Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Keadaan Laura.


__ADS_3

"Terimakasih Mi" ucap Diah. Ia sudah selesai sarapan roti, dan susu. Diah terharu mami tirinya sangat perhatian kepadanya. "Sama-sama" ujar mami sambil membuang plastik bekas roti ke keranjang sampah.


"Susu hamil ternyata amis ya Mi?" Diah tampak menyeringai.


"Memang begitu rasanya, waktu hamil Syifa dulu, memang kamu tidak minum susu?" imbuhnya.


"Nggak Mi, habisnya enek, mencium baunya saja sudah mual," tutur Diah. Ingat ketika hamil syifa dulu. Abim perhatian membuatkan susu hamil, tapi tidak pernah di minum. Jika Abim tidak melihat, susu buatan Abim seĺalu di buang ke wastafel. (Pengalaman pribadi 🤣) Diah menyesali geleng-geleng kepala.


"Ah, kamu ini. Sebaiknya kamu makan, minum, yang bergizi, istirahat yang cukup, jangan pikirkan macam-macam, agar tidak berpengaruh pada dedek bayi" Mami menasehati. Wanita cantik itu membetulkan selimut Diah.


"Iya Mi, Papi kemana ya" setelah memberikan susu kepadanya. Diah tidak melihat papi.


"Pasti Papi kamu sedang mencari tempat untuk merokok. Cek. Papi kamu itu kebiasaan! Diah, kalau banyak pikiran suka merokok" kesal mami Desty.


"Memang Papi mikirin apa sih, Mi?" cecar Diah. Diah belum begitu tahu kebiasan tuan Efendi.


"Papi kesal dengan suami kamu Diah, Papi berpikir, Marsel yang membuat kekacauan ini, lalu pergi keluar negri" tutur Mami.


"Aku yakin kok Mi, Marsel tidak seburuk itu, hanya Bella saja yang nggak mau di untung" Diah kembali kesal ingat Bella membawa kabur Lita. Padahal jika Bella berbicara baik-baik, dan Marsel menyetujui. Diah tidak akan menghalangi Bella, membawa Lita. Dan parahnya lagi, Bella memfitnah dirinya dengan kejam sebelum berangkat ke Negaranya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Diah dan mami menoleh ke pintu ternyata Rindy yang datang. "Rindy" sapa Diah.


"Loe baik-baik saja, Diah" Rindy cipika cipiki ingin memberi dukungan sahabatnya, pasti saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Aku nggak apa-apa kok Rin, kenalin, ini mami Desty" kata Diah.

__ADS_1


"Tante" Rindy memberi salam, begitu juga mami. "Mami tinggal dulu, ya" Mami Desty berniat mencari suaminya ke tempat bebas merokok.


"Baik Tan, Mi" jawab Diah dan Rindy bersamaan.


"Itu Ibu tiri loe?" Rindy menatap langkah Mami Desty, walaupun usianya sudah tidak muda lagi, masih terlihat muda dan cantik.


"Iya. Cantik kan" Diah menyahut.


"Ibu tiri loe, ternyata baik Diah. Biasanya ibu tiri kan hanya mau harta suaminya saja! Jika sama anak tirinya kejam!" Rindy berpendapat, tidak menyadari bahwa sahabatnya menatapnya jengkel.


"Nyindir!" Diah mengacungkan tinju.


"Hahaha... maaf, tapi tidak untuk loe" Rindy tertawa, tidak menyadari bahwa sahabatnya ini menandang status ibu tiri.


"Oh iya Diah, sebenarnya rumor yang beredar, bahwa loe pelakor, benar atau tidak?" tanya Rindy hati-hati. Pertanyaan ini sudah sejak lama Rindy pendam, karena menjaga perasaan sahabatnya.


"Loe tidak percaya juga sama aku? Mau ikut-ikutan menghujat" Diah melempar tatapan sendu.


"Ceritanya panjang Rin, kalau aku ceritakan tidak akan selesai satu hari" Diah menarik napas sesak.


"Awal aku menikah dengan Marcelo, dia tidak mau terbuka. Kesanya menutupi bahwa dia masih berstatus suami Bella" mengingat itu mata Diah beranak.


"Berati benar? Loe menjadi istri kedua, Diah" potong Rindy.


"Begitulah, tapi... menurut Marsel, sudah mengurus gugatan cerai di pengadilan, Rin" Diah menceritakan dengan tersendat-sendat. Dari awal menikah hingga kini.


"Nah-nah. Jadi saat ini, Bella, laki loe, dan anak tiri loe, berkumpul ke Negara asal. Terus... loe percaya begitu saja Diah?!" Rindy geleng-geleng kepala. Rindy bukan bermaksud memperkeruh suasana, tapi Rindy berbicara dengan logika, mereka saat ini berkumpul di sana, sudah bisa dibayangkan apa yang mereka lakukan.


"Nggak tahu Rin, aku pusing" Diah memejamkan mata. Kadang dia juga berpikir begitu. Namun berusaha untuk mempercayai suaminya.

__ADS_1


******


Di Negara B, di salah satu rumah saki terkenal. Marsel menatap sendu sang mommy. Mommy Laura tergeletak tak berdaya di ruang ICU. Dengan peralatan medis selang kabel yang tersambung di dada, hidung, dan mulut.


"Mommy... sadar Mom. Mommy tidak kangen sama Ello" Marsel menitikan air mata. Sejak ia menikah dengan Diah 4 bulan yang lalu, mommy lantas pulang ke Negara B. Semenjak itu Marsel tidak pernah bertemu hanya berbicara via telepon.


"Cepat sadar Mommy, terus nanti kita tinggal di Indonesia bersama-sama lagi, seperti dulu," jari Marsel menyeka air mata mommy yang menetes sedikit. Marsel flashback, tiap kali momny telepon, yang beliau tanya. "Diah sudah hamil belum?" itulah pertanyaannya.


"Ello... sebaiknya kamu makan dulu, terus istirahat" titah uncle Ramon. Menatap keponakanya sedih. Sejak kedatangan Ello dari Indonesia. Ello langsung ke rumah sakit, tidak mau makan maupun istirahat.


"Tidak lapar Uncle" lirih Marsel. Ia duduk di pinggir ranjang mommy, dengan kursi, hampir tidak pernah melepas tangan mommy yang selalu ia usap, ia cium, begitu seterusnya.


"Sebenarnya Mommy sakit apa Uncle?" Marsel menatap uncle di depannya. Uncle mendongak balik menatap Marsel, dalam keadaan mata cekung, karena kurang tidur.


"Kak Laura menderita penyakit jantung koroner El," jawab Uncle pelan, sebenarnya Ramon tidak ingin mengatakan ini, karena akan menambah kesedihan Marsel. Namun hanya Marsel anak satu-satunya. Ramon harus mengatakan ini.


Marsel terperangah. " Apa? Tapi... Mommy selama ini tidak pernah mempunyai riwayat penyakit itu Uncle." Marsel kembali menatap wajah mommy yang pucat hanya bisa berdoa, semoga penyakit mommy segera di angkat.


"Saya juga heran El, selama ini, Kak Laura, selalu menjaga pola makan, hidup sehat, olah raga teratur" memang benar apa yang dikatakan uncle. Ketika di Indonesia pun, mommy selalu menjaga kebugaran.


"Dua hari yang lalu, aku mendapat telepon dari Bibi. Bibi mengatakan bahwa Kak Laura jatuh pingsan. Begitu aku datang, lalu membawa Kak Laura kemari El, belum menanyakan pada Bibi, apa penyebabnya" uncle Ramon menjelaskan.


"Oh iya El, bagaimana kabar Lita, terus bagaimana pula kabar istri barumu, kenapa tidak kamu bawa serta?" Ramon mengalihkan agar Marsel tidak terlalu sedih.


"Lita, dan Istri, baik Uncle, awalnya aku ingin mengajak mereka kesini, tapi ada kendala." tutur Marsel. Ingat istri, Marsel belum mengabari Diah, seperti janjinya kemarin. Ia baru ingat setelah menghubungi Diah di bandara AD, handphone miliknya masih tertinggal di tas.


"Uncle, titip Mommy, ya, saya mau mengabari Diah dan Calista dulu" kata Marsel.


"Baiklah, jangan lupa makan sekalian, dan istirahat dulu Ello, tenang saja, biar Mommya aku yang jaga" sahut uncle penjang lebar.

__ADS_1


"Terimakasih, Uncle" Dengan langkah lambat karena tidak bertenaga, Marsel menuju apartemen. Sampai Negara B, Marsel tidak langsung pulang ke rumah mommy Laura. Melainkan ke apartemen pribadinya.


.


__ADS_2