
"Bagaimana keadaan Mbak Bella Aunt?" Diah duduk di samping Aunt Anneke, yang dirundung risau memikirkan anak dan cucunya.
"Maafkan Bella Diah," ucapnya. Bukan menjawab pertanyaan Diah, Anneke justeru minta maaf. Anneke rasanya malu untuk menatap wajah Diah.
"Untuk apa, Aunt minta maaf, di sini tidak ada yang salah, yang penting Mbak Bella segera sembuh," ujar Diah.
Sementara dua pria yang duduk di sebelah Diah, maupun di sebelah Anneke, yang tak lain Marcello dan Patrick, tidak ada yang mau bicara. Keduanya masih menyimpan rasa kesal di hati masing-masing.
"Doakan ya Diah... semoga, Bella dan bayinya sehat-sehat saja." Anneke menatap pintu operasi tergambar jelas kesedihan yang beliau rasakan.
"Tentu Aunt," Diah mengusap-usap punggung Anneke.
Derap langkah sepatu pantofel menuju ke arah mereka. Kontan semuanya menoleh pria berbaju kuning terang, kepala plontos, dengan kacamata yang bukan di kenakan di mata, melainkan di ubun-ubun.
Jangankan Diah dan Marsel, Patrick dan Anneke pun tidak mengenal pria itu sama sekali.
"Permisi, boleh saya tanya, menurut informasi dari resepsionis, wanita hamil yang Bernama Bella akan melahirkan di sini, apa kira-kira Anda ada yang mengenal?" Walaupun berpenampilan nyentrik pria itu ternyata sopan.
Marsel, Diah, Anneke dan Patrick saling pandang.
"Anda siapa?" tanya momny Anneke mengerutkan kening, bingung ada yang tiba-tiba mencari putrinya. Padahal selama ini Bella tidak pernah membawa teman pria datang ke rumah.
"Perkenalkan nama saya, Anthony, suami Keysia Arabbela,"
"Suami?" Anneke terperangah begitu juga dengan Patrick. Sedangkan Marsel langsung melingkarkan tangannya di pinggang Diah.
"Bicara apa kamu?!" Patrick seketika berdiri, mencengkeram kerah baju Anthony yang sama sekali tidak melawan.
"Uncle... to-tolong, le-lepaskan saya. Saya mau bicara," Anthony menyingkirkan tangan Patrick, yang membuat Anthony susah bernapas.
Bruk
Patrick mendorong tubuh Anthony yang tidak siap hingga terpelanting.
Semua mata terbelalak, Marsel yang sejak tadi diam melepaskan tangannya dari pinggang Diah, kemudian membantu Anthony yang bertubuh gemuk itu bangun.
"Terimakasih" ucap Anthony.
"Sekarang ceritakan yang jelas, apa benar yang Anda katakan tadi, bahwa Anda menikah dengan Bella?" cecar Marsel agar semua jelas dan ingin tahu pasti anak siapa yang di kandung Bella.
"Benar, saya sudah menikah dengan Bella," tegas Anthony. Marsel melihat tampak kejujuran di mata Anthony.
"Sejak kapan?" Marsel menatap Anthony lekat, mereka masih duduk di lantai. Sementara tiga orang yang duduk di kursi hanya bisa menonton, sekaligus penasaran menunggu jawaban Anthony.
__ADS_1
"Sejak Bella positive hamil, saya menikahinya, awalnya Bella menolak, karena saya mencintai Bella, akhirnya saya paksa. Pada akhirnya Bella menerima pernikahan kami dengan cacatan, saya menutup rapat pernikahan ini agar tidak di ketahui Uncle Patrick." tutur Anthony panjang lebar.
Patrick menunduk lesu, ternyata selama ini telah di bohongi oleh putrinya sendiri. Sungguh hatinya sakit.
Setelah menikah, karena Bella ogah tinggal satu rumah dengan Anthony, Bella kabur ke Indonesia. Sampai di Indonesia ternyata Marsel sudah menikah bahkan putrinya pun tidak mau mengakui dirinya.
Bella putus asa kemudian menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan keluargannya kembali.
"Sekarang saya mohon Uncle, saya mencintai Bella, jangan usir saya, biarkan saya membesarkan anak-anak kembar saya, dan terima saya sebagai menantu Uncle," Anthony memohon dari lantai dengan menangkupkan kedua tanganya ke atas ke bawah.
"Lalu siapa wali nikah kalian, jika memang benar kamu telah menikahi putriku?" tanya mommy Anneke yang sejak tadi diam membisu memberi tatapan skeptis pada pria yang baru di kenalnya itu.
"Uncle Petrus yang berada di Pedesaan Aunt, Bella juga yang menunjukkan."
"Jadi... adik kandungku sendiri pun, membohongi aku? Kurangajar!"
"Bluk" Patrick meninju tembok darah muncrat ke wajahnya.
"Daddy..." mommy terperangah kemudian menghampiri suaminya, begitu juga dengan Diah, meringis menatap darah yang mengalir dari jari-jari Patrick.
"Daddy harus sabar, lihat ini tanganmu. Ayo ke dokter," titah momny Anneke.
Anneke membawa Patrick berobat.
"Mas... aku antar Aunt dulu ya," pamit Diah kepada suaminya, yang masih terpaku di sebelah Anthony.
"Apakah Anda tahu, jika Bella mengidap virus HIV?"
"Apa? HIV?" Anthony pun rerkejut.
"Jadi Anda belum mengetahuinya? lalu apakah diri Anda sendiri sudah yakin terbebas dari virus itu?" Marsel terus mencecar.
Anthony menggeleng lemah.
"Sebaiknya Anda check saat ini juga," saran Marsel.
Anthony mengangguk patuh, ia berjalan cepat segera memeriksakan diri.
Sementara Marsel mencari keberadaan istrinya setelah sampai di depan ruangan dokter umum Marsel berhenti. "Honey..." Marsel menghampiri istrinya yang sedang duduk di ruang tunggu. Menunggu Anneke yang sedang menemani suaminya sedang diperiksa.
"Iya Mas, belum ada kabar dari Mbak Bella?" Diah tampak khawatir.
"Belum, kenapa kamu jadi memikirkan dia sih? Bukanya kemarin ketika kamu menengok malah di usir," Marsel duduk di sebelah Diah.
__ADS_1
"Jangan bilang begitu Mas, Mbak Bella itu sekarang sedang berjuang mempertaruhkan nyawa, terlebih, Bella bukan dalam keadaan yang baik-baik saja," Diah merasa nyeri di hatinya.
"Aku jadi ingat ketika melahirkan Syifa, saat itu aku bukan orang baik," Diah menitikan air mata mengingat saat itu.
"Dulu aku menjadi orang jahat, tidak perduli dengan orang-orang yang menyayangi aku," Diah kembali menyusut air matanya.
"Sudah... jangan ingat-ingat lagi Yank, semua punya masalalu, aku juga bukan orang baik, nyatanya aku selalu melawan Mommy," Marsel merangkul kepala Diah menyandarkan di pundak.
"Iya Mas, aku bersyukur. Allah tidak mengambil nyawaku saat aku melahirkan Syifa. Ternyata Allah telah memberi aku kesempatan untuk berbuat baik, walaupun hanya sedikit,"
"Honey..." Marsel terharu.
"Ceklak
Pintu ruang dokter di buka, Anneke menuntun suaminya. Tampak tangan Patrick sudah di perban.
"Bagaimana keadaan Uncle, Aunt?" tanya Diah segera berdiri sambil cepat-cepat membersihkan sisa air matanya dengan tissue.
"Tidak apa-apa Diah, menurut dokter, hanya luka ringan." tutur Anneke. "Terùs kenapa kamu kelihatanya habis menangis Diah?" Anneke memperhatikan mata Diah yang masih memerah.
"Tidak apa-apa Aunt, sebaiknya kita kembali keruang tunggu, siapa tahu, Mbak Bella sudah selesai operasi,"
"Baiklah, jika kamu mau pulang, pulang saja Diah, kasihan, kamu cape," saran Anneke.
"Iya Aunt, nanti kalau saya sudah capek, pasti saya pulang," pungkas Diah. Mereka berempat kembali ke depan ruang operasi. Marsel dengan Patrick, mantan mertuanya itu belum ada yang saling sapa.
Sementara di dalam ruang operasi bayi kembar telah di keluarkan dari perut Bella.
"Oeeekk... Oeekkk.." Suara dua bayi bersahutan.
Dua perawat membawa bayi tersebut kemudian memandikanya.
"Waah tampan sekali... anak-anak ini..." seru perawat saat bayi sudah bersih.
"Ya Tuhanku... lindungilah kedua anak ini, dari penyakit yang di derita Ibunya," salah satu perawat berdoa.
"Aamiin"
Kemudian dua perawat membawa kedua bayi kembar itu, ke dalam ruang bayi.
Sementara di ruang operasi sudah dua jam Bella belum sadar, justeru mengalami koma. Di sebabkan virus HIV telah merusak kekebalan tubuhnya hingga menandakan bahwa virus tersebut telah berkembang menjadi penyakit AIDS.
.*****
__ADS_1
"Hello... sahabat halu... ternyata sudah sampai bab 70 ya, walaupun yang memberi like cerita Diah tidak banyak seperti novel aku yang sebelumnya. Tapi saya perhatikan yang membaca konsisten, tidak ada yang kabur😁😁😁 tinggal beberapa bab lagi akan tamat tetap di sini ya, salam sehat selalu,"
.