
"Anak kamu persis banget kayak mamahnya, baik nya juga sama seperti kamu dan Titi !" ucap Tato
"Kenapa kamu bisa jadi supir ?" tanya Solihin heran.
"Waktu itu aku kena PHK pas kerja dijepang, aku nunggu kerjaan disana tapi tak kunjung dapet. Dan saat aku melihat sisa tabunganku yang sedikit, aku memutuskan untuk pulang !" ucap Tato
"Loh kenapa kamu gak cari aku ,?" tanya Solihin, padahal dia berharap adik iparnya mencarinya.
"Aku malu sama kamu, kita sudah bukan ipar lagi. Aku nyari kalian kerumah lama tapi kalian sudah pindah !" ucap Tato.
"Iya dulu semenjak mamah nya Ariana meninggal, aku memutuskan untuk pindah kesini. Tadinya rumah itu untuk kamu tinggal kalau pulang !" ucap Solihin
"Kamu itu berlebihan, masih baik seperti dulu. Aku balik kerja dulu kalau gitu, bilang sama Ariana aku pamit pulang kerumah mertuanya !" ucap Tato
"Loh aku kira kamu kerja sama Ariana, ternyata sama mertuanya. Kalau gitu besok kalau ada waktu kamu kesini lagi yah, kamu boleh kerja diperusahaan aku !" ucap Solihin
"Wah beneran ? Sebelumnya makasih loh, saya seneng banget bisa ketemu kalian lagi !" Tato bersyukur masih memiliki keluarga yang peduli, dia merasa beruntung bertemu Ariana.
Solihin menganggukan kepalanya meng iyakan perkataan mantan adik iparnya itu, yang tak lain masih Om nya Ariana.
"Aku balik dulu yah !" Tato meninggalkan rumah itu, dia kembali bekerja dulu untuk hari ini.
"Ayah, kemana Om tato. Tadinya aku mau ngajak dia makan dulu !" Ariana mendekat ke arah Ayahnya yang sedang duduk sendirian.
__ADS_1
"Dia mau kembali kerja, Ayah tawarin dia kerja diperusahaan semoga aja dia mau ya Rin !" Solihin berharap Tato mau kerja diperusahaannya.
"Iyaa pah, aku bener bener gak tau loh pah kalau dia adiknya nya mamah !" Ariana masih gak percaya kalau keluarga dari mamahnya masih ada.
"Iya, maafin ayah ya ini semua karena ayah gak pernah cerita ke kamu rin !" Ayahnya memeluk Ariana.
"Ohh iya Ayah aku mau bilang sesuatu sama ayah. Emm.... Aku hamil !" ucap Ariana senang
"Apahh hamill ? Yaampunn Ayah bakal jadi Opah kalau gitu !" ucap Ayahnya dia sangat senang karena akhirnya Ariana menerima pernikahan ini, Solihin bisa tenang kalau Ariana sudah ada yang menjaga..
"Iyah Ayah. Maafin Ariana yah jarang banget ngunjungin Ayah, kalau ayah ada waktu bisa main kerumah Ariana yah !" Ariana selalu merindukan ayahnya, karena tidak ada cinta yang setulus cinta Ayah pada Anaknya.
"Iyah kapan kapan, kamu jaga kesehatan yah gak boleh cape cape !" ucap Ayahnya, dia khawatir kalau anaknya kecapean dan jatuh sakit.
Tiba tiba Mbok Yati yang mendengar perkataan Ariana ikut bahagia, dia datang menghampiri.
"Yaampun Non. Tadinya non mbok yang urus dari kecil, sekarang udah mau punya anak kecil. Gak kerasa ya non, non aja dimata bibi masih berasa kaya anak kecil !" Mbok Yati menangis haru
Ariana bangkit dari duduknya dan memeluk Mbok Yati "Makasih ya Mbok, Udah jagain aku sama ayah sampai sekarang !" ucap Ariana dia malah ikut menangis karena terharu...
"Udah udah nagisnya, Ayo kita makan dulu !" ucap sang Ayah, mereka berjalan menuju meja makan.
***
__ADS_1
"Alice tolong jaga dokumen ini jangan sampai ada orang yang tau tentang dokumen ini, ini adalah dokumen rahasia !" ucap Rizal..
"Baik pak ! Kalau gitu saya keluar dulu !" ucap Alice, dia keluar meninggalkan ruangan.
Adisti masuk kedalam ruangan setelah Alice keluar "Gimana bos ? Udah dikasih dokumennya ?" tanya Adisti
"Udah kita tinggal tunggu rencana selanjutnya !" ucap Rizal
*flashback on
Setelah pulang dari restoran Adisti memberitahukan semuanya pada Rizal tentang Alice.
"Bos kamu harus tau semua ini sebelum dia berulah semakin jauh !" Adisti memperlihatkan bukti bukti yang dia dapat
"Siapa dia sebenarnya ? Kenapa aku gak tau semua ini ?" ucap Rizal, dia baru tau kalau Alice sering mencari dokumen penting
"Ini juga sebagian bantuan dari Ariana bos !" ucap Adisti
"Kita harus melakukan seseuatu, rencanakan nantii. !" ucap Rizal
Flashback off*.
"Semoga rencana kita berhasil bos !" ucap Adisti
__ADS_1
"Iya . Gue pengen tau siapa dia sebenarnya, kenapa data palsu bisa masuk keperusahaan kita !" ucap Rizal, dia masih berpikir keras.