥰🙏🙏🙏...