Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Permintaan Aneh.


__ADS_3

"Braak" pintu mobil di tutup Marsel dengan kencang. Ia segera meninggalkan mobilnya di tepi jalan tepat di depan kediaman Bella.


Tulilung... tulilung.


Marsel memencet bel tiga kali. Keluar seorang gadis, yang tak lain ART Bella. Ya, saat ini Marsel sudah berada di depan rumah Bella.


"Selamat siang Tuan... ada yang bisa saya bantu?" tanya gadis itu merasa belum mengenal tamu majikanya.


"Bella ada?!" tanya Marsel dingin, karena panik. Membuat wanita itu merasa ngeri. "Ganteng-ganteng galak" gumam gadis itu seraya memeluk pagar. Marsel menatapnya tajam, rupanya Marsel mendengar gumanan gadis itu.


"Saya tanya apa tadi?!" Marsel mendelik kesal.


"Sudah dua hari ini, Non Bella tidak ada di rumah, Tuan" jawab gadis itu sopan.


Melihat tatapan gadis itu tampak jujur. Marsel segera balik badan kemudian kembali masuk mobil tanpa permisi.


"Wow! tampan sekali, siapa nya Non Bella?" gadis itu kembali bergumam sembari menutup pagar.


Marsel berkeliling mencari tempat-tempat yang dulu sering ia datangi bersama Bella. Barang kali Bella mengajak putrinya kesana. Hingga lima tempat Marsel kunjungi namun nihil. Marsel kemudian beristirahat di salah satu Cafe sekedar minum kopi.


Deeerrtt... deeerrrtt.


"Hallo sayang..." Marsel sudah menggeser tombol karena Diah vidio call.


"Hallo Mas, aku kangen" Diah tiduran miring memandangi wajah suaminya, sudah hampir seminggu tidak bertemu, rindunya membuncah. Mungkin karena hormon kehamilan rasanya ingin mengusap bulu di data suaminya.


"Hehehe..." Marsel terkekeh memandangi wajah Diah gemes sekaligus kasihan.


"Boleh dong... aku lihat dada Mas?" Ujar Diah tersipu malu.


"Haah?!" Mata Marsel terbelalak. "Kamu yakin?" Marsel menatap istrinya bingung tidak biasanya begitu.


"Serius dong Mas, ayo segera buka, aku pengen lihat," Diah merengsek seperti Lita kala minta dibelikan sesuatu.


"Nggak bisa begitu Yank, ini tempat umum loh" tolak Marsel.


"Mas... please... cari toilet" paksa Diah.


"Astagfirlullah..." Marsel segera mencari toilet, antara senang dan geli permintaan istrinya aneh sekali. Marsel mencari toilet, setelah menemukan toilet pria, tampak antri. "Antri Yank. Lihat" Marsel mengangkat handphone memperlihatkan sekeliling.


"Nggak apa-apa, aku tunggu" jawab Diah santai.

__ADS_1


"Apa nggak sebaiknya nanti di Apartement Yank" Marsel masih ragu-ragu.


"Mas.Ya sudah! kalau nggak mau, aku tutup nih," Diah tampak kesal.


"Ok, satu orang lagi nih" Marsel mengalah, menunggu satu orang lagi keluar dari toilet. Setelah orang itu keluar. Marsel segera masuk, meletakan handphone di depan kaca. Kemudian membuka kancing kemeja bagian atas.


"Terus.... sampai bawah, sampai terlihat puser" ucap Diah.


"Honey..." Marsel menatap layar tidak percaya istrinya akan bersikap seperti itu. Tapi pada akhirnya menurut. "Hihihi..." Diah tertawa puas. Menatap dada Marsel yang berbulu halus dari atas sampai bawah. "Sudah, aku sudah puas lihat nya," Diah menyeringai.


"Kamu kenapa sih?" tanya Marsel sambil mengancingkan baju, geleng-geleng kepala.


"Kan aku sudah bilang, kangen" yang awalnya cekikikan Diah sekarang berubah murung.


"Aku juga kangen sayang... yang sabar dulu ya, Mommy belum sadar, di tambah lagi aku belum bisa menemukan Lita" Marsel terdengar menyerah, seraya membuka pintu toilet kembali ke luar ke tempat duduk semula.


"Mas belum bertemu Lita?" Diah terkejut. Lalu bangun dari tidurnya. Jika di Negara B jam 12 siang, maka di Indonesia masih jam tujuh malam.


"Belum, dari pagi aku berputar-putar mencari, sudah gitu Bella sepertinya ganti nomor." Marsel terlihat memelas.


Diah menatap sendu wajah suaminya, ingin rasanya menghibur, tapi dengan cara apa? Mata Diah tertuju kepada seorang pelayan Cafe membawa cangkir lalu meletakkan di depan Marsel. "Terimakasih" terdengar ucapan Marsel.


"Mas, kamu lagi dimana sih?" tanya Diah kemudian. Ia menjadi merasa bersalah meminta suaminya ke toilet padahal sedang memesan sesuatu.


"Loh-loh, semalaman tidak tidur kok malah minum kopi, sih Mas..." Dahi Diah berkerut.


"Kalau aku mengantuk tidak bisa mencari Lita dong" sanggah Marsel. Selama satu jam, mereka berbincang-bincang tapi masih belum ada yang ingin mengakhiri.


"Sekarang... Mas pesan makan siang dulu, pokoknya kamu harus makan," paksa Diah. "Nggak lapar Yank" jujur Marsel.


"Mas! badanya semakin kurus begitu, cepat! Aku tunggu! Kalau nggak mau makan, aku marah" ancam Diah.


"Iya-iya" Marsel pada akhirnya menurut. Marsel memesan makanan. Setelah menu makan siang tersaji, di pantengin oleh Diah di depan layar. Sekali-sekali keduanya saling senyum hingga makanan habis. Diah baru mematikan sambungan telepon.


*******


Hingga jam empat sore Marsel masih mencari Bella. Mendatangi keluarganya, hingga orang-orang terdekat. Namun mereka tidak ada yang tahu keberadaan Bella. Memang benar tidak tahu, atau hanya berpura-pura. Entahlah.


Marsel minta nomor hp Bella pun, tidak ada yang memberi. Semua keluarga Bella bersekongkol mengacuhkan Marsel, bahkan tutup mulut. Mungkin dilarang oleh Bella agar merahasiakan nomor tersebut.


Marsel hanya bisa menduga-duga lalu menepikan mobil. Ia telungkup di pegangan setir berbantalkan tangan.

__ADS_1


Hingga menjelang maghrib hp Marsel bergetar. Marsel mengangkat telepon tanpa nama.


"Hallo" jawab Marsel.


"Hallo! Ello... anak kita El... hiks hiks hiks." terdengar tangis Bella menyebut anak kita membuat Marsel berpikiran negatif.


"Lita kenapa?!" bentak Marsel.


"Calista hilang El... hiks."


"Hilang?! maksudnya apa?! Jangan main-main Bella!" dada Marsel terasa terhantam benda keras. Bella kemudian menceritakan kejadian saat Lita melarikan diri.


"Ello... aku tunggu di kota xxx" pungkas Bella. Sambungan telepon pun terputus.


Dengan perasaan berkecamuk Marsel mendatangi tempat yang Bella tunjukkan. Sampai di tkp saat Lita melarikan diri, keluarga Bella sudah berkumpul. Bella sedang menangis di bahu momny nya.


"Apa yang kamu lakukan pada anak saya Bella?!" sinis Marsel menatap nyalang wajah Bella.


"Ello..." dengan wajah sembab Bella mendekati Marsel.


"Plaakk" tamparan keras telapak tangan Marsel mendarat di pipi mulus Bella.


"Ello" Bella memegangi pipinya menatap suaminya yang masih di cintainya hingga kini tega menamparnya tidak percaya.


"Ello!" Bentak keluarga besar Bella yang berjumlah lima orang. Yakni. Kedua orang tua Bella, dan dua orang adik Bella yang bersetatus suami istri semua menatap Marsel tidak percaya.


"Kamu teterlaluan Bella! kamu ini tidak becus menjadi seorang ibu, tapi sok-sok-an membawa kabur Calista," wajah Marsel merah padam. Hidungnya kembang kempis berdiri di depan Bella yang menangis sesegukan.


"Ello... sabar, semua bisa kita bicarakan dengan baik-baik" Mommy Bella menenangkan menantunya. Marsel sama sekali tidak menoleh mertuanya.


"Benar Mommy, Ello, maafkan Bella, tidak ada gunanya kita bertengkar." Daddy Bella menambahkan.


"Anda tidak usah mengajari saya Tuan, Patrick. Sebaiknya Anda mengajari putri Anda agar bisa merubah kelakuan buruknya!" tegas Marsel.


"Enteng sekali Anda bicara, setelah anak perempuan Anda melukai perasan putri saya, hingga membuatanya pergi!" Marsel khilap tidak lagi menaruh hormat kepada mertuanya.


"Sejak tadi siang, saya mendatangi rumah Anda. Tapi Anda bersekongkol dengan putri Anda yang jahat ini kan?!" Marsel mengeluarkan tanduk.


"Sudah-sudah... tidak ada gunanya kita bertengkar, sekarang kita harus berpencar mencari Calista." adik ipar Bella menengahi.


"Saya beri batas waktu 12 jam. Anda harus bisa menemukan putri saya, dan mengembalikan pada saya, dalam keadaan semula." Tegas Marsel.

__ADS_1


"Seperti pada saat Bella membawa Lita kesini. Tetapi, jika ada lecet sedikit pun saya akan melaporkan keluarga Anda, ke pihak yang berwajib!" Marsel segera meninggalkan mereka. Kembali menyusuri jalanan mencari putrinya.


.


__ADS_2