
" Hehe iya den, mamang malu takut bau keringat " terang pria berusia 40 tahun itu.
" Gapapa mang, aku juga belom mandi " jawab Randi sembari tersenyum kepada mang Udin.
" Oiya mang, gimana istri dan anak mamang, sehat semua kan " tanya majikan nya itu
" Iya Alhamdulillah sehat den " jawab mang Udin sambil menyeruput kopi nya.
" Mang, nanti mamang lembur gapapa ? soal nya aku ada acara makan malam di rumah orang tua Mita, jam 9 mang " tanya Randi.
" Iya gapapa den, memang Aden gak nyetir sendiri ?" tanya pria itu
" Iya gaboleh sama mamah, nanti katanya biar di antar sama mang Udin saja "
" siap den, nanti mamang antarkan " jawab mang Udin sembari tersenyum.
" oiya mang, aku mau mandi dulu, mamang lanjut saja minum kopi nya ya " sambil berdiri Randi mengeluarkan uang berwarna merah muda dan meraih nya dari dalam dompet.
" Ini buat tambahan anak sama istri mang Udin " sambil menyelipkan uang itu ketangan mang Udin.
" Masya Allah den, ini kebanyakan den " wajah mang Udin terkejut dan matanya membulat.
__ADS_1
" Udah gapapa, jangan lupa telpon istri mamang, bilang malam ini pulang telat yak " pintanya sambil berjalan masuk kedalam rumah.
" Terima kasih banyak den, akan segera saya telpon istri saya " senyum bahagia memancar di sudut bibir yang manghitam akibat rokok itu.
Tak terasa hari belalu begitu cepat, Randi pun mulai mandi dan bersiap siap akan berangkat kerumah Mita untuk memenuhi undangan makan malam.
" Mah...mamah sudah siap " tanya Randi sambil mengetuk pintu kamar yang terbuat dari kayu jati penuh ukiran itu.
" Iya sebentar, kamu tunggu saja mamah di bawah, mamah akan segera turun " jelas Ningsih dari dalam kamar.
" Iya jangan jangan lama lama ya mah " pinta Randi pada mamah nya itu.
Randi sudah merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, entah gerogi akan bertemu orang tua Mita atau takut kalau kalau Ningsih mengucapkan kata kata yang membuat orang tua Mita tersinggung, karna sadar bahwa Ningsih yang kurang menyukai Mita.
" Waduh mamah cantik banget deh " berjalan sambil memeluk Ningsih.
" Bisa aja kamu,udah ayo berangkat " senyum malu karena di puji oleh puteranya itu.
" Mang Udin, aku berangkat mang " Randi memanggil mang Udin yang berjalan menghampiri kedua majikan nya itu.
Mang Udin mulai melajukan sebuah mobil Alphard berwarna putih milik Ningsih dan Randi, dan mulai membelah jalanan menuju rumah Mita, Mita yang terus mengirim pesan lewat WhatsApp kepada Randi sibuk menanyakan dimana keberadaan mereka, didalam perjalanan Ningsih hanya diam tak berkata 1 patah kata apapun.
__ADS_1
Setengah hampir 1 jam mereka di perjalanan, mereka mulai memasuki perumahan elit, dimana hampir semua rumah terdiri dari 2 lantai, dengan luas rumah yang cukup besar.
Saat tiba di depan pintu gerbang rumah Mita, ada seorang lelaki yang membukakan gerbang itu, dan mempersilahkan mereka untuk memasuki halaman yang luas untuk menuju bagasi mobil, terpampang nyata beberapa mobil mewah terparkir disana, setelah turun dari mobil yang di bukakan oleh mang Udin, Ningsih dan Randi pun turun dari mobil.
Datang seorang wanita yang berusia kurang lebih 35 tahun menghampiri mereka dan menyambut mereka untuk di giring memasuki rumah mewah itu, di depan pintu sudah ada Mita yang langsung menyambut Randi dan Ningsih.
" Ayok masuk beb, mah " pintanya pada Ningsih dan Randi tanpa mengucapkan salam atau memberikan hormatnya kepada Ningsih.
Melihat kelakuan Mita seperti itu Ningsih mulai merasa risih dan tidak suka.
" Silahkan duduk Bu, saya panggilkan nyonya dan tuan dulu " terang salah tahu pelayan yang dari tadi berdiri di meja makan.
Lalu pelayan itu bergegas menaiki lantai 2 untuk memanggil majikan nya, yaitu orang tua Mita.
setalah hampir 5 menit, pelayan itu datang kembali dan mengatakan bahwa majikan nya akan segera turun.
" Tuan rumah macam apa mereka, membiarkan tamu menunggu, bukan nya menyambut tamu yang datang " gumam Ningsih pelan tapi tetap mempertegas suaranya.
" Mah.." ucap Randi menyiratkan bahwa jangan seperti itu.
" Selamat datang Bu dirumah kami " Sapa lelaki yang suara nya sangat di kenal Ningsih.
__ADS_1
Bergegas Ningsih berdiri dan membalikkan badan nya, betapa terkejutnya dia dengan hal itu, siapa yang ada di hadapan nya saat ini.