
"Mama... teman aku di sekolah kan kemarin ada yang sudah di sunat," celoteh Ghani. Anak kembar itu saat ini memang sedang sekolah tk.
"Terus..." Diah meletakan minuman jahe yang ia pegang di atas meja kecil tempat lampu.
"Ghani juga pengen di sunat Ma," ternyata bocah kecil itu ada maunya.
"Rafa juga mau"
"Rafi juga," entah hanya ikut-ikutan atau memang beneran mereka bersemangat minta di sunat.
"Beneran, kalian mau di sunat?" Marsel menopang pelipis bola matanya berputar, menatap putranya bergantian. "Di sunat itu sakit loh, di potong," Marsel meragakan kedua jarinya seperti gunting.
"Papa! Cek," Diah mendelik kesal, seharusnya suaminya tidak menakut-nakuti.
"Mau," Ghani, Rafa dan Rafi menjawab tegas. "Nggak sakit kok, Pa, kata teman aku, kaya digigit semut," Ghani kembali berceloteh pada Marsel.
"Okay... tapi nggak sekarang sayang... sekarang kan, Uti sedang sakit, jadi tunggu sampai Uti lebih baik, ya," Diah menjelaskan kepada putra-putranya lembut.
"Ya Ma," mereka kembali memijit.
"Ghina boleh ikut sunat Ma," polos bocah cantik itu. Diah, Marsel dan Calista mengalihkan pandangan ke arah Ghina.
"Hihihi... perempuan nggak di sunat kali! Ghina," Calista terkikik.
"Berarti Kak Lita, sama Mama juga nggak sunat?" polos Ghina.
"Sebenarnya perempuan di sunat juga sayang, saat baru lahir," Diah menjawab.
"Memang Ma, kok Lita baru dengar," Calista penasaran. Diah pun menjelaskan panjang lebar.
"Berarti kamu dulu, juga di sunat ya, kok nggak buntung, hehehe," bisik Marsel berniat menghibur istrinya namun justeru kena plototan Diah.
"Sekarang sudah sore, sebaiknya kalian mandi, sayang..." saran Diah.
"Iya Ma," jawab mereka.
"Kakak... tolong bilangi suster, suruh temani adik-adik mandi," titah Diah pada Lita.
"Ya Ma" Lita pun keluar dari kamar mamanya di ikuti keempat adiknya.
"Ya Allah... Mas, di balik ujian berat yang Allah berikan, ternyata Allah telah menitipkan anak-anak yang pintar pada kita," Diah terharu menatap anak-anaknya yang saling jahil satu sama lain saat sedang keluar dari kamar.l
"Betul sayang... dengan kejadian Ibu seperti sekarang, mungkin Allah mempunyai rencana lain untuk Ibu, jadi... aku mohon, kamu harus bersabar," Marsel merengkuh tubuh kecil Diah dalam dekapanya.
__ADS_1
"Aku mengerti Mas," suara Diah kurang jelas karena wajahnya tenggelam di dada suaminya.
Tok tok tok.
"Masuk" Marsel melepas rangkulanya kemudian bangun dari tidurnya duduk di ranjang.
"Diah... bagaimana kabar Ibu kamu? Apa kecelakaan nya parah," ternyata mommy Laura yang masuk di tuntun Marni. Marni kali ini menjadi perawat oma.
"Nyonya, jika sudah ingin ke bawah, telepon ya, nanti saya jemput," kata Marni. Marni pun segera kembali ke bawah setelah di angguki mommy.
Menyadari siapa yang masuk, Diah pun cepat bangun dari tidurnya. "Mom, Diah kan sudah bilang, kalau ada apa-apa Marni suruh telepon saja, biar kami yang ke bawah," Diah segera membantu mommy duduk.
"Nggak apa-apa Diah, kamu kan belum jawab pertanyaan Mommy,"
"Begitulah Mom, Ibu dinyatakan lumpuh," Diah kembali sedih.
"Ya Allah... yang sabar ya Nak, besok kalau kalian menjenguk jeung Reny, Mommy ikut" ucap mommy. Mommy yang duduk di ranjang depan Diah, menatap menantunya sendu.
Mom duduk di ranjang lantaran, sofa yang berada di kamar utama di pindahkan agar ketika anak-anak bermain di sini leluasa.
"Mommy memang tidak capek kalau ikut?" Diah khawatir memegang tangan keriput itu lalu mengusap-usap.
"InsyaAllah kuat Diah, kalau hanya sebentar," jawab mommy.
"Mom, saran Ello, sebaiknya Mommy bantu doa dari sini saja," Marsel tak kalah khawatir. Sebab, kesehatan mommy pun tidak baik. Semenjak sakit lima tahun yang lalu mommy Laura sering sakit-sakitan. Di usianya yang sudah 70 tahun, wajar jika raga mommy sering merasakan sakit yang mendera.
"Mom, yang dikatakan Mas Marsel benar, sebaiknya Mom tidak usah menjenguk," Diah mewanti-wanti.
"Baiklah... Mommy menurut saja apa kata kalian," mommy akhirnya menurut.
Setelah ngobrol beberapa saat, Diah membantu mommy ke bawah. "Mommy, kalau perlu apa-apa tidak usah ke kamar atas ya, kan lumayan capek naik tangga," Diah mengulangi kata-katanya, saat mommy tampak kesulitan menuruni tangga.
"Tunggu dulu," Marsel yang berjalan di belakang menahan tangan mommy lalu menggendong nya.
*********
Keesokan harinya sebelum anak-anak dan suaminya bangun, Diah sudah bangun lebih dulu. Ia menyiapkan segala sesuatu karena sebelum ke rumah sakit Diah akan menyiapkan bekal untuk kelima anaknya.
"Mau bikin sarapan apa Non?" tanya bibi yang sedang membuka kulkas.
"Buat sarapan kita, bikin nasi goreng telur ceplok saja, Bi," sahut Diah.
"Baik Non," bibi segera meracik bumbu nasi goreng.
__ADS_1
"Saya bantu buat sarapan anak-anak ya, Non," dua suster menghampiri Diah.
"Tidak usah Sus, menu pagi ini gampang kok," jawab Diah.
Kedua suster itupun segera mencuci pakaian anak-anak, sebelum anak-anak bangun. Setelah bangun nanti suster biasanya membantu anak-anak berpakaian dan membersihkan kamar mereka.
Sementara Diah di dapur sedang mengisi 5 tangkap roti tawar lalu membuang pinggir nya.
Ia mengupas 5 butir telur yang sudah di rebus kemudian menghancurkan. Diah membuat isi roti tawar. Mencampur telur dengan mayones, susu, keju parut, dan madu, lalu mengoleskan kedalam roti melipat dua sisi kemudian ia belah dua. Dengan cekatan Diah memasukkan roti ke dalam teromol satu persatu yang sudah Diah susun di atas meja makan seperti ingin ada tamu.
Diah juga menyiapkan sarapan untuk suaminya, roti tawar yang di isi telur ceplok dan segelas kopi tanpa gula.
Begitulah aktivitas Diah sehari-hari menjadi seorang ibu rumah tangga yang di bantu dua suster, Marni, dan juga bibi.
Diah sekarang sudah bisa memasak walaupun belum lihai, ketika mommy Laura masih sehat Diah selalu belajar memasak. Kadang belajar juga pada mami Desty ketika sedang tidak sibuk silaturahmi kesana.
Selesai mandi, Diah membangunkan suaminya setelah subuh tadi Marsel tidur kembali.
"Mas... bangun..." kata Diah menggoyang tangan suaminya.
"Heemm..." Marsel menggeliat.
"Mandi gih, khawatir anak-anak kesiangan nunggu Mas,"
"Iya" mendengar kata anak-anak Marsel segera mandi setelah mencium lembut bibir Diah.
Diah dan Marsel segera ke bawah ternyata benar, di meja makan sudah ramai mereka sedang ngobrol membicarakan tokoh kartun Upin, Ipin.
"Ngobrolnya nanti, sekarang kalian sarapan dulu," Diah meletakkan susu satu persatu di depan mereka, lalu sarapan bersama. Setelah sarapan, kemudian berangkat.
"Kalian di sekolah tidak boleh nakal ya Nak, belajar yang rajin," Diah mencium pipi kelima anaknya bergantian. "Lita, jagain adik-adik," pesan Diah.
"Iya Ma," jawab Lita. Kelima anak itupun masuk ke dalam mobil di temani dua baby sitter. Sementara mang Ade, sudah menunggu di sana.
"Dadaaa... Mama... Papa..." Kelima anak itupun melambaikan tangan berebut menyembulkan kepala di kaca mobil ingin melihat mamanya.
"Daaa... sayang..." Diah dan Marsel yang berada di samping mobil, tersenyum. Setelah Marsel mengusap kepala mereka satu persatu kemudian kaca di tutup Lita. Mang Ade menjalankan mobilnya.
******
"Mom, kami berangkat ya..." pamit Diah dan Marsel mereka sudah siap berangkat ke rumah sakit.
"Ya, salam buat jeung Reny... Mom, nggak bisa menjenguk," ucap mommy menyesal.
__ADS_1
"Jangan di pikirkan Mom, salam Mom, nanti kita sampaikan," Diah mengakhiri perbincangan kemudian berangkat bersama Marsel setelah pesan pada Marni agar memperhatikan menu makan beliau.
.