
Doa dan harapan orang-orang yang menyayangi Bella, seolah tak ada berhentinya. Tidak hanya dari keluarga Bella sendiri, bahkan mommy Laura pun mendoakan mantan menantunya,
agar terbebas dari virus yang tidak pernah Bella sadari sebelumnya.
Dokter mencurigai adanya virus tersebut, saat Bella pertama kali periksa kandungan pada awal kehamilan.
Karena tidak ada gejala yang terdeteksi sejak awal, Bella tampak sehat dan biasa-biasa saja, tidak pernah merasakan keluhan apapun.
Dan inilah yang terjadi pada Bella, kemungkinan ia tertular dari Anthony, sebab Anthony pun dinyatakan positive.
"Maafkan aku Bella, cepatlah sembuh, biar aku saja yang menggantikan kamu di sini." gumam Anthony mengutuk dirinya sendiri. Ia merasa telah menyebabkan Bella menjadi seperti ini.
Dulu Anthony memang sering melakukan *** bebas. Namun setelah mengenal Bella, ia menghentikan kebiasaan buruknya.
Kini Anthony tidak beranjak dari tempat itu, selalu menunggui Bella, mengajaknya bicara. Saat Anthony sedang serius berdoa suara baritom mengejutkan dirinya.
"Ikut saya!" sinis Patrick menarik tangan Anthony dengan kasar. Saat Anthony sedang duduk di samping Bella.
"Ada apa, Uncle?" Anthony bertanya lirih, badanya yang gemuk, ditarik paksa ke luar dari ruang ICU, walaupun Patrick tampak kesusahan. Namun Patrick tidak menyerah dan juga tidak menyahut pertanyaan Anthony.
Ketika sampai di belakang rumah sakit Patrick melepas tangan Anthony.
"Buk Buk Buk.
Tiga pukulan melayang bertubi-tubi ke wajah Anthony, tidak ada perlawanan hingga Anthony jatuh ke lantai.
"Kamu! Adalah; bencana di keluarga saya!" tuding Patrick. Giginya gemerutuk menahan marah.
Anthony tetap duduk di lantai menahan bibirnya yang perih karena terkena benturan gigi. "Uncle" lirihnya. Namun Anthony tidak berani menatap mertuanya yang sedang berapi-api.
"Kamu positive kan?! Jawab?!" bentak Patrick. Patrick Ingin melayangkan tinju namun dengan cepat, Anneke datang mencegah. Anneke begitu melihat suaminya tergesa-gesa pergi dari rumah tadi mengikutinya.
"Bunuh saya Uncle, jika itu bisa menggantikan Bella. Bunuh saya," pasrah Anthony.
"Daddy... cukup!" Anneke menghalagi tubuh menantu barunya itu.
"Mulai sekarang! kamu harus pergi! Saya tidak ingin melihat wajahmu yang sok alim itu berada di sini! Ngerti kamu!" sarkas Patrick.
Daddy lantas menjauh meninggalkan Anthony dan juga istrinya.
Anneke menatap menatunya sekilas, kemudian meninggalkannya mengejar Patrick.
"Dad tunggu!" Anneke menghentikan langkah suaminya yang sedang berjalan hendak keluar dari rumah sakit.
Patrick pun berhenti balik badan menatap istrinya penuh tanda tanya. "Kenapa kamu malah membela pria keparat itu Anne!" tergambar jelas di wajah Patrick merasa kecewa terhadap istrinya.
__ADS_1
"Daddy, sudahlah... biar bagaimana Anthony itu sekarang menantu kita," Anneke mengusap pundak suaminya.
"Menantu! Kamu bilang?! Tidak sudi aku mempunyai menantu brengsek! Seperti Dia!" Patrick berapi-api.
"Daddy..." Anneke menjadi serba salah.
Sebenarnya ia pun merasa kecewa pada Anthony, tapi tidak ada pilihan lain untuk saat ini.Toh Anthony sangat perhatian pada Bella.
Anneke hanya akan menunggu keputusan Arabbela jika sadar nanti. Akankah Bella mau bersatu dengan Anthony atau tidak, hanya Bella yang bisa memutuskan.
"Sebaiknya... kita ngopi di Cafe sebelah dulu yuk. Kita menenangkan diri sebentar," Anneke menggandeng tangan suaminya.
Sekeras apapun Patrick, jika sudah kena bujuk rayu Anneke, Ia akan luluh juga.
********
Tiga hari berlalu saat waktu subuh, mata Anthony dikejutkan dengan pergerakan jari-jemari Bella.
"Bella?" Anthony segara memencet tombol memanggil dokter jaga, lima menit kemudian, salah satu dokter dan perawat berjalan cepat masuk ke ruangan.
"Dok, tadi saya melihat pergerakan tangan Bella Dok," Anthony tampak optimis.
"Baiklah," dokter memeriksa dengan mengangkat kedua kelopak mata Bella bergantian.
"Kita tunggu perkembangan selanjutnya, Anda mohon bersabar, dan terus berdoa," kata dokter.
Anthony tetap telaten merawat Bella, tidak mengambil hati caci maki mertuanya, hingga saat Ashar kesabaran Anthony membawa satu titik kemajuan.Tangan Bella kembali bergerak kali ini berdurasi lebih lama.
********
Sementara di rumah mommy Laura, selesai shalat ashar berjamaah di mushola kecil di kediamannya. Mereka berdoa bersama untuk kesembuhan Bella.
Setelah shalat mereka membicarakan rencana sore ini hendak menjenguk Bella.
"Jadi... kalian akan mengajak Lita menjenguk Bella ke rumah sakit? Apa dokter mengizinkan nantinya?" cecar Mommy memundurkan wajahnya dengan dahi berkerut.
"Kami akan minta ijin dokter Mom, jika Dokter tidak mengijinkan apa boleh buat," jawab Marsel.
"Tidak ada pilihan lain Mom, dengan begini, mungkin, Bella akan segera sadar, lagian hanya sebentar kok" Diah menambahkan.
Mommy tampak keberatan, sebab tidak ingin cucunya kenapa-kenapa. Tapi pada akhirnya mommy Laura menyetujui.
"Baiklah, tapi... Mommy juga ingin menjenguk, ya," ucapnya.
"Tapi apa Mommy sudah benar-benar sehat?" Diah bertanya dengan rasa khawatir.
__ADS_1
"Tenang saja Diah, Momny sudah tidak kenapa-napa," mommy Laura mengakhiri perbincangan.
Sore itu juga mereka berangkat ke rumah sakit kali ini, momny pun turut menjenguk.
Sampai di rumah sakit mereka masuk ke dalam ruang ICU bergantian. Diah bersama mommy menunggu di ruang tunggu.
Sementara Marsel bersama Calista menjenguk lebih dulu setelah menemui pihak rumah sakit agar mengijinkan Lita masuk.
"Thony... boleh kami minta kamu tinggalkan kami sebentar?" tanya Marsel menepuk pundak Anthony yang sedang telungkup di pinggir ranjang Bella.
"Tapi," Anthony tampak keberatan.
"Biarkan putrinya bicara dengan Bella, sebentar ya," titah Marsel.
"Baiklah," Anthony menyingkir dari tempat itu.
Calista terpaku di samping mommy nya yang tampak kurus, dan cekung. "Papa... Lita kasihan sama Mommy..." Lita menangis memeluk Marsel.
"Sekarang Lita ajak bicara Mommy Bella sayang... walaupun Mommy kamu tidak bisa merespon, paling tidak, kita harus memberikan semangat," Marsel mengusap kepala Lita.
Lita duduk di samping Bella menggenggam tangannya erat.
"Mommy... bangun Mom, maafkan Lita ya Mom, waktu itu... Lita sudah kabur dari Mommy," Lita kembali menangis.
"Tapi Lita menyesal Mom, makanya Mommy cepat sadar, terùs Lita sama Mommy makan di restoran kentucky ya, please mom, bangun..."
Calista terus memberi dukungan mengajak Bella bicara Bella dengan kepolosan kas anak-anak.
Satu jam kemudian menjelang Maghrib. Tangan Bella kembali bergerak.
"Papa... tangan mommy bisa bergerak Pa," Lita antusias sekali melihat perkembangan Mommy Bella.
"Oh iya sayang... semoga Mommy segera sadar ya," Marsel berdiri di samping Lita memberi semangat Lita.
Tepat adzan maghrib yang menggema di handphone Marsel yang sengaja ia hidupkan agar Bella bisa mendengarkan. Bersamaan dengan itu terdengar rintihan Bella.
"Diah..." ucapnya dengan mata yang bergerak-gerak.
"Mommy..." seru Lita. "Papa... Mommy memanggil Mama Diah,"
Sementara Marsel hanya diam terpaku setelah mengecilkan suara handphone.
"Diah..." Bella mengulangi.
Dengan cepat Marsel telepon istrinya agar segera ke ruang ICU.
__ADS_1
******
"Maaf gaes... aku telat up. Budhe saat ini sedang di beri nikmat, mohon doanya ya. 😢😢😢.