
"Mas, kak Mawar tadi telepon, katanya kita di suruh menpjemput Bapak," kata Diah saat mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Okay..." jawab Marsel singkat. Ia sedang fokus menyetir.
Mobil yang hanya muat 4 orang itu berjalan sedang menuju ke kediaman pak Renggono.
*******
"Assalamualaikum..." di rumah Mawar pagi-pagi buta sudah ada tamu.
"Waalaikumsalam..." anak perempuan rambut pirang, mata biru, kulit putih pucat, yang sudah lengkap mengenakan seragam merah putih itu membuka pintu. Ia adalah; Syifa.
"Daddy... Kak, Freddy..." seru Syifa mengukir senyum, ternyata tamunya kakak dan Daddy nya.
"Sayang... Ayah sama Bunda kamu kan masih di rumah sakit, kamu berangkat bersama kami ya," Alfred mengusap kedua pipi putrinya lembut.
Syifa tampak berpikir. "Tapi... Daddy sudah ijin sama Ayah Bunda belum?"
"Sudah dong... makanya Daddy kesini," Alfredo meyakinkan putrinya.
"Syifa... memang sebaiknya kamu berangkat bareng aku," Freddy menambahkan. Freddy dan Syifa kebetulan memang satu sekolah.
"Siapa yang datang? Fa?" tanya Bhanu anak berwajah tampan blasteran Mawar dan Adit itu berseru dari meja makan, Bhanu ternyata masih menghabiskan sarapan.
"Kak Fredy, Kak Bhanu," Syifa bersuara kencang karena jarak ruang tamu ke meja makan agak jauh.
Mendengar nama Freddy, Bhanu bergegas keluar menghampirinya. Bhanu dan Freddy pun satu sekolah bahkan mereka satu kelas sama-sama kelas 4 SD.
"Kamu Dy," sapa Bhanu.
"Iya, shory Nu... pagi-pagi kami sudah kesini," Freddy malu-malu.
"Nggak apa-apa Dy," Bhanu menepuk pundak temanya itu.
"Masuk, Om," Bhanu tampak dewasa mempersilahkan tamunya masuk karena Syifa hanya mengajaknya ngobrol di luar pintu.
"Terimakasih." pria yang mirip sekali dengan Syfa itu segera duduk.
"Nak Bhanu, kami ingin menjemput Syifa sebaiknya kamu bareng kami saja," ajak Alfred saat ini sudah punya mobil sendiri.
"Sebenarnya kami akan di antar supir Om, tapi nggak apa-apalah sekali-kali bareng Om," Bhanu pun menerima tawaran Freddy.
"Assalamualaikum..." Suara wanita dari luar lantas semua menoleh.
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
"Mama... Papa..." Syifa berlari menghampiri Diah dan Marsel kemudian merangkul perut Diah. Ternyata Diah sebelum menjemput pak Renggono menemui putrinya dulu.
"Kamu sudah mau berangkat sayang..." Diah mengangkat tubuh putrinya lalu menggendong. "Uh. Sudah berat," Diah menurunkan Syifa kembali setelah mencium pipinya kanan kiri.
"Mama... ada Kak Fredy" Lita menarik tangan Diah menuju ruang tamu dimana Freddy duduk di ikuti Marsel.
"Tante... Om..." Freddy dan Bhanu segera menghampiri Marsel dan Diah mencium punggung tangannya.
"Anak pintar," Marsel menepuk pundak Bhanu dan Freddy bergantian.
"Selamat pagi, Marsel... Diah," Alfred menjabat tangan Marsel.
"Pagi..." jawab Marsel, mereka lalu berbincang-bincang sebentar, Diah menanyakan kabar Gita dan juga si kecil.
"Itulah Diah... makanya, saya belum sempat menjenguk Ibu, soalnya si kecil sedang kurang sehat," Alfred ingin menjenguk bersama Gita istri nya tapi Gita menunggu demam anak keduanya turun dulu.
"Nggak apa-apa Fred, semoga anakmu cepat sembuh,"
"Saya kira sudah siang, kami pamit dulu Sel," Alfredo melipat lengan kemeja sedikit melihat arloji dan akhirnya pamit.
"Syifa berangkat Ma, Pa," ucapnya.
"Hati-hati sayang... oh iya, Mama buatkan bekal ini, nanti di bagi tiga ya, banyak kok rotinya," Diah memberi kotak roti kepala putrinya.
"Pak, saya akan mencarikan perawat untuk Ibu agar Bapak tidak repot," kata Marsel setelah mobil berjalan menuju rumah sakit.
"Tidak," tolak pak Renggono cepat.
"Kenapa Pak?" tanya Marsel.
"Adit juga bicara begitu, tapi Bapak tidak mau, Bapak ingin merawat Ibu kalian sendiri, tidak perlu mencari perawat," pak Renggono bersemangat.
"Jika kalian ingin mencari bibi yang bersih-bersih rumah; Bapak tidak keberatan," pak Renggono berkata panjang lebar.
"Tapi Bapak kasihan kalau harus merawat Ibu, nanti bapak capek," Diah menoleh ke belakang menatap wajah tua pak Renggono tidak tega.
"Diah... nurut apa kata Bapak," pak Renggono punya rencana lain.
"Tapi... Bapak jangan jual sayuran lagi, kami mohon Pak," Marsel menambahkan.
"Baiklah..." pak Renggono mengalah.
********
6 bulan kemudian, selama itu, pak Renggono merawat istrinya dengan ikhlas, memandikan, sampai mengganti pampres pun pak Renggono yang melakukan.
__ADS_1
Diah dan Mawar ingin membantu pun tidak di ijinkan. Sementara ada bibi yang membantu melakukan pekerjaan rumah.
Kerja keras pak Renggono tidak mengingkari hasil. Bu Reny sudah bisa berjalan walaupun memakai tongkat, bahkan sudah bisa mandi sendiri.
"Ini bajunya," pak Renggono memilihkan daster yang nyaman untuk istrinya setelah bu Reny selesai mandi.
"Terimakasih Pak," bu Reny menatap suami nya menitikan air mata tanpa pak Renggono sadari, segera Reny menyusunnya dengan jari kemudian menunduk.
Pria 60 tahun itu memincingkan mata. "Apa sih Bu? Kok pakai terimakasih," Renggono merasa heran tidak pernah selama ini istrinya mengucap kata itu.
"Terimakasih karena..."
Wanita yang kini tampak lebih putih dan bersinar karena tidak pernah terkena tabir surya itu menyadari kesalahanya selama ini. Namun lidahnya terasa kelu untuk bicara.
Perhatian, pengorbanan, dan cinta suaminya membuat hati Reny merasa tersentuh karenanya.
"Duh pinggang ku, rasanya..." pak Renggono memegangi pingganya yang terasa pegal kemudian duduk di kasur.
Menatap suaminya yang terlihat lelah lagi-lagi hati Reny menjerit, dadanya terasa sesak.
"Maaf" bu Reny mencium telapak kaki suaminya yang sedang selonjoran di ranjang, setelah memakai daster. Bu Reny menangis sesegukan.
"Loh ada apa to Bu," pak Renggono membangunkan pundak istrinya. Namun Reny tidak mau bangun dan tidak ada jawaban selain tangis istrinya yang semakin kencang.
"Bu, bangun" pak Renggono pun menggeser duduknya hingga tidak ada jarak. Lalu kembali mengangkat kepala istrinya yang masih betah memeluk telapak kakinya dengan tubuh yang bergetar.
"Kenapa?" pak Renggono memegangi pundak Reny menelisik pendar mata sang istri tergambar penuh penyesalan.
"Aku..." Reny menunduk seolah tak sanggup menatap mata suaminya rasa malunya mendominasi.
"Bu" pak Renggono mengalungkan tangannya ke tengkuk sang istri lalu mendekapnya dalam dada.
"Huuu... maafkan aku Pak, aku... istri nggak berguna, ceraikan aku, selama ini aku hanya bisa menyakiti kamu, menyusahkan kamu. Huuuu..."
"Bu... bicaramu kok ngelantur," telapak tangan kasar itu mengelus lembut punggung sang istri.
"Bu... Bapak hanya ingin, di usia kita yang sudah senja ini, kita bisa hidup tenang, tidak lagi berambisi tentang dunia, kita dekatkan diri kita kepada Allah," Renggono merasa lega, tujuanya merawat istrinya dengan tanganya sendiri hanya ini yang beliau harapkan. Reny bisa bertaubat di sisa hidupnya dan menyadari kesalahanya.
"Apa Allah masih bisa mengampuni dosa aku Pak" Reny merasa pesimis. Surga istri di telapak kaki suami, tetapi Reny merasa banyak sekali dosanya pada sang suami.
"Allah maha pengampun, Bu, yang penting, Ibu segera bertaubat," Renggono melepas dekapanya kemudian menatap lekat wajah istrinya yang masih basah dengan air mata.
"Kita saat ini sudah mempunyai 6 cucu, Bapak ingin di sisa hidup kita ini bisa dekat dengan mereka, anak cucu kita,"
.
__ADS_1