
Masih di ruangan, Marsel mencoret-coret kertas, seperti benang kusut. Awalnya perlahan. Namun, lama kelamaan semakin cepat, dan akhirnya membanting pulpen di atas meja kerja.
Ia masih flashback saat mememui Bella di hotel tempo hari. Tidak hanya itu, sampai saat ini Bella terus menerus telepon dirinya.
Mengapa sampai terjadi seperti ini? jujur kepada Diah? oh tidak... dia tidak ingin kehilangan istri keduanya.
"Ello, aku mengandung anakmu, dan saat ini sudah 6 bulan" tutur Bella sambil menangis saat mereka berada di lobby hotel.
"Apa?! pembohong kamu Bella!" bentak Marsel, hingga menjadi pusat perhatian sekeliling.
"Ello... aku tidak bohong, anak ini memang anakmu, kamu pasti ingat kejadian delapan bulan yang lalu di apartemen kan? jika kamu tidak percaya, kamu boleh melakukan tes DNA," tutur Arabbela.
*******
"Aaaggghhh....
"Braakkk"
Marsel meninju meja akhirnya keluar, membiarkan tanganya yang memar.
"Siska, saya mau ada urusan, rapat hari ini Aldo yang handle, kamu ikut serta ya" titah Marsel, ia melewati Siska ketika hendak keluar kantor.
"Baik Pak" Jawab Siska menatap kepergian Marsil walaupun di depan Marsel mengiyakan. Namun, di dalam hati menggerutu.
Huh, dasar bos! seperti tidak ada wanita lain saja, pasti dia sudah janjian sama wanita rendahan itu.
Marsel menjalankan mobilnya kali ini tidak mau diantar supir. Marsel justeru menyuruh mamang agar naik taksi ambil mobil di mension, guna menjemput Calista.
Marsel sampai di depan rumah berpagar tinggi dua lantai, rumah gono gini bersama istri pertamanya.
Tin...tiiin...tiiiin...
Klakson terdengar nyaring tampak wanita setengah baya keluar membuka pagar.
"Selamat siang Tuan" sapa bibi saat Marsel belok kiri masuk ke halaman. Dalam keadaan pintu kaca mobil di buka setengahnya.
"Siang Bi" sahutnya, seraya berjalan sepatu pantopel nya terdengar nyaring beradu dengan lantai keramik.
"Ello..." sapa seorang wanita sudah menyambut di depan pintu.
"Ada apa sih Bel? saat ini pekerjaan saya sedang banyak, bisa tidak, kamu untuk tidak mengganggu?!" tandas Marsel kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi.
__ADS_1
"Sekarang kan waktunya kontrol El, kamu tega suruh aku berangkat sendiri?" Bella merengut.
"Sudah sana, kamu siap-siap, saya tunggu di mobil" tidak menunggu jawaban lagi Marsel kembali ke mobil, mereka hendak memeriksakan kandungan
Flashback on.
Delapan bulan yang lalu Marsel mengunjungi induk perusahaan miliknya yang berada di Negara B.
Suatu malam Arabella mendatangi apartemen dimana Marsel tinggal untuk beberapa minggu.
"Untuk apa kamu datang kemari Bel?!" Marsel menatap Bella tajam.
"Kenapa sih El? aku kan masih istrimu, terus... kenapa kalau aku mendatangi suamiku?" Arabella menjawab santai.
"Suami, kamu bilang?! setelah kamu meninggalkan suami, dan anakmu yang masih merah, dan dengan seenaknya kamu menyebut saya suami!" Marsel menatap wajah istrinya horor.
"Maafkan aku Ello, aku memang salah, izinkan aku kembali kepadamu, dan aku akan memperbaiki semuanya, aku mencintaimu" Bella berjongkok di depan Marsel memegangi kedua lutut pria yang masih sah menjadi suaminya.
"Cukup!" Marsel berdiri menyentak tangan Bella hingga wanita yang berprofesi sebagai model itu terjengkang.
Brak.
Marsel masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya dari dalam. Ia merasa marah, benci, kesal dan kecewa. Betapa tidak? Arabella meninggalkan rumah sejak Calista berumur 6 bulan.
Namun, Bella justeru berontak, pergi ke Negara asal, tega meninggalkan anaknya yang seharusnya minum asi eksklusif pun tidak ia berikan. Bella khawatir bentuk tubuhnya akan berubah sehingga tidak ada yang memberi job lagi.
Arabella melanjutkan kiprahnya, hingga tidak ingat lagi dengan anaknya.
Malam semakin larut, Marsel tidak bisa memejamkan mata. Ia lantas keluar dari kamar. Tidak ada Bella di luar kamar, mungkin ia sedang tidur di kamar sebelah.
Marsel ke dapur membuat kopi untuk teman begadang. Ia meletakkan kopi di atas meja depan televisi. Menunggu dingin, Marsel kembali ke kamar menyalakan lap top, dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kehadiran Bella.
Sementara Bella, mencium aroma wangi kopi membuka pintu perlahan. Ia mengedarkan pandangan tidak ada Marsel hanya terlihat kopi yang mengebul di atas meja.
Bella kembali ke kekamar akan melancarkan aksinya ia ambil obat dari dalam tas.
Bella tersenyum menatap obat dalam kemasan sachet. Ia kembali keluar berjalan pelan sambil clingak, clinguk khawatir kepergok suaminya.
Setelah terasa aman, Bella membuka kemasan membubuhkan entah obat apa itu ke dalam cangkir kopi.
"Yes" gumam Arabella. Menarik tanganya kebelakang. Bella kembali merebahkan tubuhnya di ranjang sengaja tidak mengunci pintu, membayangkan apa yang akan terjadi setelah suaminya minum kopi tersebut.
__ADS_1
30 menit kemudian.
Ceklak.
Srak... sraak... sraak.
Terdengar pintu di buka, dan sandal yang dikenakan Marsel. Bella membuka pintu kamar tampak Marsel sedang menyeruput kopi.
"Kamu belum tidur El?" tanya Bella menghampiri suaminya kemudian duduk di sampingnya.
"Tidak bisa tidur" jawabnya malas kembali meneguk kopi, kemudian menyalakan televisi menonton film, Action Hollywood.
"Kok, malah minum kopi El? katanya tidak bisa tidur?" Bella memegang pundak suaminya.
"Bukan urusanmu!" ketus Marsel menurunkan tangan Bella dari pundak, kemudian menghabiskan kopinya sambil menonton film yang sedang serunya.
Bella tidak lagi bertanya 30 menit kemudian, Marsel mulai gelisah, ia telungkup di sofa, kepalanya terasa pusing, pandanganya mulai kabur.
"Kamu kenapa El?" Bella memeluk tubuh suaminya. Membuat tubuh Marsel memanas kemudian terjadilah pergulatan malam seperti harapan Bella.
Ternyata Bella membubuhkan obat perangsang. Bella sangat mencintai suaminya. Dan saat ini job nya sudah berkurang ia ingin kembali lagi kepada anak dan suaminya. Namun mommy Laura melarang keras.
Nenek mana yang akan menerima menantu yang sudah menterlantarkan cucunya. Mommy Laura tidak tahu, bahwa anaknya belum bercerai.
Flashback off.
Satu tahun setelah kepergian Arabella, oma mendesak Marsel agar menceraikan Arabella. Karena Marsel masih sangat mencintai, dan berharap Bella akan kembali, Marsel terpaksa berbohong, dan mengatakan kepada Mommy bahwa mereka sudah bercerai.
Dan saat ini Marsel harus menerima kenyataan bahwa ia mempunyai istri dua tanpa ia sadari.
"Ello... kok kamu tidak membukakan pintu sih!" Bella ingin suaminya bersikap seperti dulu ketika masuk ke dalam mobil, Marsel selalu membukakan pintu.
"Tidak usah banyak protes Bel, sudah bagus, saya mau mengantarkan kamu" jawab Marsel angkuh, seraya mengemudikan mobil.
"Kok kamu begitu sih El, kamu tidak sayang dengan anak yang aku kandung?"
"Bukan saya, yang tidak sayang anak, Bel, tapi kamu!" sarkas Marsel. Marsel lantas Diam fokus menyetir.
Bella menoleh Marsel, dulu saat menyetir seperti sekarang sesekali mengusap kepalanya dan saat ini ingin sekali di perlakukan seperti itu.
Pandangan Bella tertuju ke tangan Marsel yang sedang memegang setir, tampak cincin kawin yang sama seperti yang ia kenakan, masih melingkar. Bukan cincin istri barunya. Itu artinya Marsel masih mencintainya. Bella bersorak dalam hati.
__ADS_1
.