
Pulang dari klinik Diah dan Marsel melanjutkan makan malam, walaupun sudah lewat jam makan, pada umumnya. Pasalnya saat ini sudah jam 9 malam. Sementara Lita sudah makan lebih dulu bersama Marni jam tujuh tadi.
"Mas, isi kulkas kan sudah habis, besok siang, aku belanja ya" kata Diah setelah selesai makan.
"Okay... nanti diantar Mamang, setelah menjemput Lita" jawab Marsel, lalu menyeka mulutnya dengan tissue.
"Nggak usah diantar kali Mas, aku naik motor saja, sayang kan, ada motor nganggur" Diah sebenarnya sejak kemarin jika bepergian ingin mengendarai motor, tapi tidak berani bilang.
"Tapi..." Marsel menjeda ucapanya menoleh Diah di samping merasa berat.
"Boleh ya, Mas... boleh deh..." Diah membujuk sambil menggoyang lengan suaminya.
"Boleh" pada akhirnya Marsel mengalah. Reflek Diah memeluk Marsel yang berada di sampingnya. Marsel terkekeh.
"Lita boleh ikut tidak, Ma" Lita bersemangat.
"Boleh... berarti aku saja yang menjemput Lita pakai motor, Mas, setelah bobo siang, baru berangkat" Diah ikut bersemangat.
"Atur saja, tapi hati-hati" Marsel kemudian menghabiskan minum air putih yang disediakan oleh Diah.
"Yey... naik motor..." Lita kegirangan sudah lama sekali tidak pernah naik motor.
********
Jam 10 pagi di perusahaan makanan ringan.
Hamil bukan halangan untuk tampil menarik bagi wanita yang satu ini. Sebagai seorang model tentu ia tahu, bagaimana harus berpakaian, dan tampilan rambut. Agar tidak kegerahan.
Model rambut graduated bob, Di padukan dengan baju hamil overal. Dalaman kaos hitam dipadukan dengan dres coklat pasta, sungguh memukau.
"Eh lihat, itu kan Nona Bella, istri Pak Marsel" kata karyawan wanita senior di kubikelnya menepuk pundak temanya di depan.
"Mana?" wanita berusia 35 tahun itu menoleh. "Oh iya betul, lama tidak terlihat, tiba-tiba datang sedang hamil ya" jawabnya
"Pantas, sudah hampir satu tahun tidak terlihat di televisi, ternyata sedang hamil" mereka bergunjing, sambil terus menatap Bella yang berjalan percaya diri, tanganya menggenggam tas bertali pendek, berjalan menuju ruangan Marsel.
"Tapi aku mendengar isu, Pak Marsel selingkuh dengan karyawan bagian produksi loh" sambungnya.
"Masa sih?" wanita yang sudah punya anak satu yang sejak tadi diam tidak yakin akan isu itu.
"Iya, aku juga pernah mendengar, isu itu, puteri Pak Marsel katanya lengket banget sama Dia" salah satu dari mereka memperjelas.
__ADS_1
"Orangnya seperti apa sih? bisa menggait Pak Marsel, penasaran aku" ketiga wanita itu terus bergunjing.
"Hus, kalian ini mau bekerja apa mau ngomongin orang sih?! dasar kalian bibir pada lemes," seorang pria yang ubanya sudah tumbuh bagian depan karena faktor usia mlengos kesal. Pasalnya, beliau merasa terganggu dengan ocehan teman-teman seprofesi. Pria bagian keuangan itu sedang pusing menghitung selisih keuangan, dan sibuk di depan komputer marah mendengar obrolan yang tidak bermutu itu, terpaksa menghentikan obrolan mereka.
*******
"Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Siska, saat Bella melintas di depanya. Siska kegirangan bisa berhadapan dengan seorang model papan atas dari Negara B.
"Selamat pagi, Marsel ada?" Bella berhenti di depan Siska.
"Tuan Marsel sedang rapat di luar Non, jika boleh tahu, ada hubungan apa Anda, dengan bos kami?" Siska belum tahu, tidak seperti karyawan tadi sebab ketika Siska di terima bekerja di sini, Arabella sudah tidak ada di Indonesia. Boleh jadi, Siska belum mengenalnya.
"Saya istrinya" jawab Bella dengan dagu terangkat ke atas menunjukkan kesombongan.
"Istri?" Siska terperangah.
"Iya, kenapa kamu kaget begitu?" Bella melirik Siska yang terasa syok mendengarnya.
"Tidak Non, silahkan Nona, menunggu di dalam" Siska mengacungkan jempol dengan sopan. Padahal hatinya kesal bukan main.
Siska menjatuhkan bokongnya, menopang dagu, konsentrasi kerjanya mendadak hilang. Ia harus terima kenyataan, bahwa istri Marsel, adalah Alysia Arabella. Yakni model terkenal.
Tapi bukanya Marsel sedang dekat, dengan karyawan rendahan itu, lalu apakah istrinya tahu? waaah... aku ada ide.
"Siska, kamu masuk gih" Bella memanggil Siska dari pintu.
"Baik Non" Siska bergegas menghampiri Bella yang sudah berjalan lebih dulu. Siska senang inilah kesempatan untuk mendekati Istri Marsel, dan akan minta foto bersama, lumayan bisa dipamerkan di IG.
"Kamu sudah lama bekerja di sini?" tanya Bella lalu duduk meluruskan kakinya di sofa.
"Lumayan Non, sudah tiga tahun" Siska masih berdiri di pinggir sofa panjang.
"Duduk, Siska" Bella menepuk sofa di sebelahnya.
"Baik" Lagi-lagi Siska merasa di awang-awang. Pasalnya istri bos ternyata baik, sehingga mengajaknya duduk bersama.
Siska kemudian duduk perlahan sambil mengamati perut Bella yang sudah membuncit.
"Pijat kaki saya, rasanya pegel buat jalan tadi" dengan seenaknya Bella memerintah tanpa minta tolong.
Siska terkejut, brengsek! ia mengumpat dalam hati. Masih tertegun menatap Bella yang memberinya kode agar segera memijit.
__ADS_1
"Siska, kamu kok malah bengong?" Bella berharap agar sekretaris suaminya itu segera memijit, tapi seolah Siska menolak
Dengan rasa jengkel Siska memijit betis Bella.
*******
Siang hari kehadiran istri Marsel ke perusahaan sudah menyebar ke seluruh karyawan.
Termasuk Rindy. Ia yang awalnya sudah lapar ingin makan siang, mendengar kabar itu mendadak hilang rasa laparnya.
Ia memikirkan Diah sahabatnya apa jadinya jika Diah tahu bahwa ternyata istri Marsel masih hidup, dan saat ini mendatangi Marsel.
Rindy bergegas ke toilet khusus karyawan. Namun, langkahnya berhenti saat menangkap dua sosok pria yang tak lain adalah Marsel dan Aldo. Ia berjalan cepat hendak naik lift.
Rindy bersembunyi di balik kubikel, karena karyawan sedang makan siang tampak sepi.
Di balik tangga yang bersebelahan dengan lift, terdengar wanita sedang ngobrol membicarakan tentang kehadiran Bella yang sudah 4 tahun tidak ada kabar.
Tidak hanya Rindy yang mendengarkan, perbincangan tersebut, tetapi Marsel yang sedang menunggu lift terbuka pun sama.
"Do, saya tidak jadi ke ruangan, jangan berkata apapun dengan Bella tentang saya, jika Dia bertanya denganmu" kata Marsel.
"Tapi Tuan, mau kemana?" tanya Aldo.
"Saya mau menjemput istri, dan putriku ke Mall" jawab Marsel.
"Baik Tuan" Aldo menatap kepergian Marsel, kemudian masuk ke dalam lift.
Sementara Rindy, masih bingung, siapa yang di maksud istri dan anak? Diah atau Bella? Rindy merogoh handphone berniat menghubungi Diah. Namun, ia masih bingung hendak bicara apa.
********
Marsel bergegas ke mobil menemui mamang agar mengantarkan pulang.
"Tumben masih siang sudah pulang Tuan?" tanya mamang.
"Ia Mang, kita menjemput Diah sama Lita di rumah, terus antarkan ke Mall ya" titah Marsel.
"Baik Tuan" mamang langsung tancap gas hendak menjemput Diah dan Lita, jalanan tampak sepi tidak lama kemudian sampai di depan rumah.
.
__ADS_1