
Di kediaman bumil, usia kandunganya saat ini sudah menginjak usia sembilan bulan. Hanya tinggal menunggu hari, ia akan melahirkan. Pagi ini bumil sedang santai di depan televisi, karena hari sabtu Freddy libur sekolah, bahkan bocah kelas dua SD itu masih tidur.
"Daddy...." seru Gita memanggil suaminya yang sedang bersiap-siap hendak ke konter hp.
"Ada apa sayang... perutmu sakit? Iya," Alfred berlari kencang menghampiri istrinya seketika mengelus perutnya.
"Bukan, lihat tayangan di televisi" Gita menunjuk siaran ulang menampilkan Arabbela yang sedang bersujud di depan Diah agar melepaskan suaminya.
Rupanya foto dan video satu bulan yang lalu di depan stasiun televisi beredar dan di putar berulang-ulang. Tidak hanya di televisi, di internet pun beritanya sedang memanas. Sosok Diah yang menandang nama pelakor, banyak di hujat tanpa tahu kebenaranya. Terlebih, Diah yang notabene menjadi istri pengusaha sukses sekelas Marsel, yang sedang menjadi sorotan, tentu menjadi santapan empuk bagi para pencari berita.
Alfred melempar tatapan ke televisi. "Diah?" ia terperangah kembali menatap Gita. Dan di angguki oleh Gita.
"Nona Bella, jadi ternyata benar, bahwa Anda adalah istri pengusaha sukses yang bernama Marcello?" cecar wartawan.
"Betul, dan perlu kalian tahu, pernikahan saya saat ini sedang di ujung tanduk, karena di recoki oleh orang ketiga, dan wanita yang bernama Diah itulah penyebabnya," tutur Bella misek-misek. Ia merasa bahwa misinya kali ini bisa mendongkrak popularitasnya kembali.
"Hiks hiks hiks, selama delapan bulan mengandung, saya tidak penah di perhatikan" Bella meluncurkan jurus ampuh yaitu air mata palsunya. "Marcello sibuk dengan istri barunya. Hiks hiks." "Setiap kerumah sakit kontrol, saya hanya di temani asisten saya," Bella terus menerus menangis membuat para crew terbawa perasaan hingga semua menangis.
"Tidak hanya saya yang menjadi korban oleh istri Marsel yang sekarang. Sebelum menggait suami saya wanita itu selingkuh juga dengan pria dari Negara A. Suami Sagita Anggraeni."
"Kurang ajar! Wanita itu! Kenapa menyeret-nyeret nama kita!" Alfred merasa beram. Disaat dia hijrah menjadi pria baik dan bertanggungjawab masih saja ada yang dzolim.
"Iya Al, ingat nggak? satu bulan yang lalu, ketika wanita itu datang kemari, ia mengajak aku bersekongkol agar mau di ajak jumpa pers, untuk menyudutkan Diah. Tentu aku menolak," tutur Gita.
"Iya sayang, sekarang pokoknya kita tidak usah ikut campur dengan urusan mereka, yang penting saat ini, kita fokus dengan kehamilan kamu, bayi kita lahir selamat, dan kamu juga sehat," Alfred mengusap perut Gita.
"Iya Al, aku tahu,"
*******
"Hiks hiks hiks, Kak Mawar... aku malu Kak. Kenapa bisa jadi begini, Kak" Diah menangis sejadi-jadinya.
"Sabar dek... agap saja ini ujian, agar kamu bisa naik tingkat atas kesabaran kamu," nasehat Mawar sambil merangkul adik iparnya.
"Tapi aku nggak kuat, Kak. Aku nggak kuaaattt... hiks hiks"
__ADS_1
"Diah... istighfar Nak. Istighfar ya" pak Renggono pun menguatkan. Menatap sendu anak tirinya.
"Bapak... kenapa jika ini ujian, tidak pernah ada habisnya" Diah telungkup di pundak pak Renggono.
"Sudahlah Diah, yang harus kita lakukan saat ini, kita harus temui mantan istri Marsel itu, apa maunya?!" Adit mengepalkan tangan.
"Aku nggak tahu Kak, selama satu bulan ini, hubungan kami semakin baik. Bahkan, kita sempat jalan bersama" Diah merasa kecewa. Ia pikir, jika bisa mendekatkan Lita dengan Bella. Akan membuat Bella berubah, tapi ternyata Bella justru menikam dari belakang.
"Sekarang kamu lebih baik, telepon Marsel Diah" saran bu Reny.
"Jangan sekarang Bu, saat ini di sana tengah malam" Diah tidak ingin mengganggu istirahat suaminya.
Deerrtt deerrtt.
Telepon Diah bergetar. Dengan cepat ia merogoh tas yang berada di kursi. Diah melihat siapa penelponnya.
"Hallo Mar" ternyata yang menghubungi adalah Marni dari mension.
"Hallo Non, di luar banyak wartawan, bagaimana ini?" terdengar suara Marni bingung.
"Temui mereka Mar, katakan kalau saya tidak ada di rumah, cari alasan yang tepat, tapi jangan katakan kalau saya di rumah kakak saya," tutur Diah serak. Diah lalu mematikan sambungan telepon.
"Tapi di rumah Bella, pasti banyak wartawan Kak, bagaimana kalau mereka tanya ini itu, aku belum siap" tidak ada Marsel di sisihnya saat ini, membuat Diah seolah kehilangan gigi gerahamnya.
"Pakai Masker dek. Ayo, kakak temani" Mawar memberi saran.
Pada akhirnya Diah menyetujui saran kakaknya. Dengan diantar Adit dan Mawar Diah menuju dimana Arabbela tinggal.
Sampai di kediaman Arabbela, tampak sepi, bayangan Diah akan banyak wartawan ternyata salah. Mobil Adit parkir di pinggir jalan, sebab kediaman Arabbela berpagar tinggi.
Ting tong ting tong.
Mawar memencet bel, sedangkan Diah mengintip dari lubang yang biasa untuk membuka gembok dari luar. Tampak wanita setengah baya keluar dari rumah berniat membuka pagar.
"Non Diah" bibi terperangah saat melihat kehadiran Diah, yang sedang santer di beritakan.
__ADS_1
"Boleh saya masuk Bi?" Diah bertanya sopan.
"Silahkan Non" Mereka mengikuti bibi. "Saya buatkan minum Non" imbuh bibi setelah tamu bos nya di persilakan duduk.
"Tunggu Bi" Diah menahan lengan bibi. "Mbak Bella kemana Bi?" tanya Diah.
"Non Bella sedang jalan-jalan Non, sejak kemarin itu belum kembali." jawab bibi. Diah ingat saat datang kemari kemaren pagi, bibi mengatakan bahwa Bella mengajak Lita jalan-jalan ke Mall.
"Katakan yang jujur Bi? Bella mengajak Lita kemana?! Saya memang bodoh, tapi sebodoh-bodohnya saya, tidak mungkin Mall buka pagi-pagi," cecar Diah.
Bibi menatap mata Adit, yang sedang menatapnya tajam, bibi pun menunduk. "Kami tidak akan macam-macam Bi, kami hanya ingin tahu dimana saat ini Bella berada" Mawar berkata sopan.
"Tapi saya tidak boleh bicara macam-macam Non," bibi bingung. Satu sisi ingin patuh pada perintah majikanya. Tetapi di sisi lain, bibi tidak ingin berbohong.
"Katakan Bi, jika Marcello tahu, bahwa bibi telah berbohong, Marsel akan marah kepada Bibi" Diah menegaskan.
Bibi diam sesaat. "Non Bella, mengajak Lita pulang ke Negara B, Non Diah" pada akhirnya bibi jujur.
Jantung Diah seolah mau copot, tapi ia segera memulihkan kesadaran. "Kapan mereka berangkat Bi?" Diah berusaha untuk tenang.
"Hari jumat sore Non" jawab bibi.
"Jumat sore Bi?" Diah merasa tertipu, air matanya terjun bebas. Jumat sore? Itu berarti, ketika Lita pulang sekolah langsung berangkat. Berarti Bella sudah merencanakan sebelumnya.
Diah menjadi berpikir negatif. Apakah telepon dari Negara B yang mengatakan bahwa Mommy Laura sakit hanya rekayasa? Diah benar-benar hancur, kini ia telah kehilangan semuanya.
"Dek... sekarang kita pulang yuk, tidak ada yang bisa kita lakukan di sini." Mawar mengait lengan Diah terasa dingin. Mawar tahu apa yang di rasakan iparnya.
Dengan langkah kaki yang terasa berat. Diah mengikuti saran Mawar.
"Bruk.
Ketika di depan pintu tubuh ringkih Diah ambruk.
"Dek. Dek..." Mawar mencoba menepuk-nepuk pelan pipi Diah. Namun Diah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Dia pingsan Yank" Adit segera menggendong adiknya masuk ke dalam mobil, membawanya ke rumah sakit.
.