Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Maaf Memang Mudah.


__ADS_3

...TERIMAKASIH UNTUK TIDAK BOMLIKE....


Diah turun dari taksi menggendong anak sambungnya, matanya memerah kas habis menangis, keadaannya sangat kacau.


Semua itu tidak lepas dari perhatian Marni yang sedang menyiram tanaman, melihat siapa yang datang segera membukakan pagar.


"Tuan sudah pulang Mar?" tanya Diah, seraya berjalan.


"Belum Non"


Walaupun Diah tahu, Marsel memang belum pulang. Pasalnya, belum ada mobil di garasi.Tetapi siapa tahu, Marsel sempat pulang ke rumah dulu. Sebab, ia pergi tadi terlalu lama.


"Lita biar saya yang menggendong, Non" Marni berniat mengambil alih Lita, melihat Diah sepertinya lelah.


"Tidak usah Mar, tolong dibukakan pintu saja" titahnya.


"Baik Non" Marni berjalan lebih dulu kemudian membuka pintu depan.


Diah menapaki anak tangga selangkah demi selangkah, rasanya lelah jiwa raga. Setelah dibukakan pintu kamar oleh Marni, Diah merebahkan Lita di ranjang.


"Terimakasih Mar" ucap Diah.


"Sama-sama Non"


Diah segera mandi shalat ashar kemudian tidur di samping Lita. Diah yang dulu berbeda dengan Diah sekarang, ia menjadi cengeng dan baperan.


*******


Di restoran tampak Marselo baru turun dari mobil diantar mamang. Ia berjalan setengah berlari ingin segera sampai ke dalam, lalu minta maaf kepada anak dan istrinya.


Ia merasa bersalah, pasti anak istri nya sangat kecewa karena ulahnya. Jalan sudah dekat dimana Diah, dan Calista tadi ia tinggalkan. Yang ada dalam pikiranya Marsel, istrinya masih menunggu dirinya. Namun, kosong. Marsel memperlambat langkahnya.


Kakinya terasa kaku untuk di gerakkan, hatinya mencelos, menatap hidangan yang ia pesan masih utuh tidak disentuh. Dan yang lebih membuatnya terperanjat adalah; sudah tidak ada anak dan istrinya di sana.


Marsel duduk mencoba menghubungi Honey. Namun tidak di angkat. Marsel tahu pasti mereka marah.


Marsel segera membayar tagihan walaupun tidak mereka makan sudah menjadi konsekuensinya. Marsel pun akhirnya kembali ke mobil.


"Loh, kok sendirian Tuan?" tanya mamang terkejut.


"Mereka sepertinya sudah pulang duluan, Mang" jawabnya seraya masuk ke dalam mobil. Wajar, saat ini sudah jam 4 sore.


Mobil melaju cepat, di dalam mobil tidak ada yang bicara. Sebenarnya mamang bertanya-tanya dalam hati apa yang di lakukan tuanya di hotel tadi. Namun tidak ada kapasitas bagi mamang untuk mencampuri urusan pribadi Marsel.


Sampai di rumah, Marsel menemui Marni dan bibi yang sedang memasak.


"Diah sama Lita sudah pulang bi?" tanya Marsel seraya ambil air putih dingin lalu menenggaknya.


"Sudah Tuan?" jawab Marni.


Marsel meletakkan gelas di atas meja kemudian ke kamar nya. Tidak ada istrinya di kamar, Marsel menutup pintu kembali.


Marsel kemudian ke kamar anaknya. Ia mendorong handle pintu pelan, pandanganya tertuju ke ranjang. Lita tidur dalam pelukan Diah.


Tidak akan mengganggu Marsel kembali keluar.


********

__ADS_1


Jam lima sore Diah sudah bangun dari tidurnya.


"Mama..." lirih Lita.


"Oh, sudah bangun? mandi yuk, terus makan, kamu hanya makan tadi pagi loh" Diah mengusap kening Lita.


"Ya Allah... kok badanmu panas..." Diah terperangah. Menatap mata Lita yang berair, bibirnya pun kering.


"Kepala aku sakit Ma" ucap Lita.


"Tunggu sebentar ya" Diah segera keluar berjalan setengah berlari, berpapasan dengan Marsel sama-sama keluar dari kamar.


"Diah..." Marsel menghadang langah Diah. Diah tidak menghiraukan suaminya.


Tak tak tak. Ia berlari menuruni tangga.


"Bi, tolong bikin bubur buat Lita ya" titahnya.


"Baik Non" tanpa bertanya lagi bibi segera ambil beras kemudian mencucinya.


Sementara Diah, ambil baskom mengisinya dengan air hangat.


"Buat apa airnya Non?" tanya Marni yang sudah selesai mandi.


"Lita suhu tubuhnya tinggi, Mar, mau saya kompres, tolong ambilkan waslap di tempat setrika ya"


"Baik Non" demi Lita seisi rumah bekerja sama.


********


"Kepala Lita sakit Pa"


"Sakit?" Marsel pun memegang kening Lita seperti yang dilakukan Diah tadi.


"Kita ke dokter ya sayang..." Marsel mencium pipi Lita. Lita hanya menggeleng lemah. Marsel semakin bersalah pasti anaknya terlalu capek, di tambah lagi melewatkan makan siang.


Ceklak.


Diah masuk membawa baskom dan waslap mendekati Lita. Ia memeras waslap yang ia celup di air hangat.


"Aku saja" Marsel berniat mengompresnya.


Plak" Diah menepis tangan Marsel, yang sedang duduk di ranjang. Karena merasa bersalah Marsel tidak berani menyahut.


Diah merengut masam tanpa menatap wajah suaminya yang sejak tadi hanya bingung entah akan melakukan apa.


Sementara Diah, menempelkan waslap ke dahi Lita, berulang-ulang. Diah sama sekali tidak menganggap bahwa Marsel ada di situ.


Marsel kemudian pindah ke sofa bersandar, seraya memejamkan mata.


Tok tok tok.


"Masuk" sahut Diah.


"Buburnya Non" Marni masuk ke dalam membawa mangkok.


"Sini Mar, sekalian ini kamu bawa kebelakang ya" Diah ambil mangkok setelah meletakan waslap.

__ADS_1


"Baik Non" sahut Marni, kemudian keluar setelah ambil baskom yang Diah letakkan di lantai.


"Mamam bubur dulu, sayang..." Diah menyodorkan sendok ke mulut Lita.


"Mulut Lita pahit, Ma" tolak Lita.


"Coba dulu sedikit ya, perut kamu kosong loh, biar cepat sembuh" sebisanya Diah membujuk hingga Lita pun mau membuka mulutnya.


Sedikit demi sedikit Diah menyuapi sambil mengajaknya bercerita, hingga bubur tinggal setengah.


"Sebentar ya" Diah ambil obat parasetamol di kotak obat. Setelah menemukan yang dicari kemudian kembali.


"Minum obat dulu ya" Diah memberikan obat kemudian, memberi minum air putih.


"Sudah mamam... sudah minum obat, terus Lita bobo... nanti bangun tidur, Lita sudah sembuh." Diah lantas mencium kening Lita sayang, seperti anaknya sendiri.


"Mama jangan pergi..." Lita merajuk.


"Nggak dong..." Diah kembali memeluk tubuh Lita mengusap-usap pundaknya.


Diah seketika ingat Syifa anak kandung nya, sudah hampir sebulan belum sempat menengok, semakin menambah pikiranya.


Terdengar Lita mendengkur halus, Diah bergegas bangun sebentar lagi shalat maghrib.


Diah melihat Marsel yang tidur miring di sofa entah pulas atau tidak, Diah tidak berniat membangunkan.


"Mar... tolong temani Lita dulu ya" Diah menulis pesan daripada harus ke bawah.


"Baik Non" Marni segera menemani Lita sedangkan Diah masuk ke dalam kamar, menjalankan shalat maghrib.


"Diah..." Marsel menghampiri istrinya yang sedang melipat mukena.


Diah tetap tapa bicara.


"Maaf ya... aku tadi..." Marsel menjeda ucapanya.


"Kamu tadi kenapa Mas?! jawab! Mas!" bentak Diah, susah payah meredam emosi tetap saja tidak tahan.


"Jangan hanya mudah minta maaf, lalu mengulangi kesalahan, Mas. Maaf memang mudah, tapi tidak akan ada gunanya, jika Mas mengulangi kesalahan lagi"


"Diah..." Marsel mendekati istrinya yang sedang menangis. Namun Diah menjauh.


"Aku tadi..." Marsel ingin berucap.


"Sudah lah Mas! tidak usah dijelaskan, aku sudah tahu kok, kamu tadi berkencan dengan wanita tercintamu"


Deg.


Marsel terkejut. "Apa maksudmu Diah?"


"Haha..." Diah tertawa di buat-buat.


"Tidak usah pura-pura tidak tahu Mas, kamu tega meninggalkan aku, bahkan darah dagingmu"


"Jika tujuan kamu menikahiku, hanya ingin menyakiti aku lebih baik aku mundur Mas? aku capek Mas, aku capek... hisk hisk." Sekuat apapun Diah menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Marsel toh akhirnya turun juga.


.

__ADS_1


__ADS_2