
"Mommy... bentar lagi aku akan mati Mom," Bella menangis sesegukan menjatuhkan hasil tes yang ia terima dari mommy saat mommy di panggil ke ruang dokter.
"Seeettt... kamu nggak boleh menyerah sayang, penyakit apapun pasti akan ada obatnya," mommy sebenarnya ingin marah pada putrinya, namun marah pun kini tidak ada gunanya.
"Ayo pulang Mom, tidak ada gunanya aku di rumah sakit," Bella tahu belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit seperti ini.
"Sayang... yang sabar ya, dokter belum mengijinkan kamu pulang," Mommy Bella menenangkan putrinya.
"Jangan mendekat Mom, aku kotor Mommy." bayangan masalalu Bella ketika berkencan dengan pria hidung belang hadir di kelopak mata seolah menerornya.
Flashbach on.
"Kamu kan sudah aku peringatkan Bella, agar tidak menikah dulu, tapi kamu tidak mendengarkan," kata salah satu agensi modeling, yang bernama Robert. Ketika Bella baru datang dari Indonesia minta di carikan klien. Robert menatap Bella dari atas sampai bawah. Sudah ada beberapa gumpalan lemak di tubuh Bella di beberapa bagian, tentu sudah tidak memenuhi kriteria pihak agen.
"Please dong... Robert... aku akan melakukan apapun agar aku bisa seperti dulu," Bella memohon.
"Baiklah... kamu yakin, akan melakukan apapun," Robert tersenyum licik.
"Aku yakin," jawab Bella mantap.
"Okay... tunggu sebentar ya" Robert meninggalkan Bella ia naik ke ballroom, menghubungi sesorang. Tidak lama kemudian, Robert kembali.
"Baiklah, temui klien kamu di hotel xxx," Robert memberikan nomor kamar hotel.
"Terimakasih Robert." tanpa berpikir lagi Bella menuruti kata Robert, menjalankan mobilnya dengan hati yang berbunga-bunga.
Bella turun dari mobil setelah sampai hotel yang di tuju. Tanpa berpikiran negatif ia segera mengetuk kamar klien sesuai petunjuk Robert.
Berjanji bertemu klien di hotel seperti sekarang, sudah biasa bagi Bella sekedar membahas tentang profesionalisme kerja.
"Hai..." pria plontos tersenyum membuka pintu.
__ADS_1
"Bella mundur, melihat pria yang mengedipkan mata genit ke arahnya, sambil menjilati bibir sendiri berperangai mesum, membuat Bella, merasa jijik sendiri.
"Ayo masuk manis, bukankah kamu akan menandatangani kontrak, dan
membicarakan job untuk kamu?" pria plontos itu meyakinkan Bella.
Bella pun pada akhirnya menurut masuk ke kamar hotel. Pria plontos segera mengunci pintu.
"Duduklah Manis," pria itu memberi saran.
Bella duduk di sofa. Pria itu memberikan map berwarna merah. Bella membaca kontrak tersebut ia mendapatkan kontrak hingga tiga tahun kedepan. Belum membaca sampai tuntas, Bella menandatangi cepat sambil tersenyum.
"Baiklah... bawa kemari kontrakannya." kata pria itu di atas ranjang.
Bella pun menyerahkan map tersebut. Kontan pria itu menarik lengan Bella hingga jatuh menimpa tubuhnya.
"Apa yang akan kau lakukan pria botak?!" Bella berusaha melawan memukul-mukul dada pria itu.
"Iya, tapi saya menandatangi kontrak modeling, bukan untuk melayani pria hidung belang sepertimu!" sinis Bella. Lagi pula saya bisa melaporkan balik kamu, atas perbuatan yang tidak senonoh!"
"Ahahaha..." tawa pria itu menyeruak penuh napsu. "Tidak semudah itu cantik, kamu yang sudah menandatangani sendiri.
"Plakk
"Brengsek kamu pria bejat!" tangan Bella melayang ke pipi pria itu.
Sekuat tenaga Bella melawan, namun pada akhirnya tenaga Bella tidak sekuat tenaga pria itu hingga akhirnya Bella tumbang.
"Maafkan aku Ello" gumamnya dalam isak tangis telungkup di atas lututnya.
Ia menoleh pria di sampingnya, sudah mendengkur bersamaan dengan tetes keringat. Bella segera mandi kemudian mengenakan pakaianya.
__ADS_1
Bella mencari kunci dengan merogoh kantung celana pria itu dengan rasa jijik. Setelah menemukan Bella keluar meninggalkan pria tersebut.
Diiringi tangis, Bella melangkah menuju mobil. Ini kah dosanya kepada Calista dan juga suaminya, telah meninggalkan mereka.
Mobil berjalan kencang di atas rata-rata dengan harapan ia menabrak sesuatu hingga mempercepat kematianya. Namun ternyata Bella aman-aman saja.
Bella bingung harus berbuat apa jika ia lari kembali ke Indonesia, dan kembali berkumpul dengan keluarganya namun jika sampai pria botak itu mencarinya ke Indonesia sudah pasti pria botak itu akan menyusul.
Terbayang jelas di mata Bella jika sampai Ello mengetahui perbuatanya tentu akan di ceraikan.
Bella memukul-mukul setir, kembali ke agen berniat menemui Robert. Namun Bella tidak menemukan pria yang di cari.
Flashbach off.
"Mom please mom, Bella mau pulang," kata Bella tak mau di bantah.
"Baiklah... Mom akan menemui dokter dan mengurus administrasi dulu" mommy Bella pada akhirnya menyerah. Mommy meninggalkan putrinya.
Bella bergetar menangis dalam kesendiriannya, selama melayani pria hidung belang itu. Seingatnya pria itu selalu mengenakan alat kontrasepsi. Namun mengapa dirinya bisa terkena virus mengerikan ini? Batin Bella.
Baru saat berhubungan dengan Ello, ia tanpa memakai apapun. Karena Bella sengaja ingin mempunyai anak darinya. Hanya dengan jalan itu kemungkinan akan bersatu kembali, dengan pria yang di cintainya hingga kini.
Kini hati Bella kembali hancur dengan ia diberi kutukan penyakit seperti ini mustahil Ello akan menerimanya kembali.
"Ayo, kita bersiap-siap," Mommy Bella kembali bersama dokter dan perawat.
"Nona Bella kami sarankan, Anda tidak diperbolehkan pulang, sebab besok Anda harus menjani operasi Caesar" dokter menjelaskan.
"Tapi bukannya masih minggu depan Dok?" mommy bertanya.
"Dilakukan esok atau minggu depan tidak masalah, toh putri Anda bukan menjalani persalinan normal," dokter menjelaskan panjang.
__ADS_1