Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Bertemu


__ADS_3

"Bella, sebaiknya kamu makan sedikit, terus minum obat, badanmu panas sekali" kata mommy Bella. Beliau panik sendiri, pasalnya badan Bella panas tinggi hingga menggigil.


"Enggak bisa Mom, lagian... aku sedang hamil tidak boleh minum obat sembarangan" Bantah Bella lirih.


"Mommy tahu, Bella, tapi ini bukan obat sembarangan, obat ini memang untuk wanita hamil" jawab moomy. Momny Bella mengamati anaknya yang sedang kesakitan, walaupun sering berdebat tapi ketika sakit begini rasanya ingin mengambil alih sakitnya jika bisa.


"Aku nggak bisa menelan Mom, tenggorokan aku sakit" rintih Bella. Ia merasakan sakit kepala hebat, tenggorokanya terasa panas, dan getah bening di seluruh leher tampak membesar.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja, Mom" titah Daddy Bella. Yang baru saja datang karena di hubungi mommy agar segera pulang.


Seisi rumah tampak panik. Sejak pulang dari restoran kemarin siang, Bella merasakan badanya tidak enak. Namun tidak dia rasa, hingga ketika malam hari sekujur tubuhnya merasa meriang.


"Ayo, Daddy bantu" Daddy membangunkan tubuh putrinya di bantu mommy, lalu keduanya segera memapah tubuh Bella menuju mobil. Namun kaki Bella terasa lemas untuk berjalan.


"Sebaiknya kita angkat Tuan" Thomas yang berada di mobil pun turun membantu menggotong tubuh Bella, wajar jika berat, pasalnya Bella sudah hamil tua.


Mobil yang di kendarai Thomas melaju pesat menuju rumah sakit dimana keluarga Bella selalu berobat.


********


Di bandara Yogyakarta, seorang pria tampan, dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung sungguh tampan, tampak baru turun dari pesawat.


Tidak ingin berlama-lama di bandara karena rasa rindunya dengan isteri dan anaknya sudah membuncah. Ia bergegas naik taksi yang sedang melaju sedang, bola matanya berputar melihat daerah ini yang sudah satu tahun yang lalu terakhir kali ia kunjungi. Saat itu sedang ziarah ke makam Adiwilaga sang papa, dan juga kerabat yang telah tiada.


******


"Kamu dulu bertemu Ello dimana Diah?" tanya Bening pulang kerja ia segera menyiapkan makan malam di bantu Diah.


"Di pabrik Mbak, aku waktu itu kerja di bagian produksi, saat itu aku pingsan. Terus.. aku di tolong sama Marsel, di bawa kerumah sakit, tahu nggak Mbak? Penyebabnya aku pingsan," Diah malu ingin lanjut cerita.


"Kenapa?" tanya Bening heran. Diah yang cerita malah Diah yang tanya. Mana Bening tahu?


"Karena... waktu itu, selama tiga hari aku nggak makan. Hihihi..." Diah tertawa geli. Sedangkan Bening menatap Diah dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Setelah aku sembuh, lalu kembali bekerja. Aku makan siang di kantin. Eh, Calista sedang menangis di pojokan kantin, menunggu Marsel. Nah semenjak saat itu Mbak hubungan kami berlanjut." Diah bercerita seraya tersenyum mengingat saat itu.


"Oh gitu... jadi kamu dulu karyawan Marsel?" Bening menoleh Diah yang sedang berdiri bersandar di meja makan mengurai senyum.


"Hihihi... gitu lah Mbak" Diah geli sendiri, mengingat kala itu.


"Mbak Bening... aku ingin tahu deh, bagaimana sih? Kisah Marsel dengan Bella?" selidik Diah.


"Buat apa ingin tahu soal itu? yang penting... sekarang Ello, sayang sama kamu, biarkan kisah Marsel dengan Bella, menjadi pelajaran buat mereka." terang Bening.


"Mbak, kata Mommy, saat Bella masih menjadi istri Marsel hanya Mbak yang selalu dekat dengan mereka, tolong dong Mbak Bening, saya ingin tahu sedikit... saja, cerita tentang mereka" pinta Diah memelas.


Bening menarik napas panjang. "Dulu, Marsel dan Arabbela saling mencintai, walaupun Pak dhe Adiwilaga menentang hubungan mereka" Bening menatap keatas mengingat tujuh tahun yang lalu.


"Pak dhe Adiwilaga sebenarnya bukan orang yang memandang status sosial tentang jodoh anaknya. Tapi... pak dhe hanya ingin putra satu-satunya mendapat jodoh yang bisa menjadi seorang istri yang sesungguhnya."


"Yang sesungguhnya, maksudnya apa Mbak, Bening?" potong Diah.


"Ya gitu Daih, benar saja, setelah Marsel nekat menikahi gadis pujaan hatinya, ternyata, Bella wanita yang ambisius, dan kesibukannya membuat Bella lupa akan kodrat seorang istri" Bening kembali Diam.


"Selama menikah dengan Bella, Marsel tidak bahagia, pertengkaran sering terjadi, perabotan rumah sering mereka banting. Keduanya tidak ada yang mau mengalah, baik satu hari, maka mereka betah tidak tegur sapa sampai seminggu" tutur Bening panjang lebar.


"Jadi Marsel kalau marah selalu membanting sesuatu Mbak?" Diah bergidik ngeri.


"Tidak juga, sebenarnya Marsel bukan orang yang seperti itu, mungkin karena saat itu semakin hari keadaan rumah tangganya semakin memanas. Yaah... begitu jadinya" Bening mengangkat kedua tangannya.


"Terùs Mbak?" cecar Diah.


"Kamu ini? katanya tadi sedikit saja, tapi malah terus-terus" bibir Bening tampak mencebik lucu. Membuat Diah tertawa.


"Ya gitu lah Diah, hingga sampai puncaknya, Bella meninggalkan rumah, padahal saat itu Lita baru berusia 6 bulan" Bening membuang napas kasar.


"Hari berganti, minggu, bulan, hingga tahun, Marsel masih berharap bahwa Bella akan kembali, dan keluarganya kembali utuh. Namun, harapan tinggal harapan." wajah Bening berubah sedih.

__ADS_1


"Ooo... jadi begitu ceritanya Mbak, tapi saya mau sedikit lagi, kira-kira... Marsel masih cinta nggak sih sama Bella?"


"Ada apa ini? Lagi gibahin aku, dosa loh, ngomongin suaminya," Suara yang tidak asing mengagetkan mereka.


"Maaaasss..." Diah langsung menghampiri Marsel yang masih berdiri 10 langkah darinya. Keduanya saling pandang, seminggu tidak bertemu cambang Marsel sudah tumbuh belum sempat di cukur, dan inilah yang membuat Diah ingin segera bertemu.


"Aku kangen..." Diah Menenggelamkan wajahnya di dada suaminya. Hormon kehamilannya sudah tidak tahan mengendus bau suaminya yang sudah selama sepekan ia tahan.


"Aku juga, sayang..."


Begitu juga dengan Marsel, tangan kekar itu melingkar di bahu istrinya keduanya tidak ada yang mampu berkata-kata.


"Selamat sayang..." Marsel merosot setelah mengurai pelukan berjongkok, dan mencium perut Diah, berkali-kali.


"Anak Papa," ujar Marsel. Diah berkaca-kaca memegangi kepala suaminya yang masih betah berlama-lama menyusupkan kepalanya di perut.


"Ehhheeemmm"


Deheman Bening yang merasa tidak di hiraukan oleh sepupunya terdengar meledek.


"Lebai! kalian ini, memang sudah berapa tahun sih, nggak ketemu?" kelakar Bening.


"Aku ini kadang di tinggal Mas Elang sampai satu bulan loh, tapi nggak drama seperti kalian" Bening meledek.


"Bening" Marsel kemudian berdiri menghampiri adik sepupunya, menyambar tangan mungil yang sudah satu tahun tidak bertemu.


"Yank, ini loh orangnya yang dulu suka usil, jahil, seperti sekarang ini" ujar Marsel terkekeh.


"Alah! Mas, sombong nya... giliran ada masalah larinya kemana? Suami kamu ini Diah, kalau ada masalah meweknya ke aku." ketiganya lantas tertawa.


Marsel dan bening dulu dibesarkan di tempat itu. Rumah mereka bersebelahan dari SD hingga SMA mereka sekolah di sekolah yang sama, berangkat naik motor berboncengan berdua.


Hingga saat kuliah, Marsel menetap di Negara dimana kelahiran Mommy. Marcello bertemu Bella sang model cantik yang menjadi rebutan banyak pria, dan pada akhirnya Marcello lah yang menjadi pemenangnya.

__ADS_1


Dulu ketika SMA Marcello dan Bening selalu berdua tidak hanya di sekolah di luar sekolah pun mereka selalu bersama. Tidak heran jika orang menyangka bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Bening lah tempat Marsel mengadukan segala keluh kesah temasuk saat cintanya dengan Bella di tentang keras oleh ortunya, Bening yang menjembatani.


.


__ADS_2