
Dengan penuh percaya diri, Bella menunggu di depan sekolah, seperti hari kemarin, diantara para penjemput ingin minta foto bersamanya.
Tidak lama kemudian, anak-anak keluar dari kelas, termasuk Lita. Ia tampak kebingungan mencari Diah, namun tidak ada.
"Hai... Calista..." Bella mendekati Lita yang masih di depan pagar. Wajahnya tampak tegang mata bulat itu mengerling ke kanan ke kiri, namun belum nampak Diah datang menjemput, tidak biasanya mama barunya itu ingkar janji.
"Calista" Bella mengulangi mengukir senyum manis di depan putrinya.
"Tante siapa?" Calista mundur dua langkah, jari jemarinya mengait lubang-lubang pagar, rasa takut bergelayut di hati. Ia berpikir wanita di hadapannya ini adalah seorang penculik. Banyak sekali maraknya penculikan yang sering dia tonton di televisi membuatnya waspada.
"Jangan takut Nak" Bella melangkah pelan ketika hampir menyentuh putrinya, Lita berlari. "Calista" bulir bening membasahi pipi Bella. Ia merasa sakit akan penolakan anaknya.
Bella kembali mendekat "Kenalkan, nama aku Bella, aku disuruh Papa Marsel, agar menjemput kamu" ucapnya.
"Saya tidak mau, tidak mungkin Papa minta orang asing agar menjemput Lita" tolak Lita. Lita seketika ingat pesan Marsel jika ada orang yang menjemput selain keluarga harus menolak.
Marsel memang selalu mewanti-wanti agar jangan menurut saja, jika dijemput orang yang tidak dikenal. Namun rupanya Marsel justeru yang melanggar aturan.
"Saya bukan orang asing, tapi saya..." Bella bingung bagaimana harus menjelaskan.
"Tante siapa, kemana Mama Diah?! Tante penculik kan?" Lita mulai menangis.
"Jangan menangis sayang... sa-saya..." Bella gagap, rasanya sulit untuk bicara. "Lebih baik, kita masuk ke mobil dulu, nanti saya jelaskan." Bella membujuknya, seraya melangkah maju.
"Lita nggak MAU!" bentaknya. "Huaaa... Mamaa... Mama kemana..." Calista menjerit-jerit semakin Bella mendekat semakin ketakutan. Tidak ada jalan lain Lita akhirnya kembali masuk ke dalam sekolah.
Bella kebingungan ia pikir akan mudah membujuk anak kandungnya, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia tidak bisa mengejar Lita karena terhalang perutnya yang besar.
"Bu Guru... ada penculik" Lita masuk ke dalam kantor karena di kelas sudah sepi. Tanpa ragu Lita memeluk tubuh guru kelasnya, hanya beliau yang bisa melindungi.
"Mana penculiknya sayang..." wali kelas Lita melongok keluar sambil menggendongnya. Tampak Bella sedang berjalan ke arahnya. "Apa dia penculiknya? batin bu guru.
Guru-guru yang lain pun merapat mengusap bahu Lita menenangkan karena tampak ketakutan sambil menangis.
Tak lama kemudian Bella muncul, para guru terperangah karena kedatangan Bella.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" Wali kelas Lita mendekat agar Bella jangan sampai masuk ke ruang guru, sambil menggendong Lita yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher bu guru.
"Bu, saya minta maaf, saya Mommy Calista, disuruh Marsel agar menjemputnya" tutur Bella lembut.
Lita mengeratkan rangkulanya. "Bu Guru, Lita tidak mau dijemput siapa pun selain Mama Diah, Mang Ade, atau Papa" tuturnya masih serak karena sambil menangis.
"Nona Bella, kami mohon maaf, Lita sepertinya tidak mengenal Anda, biar kami menghubungi keluarganya," bu guru bertutur kata lembut dan sopan.
"Tapi, saya keluarganya Bu" Bella tidak mau kalah.
"Saya tahu, Non, tapi karena Lita masih di sekolah, dia tanggung jawab saya," jawab guru memang benar adanya.
"Tapi... saya Mommy kandung kamu Nak" Bella mengusap punggung Lita. Namun Lita menggeliat menolak disentuh.
"Bu Guru... Lita nggak mau dijemput Tante ini" tegas Lita.
"Nona Bella, kami akan menghubungi Papanya, sebaiknya Non Bella, nanti bicara sendiri dengan Tuan Marsel" berkali-kali wali kelas Lita menjelaskan.
"Baiklah, saya pergi, tapi perlu Ibu Guru tau, bahwa saya Ibu kandung Calista," Bella mengakhiri perbincangan. Dengan rasa kesal dan kecewa Bella pergi meninggalkan sekolah.
"Iya Bu Guru, tapi Tante tadi bukan Mama Lita." Lita kukuh dengan pendiriannya.
"Ok! memang yang biasa menjemput kamu kemana?" bu guru duduk di sebelah Lita.
"Saya tidak tahu, tapi tadi pagi Mama saya janji mau menjemput Lita, nggak tahunya bohong! hiks hiks." Lita kembali menangis sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Sudah... sudah... kita tunggu Papa datang ya, Ibu temani kamu disini." bu guru menghiburnya. Lita kemudian menurut. "Sekarang Lita bobo di sini dulu ya" bu guru membantu Lita merebahkan tubuhnya.
Wali kelas Lita merasa kasihan memandangi matanya yang sembab.
"Eh tadi bukanya, Bella model itu ya? kok mengaku Mommy Lita?" guru yang lain berbisik-bisik.
"Nah! terjawab sudah sekarang, berarti isu mengenai Bella bahwa ia mempunyai suami pengusaha benar adanya,"
"Ehh sudah... nggak usah ngomongin orang kenapa sih?!" salah satu guru mengingatkan.
__ADS_1
"Astagfirlullah... iya, ini mulut ya" bu guru satu lagi menepuk mulutnya sendiri.
Tidak menunggu lama dengan tergopoh-gopoh, Marsel sampai di sekolah mendatangi kantor guru dengan wajah cemas.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." semua guru menoleh ke arah Marsel.
"Silahkan masuk Tuan" semua guru, tk yang rata-rata berjenis kelamin wanita berdiri serentak.
Dengan langkah cepat pria tampan itu, menghampiri para guru, lalu menangkupkan kedua telapak tangan.
"Maaf Bu, saya mau menjemput putri saya" Marsel berkata sopan.
"Silahkan Tuan, Lita baru saja tidur" Memang benar, karena kelelahan menangis, Lita pun akhirnya menuruti kata bu guru bobo di kursi.
Marsel tersentak menatap putrinya yang sedang meringkuk. Ada rasa penyesalan di hatinya. Ia tidak berpikir panjang, hanya karena desakan Bella, seharusnya tidak begitu saja menuruti permintaannya.
Perlahan-lahan Marsel mengusap dengan jari pipi montok putrinya.
"Mama Diah..." Lita rupanya mengigau.
"Ini Papa sayang" di cium nya pipi cubby Lita dengan sayang. Lita perlahan membuka mata.
"Huaaa... Mama kemana Pa, kenapa nggak menjemput Lita." Lita kemudian bangun. Di susupkan wajahnya ke dada Marsel yang sedang berjongkok di sisi kursi, dengan tubuh yang bergetar tangisnya kembali pecah.
"Papa minta maaf" digendongnya putri kesayangannya itu kemudian melangkah keluar, menganggukan kepala kepada semua guru yang masih berdiri memandangi papa dan anak itu.
Marsel menuju tempat parkir, pikiranya benar-benar kacau. Ia telah salah ambil keputusan yang ia pikir sepele tetapi justeru melukai hati dua wanita yang ia sayangi. Ia pikir dengan mengijinkan Bella menjemput Lita. Bella akan segera meninggalkan ruangan yang membuatnya tidak konsentrasi bekerja. Namun ternyata tidak sesimpel apa yang ia pikirkan.
Dan yang lebih membuatnya menyesal adalah: sejak tadi Diah pun tidak bisa dihubungi. Setelah mendapat telepon dari sekolah, Marsel segera menemui Aldo agar menggantikan rapat dengan salah satu klien.
"Memang Non Diah tidak jadi menjemput Lita Tuan?" Mang Ade tadi pagi sebelum berangkat sudah dipesan Diah agar tidak usah repot bolak balik menjemput Lita. Kerena Diah sendiri yang akan menjemput.
"Jalan Mang" jawab Marsel tidak menjawab pertanyaan mang Ade.
__ADS_1
.