
Setelah mendengar penjelasan ibunya, Randi merasakan lemas di kakinya, begitupun dengan Ningsih, dia bingung dan tak karuan harus bagaimana, karna ini adalah hal yang tidak pernah dia inginkan, dia berjanji dari dirinya sendiri, bahwa tidak akan pernah mempertemukan Randi dengan mantan suaminya itu.
" Kreng...kreeeng.." suara ponsel Randi berbunyi.
" Ha..halo.." suara perempuan itu tergagap gagap.
" Kamu jangan nangis, aku yakin kamu udah tahu semuanya " pinta Randi.
" Aku gak nyangka ran, aku gak nyangka kita adalah saudara, aku gak kuat harus pisah sama kamu " suara Mita sesegukan.
" Aku juga gak mau kita pisah dengan cara seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, kita satu darah mit " jelas Randi berusaha menenangkan.
" Aku sayang banget sama kamu ran, aku cinta sama kamu " kata kata itu terucap dari mulut Mita.
Mendengar Mita mengatakan itu, Randi langsung menutup telpon nya dan langsung masuk kekamar, tak terasa bulir bening mulai membasahi bulu mata Randi, sakit yang luar biasa ia rasakan, dan dia sudah berniat untuk tidak menghubungi Mita lagi, dengan membuang semua kenangan tentang dia dan Mita, Randi pun mengganti nomer handphone supaya Mita tidak bisa menghubungi nya lagi.
Tak terasa sudah hampir 1 pekan setelah kejadian itu, Ningsih yang menyadari kesedihan Randi pun tak bisa berbuat apa apa. yang dia kenang adalah kejahatan mantan suaminya yang telah mencampakkan mereka di kala susah. sehingga kebencian itu sampai sekarang tak pernah berkurang sedikitpun.
" Tok tok tok.."
__ADS_1
" Randi,,, bangun nak, ayok bangun " suara Ningsih dari luar kamar.
" Iya ma, ada apa " dengan wajah lesu Randi menjawab Ningsih sambil mengusap kedua matanya, terlihat sembab dan berair.
" Mama mau bicara sama kamu " Ningsih duduk di tepian kasur empuk itu.
" Mama mau bicara apa ? " tanya Randi sembari menjatuhkan badan nya kekasur.
" Mama minta, kamu lupain Mita ya sayang, kalian gak mungkin bersatu, mama selama ini gak pernah meminta apapun dari kamu, yang mama minta hanya sekali ini saja kamu nurut sama mama, kamu harus buka lembaran baru, kamu harus bangkit, mamah yakin kamu bisa !! "
" Randi gak tau mah, Randi bisa apa nggak, tapi Randi bakal nurutin semua kemauan mama " jawab Randi dengan lesu.
" Yasudah.. kamu mandi, nanti sore Winda bakal datang kesini, jam 5 sore kayak nya Winda landing di bandara " sambil mengusap pundak Randi.
Pasrah akan semuanya, Randi pun menuruti apa perkataan Ningsih. dia bergegas mandi dan bersiap akn kebandara, karna jarak dari rumah kebandara itu hampir 3 jam, sedangkan sekarang sudah menunjukkan jam setengah 12 siang.
" Mah.. Randi berangkat dulu " ucapnya sambil menuruni anak tangga.
" Iya syg ...kamu hati hati dijalan, nanti mama kirim foto Winda sama kamu, biar nanti gampang kamu nyarinya. "
__ADS_1
Randi mengecup kening Ningsih dan berlalu keluar rumah, tanpa menjawab ibunya. Randi mulai membelah jalanan menggunakan mobil putihnya.
" Tak terasa sudah hampir sampai saja di bandara " gumam Randi.
" Tlengg nong " ponsel Randi berdering.
Tertulis di layar ponsel lebar itu Nama Bidadari surgaku, ia itu adalah Ningsih, ibunya Randi.
Randi membuka ponsel nya setibanya di parkiran bandara, dia melihat sesosok wanita muda, cantik alami tanpa polesan make up sedikitpun, rambut di gerai dengan menggunakan baju mirip kebaya yang masih model kekinian.
Randi menunggu gadis itu keluar, dan berniat tidak akan pernah tersenyum kepadanya.
Terlihat dari jauh sepatu booth berwarna coklat, celana jeans panjang, dan kemeja kotak kotak yang di kenakan winda. rambutnya di gerai dan mukanya masih sama, tanpa menggunakan make up sedikitpun, tapi masih tetap cantik. Gadis itu sepertinya sudah mengenali Randi, dari jarak sekitar 100 meter dia sudah tersenyum ke arah Randi sambil membawa koper bercorak LV.
" Mas Randi yaa ? " tanya gadis muda itu.
" Iya " jawab Randi cuek
" Kenalin, aku Winda mas " menyodorkan tangan untuk mengenalkan diri.
__ADS_1
" Udah sini koper nya, biar aku yang bawa " Tukas Randi tanpa menyambut uluran tangan Winda.
Winda hanya tersenyum, Dia sudah mendengar sedikit banyak nya kisah Randi dari Ningsih ibu Randi.