Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Tertangkap


__ADS_3

Drama pasutri yang membuat Bening geleng-geleng kepala itu pun berakhir saat Calista dan Ufaira keluar dari kamar.


"Papaaa... Oma mana? katanya mau datang?" Calista mendongak memegangi kedua telapak tangan Marsel yang masih berdiri di dapur.


"Oma masih sakit sayang..., nanti kalau sudah sembuh. Oma menyusul" Marsel mengacak rambut Lita.


"Papaaa... kok rambut aku di acak-acak, ini kan di sisir sama Mama tadi." Lita memanyunkan bibir tampak lucu membuat Marsel, Diah, dan Bening tertawa.


"Lita... biar Papa mandi dulu ya" Diah memegangi pundak Lita. Lita pun mengangguk kemudian menyusul Ufaira dan Bening yang berjalan keluar ingin menunggu Elang pulang dari kantor di teras rumah.


Diah masuk ke kamar bersama Marsel. Marsel menjatuhkan tubuhnya di kasur hingga beberapa saat tidak segara mandi. Diah memandangi wajah Marsel yang terpejam tampak ada ketegangan di sana.


"Mas... kamu kenapa, kayaknya dari tadi aku perhatikan sedih gitu?" Diah duduk di sebelahnya.


"Nggak kok, aku keingetan Mommy." Marsel beralasan, padahal sedang memikirkan hasil tes dna kemarin, bagaimana caranya berbicara dengan Diah. Walaupun tidak seluruhnya berbohong, karena memang sedang memikirkan mommy juga.


"Semoga Mom cepat sembuh ya Mas" hibur Diah menggenggam tangan Marsel. Tangan kekar itu diangkat mengusap lembut pipi Diah.


"Aamiin..." ujar Marsel tersenyum.


"Mendingan Mas cepat mandi, kotor kan, habis duduk di pesawat, hingga beberapa jam" Diah membayangkan duduk di pesawat bekas orang-orang.


"Ya aku mandi dulu" Marsel bangun dari tidurnya menempelkan dahinya di pundak Diah hingga beberapa menit. Diah membiarkan saja, kemudian Marsel beranjak setelah mencuri bibir istrinya.


Diah tersenyum menatap suaminya dari belakang, kemudian berniat mencari baju ganti.


"Mas, membawa baju ganti kan?" Diah berniat menyiapkan, membuka retsleting tas rangsel yang Marsel bawa tadi.


"Ada Yank, di rangsel" jawab Marsel kemudian membuka baju, dan celana, hanya menyisakan pakaian dalam. Kemudian membebat tubuhnya dengan handuk hendak ke kamar mandi.


Langkahnya berhenti saat melihat istrinya yang sedang sibuk mencarikan baju ganti untuk dirinya. Marsel menatap sendu, tubuh Diah dari belakang. Dalam hati kecilnya ingin segera menceritakan semuanya. Namun bayangkan Diah akan marah terbayang nyata di benak.


Sementara Diah, mengeluarkan isi tas, mencari pakaian santai. Namun tidak ada. "Kok yang kamu bawa kemeja semua sih Mas" ucapnya, tanpa menoleh. Hingga beberapa menit tidak ada jawaban Diah menghentikan kegiatannya.


"Mas, hee... di tanya kok malah lihatin aku kaya gitu... kenapa sih... aku aneh ya?" Diah memutar kepala menelisik tububnya.


"Oh nggak apa-apa kok, wajar lah lihatin terus, aku kan kangen, ya sudah aku mandi dulu" Marsel mengusap kepala Diah sambil berlalu ke kamar mandi.


"Kenapa sih? aneh!" Diah berbicara sendiri lalu kembali merapikan pakaian yang ia acak-acak.

__ADS_1


15 belas menit kemudian Diah mencium aroma wangi sabun ternyata Marsel sudah keluar.


Diah yang sedang terlentang di ranjang menatap tubuh Marsel yang hanya tertutup dengan handuk di bagian pinggul ke bawah. Diah menelan saliva, lagi-lagi membayangkan menyusup ke dada suami tampanya itu.


"Nah, sekarang kamu yang lihatin aku terus, kangen kan?" Marsel tersenyum mendekati istrinya, bukan segera ganti pakaian, justeru merebahkan tubuhnya di samping Diah. Setelah mandi rupanya membuat Marsel menjadi tenang.


Kakinya mengunci pinggang Diah, tanganya melingkar di leher. "Dedek... Papa kangen Mama" ucapnya lirih lalu mengusap perut Diah. Marsel melancarkan hasratnya yang sudah tidak terbendung.


"Mas"


"Heemm..."


Terjadilah pergulatan panas sebelum magrib tiba. Pada akhirnya Marsel mandi dua kali. Kali ini mandi berdua lalu menjalankan shalat magrib berjamaah.


"Mas, kamu pakai baju apa, masa pakai kemeja?" Diah masih membahas tentang baju memegangi baju yang di kenakan Marsel untuk sholat.


"Nanti kita ambil di rumah sebelah Yank, aku masih menyimpan pakaian lama" jawab Marsel sambil meletakkan kopiah.


"Oh gitu" Diah hanya menjawab demikian.


Mereka lantas keluar dari kamar berkumpul dengan keluarga Bening, rupanya Elang sudah pulang dan menunggu di meja makan.


"Iya, kan shalat dulu, Lita sudah shalat belum?" Diah balik bertanya.


"Sudah tadi bareng sama Tante, Om, terus Ira" celoteh Lita.


"Ayo makan dulu, mumpung masih hangat" kata bening. Diah menatap menu makan malam yang meriah sayur brongkos, urap, tempe bacem, dan opor ayam.


"Kata Calista makanan di sini manis semua Bun" Ira menirukan kata-kata Lita. Menatap bundanya yang sedang menyendok brongkos untuk suaminya.


"Lita nggak suka masakan manis ya? kalau gitu.. besok Bunda masak menu yang lain" Bening menjawab enteng.


"Suka kok Tan. Ira, aku kan nggak bilang kalau nggak suka masakan manis, aku cuma bilang masakan di sini manis semua," rupanya Lita berusaha menjelaskan.


"Aku juga nggak bilang sama Bunda, kalau kamu nggak suka manis kok" Ira tidak mau kalah, berdebat kas anak-anak.


"Apa kabar Mas Ello?" Elang menoleh Marsel, menghentikan perdebatan.


"Alhamdulillah Lang, bagaimana perusahaan kamu?" Marsel menarik kursi untuk Diah kemudian untuk dirinya.

__ADS_1


"Kan, kan! suami kamu itu Diah. Lama nggak ketemu bukan tanya kabar orangnya, tapi perusahaan yang di tanyakan! Cek!" gerutu Bening. Diah hanya tersenyum tiap kali mendengar candaan Bening terhadap suaminya.


"Haha, bagaimana kabar kamu?" Marsel meralat.


"Sudah kelewat"


"Kabar baik"


Bening dan Elang menjawab bersamaan. Mereka akhirnya menghentikan obrolan makan dalam diam.


*******


Sudah jam sembilan malam Marsel tak kunjung masuk kamar, padahal Diah sudah menunggu. Banyak yang ingin Diah tanyakan tentang momny, tentang Bella dan lainnya.


Diah kemudian keluar dari kamar menuju ruang tamu dimana tadi Marsel, ketika Diah tinggalkan sedang ngobrol dengan Elang.


"Mas Elang, Marsel kemama?" Diah tidak melihat suaminya di sana, sedangkan Elang tampak sedang berkutat dengan lap top.


"Tadi bilangnya mau ke rumah sebelah Mbak" Elang menoleh Diah sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Oh" satu kata jawaban Diah, kemudian segara masuk ke rumah sebelah. Rumah satu tembok hanya berbeda pintu.


Ia mendorong knop pintu, ternyata tidak di kunci, tapi di dalam tampak gelap. Hanya ada satu kamar di lantai atas yang menyala. Diah segera menuju kamar tersebut.


Diah membuka pintu kamar itupun tidak di kunci. Namun tidak ada Marsel di sana. Tercium oroma tembakau di dalam kamar tersebut. Diah berjalan pelan mencari darimana sumber bau asap berasal.


Diah menyibak pelan gorden yang menjuntai ternyata terdapat ballroom. Ia terperangah tatkala menangkap suaminya yang sedang duduk santai dan mengebulkan asap ke atas.


Jujur selama menikah Diah belum pernah melihat jika suaminya seorang perokok. Diah menarik napas panjang kemudian duduk di samping suaminya.


"Diah" Marsel menoleh terkesiap, akan kehadiran istrinya yang tiba-tiba. Tanpa berpikir Marsel segera mematikan rokok.


"Kenapa dimatikan?!" Diah tidak menoleh.


"Kamu kan sedang mengandung Yank, asap rokok tidak bagus untuk anak kita" Marsel tampak ketakutan hanya sekedar menatap istrinya.


"Kalau tahu tidak baik, terus... kenapa kamu langgar?" cecar Diah.


.

__ADS_1


__ADS_2