Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Dinner romantis.


__ADS_3

Setelah teleponnya dimatikan sepihak oleh Marni. Arabella mengumpat sendiri.


"Kurangajar! sombong sekali ini orang, tidak sopan! memutuskan sambungan telepon sepihak" Omel Bella kemudian telepon Thomas.


(....)


"Hallo! batalkan tujuanmu ke Bali, sekarang selidiki dulu dimana anak Marsel sekolah!"


(....)


Tut.


Setelah menghubungi Thomas, Bella meletakkan handphone di atas meja lalu tidur.


*******


"Bi, aku mau ikut mengantar Lita ke sekolah dulu ya" kata Marni sudah berpakaian rapi menghampiri bibi di dapur.


"Ada apa, kok tumben?" tanya bibi yang sedang mencuci piring.


"Nggak tahu Bi, perasaan aku nggak enak, sudah gitu, tidak ada Tuan Marsel, tadi malam ada penelepon aneh Bi" kata Marni.


"Penelepon aneh, maksudnya?" bibi menghentikan mencuci piring balik badan menatap Marni.


Marni lantas menceritakan tentang penelepon tadi malam.


"Oh mungkin... penelepon itu rekan kerja Tuan Marsel Mar, tidak usah risau," bibi menenangkan, kemudian melanjutkan mencuci piring.


"Bukan begitu, sebab... di awal dia bicara, kasar gitu Bi, mencurigakan sekali,"


"Bicara kasar, bagaimana?" bibi masih belum mengerti juga.


"Dia bilang begini Bi"


("Enak sekali kamu ya! El! jalan-jalan dengan istri muda, sampai aku telepon berkali-kali tidak di angkat!" ) Marni menirukan kata-kata Bella.


"Begitu Bi"


Deg.


"Astagfirlullah... jangan-jangan... Nyonya Arabella kembali lagi Mar," bibi mulai resah, bagaimana nasip Diah selanjutnya? Bibi tahu bagaimana cintanya Marsel dulu terhadap Arabella hingga sulit pindah ke lain hati.


"Siapa tuh, Arabbela Bi?"


"Arabella itu Mama Lita Mar"


"Apa dia seorang model, Bi?" Marni penasaran jika benar dia orangnya, kemarin Marni menonton tayangan langsung di televisi.


"Betul Mar, tapi itu dulu, sekarang ini masih menjadi model atau tidak aku tidak tahu lagi, kamu tahu darimana Mar?" cecar bibi.


"Kemarin ada di televisi Bi, tapi dia sepertinya sedang hamil,"


Klonteng. Sendok yang bibi pegang seketika jatuh, karena terkejut.


"Mbak Marni... ayo, katanya mau ke sekolah" suara Lita dari ruang tamu.


"Oh iya" Marni segera berangkat di antar mang Ade.

__ADS_1


********


Sementara Marsel pagi ini mengajak Diah memanjakan istrinya ke spa.


"Mas, kita mau spa di sini?" Diah berbinar-binar menapaki jalan setapak kanan kiri di pagari tanaman hias.


"Ya sekarang kamu tinggal pilih, mau spa mandi susu, mandi bunga, atau mandi madu," Marsel memberi penawaran mereka berjalan bergandengan.


"Aku mau mandi madu, tapi aku nggak mau di madu" sindir Diah menoleh Marsel kedua mata mereka saling bertemu pandang.


"Kok begitu ngomongnya?" Marsel mencolek pipi istri nya yang berjalan bersebelahan dengannya.


"Aku tahu, madu itu maniiiis banget Mas, bahkan sangking manisnya, banyak diburu orang."


"Tetapi... kalau dimadu rasanya pahiiiit... sekali, batrawali, dan sambiloto yang terkenal sangat pahit pun bisa hilang dengan minum madu"


"Tetapi... pahitnya dimadu tidak pernah akan bisa hilang dengan hanya minum dua tanaman tadi, padahal dua tanaman itu sebagai obat yang mujarab."


"Pahitnya dimadu, akan terus membekas entah sampai kapan, atau mungkin sampai mati, rasa pahit itu akan melekat"


"Maka dari itu, tidak ada wanita di dunia ini yang mau dimadu," tutur Diah panjang, seraya berjalan menunduk mengingat itu matanya menganak.


"Sudaah... kok malah jadi kemana-mana sih! bicaranya? jangan sedih, aku akan bantu lupakan kisah pahit kamu, dan kita akan selalu meneguk manisnya madu." Marsel menghentikan langkah Diah berdiri berhadapan dan saling pandang.


"Ok! aku pegang janji kamu Mas" Diah melanjutkan berjalan hingga sampai di salah satu spa bertuliskan mandi kembang.


"Kita mandi di sini saja Mas" Diah berhenti di depan plang mandi kembang.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita berpakaian adat Bali.


"Kami ingin mandi kembang, Mbak" kata Diah.


Mereka mengikuti wanita itu lalu di berikan arahan. Diah melakukan ritual mandi kembang dengan aroma wangi membuat betah berlama-lama di kolam.


Tidak hanya itu mereka di lulur oleh para ahli lulur yang profesional.


****


Malam harinya di tempat paling populer di Bali. Tempat yang memiliki desain yang unik dan terkonsep.


Marsel melewati para wisatawan yang cukup ramai masing-masing membawa pasangan.


Hingga sampai di penghujung resto, Marsel berhenti.


"Mas, di sini tidak ada kursi, kita ke sebelah sana saja" ucap Diah mengajak kembali ke depan.


"Okay... sekarang pejamkan mata, tidak boleh membuka mata sebelum aku memberi aba-aba," titah Marsel.


"Memejamkan mata? buat apa?" Diah memajukan wajah ke arah Marsel lebih dekat.


Tidak banyak bicara Marsel merogoh sapu tangan berputar membelakangi Diah kemudian menutup matanya.


"Mas" Diah semakin dibuat bingung.


"Sekarang jalan" Marsel menuntun Diah lalu seorang karyawan membuka pintu tanpa Diah tahu.


"Mas" tangan Diah menggapai-nggapai saat Marsel melepas tangannya, hingga beberapa saat.

__ADS_1


"Sekarang... aku buka ya" Marsel membuka penutup mata.


"Tararaaa..."


Mata Diah melebar tatkala di belakang resto digelar karpet merah marun sepanjang 100 meter.


Tampak para pelayan berseragam warna baju senada dengan karpet dan kain kebaya, rambut di sanggul, berbaris sepanjang karpet.


Senyum merekah dari mereka seraya mengacungkan jempol mempersilahkan Diah dan Marsel melewati karpet tersebut.


Diah terperangah ternyata restoran ini tembus ke pantai. Di tepi pantai di kelilingi tempat tidur yang nyaman, dihiasi puluhan lampion kecil-kecil sungguh indah.


"Ya Allah... bagus banget Mas" Diah terpukau.


"Ayo" Marsel memeluk pundak istrinya menuju pinggiran pantai.


"Sini" Marsel naik ke kasur terlebih dahulu kemudian mengulurkan tangan.


Mereka duduk di kasur klasik gaya abab ke 19 memberikan layanan dinner yang super romantis. Plus jauh mata memandang hanya ada laut biru dan deburan ombak.


"Waah... indahnya... keren banget Mas, rasanya nggak mau berpaling aku" Diah merentangkan tangan.


Marsel merebahkan tubuhnya di pangkuan Diah "Ada ciptaan Tuhan yang lebih indah daripada ini, aku lebih suka memandanganya, dan tidak mau berpaling, sepanjang hari, sepanjang malam" tutur Marsel seraya tersenyum.


"Apa?" Diah menunduk menatap lekat wajah tampan suaminya.


"Kamu" telunjuk Marsel menyentuh hidung Diah. Seketika wajah Diah memerah.


"Silahkan dinikmati Tuan, Nona"


Tiga pelayan menyuguhkan berbagai macam hidangan.


"Terimakasih" ucap mereka bersamaan.


Mereka makan malam menyantap hidangan yang semuanya hangat cocok dengan suasana malam yang dingin sentuhan angin malam.


******


Pagi hari setelah anak dan suaminya berangkat, sambil memegangi perutnya yang besar. Gita ambil sapu kemudian mengerjakan rutinitasnya setiap hari. Yaitu menyapu lantai sebelum mengepelnya.


Dreeng... dreeenng...


Suara mobil di depan rumah. Gita meletakkan sapu kemudian jalan ke depan. Ia sibak gorden sedikit mengintai dari jendela siapa gerangan yang datang.


Tidak mungkin ayahnya yang datang sebab selama ia pergi meninggalkan fasilitas orang tuanya, dan memelih pergi bersama Alfred suaminya, ayahnya masih marah kepadanya.


Gita menyipitkan mata seorang wanita hamil yang baru menonjol sedikit turun dari mobil.


Wanita itu membuka pagar kemudian masuk ke pelataran sempit rumah Gita dan meninggalkan mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan.


Gita segera menutup gorden ketika wanita itu berjalan mendekat ke arah pintu.


Tok tok tok.


Ceklak.


"Kamu?" Gita terperangah tatkala menatap siapa yang datang ke rumah nya.

__ADS_1


.


__ADS_2