Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Aku Tidak Rela.


__ADS_3

"Mamaaaa..." panggil Lita dari lantai dua, bangun tidur ia mencari Diah di kamarnya namun tidak ada.


Lita terpaksa turun dari tangga, sebenarnya masih malas untuk bangun, sudah biasa setiap sabtu dan minggu selesai sholat subuh, bangun siang.


"Mbak Marni... Mama kemana sih..." Lita menghampiri Marni yang sedang menonton televisi bersama bibi.


"Lita, sini deh! lihat tuh, Mama sama Papa Lita, ada di televisi" kata Marni.


"Yeee... Lita mau menyusul..." Lita kegirangan. "Mbak ayo, kita menyusul" rengek Lita.


"Eeehh... nggak bisa begitu, masuk ke studio itu, harus ada undangan, tidak boleh asal masuk, nanti kita dikira pengganggu" terang Marni.


"Mbak Marni ini bagaimana sih, Lita juga tahu kok, kita nunggu di luar saja, begitu Mama keluar, baru kita samperin" Lita rupanya cerdas.


"Lita... kalau begitu... mendingan kita tunggu Mama di rumah saja" keduanya terus berdebat.


"Mbak ayo" paksa Lita. Lita pikir jika tidak segera menyusul, pulang dari studio pasti mama sama papanya akan pergi lagi.


"Sudah Mar, ikuti saja" bibi yang baru keluar dari kamar mandi menengahi.


"Ya sudah ayo, tapi mandi dulu ya" Marni mengalah.


"Mbak Marni, memang nggak nyium bau wangi Lita. Lita kan sudah mandi subuh tadi, sama Mama." jawabnya kesal. Memang benar Lita sudah mandi setelah subuh bersama Diah, tapi karena tidur lagi tidak kelihatan.


"Ok! sekarang Lita cuci muka, terus ganti baju"


"Nah... gitu dong! baru ini yang namanya Mbak Marni" kata Lita.


"Kalau Mbak nggak mau namanya siapa?" tanya Marni.


"Kalau nggak mau, namanya Marno" jawab Lita membuat Marni terkekeh.


Keduanya bergegas ganti pakaian, kemudian Marni memesan taksi online. 10 menit kemudian taksi datang mereka lalu berangkat.


********


"Mas, kebiasaan deh! kalau mau ada rencana nggak pernah bilang dulu!" Diah terus ngomel. Saat mereka baru turun dari lantai dua selesai menghadiri acara.


"Namanya juga kejutan, kalau bilang... namanya bukan kejutan dong" Marsel terkekeh melirik Diah yang memanyunkan bibirnya.


"Huh! kejutan, sih kejutan Mas, tapi jangan yang beginilah, untung aku tadi nggak jatuh di depan presenter karena jantungan," sepanjang obrolan tadi Diah memang terus deg degan.

__ADS_1


"Cup, nggak usah lebay" Marsel mencium kening Diah dari samping.


Cekrek cekrek.


Ciuman Marcello tertangkap kamera, mereka tidak tahu jika sang pemburu berita masih sliweran.


"Mas, tempat umum ini, kalau ada yang melihat bagaimana?" Diah geleng-geleng. Keduanya berhenti ternyata sudah sampai lantai dasar.


Mereka berdiri berhadapan saling pandang, tangan Marsel menggenggam kedua tangan istrinya. "Sungguh kamu sangat cantik hari ini," puji Marsel. Diah tersipu malu. "Iya, aku sadar, memang hari biasanya aku jelek" Diah pura-pura ngambek.


"Hari ini, kamu juga ngambekan, hehehe" Marsel menekan pipi kurus Diah dengan kedua telapak tanganya.


Cekrek cekrek


Tanpa mereka tahu kamera tersembunyi mencuri fotonya. Keduanya lantas bergandengan keluar.


Belum sampai parkiran langkah mereka berhenti karena Bella jalan ke arahnya.


Bella menatap nyalang wajah Diah, keduanya saling pandang sedangakan Diah menatap kagum tidak berkedip.


Bibir Marsel pun terkunci rapat, hanya menatap Diah dan Bella bergantian.


Ya Allah... sungguh luar biasa wanita ini, cantik, anggun, berkelas. Sedangkan aku? ya Allah... aku tidak ada apa-apa nya. Batin Diah tersenyum kecut.


Kedua wanita yang mencintai satu pria ini, masih saling pandang, larut dalam pikiran masing-masing.


"Bella, ngapain kamu ke sini?" pertanyaan Marsel menyadarkan mereka


"Ya jelas kangen sama kamu Ello, habis aku hubungi handphone kamu nggak aktif, begitu aku melihat kamu muncul di televisi, aku langsung datang kemari."


"Kamu nggak kangen El, biasanya kan kamu mengelus-elus perut aku kalau anak kita bergerak, seperti sekarang ini," Bella meraih tangan Marsel kemudian menempelkan di perut.


Diah yang menyaksikan itu dadanya terasa sesak. Namun ia bersikap normal.


Cekrek cekrek.


Kamera kembali mencuri adegan.


Tidak hanya itu di sisi lain, ada satu fans Bella yang merekam kejadian itu.


Bella yang mengetahui ada kamera yang sedang menyorot Marsel, kemudian duduk bersimpuh di kaki Diah.

__ADS_1


"Tolong, Mbak, kembalikan suami saya, apa kamu tidak kasihan? melihat perut aku yang sedang hamil besar, hiks hiks." drama Bella membuat Diah tersentak lalu mundur menghidari Bella yang memegangi telapak kakinya.


Bella pun membenturkan dahinya ke konblok seperti bersujud. "Mbak tolong... jangan ambil suami saya, hu huuu..."


Marsel yang awalnya tertegun melihat kejadian itu tidak melakukan apapun, pada akhirnya mendekati Bella. "Bella bangun" Marsel menarik pundak Bella agar bangun.


"Ello, tolong jangan tinggalkan aku, anak yang aku kandung ini membutuhkan kamu" Bella memeluk tubuh Marsel dari depan, air matanya tumpah ruah.


Diah hanya bisa menonton kejadian itu, dan menahan tangis merasa tidak rela suaminya dipeluk wanita lain. Ia menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah.


"Mamaaa..." gadis kecil yang tak lain Calista berlari kearah mereka, dan membuat semua menoleh menghentikan drama tersebut.


Bella pun seketika melepas pelukanya. Calista? batinya. Ia menatap putri sulungnya ternyata sudah besar, dan wajahnya mirip sekali dengan Marsel. Bella langsung mengusap air mata pura-pura nya.


"Lita... kamu menyusul?" tanya Diah, kehadiran Lita menambah kekuatan baru bagi Diah. Lita memeluk perut Diah mendongak. "Mama kok pergi nggak bilang-biang..." ucapnya manja.


"Tadi kan kamu masih tidur sayang... kasihan kan kalau Mama bangunin," Diah pun berjongkok mengusap kepala Lita sayang.


"Iya, Lita menyusul, soalnya takut Mama pergi lagi"


"Hehe... kamu ini" Diah merapikan rambut Lita kemudian menyelipkan di daun telinga.


"Sudah... lebih baik, kita pergi dari sini yuk," Marsel menghampiri Diah dan Lita.


Sementara Marni memperhatikan Bella yang masih bengong. Rasain pengacau, kemana saja kamu selama ini.


"Mbak Marni... ayo" panggil Lita yang sudah menjauh.


"Oh iya" Marni segera berlari mengejar bosnya menunju mobil.


Sementara Bella menatap kepergian mereka hatinya terasa sedih. Ia melangkahkan kakinya terasa berat, menuju mobil. Thomas segera membukakan pintu untuknya. Di dalam mobil Bella mengatupkan bibirnya, bayangan putri kandung nya yang bersikap manja, kepada istri kedua Marsel merasa tidak rela.


"Nona baik-baik saja?" Thomas yang sedang menyetir menatap Bella yang sedang sedih terlihat dari kaca spion.


"Aku sedih Thom, putriku tidak mengenali aku Thom, putriku lebih menyayangi ibu tirinya, hiks hiks" ada perasaan tidak rela di hatinya.


"Wajar Non, karena Nona pergi saat dia masih bayi" hibur Thomas.


"Aku menyesal Thom, seharusnya aku yang berada di samping Marsel maupun putriku, bukan wanita itu Thom, aku tidak rela Thomas. Aku tidak relaaa... hu huuu" Bella menangis sesegukan menjatuhkan keningnya di jok. Ia menahan rasa perih di dahi yang ia benturan di konblok tadi karena memar.


.

__ADS_1


__ADS_2