
"Sebenarnya penyakit apa yang di derita Bella, Dok?" tanya Marsel saat sudah sampai di ruang dokter.
"Arabella mengidap HIV, jadi... saya sarankan, Anda pun menjalani tes, khawatir Anda tertular" dokter menjelaskan membuat Marsel bak di sambar petir.
Sementara Diah walaupun tidak mengerti apa yang di bicarakan. Namun, begitu mendengar dokter menyebut kata HIV Diah pun tak kalah terkejut.
"Apa? HIV Dok?" Marsel terperanjat.
"Iya, sebenarnya Bella sudah menjalani cek sejak enam bulan yang lalu. Namun, saat itu hasilnya masih negatif, dan saat ini memang Bella sudah di nyatakan positive."
"Astagfirlullah..." Marsel menoleh Diah gusar.
Diah tidak bisa berkata apapun, ia mengusap punggung suaminya agar tenang walaupun Diah sendiri tak kalah panik. Betapa tidak? Jika Marsel tes, ia pun harus ikut menjalani tes.
Tapi bukan masalah tes nya yang membuat Diah takut. Tetapi bagaimana jika Marsel positif, dan ia tertular? Oh tidaaakk... itulah yang berkecamuk di dalam hati Diah.
"Apakah saya juga harus menjalani tes, Dok?" pada akhirnya Diah bertanya dengan bahasa inggris yang tidak lancar.
"Oh, tentu," dokter menatap Diah yang sejak tadi dokter tidak menganggap keberadaan Diah.
"Kapan Anda terakhir melakukan hubungan intim dengan Bella?" dokter beralih menatap Marsel.
"Kurang lebih, satu tahun yang lalu Dok," Marsel menunduk malu.
Dokter manggut-manggut. "Mudah-mudahan, saat Anda berhubungan dengan Bella, Bella belum terpapar virus tersebut," dokter lalu menulis di kertas.
"Satu lagi Dok, saya ingin menanyakan. Apakah bayi yang di kandung Bella, benar-benar darah daging saya?" Marsel menyerahkan hasil tes DNA.
Marsel memang sudah menyiapkan hasil tes tersebut karena Marsel ingin tahu lebih jelas hasil tes akurat atau tidak.
Dokter membaca serentetan tulisan kemudian menatap Marsel.
"Menurut hasil tes ini, memang benar positive anak Anda, tapi untuk lebih akurat, Anda harus tes ulang saat bayi Anda lahir," dokter menjelaskan.
"Lalu apakah anak yang di kandung Bella nanti akan tertular juga Dok?" Marsel semakin gusar.
"Tergantung dari kekebalan tubuh anak itu sendiri, bisa tertular bisa juga tidak, tetapi... 75 persen akan tertular," jawab dokter mencengangkan
Setelah mendapat penjelasan dokter, tidak menunggu lagi. Marsel dan Diah melakukan tes HIV.
******
__ADS_1
"Mama... Papa... baru pulang? Kok lama, sih?" cecar Lita saat Marsel dan Diah dengan wajah kusutnya masuk ke dalam rumah. Lita segera merangkul perut Diah.
"Lama sayang... soalnya kan, Mama menemani Mama Bella dulu," Diah beralasan.
Sementara Marsel dengan perasaan yang tidak karuan segera ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya tanpa membuka baju. Ia bersandar di tembok, air matanya mengalir bersamaan dengan guyuran shower.
Sedangkan di lantai bawah, Diah langsung di todong dengan berbagai pertanyaan oleh Oma. "Bagaimana keadaan Bella Diah, sakit apa Dia?" Mommy Laura mendengar suara Lita yang cempreng kemudian keluar.
"Nanti Diah ceritakan Mom, sekarang Diah mau mandi terus shalat ashar dulu" jawab Diah.
"Baiklah," Mom menatap Diah yang tidak baik-baik saja, tidak melanjutakan pertanyaan.
"Ma, Lita ikut shalat bareng ya," Lita bergelayut di lengan Diah.
"Ayo," Diah memeluk pundak Lita kemudian menapaki tangga.
"Ma, tadi kan Kak Freddy telepon, katanya Tante Anggita sudah melahirkan," celoteh Lita.
"Oh, Iya? Terus... anaknya laki-laki apa perempuan?"
"Katanya, perempuan Ma, jadi pengen cepat punya dedek deh, kapan sih... perut Mama gede?" Lita mengusap perut Diah.
"Masih lama sayang... doa'kan ya, Mama sehat, dedek di perut sehat, Papa juga sehat," Diah seketika ingat penyakit Bella tadi.
"Oh iya, sebentar lagi kan, dedek di perut Mommy Bella lahir sayang... jadi... Lita punya dedek dua sekaligus,"
"Iya sih... tapi kan, bukan dari perut Mama," Lita kembali mengusap perut Diah yang baru menonjol sedikit.
"Oh iya Ma, bagaimana sih caranya membuat dedek di perut? Kalau nanti Lita sama Kak Freddy, tinggal satu rumah sama Lita, bisa punya dedek kayak Mama?" polos Lita.
"Lita..." Diah terkejut, menatap wajah Lita lekat. Tidak menyangka pertanyaan seperti ini akan keluar dari bibir anak sekecil Lita.
"Honey..." Marsel keluar dari kamar mandi menyelamatkan Diah yang sedang kebingungan ingin menjawab pertanyaan Lita.
"Mama mandi sebentar ya, terus kita shalat bareng,"
"Iya Ma"
Diah mengusap kepala Lita sebelum melenggang ke kamar mandi. Selesai mandi, dan shalat berjama'ah mereka menemui mommy.
"Lita... main di kamar dulu, sayang..." titah Diah, mereka berdiri berhadapan.
__ADS_1
"Iya Ma" Lita menurut berjalan ke kamar.
"Tadi... kalian sudah menjenguk Mommy Calista, lalu sakit apa Dia?" mommy mengulangi pertanyaan, setelah anak dan menantunya duduk bersamanya.
Marsel menceritakan semuanya apa yang terjadi, dan siapa ayah biologis bayi yang di kandung Bella.
"Apa? Jadi... Bella menderita penyakit mengerikan itu?!" pertanyaan mom setengah membentak.
"Itu artinya... cucu Mom, akan tertular penyakit itu? Ello... kenapa kamu dulu tidak pernah mendengarkan Mommy Ello..." sesal mommy.
"Andai saja, kamu dulu menuruti kata Mommy agar tidak usah berkunjung kesini, toh sudah ada Ramon yang menangani perusahaan, tapi kamu ngeyel, El!" dengus mommy kemudian menangis
"Mommy..." lirih Marsel.
"Mom, yang sabar" Diah menggengam tangan mommy. Mommy menatap wajah Diah bercucuran air mata.
"Belum lagi, jika kalian berdua tertular, berarti... ah! Tidak!" mommy memegang dadanya yang terasa nyeri.
"Mom, Mommy nggak boleh berpikir yang berat-berat, please Mom, apa pun yang terjadi kami akan hadapi," walaupun Diah tak kalah takut dengan apa yang di pikirkan mommy. Tetapi Diah berusaha tegar di depan mom, agar penyakit mommy tidak kambuh.
Awalnya Diah ingin merahasiakan ini kepada mertuanya, tapi Marsel kekeh dengan pendiriannya, cepat atau lambat toh mom akan tahu juga.
"Mommy sebaiknya, istirahat. Ayo, Diah antar" Diah mengantar mom ke kamarnya.
Sementara Marsel kembali ke kamarnya terlukis di wajah tampanya, banyak sekali yang ia pikirkan.
Marsel merebahkan tubuhnya di kasur.
"Mas" sapa Diah ketika sampai di kamar,0 turut merebahkan diri, menepuk bahu suaminya yang sedang tidur tengkurap.
"Maafkan aku Diah. Aku sudah membawa kamu masuk ke dalam kehidupan aku yang rumit." Marsel saat ini berada dalam titik terendah.
"Mas... kenapa bicara begitu?" Diah berbicara lembut. Mengusap kepala suaminya memberi ketenangan.
"Seandainya hasilnya nanti kita positif, aku sudah menghancurkan hidup kamu Diah," Marsel meneteskan air mata tanpa Diah tahu membasahi bantal. Ia merasa bersalah, benar kata mommy, kedatangannya ke Negara ini satu tahun yang lalu membawa prahara.
"Sudahlah Mas... jangan berpikir yang tidak-tidak, kan hasilnya belum ketahuan, seandainya benar pun, mau bagaimana lagi? Kita harus menerima," Diah menjawab bijak.
"Terimakasih Isteriku..." Marsel balik badan kemudian menjatuhkan kepala Diah di dadanya.
.
__ADS_1