Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Mulai Bertindak.


__ADS_3

Keseruan keluarga kecil di dalam mall, tampak memilih ini itu, sedangkan Marsel hanya mengikuti anak dan istrinya sambil mendorong stroller yang sudah berisi bermacam-macam belanjaan hingga setengahnya.


"Ma, aku mau main gim sebentar ya" kata Lita.


"Nanti dulu dong, tunggu Mama selesai belanja, baru Mama temani" jawab Diah sambil melihat kanan kiri.


"Sendiri saja Ma, tempatnya tidak jauh kok, itu..." Lita menunjuk permainan yang ramai khususnya untuk anak-anak.


"Biar saja... banyak anak-anak kok" kata Marsel.


"Ya deh... kalau Mama sama Papa belum datang, jangan kemana-mana ya" pesan Diah tampak khawatir.


"Siip... Ma" Lita bersemangat menuju tempat permainan.


Lita melihat kanan kiri mencari permainan yang ia suka, matanya menangkap sosok anak yang kira-kira usianya lebih tua darinya. Anak laki-laki itu tampak kesal main gim arcade safari. Namun selalu kalah.


"Hai Kak" Lita menepuk pundak anak laki-laki itu.


"Hai" jawab anak laki-laki itu tanpa menoleh, berusaha agar memenangkan permainan tersebut karena jika menang akan mendapatkan hadiah mobil-mobilan.


"Kakak serius banget" Lita berdiri di samping nya.


"Sebel nih, nggak menang-menang" anak laki-laki itu menoleh sebentar kemudian melanjutkan bermain.


"Kata Papa aku... anak-anak seusia kita tidak boleh main gim itu" Lita ingat nasehat Marsel.


"Masa..." anak laki-laki tampan itu menghentikan permainan, lalu memutar posisi duduknya hingga membelakangi gim.


"Sekarang ikut aku Kak" seperti kerbau di cucuk hidungnya anak itu mengikuti Lita.


"Kita main gim tebak-tebakkan saja, nanti kalau kakak yang menang, aku belikan mobil-mobilan itu, tapi... kalau kakak yang kalah, harus membelikan aku boneka ini, bagaimana?" tantang Lita sambil menunjuk mobilan dan boneka di rak.


"Nggak mau ah, pasti kamu nggak punya uang!" laki-laki itu mengukur dirinya sendiri, ia tidak pernah di kasih uang, jika ke sekolah selalu di bawakan bekal.


"Punya lah, kakak meremehkan aku, ya" Lita menunjuk dirinya sendiri.


"Ya sudah, ayo main" Laki-laki itu mengamati permainan yang tampak mudah, walaupun tidak punya uang maka ia berani menerima tawaran Lita.


"Tunggu Kak, sebelum bermain, sebaiknya kita kenalan dulu, namaku Lita" Lita mengulurkan tangan.


"Freddy" anak itu ternyata Freddy menyambut uluran tangan Lita. Setelah berkenalan, mereka kemudian bermain bersama-sama tertawa-tawa tampak akrab.


Begitulah yang namanya anak-anak mudah sekali bergaul.


"Freddy..."


"Lita..."


Dari dua sisi dua wanita muda saling menyapa anak mereka.

__ADS_1


"Iya Ma" Lita dan Freddy menoleh.


"Em... em...Mbak Gita?"


"Di-Diah?"


Kedua wanita yang pernah berseteru karena seorang pria itu pun saling pandang, terpaku di tempat masing-masing.


Ternggorokanya tercekat, lidah mereka kelu untuk bicara.


"Freddy... kenalkan, ini Mama aku" Lita memegang tangan Diah.


"Iya Lita, kenalkan juga, ini Mama aku" Freddy pun memegang tangan Gita. Kedua anak yang baru saja berkenalan itupun mencairkan suasana kekakuan Diah dan Gita.


"Kalian saling kenal?" tanya Diah dan Gita bersamaan.


"Barusan Ma, kenalan" jawab Lita.


Diah tersenyum memeluk pundak Lita dari belakang.


Oh, ternyata Diah punya anak tiri? itu artinya... Diah menikah dengan duda, atau... Diah menjadi istri kedua lagi? ya Allah... semoga dugaanku salah.


"Diah, boleh aku bicara sebentar?" Gita tampak ragu apakah Diah akan memaafkan dirinya. Namun Gita harus melakukan itu. Diterima maupun tidak, urusan belakangan.


"Boleh Mbak, mari kita duduk di situ, saja" Diah menunjuk kursi permainan yang kosong.


Gita mengangguk kemudian memberi tahu anaknya agar menunggu.


"Tidak Mbak Gita, yang Mbak lakukan sudah benar, jika saya di posisi Mbak Gita, pasti akan melakukan hal yang sama" jawab Diah panjang lebar.


"Terimakasih Diah, aku sekarang sudah lega" Gita menatap Diah tampak penuh kejujuran di matanya.


"Sama-sama, Mbak" Diah menatap perut Gita yang sudah tampak besar. "Mbak kesini sama siapa?" Diah kasihan, dalam ke adaan perut besar Diah pergi sendirian.


"Sendiri Diah, rumah saya dekat kok dari sini" memang benar apa yang dikatakan Gita. Rumahnya yang baru, memang dekat dengan swalayan tersebut.


"Oh gitu... ngomong-ngomong, Mbak sudah hamil berapa bulan?" Diah terus bertanya.


"Sudah tujuh bulan lebih Diah, doakan semoga lancar ya" kata Gita.


"Aamiin..." ucap Diah.


Mereka berbincang akrab tidak ada lagi beban di antara mereka.


"Honey..."


Terdengar suara Marselo Diah dan Gita menoleh.


"Sudah mau maghrib, kita pulang, yuk" Marsel menghampiri. Marsel tadi ke toilet dulu setelah selesai mengumpulkan belanjaan.

__ADS_1


"Baik lah, kenalkan Mas, ini Gita teman aku"


"Marselo"


"Gita"


Setelah berkenalan Marsel menggandeng tangan Diah. Lalu Diah menggandeng Lita.


Gita menatap mereka terharu" ia juga mengajak Freddy pulang.


*******


"Teman kamu tadi orang mana?" selidik Marsel, Diah pernah bercerita kalau di Jakarta tidak punya sahabat selain Rindy tapi Diah tadi memperkenalkan teman kepadanya.


Diah menarik napas panjang, lalu menceritakan semua kepada Marsel siapa Gita.


Saat ini mereka sudah rebahan di ranjang baru selesai shalat maghrib.


"Oh jadi wanita itu istri mantan suami kamu?" kaki Marsel mengunci tubuh Diah.


"Iya Mas, dia tadi minta maaf sama aku karena aku pernah di labrak dan di maki-maki sama Dia, tapi aku sadar kok, aku lah yang salah, jika aku di posisi Mbak Gita pasti akan melakukan lebih dari itu," tutur Diah membuat jantung Marsel ingin lepas.


"Yah... aku hanya bisa berharap, semoga aku tidak mengalami nasip seperti dulu" Diah menatap langit-langit bayangan masalalu lagi-lagi hadir.


"Aku bersenang-senang di atas penderitaan orang lain"


"Semoga suamiku sekarang hanya milik aku, dan tidak akan lagi ada yang di sakiti," Diah menyusupkan wajahnya di bawah ketiak Marsel.


Sementara Marsel, tidak ada sepatah kata pun berbicara. Ia berkali-kali menelan ludah untuk membasahi tenggorokanya yang terasa kering.


*******


Disalah satu rumah, seorang wanita sedang menerima laporan dari orang suruhan nya. Wanita itu adalah: Bella.


"Oh jadi wanita yang di nikahi Ello, sudah menjadi janda dua kali?" tanya Bella.


"Betul nyonya, tapi wanita itu, sangat menyayangi putri Anda," orang suruhan Bella menceritakan.


"Lalu kamu tahu juga, siapa wanita yang pernah menjadi selingkuhan Diah?" cecar Bella.


"Belum Non"


"Cari tahu, siapa wanita itu, jika sudah menemukan laporkan kepadaku, dan juga pantau terus apa yang dilakukan, kamu harus bertindak cepat,"


"Baik Non, saya akan lakukan"


"Satu lagi, jangan sampai Marsel atau orang-orang nya tahu, bahwa kamu orang suruhan aku, bertindaklah hati-hati!" Bella mengakhiri kata-katanya.


"Baik Non, saya permisi" Pria itu pergi setelah mendapatkan bayaran.

__ADS_1


Bella menyeringai licik.


.


__ADS_2