Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Berangkat Keluar Negri.


__ADS_3

"Aldo... Mang Ade dimana?" tanya Marsel setelah sadar dari pingsan, sejak tadi tidak melihat Mang Ade, dan juga Marni.


"Di ruang tunggu Tuan," Aldo memang benar, saat Marsel diperiksa oleh dokter tidak boleh banyak orang di ruang rawat.


"Panggilkan, Dia" titah Marsel masih belum bisa berbicara kencang.


"Baik Tuan" Aldo memanggil Marni, tidak lama kemudian mereka menghampri Marsel.


"Tuan, memanggil saya?" tanya Marni hormat.


"Kalian sudah memberitahu istriku, jika saya dirawat?" Marsel menatap Marni dan Mang Ade bergantian.


"Belum Tuan," jawab Mereka bersamaan.


"Handphone kami tertinggal di rumah," imbuh mang Ade menjelaskan.


"Mang, antar Marni pulang, dan beritahu istriku jika saya di sini, pasti Diah saat ini sedang kebingungan," tutur Marsel lirih.


"Tapi, jangan katakan pada istri saya, jika saya sakit perut Mang. Katakan saja, kalau saya darah rendah," kata Marsel tidak seluruhnya berbohong, karena memang tensi Marsel sangat rendah. Sebab, efek dari BAB terus menerus.


Marsel tidak ingin istrinya kepikiran dan merasa bersalah karena ia sakit karena makan terlalu pedas, lagi pula tidak hanya itu penyebabnya ketika di Yogyakarta Bening selalu masak yang bersantan.


"Baik Tuan, kami berangkat," Marni segera berangkat di ikuti mang Ade.


"Mar, memang kenapa kita tidak boleh jujur pada Non Diah, jika Tuan Marsel sakit perut?" selidik mang Ade.


Marni pun menceritakan tentang masakan itu.


"Oh, jadi... rica-rica ayam yang kita makan kemarin, masakan Non Diah," mang Ade dan Marni kemarin makan masakan itu tidak masalah.


"Iya Mas, awalnya pedaaasss... asiiiinn... terus di tambahin bumbu, gula, air sama Bibi tanpa Nona tahu, jadi enak deh," Marni tersenyum ingat masakan Diah.


"Kalau kamu sudah bisa masak belum Mar?" mang Ade menoleh sekilas.


"Yeee... meremehkan! waktu Bibi sakit waktu itu, siapa yang masak, kalau bukan aku," Marni bersungut kesal.


Obrolan berhenti saat mereka sampai di depan mansion. Marni turun dari mobil, kemudian mang Ade melanjutkan perjalanan menjemput Diah ke sekolah.


"Non Diah," sapa mang Ade menghampiri Diah. Saat Diah sedang merenung memikirkan kemana perginya Marsel di taman sekolah.

__ADS_1


"Mang Ade? Marsel kemana?" Diah seketika berdiri berhadapan dengan mang Ade.


"Mari ikut saya Non"


Tanpa bertanya lagi, Diah mengikuti mang Ade. "Kita mau kemana Mang?" tanya Diah setelah berada di dalam mobil.


"Sebenarnya Tuan Marsel dirawat Non" kata mang Ade hati-hati agar Diah tidak terkejut.


"Dirawat? Tapi, kenapa Mang?" tetap saja Diah terkejut.


Mang Ade diam sesaat. "Sebenarnya tidak terlalu serius kok Non, jangan khawatir, tekanan darah Tuan terlalu rendah," mang Ade menjelaskan seperti perintah Marsel.


Mobil yang di kendarai Mang Ade, sampai di rumah sakit. Tidak menunggu mang Ade yang masih parkir. Diah mendahuluinya setelah tanya ruangan Marsel.


Sampai ruangan VVIP. Diah hendak membuka pintu namun tanganya bergetar. Pikiran negatif bermunculan, hingga beberapa menit Diah menghela nafas kemudian mendorong handle pintu.


Tampak Marsel terlihat semakin cekung di lingkar mata, wajah pucat, dan semakin kurus. Padahal sejak dari Negara B pun Marsel sudah terlihat kurus. Air mata Diah tidak bisa ia tahan.


"Non Diah sudah sampai?" tanya Aldo yang baru keluar dari toilet, lalu di angguki oleh Diah, yang tidak bisa berkata apapun. Aldo pun meninggalkan Diah memberi ruang agar bisa berdekatan dengan suaminya.


"Hiks hiks hiks" tangis Diah semakin kencang hingga membangunkan Marsel.


"Mas kenapa? kenapa sakit nggak bilang sama aku," Tangis Diah semakin kencang.


"Aku kasihan, mau bangunin kamu," jujur Marsel. Menghapus air mata Diah dengan jari kanan, tangan kiri terhalang infus.


"Terus... sekarang bagaimana keadaan Mas, apa yang dirasa, kepalanya masih sakit?" cecar Diah.


"Sudah nggak apa-apa kok, tinggal lemas nya saja," kilah Marsel agar Diah tidak memikirkanya.


"Benar Mas, hanya darah rendah? Tapi kok badan Mas semakin kurus?" Diah merasa aneh jika hanya darah rendah tentu tidak kurus secepat ini hanya dalam waktu satu malam.


"Sudahlah, jangan di pikirkan," pungkas Marsel. Marsel kemudian mengalihkan pembicaraan yang lain.


Mulai hari itu Diah merawat Marsel dengan telaten. Menyuapi, memandikan, dan menyiapkan kebutuhan yang lain. Selama dua hari Marsel dirawat pada hari ketiga Marsel sudah sembuh hanya tinggal memulihkan berat badan yang turun hingga 5 kg.


*******


"Mas yakin, sudah sehat benar?" tanya Diah khawatir. Sejak selesai subuh, Diah sudah sibuk menyiapkan ini itu dan juga pakaian mereka. Karena jam 9 nanti, akan berangkat ke Negara B.

__ADS_1


"Sudah Yank, kamu lupa, tadi malam kan sudah kuat tiga ronde," Marsel terkekeh langsung kena plototan Diah.


"Iya, sekarang jadi aku, yang lemas," keluh Diah cemberut.


"Tapi kamu juga suka kan?" Marsel kembali tertawa. Ia masih bermalas-malasan di ranjang, memandangi istri nya yang berjalan kesana kemari ambil koper dan memasukan pakaian untuk mereka bertiga.


"Au, ah! Mendingan Mas tolong bangunin Lita deh, pasti habis shalat tidur lagi Dia," Diah geleng-geleng.


"Okay... Nyonya Marcello" Marsel bangun dari tiduran lalu melewati istrinya, tangan jahil-nya mencubit pipi Diah.


"Iihhh... sakit tahu Mas?!' Diah meninju angin hanya di tanggapi dengan tawa oleh Marsel sambil berlalu.


"Sreeekkk... sreeekkk...


"Sayang... bangun..." Marsel menarik gorden. Sinar matahari masuk ke dalam kamar, membuat lita cepat membuka mata.


"Sudah siang ya Pa?" Lita mengerjapkan mata.


"Sudah jam tujuh, ayo mandi sana, terùs... bantu Mama siap-siap jam sembilan kita berangkat loh," titah Marsel.


"Hoaaammm... iya" Lita menggaruk kepalanya mungkin terasa gatal kemudian beranjak ke kamar mandi. Marsel tersenyum menatap putrinya tampak badanya berisi dan segar, yang hanya mengenakan kaos pas di badan dan celana anak-anak bergambar selutut.


"Mas... lap top sudah siap belum?" tanya Diah setelah Marsel kembali ke kamar.


"Sudah di masukkan ke mobil sama mang Ade," jawab Marsel. Ia sedang mengenakan kaos dan celana jins, di usianya yang sudah menginjak 36 tahun masih terlihat muda. Membuat Diah semakin jatuh cinta.


Diah duduk di kasur memandangi suaminya yang sedang menarik resleting celana jins.


Diah merasa masih ada keraguan di hatinya. Apakah Marsel tulus mencintai? Akankah Marsel bisa terus menyayangi dirinya?"


Saat ini ia boleh merasa senang, karena sebentar lagi akan bertemu dengan mertua yang selalu menyayanginya. Namun bagaimana ketika anak yang di kandung Bella telah lahir, yang tinggal menunggu hari, anak laki-laki kembar yang sudah pasti akan di sambut bahagia oleh Marsel dan juga mommy Laura.


"Ayo, kita sarapan dulu, terus berangkat," Marsel mendekati Diah yang sedang melamun.


"Diah..." Marsel mengangkat dagu Diah membuat Diah sadar dari lamunan.


******


"Hai... reader yang masih setia... apa yang akan dihadapi Diah di Negara B nanti? Akankah Diah terus bahagia bersama Marcello, atau sebaliknya? jangan pergi dulu ya, ikuti terus"

__ADS_1


.


__ADS_2