Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Kecelakaan Maut.


__ADS_3

Salah satu mobil muatan delapan orang jatuh tergelincir ke dasar jurang.


Para polisi tampak kesulitan menguasai medan, jurang yang terjal bebatuan, hanya mukjizat jika para penumpang mobil berwarna hitam itu selamat.


Flashback on.


Hari sabtu pagi bu Reny ke minimarket milik menantunya.


"Ada yang dibutuhkan Bu?" tanya Kenanga dialah saat ini yang bagian sift pagi, bersama Kantil.


"Saya mau mencari cemilan," jawab bu Reny lalu menuju rak memilih makanan kering.


"Silahkan Bu, jika perlu bantuan beritahu kami," kata Kenanga sopan, tentu para karyawan sudah diberitahu oleh Mawar agar hormat kepada mertuanya.


"Em... Ibu, mencari apa?" Mawar yang baru masuk mendekati mertuanya.


"Aku mau mencari makanan kering Maw, nanti sore teman-teman arisan mau ngajak Ibu jalan-jalan," ucap bu Reny sambil menelisik kemasan kacang yang di bungkus besar.


"Waah... kemana Bu? terus, sama Bapak juga?" Mawar menegaskan.


"Tidak. Bapak tidak ikut, kata teman-teman kami mau menginap di Villa," terang bu Reny.


"Oh gitu ya, biar diantar Mas Adit Bu," Mawar tentu tidak tega membiarkan mertuanya pergi sendiri.


"Ngga usah Maw, malu lah sama Ibu-Ibu yang lain, kita kan sudah patungan sewa mobil," jawab bu Reny.


Mawar hanya mengangguk saja.


Sore harinya. "Pak, aku berangkat ya," bu Reny sudah siap menylempang tas, tangan kanannya menjinjing tas kecil untuk baju ganti, sedang tangan kiri membawa cemilan.


"Hati-hati Bu, kalau sudah sampai telepon," titah pak Renggono. Tadi malam kakek nenek ini sempat bertengkar. Sebab pak Renggono awalnya tidak mengijinkan bu Reny pergi, namun bu Reny tidak mau dilarang.


"Iya," jawabnya singkat kemudian berangkat melewati depan ruko bakso milik bu Riska.


"Mbak Reny jadi pergi?" tanya bu Riska yang sedang menyapu di depan rukonya bekas air mineral.


"Jadi Ren, sekali-kali lah, orang yang sudah tua seperti kita ini jalan-jalan, di rumah terus kan, suntuk," bu Reny tampak senang.


"Betul juga Mbak Yu. Mbak Yu, bekal minuman ya, untuk di jalan nanti," bu Riska segera masuk ke dalam ruko melewati para penikmat bakso. Tidak lama kemudian kembali keluar membawa minuman kemasan botol merk tertentu memberikan kepada besanya.


Bu Riska menatap besanya yang sedang memasukan minuman ke dalam tas jinjing menarik napas panjang. Bu Riska merasa heran orang seusia mereka lebih enak diam di rumah bermain bersama cucu. Tetapi besanya ini ternyata mempunyai pemikiran yang berbeda.


"Terimakasih Ris, aku berangkat," bu Reny bersemangat menghampiri mobil hitam yang parkir di depan minimarket Mawar.

__ADS_1


"Para anggota arisan yang berusia 50 sampai 55 tahun ke atas itupun singgah di minimarket untuk membeli cemilan.


"Kita berangkat," seru bu Reny dan kawan-kawan segera masuk ke dalam mobil.


"Yang satu di sebelah saya Bu, yang di belakang kan hanya untuk 6 orang," titah sang supir. Sebab semuanya ingin masuk di jok tengah dan belakang.


"Kalau gitu aku saja yang duduk di depan," bu Reny kemudian duduk di samping supir.


"Minimarket tadi punya siapa jeung?" tanya salah satu ibu berbaju coklat pastel.


"Minimarket tadi kan kalau nggak salah milik menantunya jeung Reny, betul kan Jeung?" ibu yang berbaju abu-abu menyahut.


"Betul Ibu-Ibu... minimarket itu memang milik menantuku, kadang aku suka nggak enak, kalau belanja nggak mau di bayar," bu Reny menjawab bangga.


"Wah... hebat ya Jeung Reny, menantu yang perempuan punya minimarket, sedangkan menantu pria nya, punya perusahaan," cek, cek. Ceeek..." teman-teman bu Reny berdecak kagum.


"Nasip seseorang memang sudah di atur, kadang di atas kadang di bawah, dulu suamiku sempat punya usaha mebel, eh ternyata bangkrut," sesal ibu yang paling muda di antara mereka.


"Betul, kita juga enggak akan tahu nasip kita selanjutnya. Sekarang kita bisa jalan-jalan, bersenang-senang, tapi apakah lusa kita masih hidup, kan kita nggak tahu."


"Hus! bicara jangan sembarangan apa?!" sanggah bu Reny.


Semua lantas diam.


Mobil melaju sedang, hujan gerimis, jalanan licin, di tambah lagi tanjakan, turunan, supir lalui dengan hati-hati.


Bu Reny yang duduk di depan pun panik.


"Pak... Pak... awaaaassss....


Brakkk!


Mobil yang belok pas tikungan menghantam mobil yang di tumpangi bu Reny dkk.


Malang tak dapat di tolak, mujur tak dapat di raih, mobil malang tersebut masuk ke dalam jurang.


Flashback off.


Mobil masuk ke dalam semak belukar dalam keadaan terbalik.


"Bagaimana ini Ndan, jurangnya terlalu dalam," polisi bertanya kepada komandannya.


"Siapkan tali, kita akan segera mendarat," titah komandan.

__ADS_1


"Baik, Ndan," keempat polisi termasuk komandan itupun mengaitkan tali ke akar pohon kemudian menuruni jurang. Sampai tkp polisi membersihkan semak belukar agar mudah untuk mengidentifikasi korban yang masih di dalam mobil.


"Sekarang kita balik mobil ini," perintah sang komandan yang ikut membantu anak buahnya.


Dengan kerja kerasnya, polisi berhasil membalikan mobil tersebut kemudian mencoba membuka pintu mobil. Namun pintu mobil bagian belakang sudah ringsek.


Dengan menggunakan peralatan seadanya pintu bagian supir sudah terbuka. Tampak supir yang terjepit dan benturan kepala menyebabkan darah mengalir tanpa berhenti.


Polisi segera mengeluarkan supir, kemudian beralih mengeluarkan bu Reny yang tak kalah mengenaskan.


Salah satu polisi menghubungi anggota, agar mengirimkan helikopter guna mengevakuasi korban.


"Periksa identitas mereka," titah komandan. Salah satu polisi memeriksa identitas korban. Namun tidak semua korban ditemukan identitas nya.


Polisi memeriksa tas bu Reny, yang masih menyangkut di pundak.


Polisi kemudian memeriksa handphone milik bu Reny, ternyata masih menyala lalu mengecek nomer yang bisa dihubungi.


Polisi menemukan nama yang bertuliskan suami namun ternyata nomer tersebut tidak bisa dihubungi.


Polisi membaca nomor di handphone bu Reny rupanya tidak banyak yang disimpan.


Polisi menangkap nomor di bawah nama suami bertuliskan anak satu dan anak dua. Yaitu Aditya dan Diah, lalu menekan nomor hp Diah.


"Assalamualaikum..." suara Diah di seberang telepon.


"Hallo! Apakah Anda putri yang memiliki nomer ini?" tanya polisi.


"Betul, ada apa? Lalu anda ini siapa?" cecar Diah.


"Ibu Anda mengalami kecelakaan saat ini korban berada di tkp xxx,"


Tut.


Polisi memandangi handphone bu Reny yang di putus sepihak oleh Diah.


Tidak lama kemudian helikopter datang menjemput para korban.


*******


Para korban termasuk bu Reny di bawa ke rumah sakit besar tentu yang memiliki perlengkapan medis yang memadai.


Para petugas segara membawa para korban masuk ke UGD.

__ADS_1


Polisi lalu kembali menghubungi keluarga korban, mengabarkan bahwa para korban mengalami kecelakaan, dan sudah berada di rumah sakit. Namun tidak semua nomer bisa dihubungi, karena ada yang sudah bercampur darah, terkena air hujan, dan ada pula yang sudah dalam keadaan ringsek.


.


__ADS_2