
Marsel terperangah mendengar ucapan putrinya. Rupanya Lita menganggap bahwa ibu kandungnya sudah meninggal.
Selama ini Marsel tidak pernah bercerita bahwa Bella masih hidup, dan tinggal di Negara asal.
"Papa mandi dulu ya sayang" kata Marsel setelah Lita selesai menggambar.
"Ok, Pa"
Marsel segera mandi, setengah hari mengendarai mobil ke sana ke mari ternyata membuatnya berkeringat walaupun ada AC.
Sementara Diah selesai membantu bibi memasak makan malam, kemudian kekamar, berniat menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Di kamar tidak ada Marsel, tapi terdengar gemericik air. Diah ambil kaos, dan boxer dari lemari, kemudian meletakkan baju santai, di tepi ranjang.
Diah lalu mengangkat pakaian kotor yang masih tergeletak di sofa.
Puk.
Dompet, bolpen, dan kertas putih berceceran di lantai jatuh dari saku jas. Diah kemudian memungutnya.
Diah membaca kertas tersebut ternyata rincian biaya rumah sakit, USG dan obat, sekian-sekian.
Rumah sakit bersalin? kira-kira siapa yang USG, tapi tidak tertulis nama di nota, ah biar saja lah.
Diah lalu membawa baju kotor, ke tempat loundre di dekat dapur, tak lama kemudian kembali ke kamar.
"Bapak sama Ibu sehat honey?" tanya Marsel rupanya sudah salin baju, dan rebahan di kasur.
"Alhamdulillah... sehat Mas, tapi aku tidak bertemu Ibu, beliau ternyata sedang arisan" tutur Diah. Kemudian duduk di ranjang.
"Oh... terus kamu sudah memberikan uang untuk Ibu?"
"Sudah... tapi aku kesel sama Ibu, minta uang aku pikir buat apa, nggak taunya buat bayar arisan" jujur Diah, rasanya malu sama suaminya.
"Sini dong" Marsel menepuk bantal di sampinya.
"Bentar lagi magrib Mas, masa suruh tidur" Diah diam saja.
"Masih setengah jam lagi" Marsel pun menarik lengan Diah hingga jatuh menimpa dadanya.
Lengan kekarnya memeluk tubuh ringkih Diah.
"Walaupun orang tua, juga butuh teman, honey... untuk berbagi, sama seperti kita" kata Marsel.
"Bahkan, Momy juga begitu kok, arisanya di mana-mana, tapi ya sudahlah, biarkan saja, yang penting beliau senang" tutur Marsel.
"Kamu juga, kalau hanya sekedar ingin bertemu teman-teman, ngobrol-ngorol, aku tidak melarang" Marsel menambahkan.
__ADS_1
Diah mengangkat kepalanya cepat dari dada Marsel.
"Tidak salah Mas, apa yang aku dengar barusan, ada apa ini? kemarin-kemarin, kalau aku sedikit saja keluar dari rumah, kamu cemburu, curiga, menuduhku yang tidak-tidak, tapi kok tiba-tiba..." Diah merasa aneh.
"Ya, karena aku sekarang sudah percaya sama kamu, kamu kan sudah menceritakan sama aku mengenai Abim. Nah, semenjak itu, aku percaya seratus persen sama kamu," Marsel mencium punggung tangan Diah.
"Oh iya Mas, di rumah Kak Mawar tadi aku bertemu mantan suami aku" jujur Diah.
"Mantan suami? yang mana, terus apa yang kalian lakukan?" cecar Marsel sedikit ngegas.
"Kan-kan, kan! tadi katanya percaya sama aku, tapi giliran aku mau jujur, sudah keluar urat lehernya" Diah menekan leher Marsel.
"Okay... terus, terus..." Marsel mulai tenang.
"Aku ketemu Alfred, tapi kami hanya saling sapa kok, tidak lebih, kamu juga harus ngerti Mas, kami pasti akan sering bertemu. Karena kami punya Syifa yang butuh perhatian kami, orang tua kandunganya" "Walaupun Syifa sudah bahagia dengan Kak Mawar, dan Adit" tutur Diah sambil rebahan di dada Marsel, sedangkan Marsel memilin-milin rambut Diah.
"Kenapa Syifa tidak di bawa ke sini saja, kita rawat berdua, lagian Lita pasti akan senang" saran Marsel. Marsel tidak keberatan jika Syifa tinggal bersamanya.
"Nggak bisa begitu Mas, Syifa sudah diadopsi oleh kakak aku, sejak lahir, jadi mereka sudah menganggap Syifa anak sendiri."
"Mas, aku juga akan bicara sejurnya sama kamu, tapi aku mohon, Mas, jangan marah ya" Diah lantas duduk menghadap Marsel.
"Mau bicara apa lagi?" Marsel tidur miring menopang pelipisnya dengan telapak tangan.
"Sebenarnya aku sudah pernah cerita sama kamu, juga Lita, lewat cerita aku tentang Burung Kedasih, Prenjak, dan Elang, tapi kamu rupanya tidak menyadari" Diah menarik napas panjang.
Marsel mengingat-ingat. "Iya terus" Marsel penasaran.
"Aku?" Marsel kemudian bangun dari tidurnya.
"Dulu, aku pernah berbuat kesalahan, berselingkuh, dari Abim" Diah mengingat itu air bening lalu menetes.
"Honey... jika tidak kuat jangan cerita" Marsel mengusap bahu Diah.
"Tidak Mas, sudah saatnya aku akan menceritakan semuanya. Jika Mas marah sudah konsekuensinya harus aku terima. Sebenarnya, aku sudah berniat menceritakan ini sebelum kamu menikahi aku, tapi kamu menolak" jujur Diah.
Marsel mengangguk-angguk.
"Aku berselingkuh dengan Alfred saat aku masih menjadi suami Abim" lirih Diah.
"Apa?!" suara Marsel meninggi.
"Ya, memang begitu kenyataanya, aku bukan orang sebaik yang Mas kira, dulu aku wanita jahat, seperti karakter Burung Kedasih yang pernah aku ceritakan"
"Iya terus" Marsel menurunkan intonasi.
Diah kemudian menceritakan ketika berselingkuh dengan Alfred, hingga mempunyai anak, dan akhirnya bercerai dengan Abim.
__ADS_1
Saat Diah menikah dengan Alfred, dan pada akhirnya bercerai, karena Alfred terbukti sudah mempunyai istri.
"Hatiku sakit sekali Mas, saat aku tahu, bahwa Alfred ternyata sudah mempunyai istri. Saat itu aku baru sadar, tidak ada hal yang paling menyakitkan, selain di bohongi"
"Hiks hiks hiks"
Deg. Dada Marsel bergemuruh. Ia semakin takut untuk jujur.
"Semua kejadian yang aku alami, seperti tamparan keras buat aku" "Aku lalu menyadarinya, semenjak saat itu, aku mencoba meluruskan jalanku yang mulai melenceng, jauh dari rel"
"Tetapi ternyata tidak semudah itu, perjalanan aku kian hari kian rumit, ujian datang silih berganti, aku hanya mencoba untuk sabar dan kuat"
"Hingga aku bertemu denganmu, dan membawa aku terbang tinggi, tapi ternyata kamu justeru menjatuhkan aku ke dasar jurang" Diah kembali menangis.
"Maksudmu apa?" Marsel memegang kedua tangan Diah.
"Kamu ternyata juga membohongi aku" ucapnya berlinangan air mata.
Jantung Marsel benar-benar ingin lepas dari raga. Darimana Diah tahu bahwa ternyata, dia dengan Arabella masih belum bercerai.
"Kamu masih mencintai mantan istri mu kan? nyatanya, kamu masih mengenakan cincin kawin ini" Diah memegang jari manis Marsel.
"Oh jadi ini..." Marsel memutar-mutar cincin, tapi tidak bisa bergerak.
"Coba perhatikan jemariku ini" Marsel membandingkan jari manis antara kiri dan kanan. Jari manis kiri Marsel tampak lebih besar, berbeda dengan yang kanan, bahkan seperti bengkak. Namun sudah tidak terasa sakit.
Diah terkejut, ia baru memperhatikan, bahwa cincin kawin miliknya Marsel pakai di lengan kanan.
"Sekarang coba kamu lepas cincin ini" kata Marsel menyerahkan jarinya.
Diah lalu mencoba melepas cincin, tetapi sulit.
"Tidak bisa di lepas, itu artinya... Mas dan pemilik cincin ini, akan menjadi pasangan sehidup semati" sindir Diah, namun tetap tidak memperhatikan Marsel
Mulut Marsel seolah terkunci rapat. Mengamati istri nya yang masih mencoba mengotak atik cicin.
Diah pun menyerah ternyata cincin yang bernama Arabella tidak bisa di lepas. Ia kemudian ke kamar mandi ambil sabun dan air guna merendam jari Marsel.
"Benar, ini mau dilepas?" tanya Diah sambil membawa gayung.
"Kamu pasti membawa air sabun kan? tidak bisa sayang, Mommy sudah mencoba berkali-kali, tidak hanya dengan sabun, dengan benang pun tetap tidak bisa" memang benar apa kata Marsel.
Dua tahun yang lalu, tangan Marsel pernah terhantam palu, saat memasang bingkai foto Lita, hingga membengkak, sayangnya, Marsel tidak cepat-cepat membawanya ke dokter, ternyata tulangnya patah.
"Nanti habis magrib kita ke Dokter" kata Diah.
"Ke Dokter? kan sudah tidak sakit?" Marsel mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Nurut deh pokoknya" Diah bersemangat, setelah shalat mengajaknya ke klinik kemudian cicin tersebut di potong dokter dengan ring cutter.
.